Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMUKAN PETANI DAN RUNTUH NYA TAHANAN
Di dalam aula utama benteng markas Shadow Vanguard di pinggiran Ibukota Kerajaan, suasana dipenuhi tawa kemenangan. Alya terantai di atas altar batu hitam, kedua tangannya diikat oleh rantai sihir Mana Nullifier yang menguras daya sucinya.
Komandan bertopeng naga berdiri di depan altar, menatap Alya dengan pandangan penuh keserakahan. Di sekelilingnya, puluhan ksatria eksekutif tingkat tinggi berdiri berjaga dengan senjata terhunus.
"Akhirnya... intisari Saintess suci kembali ke tangan Kerajaan!" seru sang Komandan tertawa meremehkan. "Kau lihat, Lady Alya? Petani lemah yang kau banggakan itu bahkan tidak ada di sini untuk menyelamatkanmu. Dia mungkin sedang menangis ketakutan di gubuk kusamnya!"
Alya mendongak perlahan. Meski matanya sayu dan tubuhnya lemas akibat racun bius, tidak ada sedikit pun rasa takut di wajah cantiknya. Bibirnya justru menyunggingkan senyum tipis yang dipenuhi rasa kasihan.
"Kalian... benar-benar tidak tahu apa yang telah kalian perbuat," bisik Alya lembut, suaranya terdengar tenang di tengah aula yang dingin.
"Apa maksudmu, wanita sialan?!" bentak sang Komandan tajam.
"Kalian membawa orang yang salah..." Alya menatap lurus mata Komandan di balik topengnya. "Dan kalian telah merusak cangkir teh suamiku. Dia... pasti sangat marah sekarang."
"Hahaha! Marah?! Seorang petani sipil biasa mau marah pada pasukan terbaik Kerajaan?!" Komandan itu tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh seruan ejekan dari puluhan ksatria di sekelilingnya. "Biarkan dia datang! Kami akan menginjak kepalanya seperti—"
BOOOOOOOOOOM!
Sebelum kalimat sang Komandan selesai, dinding benteng batu setebal lima meter di depan mereka meledak hancur berkeping-keping!
Gelombang tekanan udara yang luar biasa dahsyat menyapu seluruh isi ruangan. Pintu besi raksasa runtuh menjadi debu, dan belasan ksatria di barisan depan terlempar dihantam serpihan batu hingga terhempas menghantam dinding.
Asap tebal dan debu membubung tinggi. Dari balik kabut reruntuhan, sebuah langkah kaki terdengar melangkah santai.
Tuk. Tuk. Tuk.
Semua ksatria menegang. Udara di dalam ruangan mendadak terasa begitu berat dan pekat, seolah-olah gravitasi di dalam benteng melonjak ratusan kali lipat. Beberapa ksatria tingkat menengah langsung berlutut muntah darah hanya karena menghirup hawa keberadaan sosok di depan mereka.
Ketika asap perlahan menipis, sosok Kayy berdiri di sana. Baju petaninya sedikit berdebu, tetapi pandangan matanya menancap dingin lurus ke arah altar tempat Alya terikat.
"K-Kau... bagaimana bisa kau menembus benteng pertahanan sihir tingkat lima Kerajaan?!" teriak salah satu Eksekutif Shadow Vanguard dengan raut wajah pucat pasi.
Kayy tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik ksatria yang bertanya. Langkah kakinya terus mengayun menuju altar.
"Bunuh dia! Cepat habisi petani itu!" teriak Komandan histeris.
Dua puluh ksatria bayangan melompat serentak. Bilah pedang dilapisi sihir elemen api, petir, dan kegelapan meluncur dari segala arah menuju leher Kayy dengan kecepatan suara.
Kayy hanya mengibaskan tangan kirinya dengan santai, seperti mengusir nyamuk.
BANG!
[Penguatan Fisik: Hentakan Tekanan Udara]
Hanya dari ibasan angin tangannya, gelombang kejutan tak terliat meledak. Pedang-pedang sihir tingkat tinggi hancur berkeping-keping bagaikan kaca murah. Dua puluh ksatria bayangan itu terlempar menembus atap benteng, menghilang ke langit sebelum sempat menjerit.
Seketika, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Komandan bertopeng naga mundur beberapa langkah dengan lutut gemetaran. "I-Sihir macam apa itu?! Tidak ada aura mana sedikit pun dari tubuhmu!"
Kayy terus melangkah hingga berdiri tepat di depan altar batu. Ia menunduk, menatap Alya yang tersenyum lemah padanya.
"Maaf aku terlambat, Alya," ucap Kayy lembut. Suaranya mendadak kembali hangat, sangat kontras dengan pembantaian yang baru saja ia lakukan dalam satu detik.
Alya terkekeh pelan, air mata haru menetes di pipinya. "Aku tahu kamu pasti datang, Kayy."
Kayy meraih rantai sihir Mana Nullifier yang mengikat kedua tangan Alya. Rantai yang diklaim tak bisa dihancurkan bahkan oleh sihir tingkat Legendary itu diremas oleh Kayy dengan jari telanjangnya.
KREK... PRANG!
Rantai besi hitam itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk garing. Kayy merengkuh tubuh Alya, mengangkatnya dengan lembut ke dalam pelukannya.
"B-Bocah monster!" teriak sang Komandan penuh ketakutan. Ia mencabut pedang sihir pusakanya, mengarahkan inti sihir terkuatnya ke arah punggung Kayy. "Mati kau!"
Kayy bahkan tidak menoleh. Sambil menggendong Alya di tangan kirinya, tangan kanan Kayy meluncur cepat mencengkeram wajah sang Komandan bertopeng naga.
Greb.
Kayy mengangkat tubuh Komandan Kerajaan itu ke udara dengan satu tangan. Topeng emas bergambar naga itu retak seribu di dalam genggaman Kayy.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Kayy dingin.
"K-Kerajaan... Petinggi Kerajaan..." gagap sang Komandan dengan napas tersengal-sengal di ujung maut. "K-Kamu tidak akan bisa menang melawan seluruh militer Kerajaan, petani sialan!"
Kayy menatap mata Komandan itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kalau begitu," bisik Kayy pelan tepat di depan telinga sang Komandan, "bilang pada Kerajaanmu... aku akan datang meratakan istana kalian esok hari."
KREK!
Kayy melemparkan tubuh Komandan yang sudah tak bernyawa itu ke tanah. Ia lalu memutar tubuhnya, berjalan santai keluar dari benteng yang kini telah runtuh separuh, membawa Alya kembali ke pelukannya menuju gubuk mereka yang tenang.