"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. DSKKR
"Kita Jalan dulu saja lah.." ucap Fandi.
Mereka pun berjalan langkah demi langkah sampai beberapa kali tertatih karena kelelahan hingga akhirnya mereka berada di samping sebuah pasar.
"Kita istirahat dulu ndi. Ibu capek, udah 10 kilo kita jalan." Ucap ibu Ratna
"Iya sudah bu, ini duduk dulu disini..Fandi beli air minum" Ucap Fandi melapangkan kardus untuk duduk ibu dan adiknya.
"Ini bu minum dulu, ini ntan minum juga" Ucap Fandi menyerahkan 2 botol air mineral.
"Bu, kenapa kita jadi kaya pengemis gini sih bu.. ah.. gimana kalau temen-temen intan tau.. mas... Gimana ini" keluh Intan.
"Sudah lah ntan, keadaan kita sudah begini. Terpaksa kamu ambil cuti saja semester ini dan semester depan" jawab Fandi.
"Ya enggak bisa kaya gitu lah mas.. Intan tuh udah semester akhir loh.."
"Kalau kamu enggak mau gitu, ya terserah. Mas engga ada uang.. kamu harusnya jangan minta uang ke mas waktu itu. 1 baju 20 juta.. kalau tau bakalan begini. Kita enggak bakalan begini. Sekarang, apa baju kamu bisa dijual? Enggak kan?" Ucap Fandi dengan amarah.
"Sudahlah jangan berantem begitu.. cape ibu dengernya"
Setelah pertengkaran itu, Fandi melihat ada toko bahan pokok yang sedang menurunkan berton-ton beras dari truk. Fandi pikir akan menawarkan diri bekerja memanggul beras itu.
"Kalian tunggu sini saja. Kayaknya bentar lagi hujan. Sini bu.." Ucap Fandi lalu membereskan kardus itu dan memindahkan nya ke depan toko yang tertutup lama.
"Kamu mau kemana ndi?" Tanya ibu Ratna.
"Itu bu ke toko sembako itu, lumayan buat kita makan." Ucap Fandi lalu berjalan menuju toko itu.
"Kamu mau jadi apa ndi?"
"Sudahlah bu, kalian disini saja"
Setelah sampai, "Permisi pak.." ucap Fandi setelah sampai di depan toko sembako.
"Iyaa? Mau beli apa ya?" Jawab pemilik toko.
"Emm begini pak, apa bisa saja ikut bekerja disini?"
"Bekerja? Tidak pak, disini tidak ada lowongan" jawab pemilik toko.
"Pak, saya bisa kok angkut beras pak. Saya mohon pak, buat ibu dan adikku makan. Kami baru di usir dari kontrakan. Masih luntang-lantung pak. Saya mohon"
Pemilik toko pun iba, "Ya sudah, kamu ikut angkut beras ke gudang. Tapi saya hanya bisa memberi kamu 50 ribu saja"
"Terimakasih pak. Tidak papa. Terimakasih"
"Ya sudah-sudah.. sana mulai angkut beras nya, handi... Ini ada orang yang mau ikut angkat beras" Ucap Pemilik toko.
Seorang pria bertubuh kekar pun datang menghampiri. "Ayo mulai saja.. jangan sampai ada karung atau beras yang jatuh ya!"
"Siap pak.."
Fandi pun mulai mengangkut karung berisi beras hingga malam. Sampai semua selesai, Fandi dengan lelah dan terhuyung-huyung karena jarang bekerja berat pun sedikit pucat.
"Ini bayaran kamu.." Ucap pemilik toko.
"Terimakasih banyak pak.."
"Ya sudah, sana pergi..saya hanya bisa mempekerjakan kamu sekali"
"Iya pak.. terimakasih"
Fandi pun dengan gembira menoleh kearah ibu dan adiknya yang terlihat tertidur di alas kardus bekas itu.
Fandi berjalan mendekat membawa tiga bungkus nasi angkringan murah. Bajunya kotor, rambutnya kusut, dan matanya merah kelelahan setelah seharian berjalan kaki lalu melakukan pekerjaan serabutan tadi.
"Bu.. ntan... bangun. Nih, makan dulu," kata Fandi dengan suara parau seraya meletakkan bungkus nasi itu ke atas kardus.
Intan terbangun dan dengan cepat membuka bungkus nasi itu lalu melemparnya kembali dengan wajah jijik. "Nasi tempe lagi, Mas?! Intan udah gak tahan! Baju Intan kotor, muka Intan kusam, terus sekarang makan aja kayak orang utan!"
"Intan! Jaga mulut kamu!" gertak Fandi dengan napas terengah-engah, emosinya meledak. "Mas udah usaha seharian! Kalo kamu gak mau makan, gak usah makan!"
Ibu Ratna menepuk dadanya seraya menangis sesenggukan. "Ya Allah, Fandi... kenapa hidup kita jadi sengsara begini? Dulu waktu kamu masih sama Maya, kita tinggal di rumah adem, makan enak, gak pernah keleleran di jalanan..."
"Ibu yang suruh Fandi ceraikan Maya, kan?!" potong Fandi meledak, menunjuk wajah ibunya dengan jari bergetar. "Ibu yang selalu bilang Maya itu beban, pembantu, gak berguna! Sekarang lihat! Maya yang Ibu hina itu sekarang makin kaya raya, makin cantik, dipuja-puja orang! Dan kita... kita diusir kayak anjing buang!"
Ibu Ratna terpaku. Lidahnya kelu. Penyesalan yang terlambat itu kini datang menghantam dadanya begitu keras, menyisakan rasa bersalah yang teramat sangat atas segala kesombongan dan kekejamannya di masa lalu.
"Karena Siska kita jadi begini.. Ya ampun.. Ibu lelah sekali begini terus" Ucap Bu Ratna.
"Makan aja bu.. seadanya dulu.. nanti kita cari rumah kosong saja yang engga pernah di tinggali. Lumayan buat kita berteduh kan" Ucap Fani menurun kan ego dan emosi nya.
Ibu ratna dan intan pun terpaksa menurut dan memakan makanan itu dengan lahap dan habis. Di malam yang semakin dingin, hening dan semakin larut. Fandi, ibu dan adiknya berjalan menelusuri kawasan yang jarang penduduk yang terkenal angker dan terkenal sepi. Hingga setelah berbelok ke gang kecil, ada sebuah rumah berlantai dua yang sudah kumuh, dan tak terawat dengan banyak ilalang serta lumut di depan nya.
"Iiih mas.. serius kita mau tinggal disini? Takut mas.. serem banget, mana jalan kesini gang kecil dan isinya cuma rumah itu lagi.
"Diam kamu intan. Masih untung ada rumah yang di tinggal pemiliknya. Kalau tidak, kita bisa tidur di pinggir jalan."
"Iya ndi.. serem sekali rumah nya.. "
Namun walaupun mengatakan itu, ibu dan adiknya fandi tetap ikut masuk kedalam rumah itu.
"Loh.. gelap sekali ndi.."
Intan dan Fandi otomatis menyalakan lampu senter hp mereka. Lalu fandi mencari sekring listrik rumah itu dan ajaib nya masih menyala.
"Masih nyala. Syukurlah.. Bu, ntan tinggal kita bersihkan saja rumah ini baru bisa kita tinggali. Lumayan furniture nya masih lengkap juga.."
"Ya bagus sih mas.. tapi tetep aja serem."
"Sudahlah, di posisi kita sekarang jangan ada protes titik."
~Bersambung.~