Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Apa hak Mama mengusir Bulan dari rumah ini?" Bintang memotong, dari pertanyaan itu masih memiliki rasa hormat kepada mertuanya.
"Mama memang tidak punya hak apapun di rumah ini, Bintang. Tapi sebagai Ibu Mentari yang sedang sakit keras saya akan menjaga mentalnya dari orang-orang macam kalian! Saya tidak akan pergi, karena tidak ingin sakit Mentari semakin parah, karena memikirkan suami tukang selingkuh sepertimu!"
"Saya tidak selingkuh!" Bantah Bintang tegas. "Bukankah sudah saya katakan Rembulan istriku."
"Saya tidak percaya! Dengar baik-baik Bintang, Mama tidak akan pergi, saya akan menjaga dan melindungi Mentari dari wanita busuk ini. Dia yang seharusnya pergi, karena sudah mengganggu suami orang!" Ratih melempar tatapan sinis kepada Bulan.
"Perhatian apa yang selama ini Mama berikan kepada putri Mama?" Bintang merasa bingung, selama di rumah ini, Mertuanya hanya mendem di kamar, jika masuk ke kamar Mentari hanya menjadi provokator tapi berdalih menjaga.
Pertengkaran antara mertua dan menantu pun semakin panjang.
Sementara Bulan memilih menarik kakinya perlahan, menjauh dari tempat itu dan mengemas pakaian.
"Aku bodoh," gumamnya, sambil membuka lemari. Baju demi baju ia lipat asal kemudian dimasukan ke dalam koper. Setiap kali memasukkan satu potong pakaian, air matanya jatuh menetes.
Sejauh apapun hatinya berusaha untuk kuat tapi Sounding bentakan Ratih dan Sherly setiap waktu masih bergema riuh di kepalanya, memecahkan sisa-sisa kesabaran yang berusaha ia pertahankan selama beberapa hari. Ia tidak pernah membayangkan keputusan yang ia pilih menyakiti hatinya sendiri.
Bulan mengusap pipinya kasar dengan punggung tangan, tetapi bulir hangat itu terus merembes tanpa bisa ditahan. Isaknya yang semula tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu di tengah heningnya kamar.
Selesai merapikan sweater kesayangannya ke sudut koper, Bulan memandangi sekeliling ruangan. Foto-foto Talita, Mentari dan Bintang yang masih terpajang di dinding seakan menertawakan kehancurannya.
Ternyata ia di rumah ini hanya figuran, membuatnya seketika sadar, terus bertahan di sini hanya akan membuat dirinya makin kehilangan harga diri. Rumah Bintang bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan sangkar yang mengurungnya dalam rasa serba salah.
Dengan tangan bergetar, Bulan menarik ritsleting koper itu hingga tertutup, sebelum pergi ia ke kamar sahabatnya. Bukan untuk pamit karena saat ini dipastikan sudah tidur, hanya ingin memastikan bahwa sahabatnya baik-baik saja.
Pintu kamar utama ia dorong pelan tanpa suara, memandangi sosok di atas tempat tidur. Jujur, Bulan bahagia melihat sahabatnya bisa tertidur dengan pulas setelah menuruti permintaannya untuk menikah dengan Bintang, tidak seperti beberapa waktu yang lalu, selalu begadang karena merasakan sakit yang tidak bisa digambarkan seperti apa.
Namun, Bulan hanya manusia yang mempunyai batas kesabaran, tidak ingin terus berkorban dan akhirnya dirinya sendiri yang kena mental.
"Maafkan aku sahabat..." ucapnya dalam hati saat membetulkan selimut Mentari, lalu berdiri terpaku di sisi ranjang, menatap wanita yang pernah menjadi alasan untuk memilih walau pilihan itu salah. Hingga menyandang status yang tidak pernah ia cita-citakan sebelumnya.
Bayangan tiga minggu yang lalu mendadak berputar di kepala Bulan, saat Mentari menggenggam erat tangannya, memohon dengan derai air mata agar Bulan mau menikah dengan Bintang, suaminya, demi menjaga kebahagiaan keluarga kecil mereka di tengah kemalangan yang menimpa.
Namun, pengorbanan ternyata memiliki batas kaji. Menjadi istri kedua melempar Bulan ke dalam labirin rasa bersalah, dan kehampaan yang terus menggerogoti jiwanya setiap hari.
Untuk itulah ia tidak ingin cintanya tumbuh di antara dirinya dan Bintang yang justru akan menjadi racun yang perlahan membunuh persahabatannya dengan Mentari. Bulan menyadari bahwa ia tidak pernah cukup kuat untuk membagi hati, apalagi merusak tatanan hidup wanita yang sangat ia hormati.
Tatapan Bulan menetap beberapa menit pada wajah lelap Mentari, menyimpan sejuta permohonan maaf yang tidak mungkin ia katakan.
Dengan langkah perlahan agar tidak memecahkan lelap sang sahabat, Bulan keluar dari kamar itu. Ia menguatkan hatinya, berjalan menuju kamarnya sendiri untuk menyeret koper yang sudah terkemas rapi. Keputusan yang sudah bulat. Dia memilih pergi membawa serpihan hatinya daripada harus terus bertahan dalam lingkaran yang menyakiti semuanya.
Saat Langkah kakinya menuju pintu depan meninggalkan bayang-bayang janji manisnya kepada Mentari dan Talita, ia menoleh, saat jemarinya menyentuh daun pintu, sebuah cengkeraman menahan pergelangan tangannya. Bintang berdiri di sana, menyiratkan kebingungan sekaligus kepanikan yang luar biasa.
"Jangan pergi, Bulan. Tolong," lirih Bintang, tatapannya menahan gejolak cinta yang sudah tumbuh entah sejak kapan. Pandangan itu terkunci pada Bulan, seolah menyadarkan dirinya betapa berharganya sosok istri keduanya itu dalam hidupnya.
"Maafkan saya Pak, sampaikan salam saya kepada Mentari dan Talita," jawab Bulan serak.
Ingat Talita, seolah ingin membawanya pergi, tapi sayangnya ia tidak punya hak untuk itu. Bulan memejamkan mata sebelum akhirnya gagang pintu berhasil ia buka.
"Kumohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Bulan..." lanjut Bintang lagi-lagi menahan tangan Bulan dengan tatapan memohon.
Di ambang pintu yang terbuka itu, Bulan berdiri gamang sejenak. Tetapi keputusannya sudah bulat, tidak menoleh lagi lalu melangkah lebih cepat terdengar suara roda koper, hingga suara itu tidak terdengar ketika tiba di belakang mobil.
"Bulan, aku pastikan besok pagi semuanya akan baik dan kembali lagi seperti semula, jangan pergi," Bintang rupanya tetap mengejar.
Namun, tidak ada jawaban dari Bulan, wanita itu fokus menata koper dalam bagasi, hingga terdengar suara 'brak' pertanda bagasi sudah tertutup. Bulan segera bergerak membuka pintu depan lalu masuk, tidak peduli lagi saat kaca pintu mobil diketuk oleh Bintang. Besi berjalan itu melesat pergi meninggalkan pria yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa.
"Aagghhh... kenapa jadi begini!" Bintang hendak berteriak tapi suaranya tertahan di tenggorokan, tangannya mengepal meninju angin.
Bintang menyentak kaki masuk ke kamar, dadanya terasa sesak ketika membuka pintu lemari, tidak ada satupun pakaian Bulan. Selain kartu atm yang ia berikan tempo hari.
Dia tutup pintu tersebut sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit. Jika boleh memilih, ia ingin Bulan tetap di rumah ini dan selalu cerewet tentang pola makan, dan kebersihan, demi kesehatan dirinya dan Talita. Akankah ia masih ada kesempatan untuk bersamanya lagi? Semoga.
Malam makin larut, Bintang tidak juga tidur, ia sadar bahwa rasa sepi ini bukan sekadar tentang ruangan yang kosong, tapi hatinya lebih kosong dan hampa. Dalam remang kamar itu, ia akhirnya menarik selimut, membiarkan malam membungkusnya dalam renungan panjang yang entah kapan akan menemui terang.
Bintang yang merasa baru terlelap harus membuka mata saat mendengar tangis dari putri kecilnya.
"Hiks hiks hiks. Papa... Mama kemana?"
Bintang lompat dari tempat tidur, saat menatap Talita yang berdiri di pinggir pintu disertai tangis kencang.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌