Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Perburuan Dalang dan Pembuktian Hukum
Sinar matahari pagi menyusup lembut membelah celah tirai serba putih kamar VVIP, membiaskan pendar keemasan yang menghangatkan ruangan beraroma bunga melati segar.
Di atas ranjang periksa beralas kain katun lembut, Kiara sudah duduk bersandar. Rona di pipinya yang kemarin sempat pucat pasi kini perlahan kembali.
Tangannya mengusap lembut perutnya yang masih datar—tempat di mana janin berusia enam minggu sedang tumbuh dalam lindungan Sang Pencipta.
Di samping tempat tidur, Dimas tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kiara. Setiap kali Kiara menggeser posisi duduknya, Dimas dengan siaga membetulkan letak bantal di punggung istrinya.
Sorot mata pria tegap itu memancarkan rasa bersalah yang belum sepenuhnya reda, bercampur dengan naluri protektif yang maha dahsyat.
Di meja kayu kecil dekat sofa, Fahri duduk tegap mengoperasikan laptop bisnisnya yang terhubung dengan ponsel Kiara. Di sebelahnya, Arga bersedekap dada dengan raut wajah amat serius.
"Mas Dimas, Kiara..." buka Fahri dengan nada suara tenang, terstruktur, khas seorang konsultan senior.
"Saya bersama tim IT Dinas sudah menyelesaikan pelacakan digital mendalam terkait nomor misterius yang mengirimkan foto-foto teror kemarin sore."
Kiara memajukan tubuhnya sedikit, membetulkan letak kacamata beralas tipis yang ia kenakan.
"Siapa pemilik asli nomor itu, Mas Fahri? Apakah menggunakan nomor sekali pakai?" tanya Kiara penasaran
"Dia mencoba menyembunyikan identitasnya dengan VPN dan nomor virtual," jawab Fahri seraya memutar layar laptopnya ke arah Kiara dan Dimas.
"Tapi pengirimnya ceroboh. Lewat analisis alamat IP, digital footprint, serta reverse lookup data seluler, nomor itu secara sah terdaftar atas nama Farhan, mantan suami Nadia."
Dimas mengepalkan tangan kirinya di atas sprei kasur hingga buku-buku jarinya memutih.
"Pria picik... Dia sengaja menyewa detektif swasta buat mengintai saya." ucap Dimas geram
"Bukan cuma itu," lanjut Fahri seraya mengklik sebuah dokumen peta satelit.
"Berdasarkan log data sinyal menara seluler pada jam 17.00 WIB kemarin, posisi pengirim foto berada di dalam mobil sedan hitam yang terparkir tepat lima meter di seberang Resto Taman. Momen saat Nadia mendadak memegang tangan Mas Dimas dan merangkul lengan Mas Dimas dipotret menggunakan kamera dengan lensa tele jarak jauh, lalu sengaja dipotong (crop) untuk menciptakan kesan mesra." Fahri menjelaskan secara detail
Kiara menghembuskan napas panjang. Kejujuran Dimas semalam di UGD terbukti seratus persen secara ilmiah. Tidak ada kebohongan. Tidak ada pengkhianatan. Yang ada hanyalah sebuah skenario jahat yang dirancang untuk menghancurkan mental seorang wanita hamil.
Kiara memegang jemari Dimas yang tegang, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum anggun namun sarat dengan keberanian dingin khas seorang konsultan hukum papan atas.
"Dia pikir emosi wanita hamil bisa dihancurkan begitu saja sampai pasrah?" tutur Kiara dengan vokal jernih yang tegas.
"Dia salah memilih lawan, Mas. Hari ini, kita selesaikan pria itu secara hukum di atas meja."
...***...
Pihak manajemen rumah sakit menyediakan ruang rapat tertutup atas permintaan khusus tim hukum dinas. Suasana ruangan berpendingin udara itu terasa dingin dan mencekam.
Di satu sisi meja panjang kayu mahoni, Farhan duduk menyilangkan kaki dengan keangkuhan penuh. Pria berjas mahal itu melemparkan senyum meremehkan, didampingi oleh seorang pengacara berwajah kaku.
Di sudut terpisah, Nadia duduk menunduk rapat dengan jemari gemetar dan mata yang sembap oleh penyesalan.
Di sisi lain meja, Dimas berdiri tegap. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap bagaikan benteng kokoh, melindung Kiara yang duduk anggun di kursi roda. Arga dan Fahri berdiri di belakang mereka sebagai saksi kunci.
"Ada apa ini?" buka Farhan dengan nada suara ketus dan angkuh.
"Saya ini pengusaha sibuk dari Jakarta. Kenapa saya dipanggil ke ruang rapat rumah sakit seperti ini? Kalau cuma mau pamer kemesraan setelah drama pingsan kemarin, saya tidak punya waktu!"
Dimas melangkah satu tapak ke depan. Aura intimidasi dari pria tegap itu mendadak memenuhi seisi ruangan. Matanya menyipit tajam menembus manik mata Farhan.
"Jaga mulutmu, Farhan," tegur Dimas dengan suara dalam penuh tekanan.
"Kamu berhadapan dengan saya dan istri saya. Jangan harap kamu bisa keluar dari ruangan ini dengan kepala tegak kalau kamu masih berani memainkan gimmic murahanmu."
Farhan tertawa terkekeh, mencoba menutupi kegugupannya.
"Halah! Pria sok suci! Foto-foto itu nyata! Kamu menemui mantan istriku di restoran temaram! Kalau foto-foto itu aku sebarkan ke media massa dan inspektorat dinasmu sore ini, kariermu sebagai pejabat publik hancur lebur!"
"Coba lakukan kalau kamu mau melihat bisnismu rata dengan tanah dalam hitungan jam," potong sebuah suara dingin yang memotong tawa Farhan.
Kiara memajukan kursi rodanya mendekati meja. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menghempaskan sebuah map tebal bernuansa merah tua ke tengah meja mahoni.
BRAK!
Bunyi dentuman map itu menggema keras, membuat Farhan dan pengacaranya sedikit terperanjat.
"Saudara Farhan," suara Kiara mengalun tenang, jernih, namun bagaikan belati yang siap mengiris.
"Tindakan Anda menyewa detektif swasta untuk meretas data, memanipulasi foto secara manipulatif, serta mengirimkan teror psikologis kepada saya masuk ke dalam pelanggaran berat Pasal 27 ayat (4) jo Pasal 45 ayat (4) UU ITE tentang pengancaman dan pencemaran nama baik, jo Pasal 310 KUHP dengan ancaman pidana 6 tahun penjara."
Farhan menyeringai sinis. "Foto itu bukan manipulasi! Suamimu memang memegang tangan Nadia!"
"Siapa bilang?"
Tiba-tiba Nadia berdiri dari kursinya. Tangan wanita itu gemetar hebat, namun matanya menatap Farhan dengan pendar keberanian dan dendam yang selama ini terpendam.
Nadia menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam ke atas meja, tepat di depan Kiara.
"Cukup, Farhan! Cukup!" jerit Nadia dengan air mata yang menetas deras.
"Aku nggak akan biarkan kamu memanfaatkan aku buat menghancurkan rumah tangga orang lain lagi! Kiara... di dalam flashdisk ini ada rekaman suara percakapan Farhan saat menyuruh detektif memotong foto, serta bukti obrolan WhatsApp saat dia mengancam akan merusak nama baik Mas Dimas kalau aku tidak mau berpura-pura mengejar Mas Dimas!"
Wajah Farhan seketika berubah pucat pasi!
"Nadia! Berani kamu mengkhianati aku?!"
"Aku tidak mengkhianati kamu, Farhan! Kamu yang iblis!" tangis Nadia pecah.
"Dimas pria baik-baik yang sudah bahagia dengan istrinya! Kamu yang gila harta dan dendam!"
Fahri dengan sigap menyambungkan flashdisk dari Nadia serta laptopnya ke layar proyektor ruangan. Dalam detik berikutnya, dinding putih ruangan menampilkan rekaman video CCTV resmi beresolusi tinggi (HD) dari Resto Taman yang didapatkan tim dinas tadi pagi.
Di dalam video berdurasi penuh tanpa potongan itu, terlihat sangat jelas:
Dimas duduk dengan jarak sangat jauh dan menjaga batas profesional.
Saat Nadia mencoba memegang tangan Dimas di meja, Dimas seketika menepisnya dengan kasar.
Saat menuju area parkir dan Nadia mencoba merangkul lengan Dimas, Dimas mendorong bahu Nadia menjauh dan membentaknya secara tegas, lalu langsung pergi masuk ke mobilnya sendirian.
Video itu memutar kebenaran secara telanjang. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada respon manis. Yang ada hanyalah penolakan mentah-mentah dari seorang suami yang setia!
Wajah Farhan membeku. Keringat dingin mulai berkilat membasahi dahi dan pelipisnya. Lidahnya mendadak terasa kelu.
Kiara menopang dagunya, menatap Farhan dengan tatapan mengintimidasi yang sangat mematikan.
"Bukan cuma draf pidana UU ITE," sambung Kiara santai namun penuh tekanan.
"Draf gugatan perdata atas kerugian imateriil sebesar 5 Miliar Rupiah serta surat permohonan pembekuan izin operasional seluruh cabang perusahaan Anda di Jawa Tengah sudah selesai saya susun bersama tim advokasi."
Pengacara Farhan langsung membalik lembar-lembar berkas di dalam map tebal Kiara dengan jari gemetar. Setelah membaca poin-poin hukum dan pasal sangkaan yang disusun sangat rapi tanpa celah, pengacara itu menyenggol lengan Farhan dan berbisik panik.
"Pak Farhan... posisi hukum mereka sempurna. Bukti CCTV dan rekaman suara dari Bu Nadia membunuh seluruh pembelaan kita. Kalau ini naik ke Pengadilan Negeri sore ini, Bapak pasti langsung ditahan dan seluruh aset Bapak disita," bisik pengacaranya gemetar.
Ketinggian hati Farhan runtuh seketika. Pria yang tadinya berdiri angkuh itu mendadak meluruh terduduk di kursi, napasnya memburu menanggung malu dan ketakutan yang amat sangat.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan wajah pucat bagaikan mayat, Farhan menyambar pulpen dari saku jasnya.
Di bawah tatapan dingin Dimas dan Kiara, Farhan menandatangani Surat Pengakuan Dosa dan Permohonan Maaf di Atas Meterai, serta surat pernyataan tidak akan pernah menginjakkan kaki di Sukabumi lagi.
...***...
Setelah Farhan dan pengacaranya keluar dari ruangan dengan langkah gontai menanggung malu, suasana ruangan berangsur hening dan tenang.
Nadia melangkah perlahan mendekati Kiara. Wanita dari masa lalu itu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Kiara.
"Kiara... Dimas..." bisik Nadia parau, air matanya menetas tulus di atas lantai.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Kerena ketakutan dan kelemahan saya menghadapi Farhan, Kiara sampai harus masuk rumah sakit. Terima kasih... terima kasih sudah tidak memenjarakan saya dan tetap memperlakukan saya dengan manusiawi..."
Kiara menatap Nadia dengan sorot mata yang teduh dan bijaksana. Ia mengulurkan tangannya, memegang lembut jemari Nadia.
"Saya sudah memaafkan Mbak Nadia," tutur Kiara lembut namun mantap.
"Tapi tolong jadikan ini pelajaran berharga. Seorang wanita harus punya ketegasan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Jangan pernah mau dijadikan alat oleh pria mana pun untuk menyakiti wanita lain. Pulanglah ke Jakarta, dan mulailah hidup baru yang lebih bersih."
Nadia mengangguk haru, mengusap air matanya, lalu pamit melangkah keluar membawa kelegaan baru dalam jiwanya.
...***...
Mobil sedan hitam milik Dimas berhenti perlahan di pelataran rumah mereka. Angin sore Kelurahan Sukamaju berhembus sejuk, membawa aroma dedaunan basah yang menyegarkan. Badai fitnah telah resmi berakhir, nama baik Dimas bersih tanpa noda, dan ancaman dari Farhan telah musnah.
Pintu depan rumah terbuka lebar. Mbok Jum keluar menggandeng Rayyan kecil yang mengenakan kaos bergambar dinosaurus favoritnya.
"PAPA! MAMA!" jerit Rayyan kegirangan. Anak laki-laki itu melepaskan pegangan tangan Mbok Jum dan berlari kecil dengan tangan terentang lebar.
Dimas berlutut di atas rumput hijau pelataran, menyambut tubuh mungil putranya ke dalam pelukan hangatnya. Dimas mengangkat Rayyan tinggi-tinggi ke udara, mencium kedua pipinya bertubi-tubi dengan derai tawa bahagia.
Kiara melangkah mendekat, mengusap kepala Rayyan seraya tersenyum manis. Dimas berdiri, lalu melingkarkan lengan kirinya merangkul pinggang Kiara rapat-rapat.
"Rayyan..." bisik Dimas lembut seraya menunjuk pelan ke arah perut Kiara.
"Rayyan tahu nggak? Di dalam perut Mama sekarang... ada dedek bayi mungil yang sedang tumbuh. Bentar lagi Rayyan mau jadi Kakak loh."
Mata bulat Rayyan membelalak polos. Anak kecil itu langsung berlutut di depan ibunya, menempelkan telinga mungilnya tepat di atas perut Kiara yang masih datar.
"Halo Dedek bayi! Ini Kakak Rayyan!" racau anak itu polos seraya mengusap perut Kiara dengan tangannya yang gembul.
"Nanti kalau Dedek udah keluar, kita main balok lego sama Papa ya!"
Gelak tawa bahagia pecah menyelimuti pelataran rumah itu. Dimas merengkuh Kiara dan Rayyan sekaligus ke dalam satu pelukan protektif yang amat erat.
Di bawah pendar cahaya sore yang hangat, mereka menyadari satu hal: kejujuran dan keterbukaan adalah benteng terkuat yang tak akan pernah bisa dirobohkan oleh fitnah sekeji apa pun.