Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 32 awal pertemuan dwi
Setelah anomali itu sudah terasa tak bernyawa lagi, putra segera melepaskan gigitannya.
Dari kamera pengawas yang tersembunyi. beberapa dokter, bahkan satu wanita petinggi yaitu Dwi sedang diam-diam mengawasi semuanya dari balik layar pengawas.
"aku suka anomali ini" ujar Dwi
"apakah Dwi bersedia menerima konsekuensinya. Jika anda memilih dia?" jawab dokter Haris
Dwi menoleh ke dokter Haris.
"apapun itu konsekuensi jika aku bisa mengendalikannya maka akan mudah"
"anda benar-benar keras kepala"
Dwi dan dokter harus segera masuk kedalam ruangan putra yang menjadi tempat simulasi pertempuran.
"selamat pagi. Sembilan kosong sembilan!"
Putra langsung menoleh ke arah Dwi dengan tatapan intimidasinya layaknya seekor predator, segera dokter Haris membisikkan kepada Dwi bahwa jangan menyebut nomernya melainkan namanya.
"dwi. Kumohon jangan sebut nomornya itu akan membuatnya marah, panggil saja putra" (bisik dokter Haris)
Dwi segera mengikuti perkataan dokter haris.
"baiklah. hai putra..."
Putra langsung berjalan mendekati mereka berdua, kemudian putra menurunkan kepalanya dan mendekatkan moncong raksasanya kemudian meraung di depan mereka.
GRAHHH!!!!
Raungan putra yang begitu keras mampu membuat rambut dan pakaian mereka tertepa keras seperti angin badai.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN DISINI! AKU BENCI KALIAN!"
ujar putra dengan nada suara yang begitu berat.
Putra yang masih tidak sadarkan diri tiba-tiba mengangkat satu kaki depannya, lalu kemudian akan menebas mereka berdua.
Dokter Haris yang melihat putra yang mencoba menyerang mereka. segera menarik baju milik Dwi mengajaknya menghindar namun Dwi tetap kekeh berdiri dengan santai menatap putra yang akan menyerangnya.
"putra. Aku tau dirimu begitu menderita"
Dwi menatap dan tersenyum lembut ke putra, layaknya mendiang Liza.
putra yang melihat senyum Dwi, entah mengapa senyumnya begitu mirip dengan mendiang Liza. Hingga membuat Perlahan-lahan dirinya kembali tersadar,putra memelankan serangannya dan putra sengaja membelokkan serangannya sehingga tidak mengenai Dwi dan dokter haris.
Dokter haris benar-benar tidak percaya apa yang dilihat oleh dirinya. Seorang anomali bisa menjadi lebih tenang walaupun dirinya telah berubah menjadi anomali seutuhnya.
"tidak mungkin, bagaimana bisa?"(ujar dokter Haris)
Putra berdiri diam memperhatikan Dwi, seolah-olah dirinya tidak percaya apa yang baru saja ia lihat.
"putra"
Putra langsung tersentak terkejut saat Dwi memanggil namanya, suara saat Dwi memanggil namanya benar-benar nada panggilnya begitu mirip dengan mendiang Liza.
"putra, aku datang kesini ingin menjemputmu pulang"
Namun segera putra segera menyadarkan dirinya, bahwa di depannya bukanlah liza tetapi Dwi.
"maksudmu? Untuk pulang, apa?"
Suara putra terdengar pelan namun masih terdengar berat tidak seperti biasanya.
"aku tau. maaf jika ini akan melukaimu, sebenarnya kamu berasal dari keluarga yang tidak beruntung terutama pada ayahmu."
putra mendekatkan moncong Raksasanya dan menggerang di depan Dwi dan dokter haris.
"GGRRRR.... aku tahu tujuanmu yang sebenarnya."
"putra. Dirimu pasti membutuhkan kehangatan layaknya keluarga namun dirimu tidak bisa mendapatkannya, sebagai seorang anak yang di besarkan tanpa peran ayah itu begitulah menyedihkan, dan rela melakukan tindakan kriminal demi kebahagiaan mamamu disana."
Putra langsung membuka mulutnya lebar-lebar, untuk memakan Dwi.
Dwi tetap berdiri santai dan tenang walaupun, taring-taring panjang dan tajam itu mulai mendekatinya.
"jujur saja. kehadiranku disini ingin memberitahu bahwa aku ingin menjadi mamamu untuk kedua kalinya."
Seketika putra terhenti, mulutnya kembali mundur dan menutup.
"apa?" tanya putra
"iya"
Dwi memegang moncong putra dan mengelus-elusnya dengan begitu lembut.
"putra. Aku mendengar bahwa dirimu begitu menderita saat kecil. Jadi aku disini, aku ingin mengembalikan masa dan memberikan kebahagiaan kepadamu."
seketika putra langsung tersentuh saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Dwi.
"aku tidak tahu bahwa dirimu nak. Bahwa bisa menerima diriku menjadi mamamu untuk keduakalinya"
Entah mengapa perkataan Dwi itu, membuat putra teringat pada mendiang Liza. Namun putra tetap menyadarkan dirinya untuk tidak terkecoh rayuan Dwi, tetapi putra tidak bisa menahannya.
"Mama?"
Dokter haris begitu terkejut, mengapa putra yang liar bisa menjadi luluh terhadap perkataan Dwi.
Putra perlahan-lahan wujud fisiknya yang awalnya menjadi monster raksasa, kini perlahan-lahan berubah menjadi manusia seperti semula.
Putra masih menatap Dwi dengan tatapan yang tak percaya, bahwa Dwi bisa menjadi semirip ini dengan mendiang liza.
"tidak mungkin" ujar putra
Dwi tersenyum lembut.
"ayolah nak. Di dunia ini mengajarkan bahwa di dunia ini tidak semua orang bisa di mengajarkan tentang kebaikan dan memberikan rumah, jika dirimu menemukan keduanya di orang itu maka beruntunglah dirimu... Putra aku ingin menjadi mamamu dirimu mengingatkan pada seorang anak yang pernah aku temui di panti, setiap aku melihat anak itu rasanya ingin mengadopsinya tapi, sayangnya anak itu telah pergi untuk selamanya."
"jadi kumohon putra. Aku ingin merasakan bagaimana memiliki seorang anak. karena, aku adalah wanita karir yang menikahi pekerjaanku sendiri."
"jika dirimu ingin menjadi seorang ibu bagiku, apa jaminan yang akan dirimu berikan kepadaku?" (tanya putra)
"apakah kamu meragukan ku? Ingat, nak aku disini adalah seorang petinggi yang memiliki kekuasaan, aku bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih layak di banding kehidupanmu yang dulu."
"cih... sama saja dirimu tidak ada bedanya, lebih baik aku mati saja."
putra memutar balik badannya dan mulai berjalan pergi, seolah-olah dirinya tidak tertarik apa yang baru saja di katakan oleh Dwi, tetapi dokter harus segera membujuk putra.
"putra. Jika tidak tertarik, maka dirimu akan benar-benar rugi inilah adalah moment penting yang bisa menentukan takdirmu di kedepannya"
"itu benar nak, jika kamu menolak ini apakah kamu yakin. Dengan dosa-dosamu di masa lalu? Belum lagi hukum sosial yang akan menekankan psikismu nak?" (tanya Dwi)
Putra berhenti.
Perlahan-lahan dirinya merenungi dan memikirkannya kembali, hingga putra mengambil keputusan matang-matang bahwa dirinya akan menerima Dwi sebagai orang tuanya kedua kalinya, setelah pertimbangan yang di tolak oleh putra secara mentah-mentah.
*wanita itu... Entah mengapa begitu mirip seperti mama dan cara melakukan juga, dan dia juga memberikan tawaran takdir masa depan yang begitu baik*
Putra kembali menoleh, memutar balik ke arah mereka berdua dan berjalan mendekati mereka berdua.
"baiklah aku setuju, kalau wanita ini akan menjadi mamaku untuk kedua kalinya"
Dwi langsung memeluk putra dengan lembut, setelah putra menerima Dwi sebagai mamanya untuk keduakalinya.
namun...
Putra tidak menyadari bahwa ada niat busuk yang di simpan dari dwi untuk memuaskan rasa egonya di masa depan.
Dwi segera memasang muka terharu bahagia.
"makasih nak. Aku akan memberikan nama baru untuk agar segala kasus dan identitas yang kelam bisa di Samarkan"
"namamu kini sekarang rey, rey laksana putra."