NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 KEBERANGKATAN YANG DIPUTUSKAN

 

Setelah para orang suruhan Liu He pergi dengan ketakutan, Lin Mo kembali masuk ke dalam gubuk tua itu. Ia duduk tenang di lantai tanah yang dingin dan memejamkan mata. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan berdenyut lembut dan teratur. Batu hitam yang digenggam di tangan kanannya terus mengeluarkan hawa sejuk yang halus, menjalar masuk ke dalam telapak tangan, menyatu dengan aliran energi dan membersihkan setiap bagian meridian yang masih terasa sempit atau tersumbat.

Lin Mo merenung dalam-dalam. Ia tahu bahwa hari ini ia telah menyinggung perasaan Liu He dan mempermalukan orang-orang yang dikirimnya. Liu He adalah orang yang berhati sempit dan penuh kesombongan. Ia tidak akan membiarkan penghinaan itu berlalu begitu saja tanpa membalasnya dengan cara yang jauh lebih kejam dan berbahaya. Jika Lin Mo tetap tinggal di desa ini, maka masalah pasti akan terus datang satu demi satu. Liu He mungkin akan mendatangkan orang-orang yang jauh lebih kuat dan jauh lebih berbahaya daripada yang dikirimnya hari ini. Dan pada akhirnya, warga desa yang lemah pun mungkin ikut terlibat bahaya hanya karena kedekatannya dengan Lin Mo.

Lin Mo membuka matanya perlahan. Cahaya putih keemasan samar berkilat di kedalaman matanya sebelum perlahan meredup kembali menjadi tatapan yang jernih dan tenang. Ia telah mengambil keputusan. Ia tidak akan tetap tinggal di desa ini menunggu bahaya datang. Ia akan pergi. Ia akan pergi ke kota yang lebih besar dan jauh dari sini. Di sana ia dapat melatih lautan Qi-nya dengan tenang tanpa terus-menerus diganggu oleh kebencian dan kesombongan Liu He. Di sana pula ia dapat mencari petunjuk tentang kebenaran masa lalu keluarganya dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian orang tuanya.

Namun sebelum pergi, Lin Mo harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ia tidak boleh pergi dengan tangan kosong dan tanpa bekal yang cukup. Jalan yang akan ditempuhnya pasti jauh dan penuh bahaya. Ia harus memastikan bahwa kemampuannya cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri di luar sana.

Lin Mo berdiri perlahan dan berjalan menuju sudut ruangan tempat peti kayu tua itu berdiri. Ia membukanya kembali dengan bantuan energi Qi yang mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual yang lembut namun kokoh. Di dalam peti itu masih tersimpan gulungan kain berisi petunjuk melatih lautan Qi dan pesan terakhir leluhurnya. Lin Mo mengambil gulungan kain itu dan membacanya sekali lagi dengan penuh perhatian agar setiap kata dan maknanya benar-benar tersimpan di dalam hatinya.

Dari tulisan itu, Lin Mo memahami bahwa tingkat perkembangan lautan Qi dibagi menjadi beberapa tingkatan. Yang pertama adalah membangkitkan lautan Qi dan menjaganya tetap jernih dan murni. Tingkat kedua adalah memperluas lautan Qi hingga meridian di seluruh tubuh terbuka sepenuhnya dan energi Qi dapat mengalir lancar tanpa hambatan. Tingkat ketiga adalah menyatukan lautan Qi dengan napas dan detak jantung hingga energi Qi yang berubah menjadi energi spiritual dapat memancar keluar dan melindungi tubuh dalam jarak yang jauh. Dan seterusnya hingga tingkatan yang semakin tinggi dan semakin sulit untuk dicapai.

Saat ini Lin Mo baru berada di awal tingkat pertama. Lautan Qi-nya telah terbangun dan murni namun masih sangat kecil dan dangkal. Meridian di dalam tubuhnya masih banyak yang sempit dan tersumbat. Energi Qi yang berubah menjadi energi spiritual masih sangat lemah dan hanya dapat memancar sejauh kulit tubuh saja. Masih sangat jauh dan sangat panjang jalan yang harus ditempuhnya. Namun Lin Mo tidak merasa takut dan tidak pula merasa putus asa. Selama ia terus menjaga hatinya tetap jernih dan terus melatih lautan Qi-nya dengan tekun dan tenang, maka lambat laun ia pasti akan semakin kuat dan semakin jauh melanggar di jalan ini.

Lin Mo menyimpan kembali gulungan kain itu dengan hati-hati di dalam pelukannya. Ia menutup peti kayu tua itu dan menatapnya cukup lama dengan penuh rasa hormat dan haru. Ia berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan kembali lagi ke tempat ini suatu hari nanti. Saat ia telah cukup kuat dan telah mengetahui kebenaran segalanya. Saat itu ia akan memulihkan kehormatan keluarganya dan membersihkan nama baik orang tuanya yang telah dirusak oleh orang-orang yang jahat.

Lin Mo kemudian berjalan keluar dari gubuk tua itu. Ia mengumpulkan beberapa benda yang diperlukan. Sebuah pakaian ganti yang bersih namun sederhana. Sebuah kantong kain berisi sedikit biji-bijian dan air yang cukup untuk beberapa hari perjalanan. Tidak ada yang lain. Ia tidak memiliki harta berharga dan tidak memiliki benda lain yang dapat dibawanya. Hanya batu hitam peninggalan leluhurnya yang digenggam erat di dalam telapak tangan kanannya dan disimpan dengan aman di dalam saku baju dekat dadanya.

Matahari perlahan mulai condong ke arah barat. Cahaya keemasan sore hari menyinari jalan setapak yang berdebu di depan gubuk tua itu. Lin Mo berdiri diam di depan pintu gubuk itu cukup lama. Ia menatap bangunan reyot itu dengan mata yang jernih namun berkaca-kaca. Di dalam gubuk itu ia lahir dan dibesarkan. Di dalam gubuk itu orang tuanya meninggal dunia dan meninggalkannya sendirian. Di dalam gubuk itu pula ia menemukan warisan leluhurnya dan memahami makna hidup yang sesungguhnya. Sekarang ia harus pergi. Meninggalkan tempat kenangan ini demi mencari kebenaran dan kekuatan yang cukup untuk memulihkan kehormatan keluarganya.

Lin Mo menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berbalik perlahan dan melangkah pergi. Tidak menoleh ke belakang. Langkahnya tegak dan tenang. Di dalam perut bawahnya lautan Qi berdenyut lembut namun kokoh seakan memberi kekuatan dan semangat untuk terus melanggar maju.

Jalan yang dilaluinya menembus hutan belantara yang luas dan sepi. Pohon-pohon raksasa berjejer rapat menutupi sinar matahari sehingga di dalam hutan itu terasa remang-remang dan sejuk. Namun bagi Lin Mo yang indranya telah semakin tajam sejak lautan Qi-nya terbangun, kegelapan dan kerimbunan hutan itu tidak menjadi halangan yang berarti. Ia dapat melihat dengan jelas setiap akar pohon yang melintang di jalan. Ia dapat mendengar suara aliran sungai yang berada jauh di dalam hutan. Dan setiap kali ia merasa lelah atau lapar, ia akan duduk sejenak di tempat yang aman, memejamkan mata, dan membiarkan lautan Qi di dalam tubuhnya berdenyut dan menyerap hawa murni dari sekelilingnya. Dengan cara itu rasa lelah dan lapar perlahan berkurang dan tenaga pun kembali pulih dengan cepat.

Selama perjalanan itu, Lin Mo terus melatih dirinya tanpa henti. Setiap kali berhenti beristirahat, ia akan memejamkan mata dan membiarkan energi Qi mengalir perlahan menyusuri seluruh meridian tubuhnya. Batu hitam yang selalu dibawanya terus bekerja membersihkan dan memperlebar saluran-saluran energi yang sempit dan tersumbat. Setiap hari lautan Qi-nya terasa sedikit lebih luas dan sedikit lebih dalam dari hari sebelumnya. Setiap kali energi Qi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual, cahayanya terasa sedikit lebih terang dan sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

Namun Lin Mo tidak pernah membiarkan hatinya menjadi sombong atau serakah. Ia selalu mengingat pesan leluhurnya agar menjaga hati tetap jernih dan tenang. Ia tidak pernah memaksakan lautan Qi-nya berkembang terlalu cepat agar tidak menimbulkan kerusakan di dalam tubuh. Ia membiarkan semuanya berjalan secara alami dan perlahan namun pasti. Karena ia paham bahwa kemajuan yang lambat namun kokoh jauh lebih baik daripada kemajuan yang cepat namun rapuh dan mudah hancur seketika.

Hari berganti hari. Lin Mo terus melangkah menembus hutan dan melintasi bukit. Ia tidak pernah berjalan di jalan utama yang ramai agar tidak ditemukan oleh orang-orang yang dikirim Liu He untuk mencarinya. Ia memilih jalan yang sepi dan berbahaya meskipun perjalanannya menjadi jauh lebih lama dan jauh lebih sulit. Namun Lin Mo tidak merasa lelah dan tidak pula merasa menyesal. Setiap langkah yang diambilnya semakin menjauhkan dirinya dari bahaya yang ada di desa. Setiap langkah yang diambilnya semakin mendekatkan dirinya kepada tujuan yang ingin dicapai.

Suatu sore, setelah berjalan selama beberapa hari tanpa henti, Lin Mo akhirnya tiba di sebuah bukit yang tinggi dan terbuka. Dari atas bukit itu ia dapat melihat bayangan kota yang besar dan ramai terhampar di kejauhan. Dinding kota yang tinggi dan kokoh menjulang membelah langit. Atap-atap rumah yang berjejer rapat tampak berkilauan terkena cahaya matahari sore. Asap tipis mengepul perlahan naik ke angkasa menandakan kehidupan yang ramai dan sibuk di dalamnya.

Lin Mo berdiri diam di atas bukit itu menatap kota yang jauh di bawah sana. Matanya jernih dan tenang. Di dalam perut bawahnya lautan Qi berdenyut lembut dan teratur. Energi Qi perlahan mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual yang bersinar samar menyelimuti tubuhnya.

Kota itu bernama Kota Qingyuan. Itu adalah kota terbesar di wilayah itu. Di sana terdapat sekte-sekte besar, rumah dagang yang kaya raya, dan banyak sekali orang-orang yang memiliki kemampuan melatih lautan Qi. Di sana pula Lin Mo berharap dapat menemukan petunjuk tentang masa lalu keluarganya dan siapa yang sebenarnya menjadi musuh keluarganya. Namun ia juga tahu bahwa di kota itu kehidupan pasti jauh lebih rumit dan jauh lebih berbahaya dibandingkan di desa kecil tempat ia tinggal. Di sana kekuasaan dan kekuatan menentukan segalanya. Orang-orang yang lemah akan diinjak-injak dan diperas tanpa belas kasihan.

Namun Lin Mo tidak merasa takut. Selama ia menjaga hatinya tetap jernih dan lautan Qi-nya tetap murni dan seimbang, maka ia siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di kota itu. Ia tidak mencari masalah dan tidak pula bermaksud menonjolkan diri. Ia hanya ingin hidup tenang, melatih kemampuannya, dan mencari kebenaran. Namun jika ada orang yang berani menindasnya atau mengganggunya tanpa alasan yang benar, maka ia tidak akan segan-segan membela dirinya dengan sekuat tenaga yang dimilikinya.

Lin Mo menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap matahari yang perlahan terbenam di belakang kota itu. Cahaya kemerahan menyinari wajahnya yang tenang dan teguh. Ia melangkah maju menuruni bukit menuju kota itu dengan langkah yang mantap dan hati yang jernih. Di dadanya, batu hitam peninggalan leluhurnya terasa hangat dan nyaman seakan ikut menyemangati pemuda itu untuk terus melanggar maju menuju masa depan yang penuh tantangan namun juga penuh harapan.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!