demi mendukung karier suaminya Arga Prasetyo, Ariana rela menikah selama delapan tahun secara diam-diam. Ariana menemani Arga berjuang di perusahaan nya tapi balasan yang didapatnya adalah perselingkuhan, bahkan pelakor itu terang-terangan menantang nya.
setelah menyiapkan perceraian dan pergi dengan tenang ternyata Arga menolak untuk melepaskan nya. hingga seorang laki-laki lain datang membuka babak baru untuk nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tak terasa siang berganti dengan malam begitu cepat, Ariana sudah memakai pakaian formal berdiri didepan pintu kamar Adrian.
Hembusan nafas pelan keluar dari mulut nya, dilihatnya jam di pergelangan tangannya, kurang sepuluh menit akan menunjukkan jam tujuh malam.
Tok
Tok
Dua kali ketukan tapi tidak ada respon di dalam kamar itu. "apa tuan Adrian masih tidur ?". Pikir Ariana.
Wanita itu kembali mengetuk pintu, tapi tetap sama tidak ada yang membukakan nya. dengan ragu, Ariana memutar gagang pintu kamar Adrian secara pelan sambil memejamkan mata.
Ternyata pintu itu tidak di kunci, ketika Ariana berhasil membuat pintu Adrian masih berada di tempat tidur dengan masih memakai pakaian kerja nya, matanya terpejam dengan wajah tenang.
"apa dia tidur ? Atau pura-pura?". Gumam Ariana mencoba mendekatkan dirinya di sisi tempat tidur Adrian.
"tuan....ini hampir jam tujuh".
tidak ada respon, Adrian masih terlelap dengan tidur nya. Ariana di buat bingung, baru pertama kali menjadi sekretaris tapi kenapa dirinya harus membangunkan tuannya. Wanita itu takut jika salah sendiri Adrian akan memecat nya.
Ariana mengigit kuku nya sambil mondar mandir dengan satu tangan di pinggang nya, sesekali tatapan nya mengarah pada Adrian masih memejamkan mata, kemudian tatapan nya beralih pada jam tangan di pergelangan tangannya.
"astaga ini sangat membuat ku pusing". Ujarnya mengacak rambut nya yang setengah bahu.
dengan mata terpejam, Ariana menarik nafas dalam menghembuskannya secara pelan. Matanya terbuka kembali menatap Adrian.
Setelah merasa jantungnya tidak berdetak keras karena Marasa sedikit takut, Ariana mendekat pada Adrian, membungkukkan badannya dengan kepala di condong kan kedepan.
"tuan...sebentar lagi jam tujuh. tolong bangun lah".
"TUAN!!!!".
Srekkkkk
cup
Adrian menarik tengkuk Ariana, Mata wanita itu membola tak percaya dengan apa yang saat ini terjadi. bibirnya kini bersentuhan dengan bibir Adrian, bahkan Adrian sudah membuka matanya, tatapan mereka bertemu beradu dengan tatapan tajam Adrian.
Setelah tersadar, Ariana menarik tubuh nya menjauh dari Adrian, tubuhnya berdiri tegak memperbaiki rambut nya yang berantakan.
Adrian bangun dari pembaringan nya, menghembuskan nafas kasar. "ada apa ?".
"su-sudah jam tujuh".
Adrian terdiam, tatapannya mengarah ke Ariana yang masih berdiri kaku dengan wajah memerah.
'apa tuan Adrian akan marah ?'.
Detak jantung Ariana sudah tidak karuan di buatnya, apalagi tatapan Adrian seperti ingin menerkam nya. Wanita itu dengan susah payah menelan air liur nya, keringat dingin muncul pada jidat nya.
'bagaimana ini ? Apa yang harus aku lakukan, apa aku akan di bunuh. TIDAK!!!'.
Ariana menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata membayangkan hal apa yang akan terjadi kedepannya.
alis Adrian naik sebelah melihat tingkah Ariana yang aneh.
"apa kepala mu sakit ?".
Mendengar Adrian berbicara, Ariana membuka matanya perlahan menatap Adrian yang masih saja menatap nya, tapi tatapan nya kini terlihat bingung dengan senyum kecil nampak disana.
"tidak...saya permisi dulu tuan".
Dengan langkah cepat, Ariana keluar dari kamar Adrian. Setelah keluar, wanita itu berlari begitu kencang menuju ke toilet, menyiapkan keran air membasuh wajahnya dengan mata menatap cermin besar didepannya.
"semoga tuan Adrian tidak memecat ku, ini bukan salah ku juga. Dia yang menarik ku kan ?". Gumam Ariana terus menatap wajahnya didepan cermin.
"lupakan Ariana...".
Wanita itu kembali menyalakan keran air membasuh wajahnya beberapa kali, kemudian keluar dari toilet.
* * *
Tiga orang duduk di meja berbentuk bundar dengan duduk di sisi yang berbeda. Didepannya kini sudah ada beberapa sajian makanan dan juga minuman yang siap di santap.
Ariana menatap Adrian yang sibuk dengan ponselnya, tak lama matanya beralih pada fajar yang duduk di sisi kiri nya.
Tatapan Ariana seakan mengikuti fajar, pasangannya terus mengarah dari atas sampai bawah, menganggukkan kepalanya, tak lama mengerutkan keningnya.
'asisten fajar sudah lama mengikuti tuan Adrian, aku yakin dia pasti sering membangunkan tuan Adrian ketika tertidur. Hal seperti tadi pasti juga terjadi dengan asisten fajar ?!!! Haaaaa'. Ariana terus menatap fajar, tak lama kedua tangannya menutup mulutnya membayangkan bagaimana fajar membangunkan Adrian kemudian tidak sengaja mereka berciuman ?.
Ariana menghilangkan pikiran aneh itu, kepalanya menggeleng tapi tatapannya masih saja menatap fajar aneh.
Ahar yang ditatap merasa salah tingkah. 'apa ada yang salah pada pakaian ku ? Atau wajah ku kotor ?'. fajar memegang wajah nya sambil meraba-raba jika ada yang salah dengan wajahnya.
"kenapa nona Ariana menatap saya seperti itu ? Apa ada yang salah ?". Akhirnya fajar membuka suara juga dengan berbisik pada Ariana.
Ariana tertawa canggung. "ehhh tidak ada apa-apa, saya hanya merasa kerjaan ini ternyata tidak gampang yah".
"kerjaan memang tidak ada yang gampang nona Ariana, nona Ariana harus terbiasa".
Ariana menganggukkan kepalanya. "asisten fajar sudah lama mengikuti tuan Adrian, ternyata mental anda sangat kuat".
"memang harus di kuat-kuat kan, masa saya harus marah pada tuan Adrian. Tidak mungkin kan".
Ariana hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal menatap fajar.
"ehhhemmmmm".
Adrian berdehem membuat keduanya terdiam, tatapan mereka mengarah pada Adrian.
"sekretaris Ariana".
"ya tuan ?".
"ambilkan saya air minum".
"ah baiklah".
Ariana berdiri beranjak mengambil botol air mineral yang berada di meja sebelah yang memang sudah tersusun rapi disana.
Adrian melirik fajar dengan tatapan tajam, telinga laki-laki itu tidak tuli pendengarannya begitu tajam, walau Ariana dan fajar berbisik-bisik tapi tetap saja Adrian bisa mendengar nya.
Kini Ariana sudah berdiri disamping Adrian membukakan penutup botol air minum itu dan menyerahkan nya pada Adrian.
"ini tuan". Ariana menyodorkan botol air minum pada Adrian.
Adrian menerima nya menatap botol air minum itu. "sekretaris Ariana, air minum ini harus di minum dengan pelan-pelan, jika tidak diminum dengan perlahan makan kita akan tersedak. Begitupun dengan pekerjaan, sekretaris Ariana harus nya melakukan dengan pelan, walau pekerjaan nya berat, jangan terus terpaku dengan kesalahan yang tadi".
senyum kecil tampil pada bibir Adrian, mendongak menatap Ariana yang terlihat tertawa tapi matanya tidak menyipit, botol minum itu diberikan kembali pada Ariana ya g baka belum di minum oleh Adrian.
"memangnya apa yang terjadi tadi ?". Fajar bingung langsung bertanya.
"tidak perlu mengetahui nya, umur mu masih belia".
fajar menunjuk diri nya sendiri ketika Adrian mengatakan umur nya masih belia ?.
"bahkan saya sudah bisa membuat anak tuan". Fajar menutup mulut nya ketika tatapan Adrian menajam.
"ternyata mulut mu sudah cerewet fajar".
Ariana langsung meminum air itu beberapa teguk, dengan nafas yang tida karuan dan diletakkan kembali diatas meja.
"Adrian....".
Seorang perempuan masuk kedalam ruangan privat itu berjalan kearah Adrian dengan senyum mengembang di wajahnya.
"kita sudah lama tidak bertemu, kamu sangat jarang berkunjung ke kantor cabang di sini, bagiamana setelah ini kita jalan-jalan bersama ?".
bersambung...