Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
hari gajian ASKAR sudah tiba —hari yang dulu selalu dinantikan Miska, bukan karena uangnya, melainkan karena biasanya Askar akan pulang dengan wajah lebih santai dan kadang membawa camilan kesukaannya. Namun kali ini, semuanya terasa berbeda.
Miska sedang melipat baju di ruang tengah saat Askar pulang. Ia mendekat dengan senyum tipis, berharap kali ini suaminya akan bersikap lebih baik.
" hari ini Kamu sudah gajian mas," ucapnya lembut saat Askar duduk di sofa sambil membuka amplop gajinya.
Askar mendengus pelan, mengambil sebagian uang lalu menyodorkannya pada Miska dengan gerakan malas. "Ini untuk kebutuhan rumah bulan ini."
Miska menerima uang itu, menghitungnya sekilas dengan rasa heran. Jumlahnya jauh lebih sedikit dari biasanya, bahkan tidak cukup untuk belanja dapur sebulan penuh apalagi untuk keperluan lain.
"Mas..." panggilnya pelan, menatap suaminya. "Ini... jumlahnya kurang dari biasanya. Ada yang salah ya? Atau Mas nya salah hitung?"
Pertanyaan itu seolah menjadi pemicu kemarahan Askar. Ia langsung menatap Miska dengan tatapan tajam, nada bicaranya meninggi seketika.
"Kamu itu kenapa sih?! Baru aja di kasih sudah bertanya-tanya kurang lebih! Uang gaji saya bukan berapa-apa saja yang harus kamu tahu! Sudah ada keperluan lain yang harus saya bayar, jadi yang kamu terima itu saja. Sudah cukup kok untuk orang yang hanya diam di rumah!"
"Tapi mas, ini bahkan tidak cukup untuk belanja dapur sebulan ini..." Miska berusaha menjelaskan, hatinya mulai cemas. "Saya tidak meminta lebih, saya hanya bertanya karena jumlahnya berkurang banyak."
"kamu berani membantah saya ya?!" bentak Askar berdiri, wajahnya memerah menahan amarah. "Kamu itu memang tidak pernah puas! Setiap bulan saja mengeluh kurang! Kamu pikir mencari uang itu gampang begitu? Kerja dari pagi sampai sore, Rasanya tuh sangat lelah, tapi kamu yang di rumah hanya tahu minta uang terus!"
"Aku tidak mengeluh, mas.. Aku hanya bingung saja..."
"Sudah cukup! Jangan banyak bicara!"
Belum sempat Miska melanjutkan kata-katanya, Ibu Suryati muncul dari arah dapur, langsung menyambung kemarahan anaknya seolah sudah menunggu momen itu.
"Nah, itu dia! Miska memang begitu, Askar! Selalu saja kurang! Padahal dia hanya di rumah, makan dan tidur, tidak pernah keluar rumah! Uang segitu sudah berlebihan untuk orang sepertinya!" seru Ibu Suryati dengan nada tinggi, berdiri di samping anaknya seolah siap berperang melawan menantunya sendiri.
"Ibu..." Miska menatap mertuanya sedih. "Bukan begitu... kebutuhan naik terus, harga sayur, beras, semuanya mahal. Uang segini tidak cukup..."
"Alasan saja! Kamu itu pasti menyembunyikan uangnya, mau ditabung untuk dirimu sendiri kan?! Dasar wanita pelit dan tidak tahu diuntung!" Ibu Suryati menunjuk wajah Miska dengan jari telunjuknya, matanya melotot marah. "Anakku sudah capek-capek kerja, kamu malah mengeluh terus! Harusnya kamu bersyukur masih diberi apa adanya, bukan menuntut ini-itu!"
"Saya tidak menuntut, Bu... Saya hanya bertanya kenapa kurang..."
"Pertanyaanmu itu sudah menuntut! Sudah, diam kamu!" potong Askar kasar, mengambil tasnya kembali. "Saya keluar dulu. Jangan cari saya."
Dengan langkah lebar, Askar pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh sedikit pun. Pintu tertutup keras, meninggalkan Miska sendirian menghadapi Ibu Suryati yang masih memelototinya dengan tatapan benci.
"Lihat kan? Anakku sampai pergi karena kamu!" ucap Ibu Suryati sinis sebelum masuk kembali ke kamarnya. "Kamu itu memang pembawa sial di rumah ini!"
Miska menghela napas panjang, menatap uang di tangannya yang terasa begitu berat dan menyakitkan. Ia menyimpannya di laci lemari, lalu mencoba menenangkan diri. Hari itu, ia tidak akan membiarkan kemarahan mereka merusak semangatnya. Ia punya hal lain yang harus dikerjakan.
Siang harinya, setelah memastikan Ibu Suryati sedang tidur siang, Miska berjalan keluar menuju toko kelontong Bu Lina. Ia berencana membeli beberapa perlengkapan untuk jualan seperti alat tulis untuk mencatat pesanan. Jalan menuju toko itu harus melewati sebuah kafe kecil yang cukup ramai di pinggir jalan raya.
Saat ia berjalan melewati kafe itu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Jantungnya berdegup kencang, seakan berhenti berdetak sesaat. Di dekat jendela kafe itu, terlihat sosok pria yang sangat ia kenal—Askar. Dan di hadapannya, duduk seorang wanita cantik, tersenyum cerah sambil menatap suaminya. Wanita itu memakai pakaian rapi, rambutnya terawat indah, dan tangan mereka sesekali saling bersentuhan di atas meja,
Itu bukan tempat makan siang kantor, bukan juga urusan pekerjaan. Mereka berdua makan dengan santai, tertawa lepas, saling menuangkan minuman—sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu bersama.
Miska terpaku di tempatnya, napasnya tertahan. Kakinya terasa berat sekali, seolah tertanam di tanah. Ia ingin berlari masuk dan bertanya, ingin memastikan apakah itu benar-benar mereka. Namun keraguan muncul—mungkin dia salah orang? Tapi tatapan itu, senyum itu... tidak mungkin salah. Itu tatapan yang tidak pernah ditujukan kepadanya akhir akhir ini
Jangan berlebihan, Miska. Bisa jadi itu hanya urusan kantor. Jangan buat masalah sebelum yakin, batinnya berusaha menenangkan diri, meski air mata sudah mulai menggenang di matanya. Dengan berat hati, ia membuang pandangan, melanjutkan langkah kakinya menjauh dari kafe itu, menuju toko Bu Lina. Namun pikirannya tak bisa tenang. Bayangan wajah mereka berdua terus berputar di kepalanya, membuat dadanya sesak dan perih.
Sesampainya di toko Bu Lina, ia berusaha tersenyum dan berbicara seperti biasa, memilih kemasan dan barang yang dibutuhkan, namun hatinya tetap gelisah. Setelah selesai berbelanja, ia pulang dengan langkah lambat, berharap pemandangan tadi hanyalah salah paham belaka.
Sesampainya di depan rumah, pintu terbuka dan Ibu Suryati sudah berdiri di sana dengan wajah penuh kemarahan. Di kakinya, terlihat tumpukan baju yang baru saja dijemur namun kini tergeletak kotor berdebu di tanah.
"Kamu ini ya Miska!" teriak Ibu Suryati begitu melihat menantunya. "Lihat ini! Lihat apa yang kamu lakukan!"
Miska menatap baju-baju itu dengan bingung. "Itu... baju yang tadi saya jemur, Bu. Kenapa jatuh ke tanah?"
"Kenapa?! Kamu itu yang tidak teliti! Pasang jemuran tidak kuat, lalu pergi begitu saja! Sekarang semua baju kotor lagi, harus dicuci ulang! Kamu itu memang tidak bisa diandalkan!" Ibu Suryati menendang salah satu baju hingga terlempar ke arah kaki Miska. "Lihat baju kesayangan Askar ini! Sekarang penuh debu dan kotoran! Kamu memang selalu merusak segalanya!"
"Saya pasang dengan kuat tadi, Bu... Mungkin angin kencang yang menjatuhkannya," jawab Miska pelan, berusaha tetap sopan meski hatinya sedang hancur karena pemandangan di kafe tadi.
"Angin? Selalu saja alasan angin! Kamu pasti kerjanya asal asalan karna malas ! Jemuran tidak diperiksa, lalu pergi keluar entah ke mana! Mungkin kamu itu sengaja pergi dengan laki-laki lain ya, sampai lupa semua pekerjaan rumah!" tuduh Ibu Suryati dengan nada merendahkan, matanya menatap tajam ke arah Miska.
"Saya tidak pergi ke mana-mana, Bu! Saya hanya ke toko Bu Lina beli perlengkapan..."
"Alasan saja! Kamu pikir saya percaya?! Kamu itu setiap hari saja membuat masalah di rumah ini! Cuci ulang semuanya sekarang juga! Dan jangan harap saya akan membantu kamu sedikit pun!" Ibu Suryati mendengus kasar, lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.
Miska berdiri sendirian di halaman, menatap baju-baju kotor di tanah, lalu menatap pintu rumah yang tertutup. Di dadanya, rasa sakit bertumpuk-tumpuk—uang yang kurang, pemandangan di kafe yang tak bisa dilupakan, dan makian mertua yang tak pernah berhenti. Namun kali ini, ia tidak menangis. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan berlutut untuk mengambil baju-baju itu. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya—kesedihannya perlahan berubah menjadi kekuatan yang diam-diam tumbuh. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya hancur. Ia akan tetap berdiri, walau diinjak sekalipun.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪