Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
"Bray..."
Suara panggilan Brian bergema pelan di koridor Velvet Noir yang remang-remang. Langkah kaki Brayen terhenti seketika saat ia melewati adiknya. Tanpa menguarkan sepatah kata pun, Brayen perlahan berbalik, menatap dingin ke arah kembarannya.
Brian bersandarkan punggungnya di dinding granit, menatap Brayen dengan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran.
"Orang yang ingin kau bebaskan dari penjara itu... Bonna, kan?" tanya Brian langsung.
Brayen tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung dengan sorot mata yang mengeras, membiarkan keheningan berbicara untuknya.
"Kau mati-matian berusaha menyelesaikan misi terakhir kita dengan sangat cepat," lanjut Brian seraya menatap kuku-kukunya. "Kau terus menekan dan memarahiku setiap kali aku bermain-main saat menjalankan tugas. Kau ingin cepat-cepat kembali kemari hanya untuk meminta imbalan pada Tuan Nolan. Kau jadi teramat tidak sabaran sejak mendengar kabar kalau Bonna masuk penjara seusai melukai adiknya sendiri."
Brian terkekeh pelan, nada bicaranya berubah menjadi ejekan yang menusuk. "Dan sekarang... di saat kau ingin membebaskannya dari balik jeruji besi, kau justru bertemu dengannya di tempat ini. Bebas dari penjara hukum, tetapi masuk ke dalam kandang para binatang buas."
Rahang Brayen mengatup rapat. Pria itu menahan gejolak amarah yang mendidih di dadanya sebelum akhirnya bersuara datar, "Aku akan mengubah permintaanku pada Tuan Nolan."
Brian memiringkan kepalanya, menyipitkan mata. "Kau akan meminta apa? Meminta Bonna agar diberikan padamu sebagai pelac*r pribadi?"
"Mungkin," sahut Brayen tanpa ragu. "Jika hal itu bisa membuatnya kembali ke pelukanku lagi... setelah kau dengan bodohnya merusak hubunganku dengannya di masa lalu."
Brayen berbalik dengan cepat, mengibaskan jaketnya dan hendak melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ucapan Brian berikutnya berhasil menghentikan langkahnya dan membuat kedua tangan Brayen mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kurasa Tuan Nolan tidak akan memberikannya padamu dengan mudah, Bray," ujar Brian pelan namun penuh racun. "Lucifer bilang... Tuan Nolan sudah tiga kali menidurinya, bahkan sampai mengabaikan Seraphina."
Brayen terdiam sejenak. Dada pria itu kempas-kempis menahan amarah yang membakar sumsum tulang belakangnya. Ia memutar sedikit kepalanya tanpa menoleh sepenuhnya.
"Aku tidak peduli berapa kali dia ditiduri oleh Tuan Nolan," desis Brayen, suaranya terdengar teramat dingin dan penuh penekanan. "Aku tidak membutuhkan pendapatmu dalam masalah ini."
Brayen menarik napas panjang yang terasa menyiksa dada, memutar tubuhnya dan menatap lurus ke dalam manik mata Brian.
"Kalau saja malam itu kau tidak membuat masalah konyol dengan menyusup ke ranjangnya, maka semua kemalangan ini tidak akan pernah terjadi! Perbuatan menjijikkan mu malam itu adalah salah satu pemicu utama mengapa Bonna menjadi semakin membenci adiknya sendiri. Kebodohanmu yang membuat Bonna lepas dari tanganku dan mendorongnya hingga masuk ke dalam penjara!"
Brian terdiam. Bibirnya terkunci rapat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas sepatah kata pun ucapan keras kakaknya. Ia hanya membiarkan Brayen berbalik dan melangkah pergi melewatinya, meninggalkannya seorang diri yang terpaku di tengah remangnya lorong.
°°°°
Malam harinya, keheningan di lantai atas Velvet Noir kembali terusik.
TOK.TOK.
Pintu kayu tebal ruang kerja Nolan kembali ketuk dari luar. Saat Nolan—atau Dariush—menguarkan suara dingin memperbolehkan masuk, engsel pintu terdorong pelan. Sosok yang melangkah masuk ternyata adalah Brayen.
Nolan yang sedang memeriksa lembaran dokumen di balik meja besarnya mendongak tipis. Sorot mata kelamnya menatap dingin pada pria yang berdiri di depan pintu tersebut.
"Bukankah sudah kubilang... kau cukup berikan nama lengkap dan lokasi lapasnya pada Lucifer?" cetus Nolan datar, suaranya berwibawa dan menekan. "Kau tidak perlu repot-repot menghadap padaku lagi hanya untuk permintaan mu itu."
Brayen berdiri tegar di hadapan meja kerja tuannya. Matanya sempat tertuju pada ujung sepatunya, seolah-olah sedang menimbang-nimbang keputusan besar di dalam hatinya—apakah ia harus mendongakkan kepala dan menatap lurus manik mata sang tuan, atau tetap menunduk membawakan diri sebagai bawahan.
Akhirnya, Brayen berdehem pelan. Ia menegakkan posisi tubuhnya, berusaha membusungkan dada untuk mengumpulkan sisa-sisa keberanian di hadapan pria yang paling ditakuti di dunia bawah itu.
"Aku ingin mengganti reward-ku, Tuan," ucap Brayen dengan nada suara tegar. "Orang yang ingin kuselamatkan dari penjara... ternyata sudah tidak mendekam di balik jeruji besi lagi."
Kening Nolan berkerut tipis hearing penuturan itu. "Di mana orang itu sekarang?"
Brayen menelan ludahnya yang terasa menyumbat kerongkongan. "Dia ada di sini. Ada di tempat ini, Tuan."
Kerutan di kening Nolan semakin dalam. Sejenak, otak cerdas Dariush berputar cepat, menganalisis siapa saja tahanan atau orang baru yang baru saja keluar dari penjara dan bergabung di tempatnya.
Tidak ada anggota baru.
Justru dalam beberapa hari terakhir, Nolan telah menghabisi enam nyawa anak buahnya sendiri: dua orang karena terbukti membantu pihak musuh menyelinap masuk, dan empat orang lainnya dibunuh secara sadis hanya karena berani menatap sepasang manik mata indah milik wanitanya.
Thump. Thump.
Gerakan jari-jari Nolan yang tadinya mengetuk pelan permukaan meja mahoni mendadak terhenti total.
Nolan menatap lurus pada gestur tubuh Brayen yang mendadak tegar namun kaku.
Dari cara pria itu berdiri dan mempermainkan jemarinya, Nolan—seorang master dalam membaca bahasa tubuh—dapat menebak dengan sangat mudah bahwa Brayen sedang berada dalam kondisi teramat tegang dan gugup. Sangat berbanding terbalik dengan gerak-gerik santainya saat masuk ke ruangan ini pagi tadi bersama saudara kembarnya.
Seketika itu juga, tebakan cerdas di dalam kepala Dariush terkunci pada satu nama.
Siapa lagi orang baru yang baru saja menginjakkan kaki di tempat ini selain La Bonna De Luca?
Nolan juga teringat dengan jelas saat pertama kali Bonna tertangkap di area Velvet Noir. Kala itu, Nolan memerintahkan Lucifer untuk mengumpulkan seluruh berkas riwayat hidup La Bonna.
Dan salah satu lembaran informasi yang sempat dibaca oleh Nolan menyebutkan bahwa Bonna adalah seorang tahanan lapas yang baru saja dibebaskan secara ilegal oleh Dorris demi menjalankan misi penyusupan ke tempat ini.
"Apa orang yang kau maksud itu... La Bonna?" tebak Nolan, suaranya meluncur tenang namun begitu menusuk.
Tebakan tepat sasaran itu seketika membuat seluruh persendian tubuh Brayen membeku. Bahunya mengeras drastis.
Nolan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, lalu melanjutkan dengan senyum tipis yang teramat dingin, "Dia adalah orang kiriman Dorris. Pria yang mengejarmu malam itu saat kau tengah mengedarkan barang haram adalah orang-orangnya. Kejadian itulah yang membuatmu berujung dipenjara karena menabrak seseorang saat melarikan diri."
Nolan mengetuk jemarinya lagi ke meja. "Dorris pula yang membebaskan La Bonna dari balik jeruji besi dan membujuknya untuk menyelinap masuk kemari. Kalau bukan karena Alena yang menangis histeris dan memohon-mohon padaku untuk tidak membunuhnya... wanita itu pasti sudah mati tepat setelah ia melangkahkan kaki pertama kalinya di tempat ini."
Di hadapannya, Brayen mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya mengeras kuat hingga otot-otot di lehernya menegang menahan amarah yang meledak di dalam batinnya hanya dengan mendengar fakta bahwa Bonna seharusnya sudah tewas sejak awal.
Nolan mengamati setiap perubahan kecil pada ekspresi wajah Brayen. Dia sangat peduli pada wanita itu, simpul Dariush di dalam hatinya.
Sebagai pria yang terbiasa hidup di dalam kegelapan, Nolan teramat ahli dalam mengamati pergerakan lawan, membaca gejolak emosi, hingga memanipulasi pikiran orang lain.
Brayen mungkin sangat ahli dalam memainkan senjata api dan bisa menembak kepala musuh dari jarak jauh dengan sangat tepat sasaran—sebuah peran penting yang membuat Nolan dulu repot-repot merekrutnya keluar dari jeruji besi. Namun untuk urusan permainan emosi dan manipulasi psikologis, Brayen teramat mudah dibaca bagi sosok berdarah dingin seperti Nolan.
Nolan memiringkan kepalanya, sengaja memancing emosi bawahannya itu lebih dalam.
"Aku tidak bisa membiarkan wanita itu lepas dari tempat ini," tutur Nolan dingin. "Bebas dari Velvet Noir artinya sama saja dengan mati. Tapi kalau kau memang sangat ingin melihatnya mati... maka dengan senang hati, aku bisa memerintahkan Lucifer untuk menembak kepalanya sekarang juga."
Nolan berpura-pura mengelus dagunya seolah sedang berpikir. "Ah... jangan menembak kepalanya. Matanya sungguh terlalu berharga untuk dihancurkan. Mungkin... cukup bawa dia ke meja operasi, lalu bedah dan ambil kedua matanya hidup-hidup hingga ia kehabisan darah dan mati dengan sendirinya."
Nolan tersenyum kejam. Ia teramat suka memprovokasi.
Sebab bagi Dariush, orang yang paling mudah terprovokasi akan selalu menunjukkan kelemahan terbesar mereka, memberikan celah terbuka yang teramat mudah untuk diserang dan dihancurkan.
Umpan provokasi itu langsung dimakan bulat-bulat oleh Brayen. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap Nolan dengan mata memerah menahan gejolak emosi.
"Jika dia tidak bisa pergi dari tempat ini... tolong berikan dia kepadaku, Tuan!" seru Brayen dengan suara bergetar namun tegas. "Jangan biarkan dia menjadi pelacur di tempat ini! Hadiahkanlah Bonna kepadaku... dan aku bersumpah, aku akan memastikan Bonna tidak akan pernah bisa memberikan ancaman atau kerugian apa pun kepadamu, Tuan Nolan!"
Mendengar permintaan yang teramat berani itu, Nolan tidak langsung marah. Pria itu justru bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja kayu, lalu mendudukkan dirinya kembali dengan gaya yang teramat santai dan penuh dominasi.
Nolan menatap Brayen dari atas ke bawah, seolah sedang memandangi seekor semut kecil yang mencoba menantang gajah.
"Kau bisa meniduri wanita itu seperti kau bebas meniduri semua wanita lainnya di tempat ini," ujar Nolan dengan nada bicara yang teramat tenang namun mengancam. "Aku juga bisa membuat pengecualian khusus agar tidak ada pelanggan mana pun yang bisa menyewanya."
Nolan menj jeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Brayen. "Tapi... dia bukan milikmu, Brayen. Semua wanita yang ada di tempat ini adalah milikku. Bahkan... nyawamu dan kembaranmu pun adalah milikku sejak detik pertama kalian setuju untuk bekerja di bawah kepemimpinanku."
Nolan menaikkan sebelah alisnya, melihat Brayen masih berdiri mematung kaku di tempatnya tanpa niat untuk bergerak.
"Kenapa?" bisik Nolan dingin. "Apakah kau tidak setuju dengan keputusanku?"
Brayen mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menyadarai batas bahaya yang sedang di injak-nya.
Dengan perlahan dan terpaksa, Brayen akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. Tentu saja, ia tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menentang perintah Nolan secara terbuka. Menentang Tuan Nolan secara langsung sama saja dengan mengundang maut detik itu juga.
Nolan mengibaskan tangannya santai. "Kau boleh pergi jika sudah tidak ada hal lain yang ingin kau katakan. Kau bisa memakai dan meniduri wanita itu sekarang jika kau mau. Lagi pula... ini bukan pertama kalinya kau tidur dengan seorang wanita setelah aku menidurinya, bukan? Ini bukan hal yang baru bagimu."
Nolan menyunggingkan senyum seringai yang teramat iblis saat menyaksikan Brayen akhirnya menundukkan kepala, berbalik, dan melangkah keluar meninggalkan ruang kerja tersebut dengan bahu yang menegang keras.
BRAK.
Begitu presensi dan langkah kaki Brayen benar-benar menghilang sepenuhnya dari balik pintu yang tertutup, senyum seringai di wajah Nolan seketika sirna tanpa sisa.
PRANGGG!
Dengan gerakan kilat yang dipenuhi oleh amarah yang meledak-ledak, tangan kanan Dariush menyapu sebuah gelas kaca tebal bertatahkan kristal di atas mejanya, melemparkannya dengan sekuat tenaga hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding batu!
"Sialan!" geram Dariush di dalam batinnya, dadanya kempas-kempis memburu hebat dengan urat-urat leher yang menonjol keluar.
Jadi kau... kau pria bajingan yang pertama kali menyentuh kulitnya?! Dan sekarang... kau dengan tidak tahu dirinya berani meminta milikku?! amuk batin Dariush dengan cemburu buta yang membakar seluruh akal sehatnya.
Dariush menyandarkan kedua telapak tangannya di atas meja, menundukkan kepala seraya berusaha menata napasnya yang menderu keras. Otak cerdasnya yang dingin mulai menyusun kembali semua puzzle dan potongan informasi yang saling terhubung.
Semua ini... terlalu sempurna untuk disebut sebagai sebuah kebetulan belaka!
Dariush bukanlah pria bodoh yang tidak bisa melihat pola permainan kotor di balik semua peristiwa ini.
La Bonna dan Brayen saling mengenal di masa lalu, bahkan pernah memiliki hubungan asmara yang teramat dalam.
Lalu, Brayen dikejar-kejar oleh anak buah Dorris saat sedang mengedarkan barang haram, hingga berujung pada kecelakaan tabrak lari yang menjebloskannya ke dalam penjara.
Dan Dorris—si ular berkepala dua dari faksi lawan—tentu saja mengetahui fakta bahwa Bonna juga dijebloskan ke dalam penjara akibat menganiaya adiknya sendiri.
Dorris kemudian datang membebaskan Bonna, memanfaatkan dendam dan rasa sakit hati wanita itu, lalu memberikannya jebakan manis yang dibalut bantuan untuk menyusupkan Bonna ke dalam Velvet Noir!
"Bajingan sialan..." desis Dariush melempar pandangan tajam ke arah dinding yang hancur.
Rencana ini teramat sempurna! Brayen adalah bom waktu dan kejatuhan yang sengaja dipersiapkan oleh Dorris sejak awal untuk menghancurkan pertahanan kekuasaannya dari dalam! Dorris tahu betul bagaimana memanfaatkan ikatan masa lalu untuk memicu pengkhianatan di antara anak buahnya.
Namun, Dariush menyeringai dingin. Dorris dan Brayen sangat salah menilai dirinya.
Dariush tidak akan pernah membiarkan Brayen membawa milik pribadinya keluar dari tempat ini! Dariush tidak sudi kehilangan penawar jiwanya—satu-satunya 'obat tidur alami' yang sanggup menghentikan mimpi buruk dan memberinya ketenangan setelah bertahun-tahun menderita di dalam neraka.
Dariush tidak akan melepaskan Bonna. Dan ia juga tidak akan pernah melewatkan Brayen begitu saja.
Dengan tatapan mata yang berkilat kejam bagaikan iblis yang siap mencabut nyawa, Dariush berdiri tegak. Ia akan mulai bersiap menyusun strategi awal untuk mengeksekusi dan memusnahkan calon pengkhianat berikutnya sebelum duri itu sempat menusuk tubuhnya dari belakang.