Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maybe
Sepanjang perjalanan menuju kantin, teman-teman Ara terus menggoda dirinya yang baru saja mereka anggap resmi berpacaran dengan Bara.
Tadi Bara memang yang mengajak mereka makan sekaligus ingin mentraktir semuanya. Namun, menurut analisis Ara, tentunya itu bukan karena mereka baru saja dianggap sebagai pasangan.
Bara hanya sedang merasa senang karena akhirnya memiliki teman-teman baru.
Setidaknya, itulah yang Ara pikirkan. Padahal, Ara sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya isi hati Bara saat ini.
"Kalian pilih mau makan apa aja, bebas. Gue yang bayar semuanya."
"Siap, Bos! Gue mau ngambil banyak, mumpung gratis."
"Jangan apa-apa lo pesen semua, Yohan! Malu-maluin aja lo jadi teman."
"Bodo amat. Gue nggak denger. Gue lagi nutup mata sambil kayang."
Ara hanya bisa menghela napas kasar melihat kebrutalan teman-temannya yang memesan berbagai macam makanan di kantin.
Sementara itu, Bara hanya tersenyum sejak tadi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah Bara bahagia karena akhirnya memiliki teman-teman baru? Atau karena berhasil menyebut Ara sebagai pacar barunya?
Ara sebenarnya ingin menanyakan hal itu, tetapi ia memilih untuk memendamnya sendiri. Menurut teori dan analisisnya, Bara hanya sedang bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan teman.
"Makanannya dimakan, ya, Ra? Gue yang bayar, kok."
"Gue nggak lapar, padahal."
"Lah, udah pacaran bahasanya masih gue-lo-an gitu kalian? Gue kira pakai aku-kamu."
"Jijik gue, Vin. Lagian Bara juga katanya jijik kalau lihat gue ngomong aku-kamu sama dia. Ya udah, suka-suka gue aja jadinya."
"Kok sama pacar sendiri lo jijik gitu, sih, Ra? Kalau gue jadi lo, gue udah diputusin sama pacar gue."
"Bagus. Kalau putus nanti lo sama gue aja, Sor. Gue always available for you."
"Available pala lo, Han! Jadi pengen muntah gue."
"Canda, Sor. Canda!"
Ara hanya menatap malas ke arah teman-temannya yang selalu saja berdebat setiap saat. Susah memang memiliki teman-teman yang tidak waras seperti mereka.
Namun, di balik semua keributan itu, Ara melihat Bara yang tampak nyaman berada di antara teman-temannya. Dan entah kenapa, hal tersebut membuat hati Ara terasa lega. Lega karena ia berhasil membuat Bara memiliki teman.
Tatapan Ara yang sedari tadi mengikuti punggung Bara perlahan beralih ke arah lain ketika cowok itu kembali duduk di sebelahnya setelah selesai membayar semua makanan mereka.
"Ra, beneran nggak mau makan? Atau mau gue suapin?"
"Sialan! Kaget gue."
Ara langsung menoleh ketika Bara tiba-tiba menyodorkan sesendok makanan ke arahnya.
"Cieee, udah sana main suap-suapan. Gue mau lihat."
Ara dengan kesal melemparkan sendoknya ke arah kepala Yuvin. Namun, lemparan itu meleset dan justru membuat Yuvin tertawa puas.
"Ara?"
"Apa lagi sih, Bara!"
Bara terkekeh.
Tanpa memedulikan protes Ara, ia kembali menyodorkan sesendok makanan dan berhasil memasukkannya ke dalam mulut gadis itu. Ara langsung membelalakkan mata karena terkejut.
Teman-temannya yang lain hanya bisa saling pandang, lalu berdeham dan berpura-pura tidak melihat kemesraan mereka.
Ya Tuhan, tolong aku! Jantungku sepertinya mulai bermasalah.
"Habis ini lo mau ke mana, Ra? Mau gue temenin?"
"Kok nggak ada panggilan sayangnya, sih? Panggil sayang, dong."
"Sora! Udah, ah. Kalian bisa diem aja nggak, sih? Udah dikasih makanan gratis juga!"
"Jangan gitu, dong, sayang. Kan aku juga yang membayar makanannya."
Ara langsung terdiam.
Sumpah, aku bingung. Kamu ini lagi akting di depan mereka atau gimana? Aku bingung lihat perubahan sikapmu ini.
"Tuh! Bara yang bayarin makanan kita, bukan lo!"
"Sora, sialan!"
Ara langsung berdiri.
"Ah! Udah, ah. Emosi gue. Gue mending balik aja. Bye!"
Ara langsung pergi meninggalkan mereka.
"Lah! Malah ngambek."
Yuvin menoleh kepada Bara.
"Lo mending cepetan susul si Ara, deh. Sebelum ngambeknya tambah parah."
Bara mengangguk.
"Ya udah, gue pergi dulu. Kalian nikmatin aja makanannya."
Mereka semua mengangguk dan dengan halus menyuruh Bara segera menyusul Ara yang sudah berlari meninggalkan mereka sejak tadi.
"Ara! Tungguin gue, dong!"
Bara berlari mengejar Ara. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya ia berhasil meraih tangan gadis itu.
Ara yang tiba-tiba ditarik berbalik kehilangan keseimbangan dan tubuhnya langsung tertarik ke arah Bara. Dalam sepersekian detik, Ara sudah berada di dalam pelukan Bara.
Ara membeku. Ia bisa merasakan hangat tubuh Bara begitu dekat dengannya. Namun, dengan cepat Ara melepaskan diri dan berusaha menghindari tatapan Bara.
"Lo kenapa sih, Ra? Lagi PMS?"
"Enggak."
"Ya terus kenapa? Gue ada salah ngomong, gitu?"
Ara menghela napas.
"Lo tadi kenapa harus akting di depan teman-teman gue, sih?"
"Hah? Maksudnya?"
Bara mengernyit.
"Gue bukan aktor yang bisa akting seenak jidat."
"Terus kenapa lo ngaku-ngaku jadi pacar gue? Manggil gue sayang pula."
Bara mendadak terdiam. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Ingin jujur tentang perasaannya dan benar-benar menjadikan Ara sebagai kekasihnya.
Namun, ia takut. Takut ditolak karena selama ini ia tidak pernah benar-benar tahu apakah Ara juga memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Pikirannya mulai melayang ke mana-mana. Bagaimana jika Ara ternyata memang menyukainya dan mereka benar-benar pacaran? Bara tentu akan bahagia.
Namun, kebahagiaan itu sekaligus membuatnya takut. Karena suatu hari nanti, Ara pasti akan mengetahui penyakitnya. Dan Bara tidak sanggup membayangkan gadis yang dicintainya itu menangisinya.
Di sisi lain, ia tahu Ara akan pergi dalam beberapa hari lagi. Semua itu membuat Bara berada dalam dilema.
"Kenapa diem?"
Ara menatapnya.
"Lo beneran cuma akting, kan? Lo cuma senang karena bisa punya teman-teman baru, kan?"
Bara menatap Ara cukup lama. Kemudian, ia menghela napas.
"Gue nggak akting."
Ara terdiam.
"Gue emang udah lama sayang sama lo."
Kalimat yang selama ini Bara pendam akhirnya keluar begitu saja.
Entahlah. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk terus menyembunyikannya.
Kali ini, mungkin ia ingin sedikit egois. Ia ingin memiliki Ara sepenuhnya, meskipun hanya untuk waktu yang tersisa sebelum gadis itu pergi meninggalkannya.
Dan tentu saja, Bara tetap akan merahasiakan penyakitnya. Ia tidak ingin membuat Ara sedih. Tidak ingin membuat Ara menangis karena dirinya.
"Hah?"
Pikiran Ara mendadak kosong. Ia memang sudah tahu kalau Bara menyukainya. Namun, rasanya tetap berbeda ketika lelaki itu mengungkapkan perasaannya secara langsung di hadapannya.
"Gue suka sama lo, Ara Moana."
Bara tersenyum tipis.
"Sejak awal kita masuk kuliah. Gue emang nggak berani ngedeketin lo. Makanya gue cuma bisa ngejahilin lo selama ini."
Ia menundukkan kepala sebentar.
"Gue nggak masalah kalau lo nolak gue. Yang penting gue udah lega karena akhirnya bisa ngomong jujur sama lo."
Andai dulu kamu bisa jujur sama aku, mungkin aku nggak akan merasa kehilangan kamu seperti waktu itu.
"Gue nggak butuh jawaban lo, kok, Ra."
Bara berusaha tersenyum.
"Gue cuma mau jujur aja. Lupain kata-kata gue yang tadi."
"Lupain?"
Ara menatapnya lekat.
"Lo harus tahu kalau gue juga suka sama lo sejak lama."
Bara langsung mengangkat wajahnya.
"Hah?"
"Gue juga suka sama lo, Bara Samudera!"
Bara terdiam. Senyuman perlahan merekah di wajahnya. Ia seakan belum bisa percaya bahwa Ara ternyata memiliki perasaan yang sama selama ini.
"Gue nggak bercanda," lanjut Ara. "Gue beneran suka sama lo."
Bara langsung menarik Ara ke dalam pelukannya. Kali ini ia memeluk Ara dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Sumpah?"
Suara Bara terdengar sedikit bergetar.
"Gue nggak tahu kalau lo juga punya perasaan yang sama kayak gue. Gue kira lo benci sama gue karena tingkah gue yang nyebelin."
Ara terkekeh kecil dalam pelukannya.
"Ya, gue emang benci sama tingkah lo."
Ia membalas pelukan Bara.
"Tapi di dalam hati, gue juga sayang banget sama lo."
Bara tersenyum.
"Terus pas lo besok pergi ke Aussie, gue gimana, Ra?"
Pelukannya perlahan mengendur.
"Lo mau ninggalin gue sendiri?"
"Tenang."
Ara menatap Bara.
"Gue ada hadiah buat lo sebelum gue pergi. Dan lo juga nggak akan sendirian."
Ara tersenyum.
"Jadi, kita buat kenangan bersama selama sepuluh hari ke depan. Setuju?"
"Oke. Gue setuju."
Bara mengangguk.
"Lagian gue emang sayang banget sama lo. Dan gue juga bakal berusaha bikin lo senang sebelum lo pergi."
Bara melepaskan pelukannya, lalu tersenyum manis kepada Ara.
Hari itu rasanya menjadi salah satu hari paling membahagiakan bagi Ara. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa mengubah masa lalu sejauh ini.
Dulu, ia bahkan tidak sempat mengucapkan perasaannya kepada Bara. Sekarang, ia bisa berdiri di hadapan lelaki itu dan mendengar pengakuan cintanya secara langsung.
Semoga ketika aku kembali ke masa depan nanti, kamu masih ada di sana, Bara.
Ara menggenggam tangan Bara.
Lagi pula, ia sudah berhasil mengubah masa lalu sejauh ini. Jika masa lalu bisa berubah, Ara yakin seratus persen bahwa masa depan pun pasti akan ikut berubah. Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.