"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 - perjodohan
Sesampainya di rumah, suasana terasa begitu hangat dan riuh. Banyak saudara sudah berkumpul — paman, bibi, sepupu, hingga keponakan-keponakanku. Acara arisan keluarga berjalan meriah, penuh cerita, tawa, dan obrolan yang tak henti mengalir, termasuk pembicaraan tentang masa depan masing-masing.
Aku sibuk bermain dengan keponakanku yang masih kecil, Nona. Baru berusia dua tahun, tapi begitu menggemaskan. Wajahnya yang polos dan ceria membuat hatiku tenang seketika. Menatanya seperti melihat diriku sendiri saat masih kecil dulu.
"Indah, kamu cocok banget kalau sudah punya anak lho. Sabar dan lembut sekali," ujar Tante Rini sambil tersenyum.
Aku tersipu malu. "Eh, Tante bisa aja."
"Memang benar loh. Di usiamu ini, seharusnya kamu juga sudah punya anak. Nanti kalau terlambat, lho..."
Hatiku perlahan terasa sesak. Senyumku masih terpasang, tapi di dalam hati aku bergumam: Memang terlihat seperti aku punya segalanya, tapi jodohku belum juga ada di mana-mana.
"Coba saja doakan, Tan. Semoga aku bisa menyusul Kak Nisa nanti," jawabku pelan.
"Harus begitu dong! Jangan sendirian terus, Indah. Biar hidupmu ada yang menemani, biar ada tempat pulang," kata Tante Rini lagi.
Belum lama itu terucap, Mamaku datang menghampiri kami.
"Wah, seru banget nih bahas apa? Mama mau ikut dong!" sapa Mama ceria.
"Ini loh anakmu, Mbak. Harus segera menikah biar tidak kesepian. Kerja terus, lupa diri," ucap Tante Rini.
Mama tersenyum tenang. "Oh, Indah itu sedang fokus ke kariernya dulu, Mbak. Nanti kalau jodohnya sudah datang, pasti dia akan menikah. Tidak perlu terburu-buru."
Tante Rini tiba-tiba berseru, "Eh, iya! Temanmu yang laki-laki itu, bagaimana kalau dijodohkan dengan Indah?"
"Siapa maksudmu?" tanya Mama.
"Rizki! Anak temanmu itu, kan tampan, sudah mapan juga. Dia rekan kerja suamiku lho. Dengar-dengar dia masih lajang. Bukannya dulu Indah dan dia akrab?"
Hatiku berdebar pelan. Rizki...
"Mbak ini ada-ada saja. Zaman sekarang kok masih dijodohkan sih," canda Mama, tapi suaranya terdengar lembut.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Di dalam hati, aku bergumam: Andai saja Tante tahu... aku sebenarnya mau. Tapi apakah Rizki mau bersamaku? Apakah hatinya memang terbuka untukku?
"Gimana, Indah? Kok diam saja? Mau tidak kalau dijodohkan dengan Rizki? Nanti Tante bicara dengan ibunya ya!" tanya Tante Rini antusias.
"Indah ikut saja apa kata Mama," jawabku pelan.
"Anak penurut sekali. Berbakti pula," puji Tante Rini.
"Mbak ini bisa saja. Memang begitulah Indah, tidak banyak menuntut," kata Mama bangga.
"Dan sekarang sudah sukses, jadi dokter pula. Pekerjaan yang mulia. Didikanmu memang luar biasa bagus, mama!"
Mama tersenyum bahagia. "Kamu ini berlebihan banget, Rini."
"Yaudah, aku akan sampaikan ke ibunya Rizki ya, Mbak. Siapa tahu ini memang sudah jalannya dari langit," ucap Tante Rini dengan semangat.
Aku menunduk pelan, menatap tangan kecil Nona yang menggenggam jariku. Semoga saja... semoga ini bukan sekadar angan-angan.
Suasana makin riuh saat topik perjodohan itu dibahas. Mama tersenyum lembut lalu menatapku.
"Tapi kan seharusnya mereka saling mendekat dulu, bukan?" ucap Mama pelan. Lalu ia menoleh padaku. "Indah, jujur saja... apakah kamu mau dengan Rizki?"
"Ibu rasa, dia anak yang baik dan bertanggung jawab. Bagaimana menurutmu?"
Aku menunduk malu, suaraku pelan. "Kalau menurut Mama baik... Indah ikut saja keputusan Mama."
Mama terkekeh pelan, matanya berbinar.
"Kamu ini bisa saja. Tapi Mama tahu... bukannya dari dulu kamu sudah menyukainya? Mama bukan tidak tahu perasaanmu, Nak."
"Mama jangan meledekku dong!" wajahku memerah. "Ada Tante Rini di sini lho, malu sekali rasanya!"
Tante Rini tersenyum lebar. "Wah, kalau begitu malah lebih bagus! Kalau saling suka, nanti tinggal disatukan saja hatinya."
"Yaudah tenang saja, Indah. Nanti Tante bantu sampaikan semuanya ya. Percayalah pada Tante."
"Dasar anak muda, masih malu-malu saja," kata Mama sambil tersenyum bangga menatapku.
Indah pamit perlahan lalu berjalan menuju kamarnya. Di atas meja, ponselnya sedang terhubung ke pengisi daya — baterainya hampir habis tadi. Saat layarnya menyala, dia teringat sesuatu.
"Oh iya... tadi Daffa mau bilang apa ya? Hampir saja aku lupa."
Jantungnya berdebar pelan. Dia berharap tidak ada hal penting yang terlewatkan.
"Siapa tahu dia sudah kirim pesan... aku harus cek sekarang juga."
Layar ponsel menyala. Nama pengirimnya tertera jelas — Daffa.
Jemariku gemetar sedikit saat menyentuh layar. Entah kenapa, sebelum membaca isinya saja, dadaku sudah terasa sesak. Napasku tertahan sejenak sebelum kubuka pesan itu pelan-pelan.
Kenapa rasanya berat sekali... padahal aku hanya akan pergi sebentar saja kan?
Isi pesan itu terbaca jelas di layar, dan rasanya seperti ada yang mencengkeram dadaku erat-erat.
"Indah, sebenernya aku mau ngomong penting sama kamu, tapi kamu tadi terlihat buru-buru.
Jadi aku dipindahkan dinas pertukaran dokter di desa terpencil. Mungkin aku di sana cukup lama — 1 tahun.
Tadi niatnya aku mau menghabiskan waktu denganmu sebelum berangkat besok.
Tapi sepertinya kamu tidak ada waktu.
Tapi tidak apa-apa, Indah. Aku akan baik-baik saja.
Aku masih menunggumu kok."
Air mata perlahan menetes di pipiku. Daffa pergi besok... dan dia menyimpan ini sendirian sejak tadi. Dia tidak marah, tidak menyalahkanku — dia hanya bilang dia masih menunggu. Hati ini rasanya hancur berkeping-keping.
Jemariku bergetar saat mengetik balasan:
"Kamu hati-hati di sana ya, Daffa. Jaga dirimu baik-baik. Maaf... tadi aku tidak sempat menghabiskan waktu bersamamu."
Tak lama kemudian pesan balasannya masuk:
"Tidak apa-apa, Indah. Kita pasti akan bertemu lagi nanti."
Hatiku semakin terasa berat. Aku menulis lagi, kali ini dengan air mata yang menetes di pipi:
"Maafkan aku, Daffa. Aku tidak tahu kalau besok kau pergi. Tapi... kenapa kau masih menungguku? Aku merasa akulah orang yang paling jahat di sini. Maafkan aku... aku belum bisa membalas perasaanmu."
Pesan itu muncul di layar, dan mataku kembali berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, Indah. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan tetap menunggumu. Aku yakin... kamulah orang yang memang ditakdirkan untukku."
Aku menatap layar itu lama sekali. Daffa... hatimu begitu luas, sedangkan aku hanya bisa menyakitimu dengan kejujuranku sendiri.
Di sisi lain, Daffa menatap layar ponselnya dengan senyum tipis yang lembut.
"Walau hatimu belum untukku sekarang, aku tidak akan memaksamu. Jika memang benar-benar takdir kita bertemu... saat hatimu siap, aku tahu kau akan melihatku juga."
Dia meletakkan ponselnya, menatap jendela kamar yang terbuka ke arah langit malam.
"Kalau hatimu sedang terisi oleh orang lain sekarang... biarkan waktu yang meluruhkannya. Aku akan menunggu sampai hatimu benar-benar kosong, dan saat itu datang... aku harap aku adalah orang yang kau pilih."