Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran Setelah Menikah
Hari-hari di istana kecil mereka mengalir dengan ritme yang semakin manis. Status ratu yang diberikan Rayhan bukan sekadar kiasan; pria itu benar-benar memperlakukan Fatimah dengan segala bentuk penghormatan dan kasih sayang yang utuh.
Dinding kecanggungan yang semula membentang tinggi, perlahan tapi pasti, mulai runtuh oleh konsistensi kelembutan Rayhan yang selalu tahu cara memperlakukan istri kecilnya.
Sore itu, setelah menyelesaikan beberapa dokumen pekerjaan di ruang kerjanya, Rayhan melangkah ke dapur.
Ia mendapati Fatimah sedang menata beberapa camilan pasar di atas piring kecil.
Gaun selutut berwarna merah muda yang dikenakan Fatimah tampak sangat serasi dengan kulit wajahnya yang bersih tanpa riasan.
"Sayang," panggil Rayhan, membuat Fatimah menoleh dan langsung mengulas senyum.
"Iya, Mas ? Sudah selesai kerjanya?" tanya Fatimah lembut.
Rayhan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria tiga puluh delapan tahun itu justru berjalan mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia meraih jemari tangan kanan Fatimah.
Ini bukan pertama kalinya mereka bersentuhan, namun genggaman kali ini terasa berbeda—lebih erat, hangat, dan sengaja.
Jantung Fatimah seketika berdesir hebat, membuat pipinya merona merah seketika.
"Sore ini sengaja Mas kosongkan jadwal. Ganti pakaianmu yang rapih, yah? Mas mau mengajakmu keluar."
Ujar Rayhan, sepasang mata dewasanya berbinar jenaka menatap kepanikan kecil di wajah istrinya.
Fatimah menyipitkan matanya. "Keluar?
Ke mana, Mas?"
Rayhan tersenyum misterius.
"Ada suatu tempat. Kita belum pernah merasakannya, kan?
Orang-orang bilang... istilahnya adalah pacaran setelah menikah."
Mendengar kata "pacaran", Fatimah langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya demi menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah semerah tomat.
Di pesantren dulu, istilah pacaran adalah hal yang sangat tabu dan dihindari. Namun kini, ketika kata itu keluar dari bibir suaminya sendiri, ada rasa bahagia dan getaran manis yang tak terbendung membuncah di dalam dadanya.
Itulah indahnya pacaran yang halal, di mana setiap tatapan dan sentuhan bernilai ibadah di mata Allah.
Satu jam kemudian, mobil sedan hitam Rayhan membelah jalanan kota yang mulai temaram oleh lambaian lampu senja.
Fatimah duduk di samping kemudi, kembali anggun dengan balutan gamis hitam dan cadar senada.
Namun, genggaman tangan Rayhan di atas jemarinya sepanjang perjalanan tak pernah terlepas, menyalurkan rasa aman yang teramat sangat.
Rayhan membawa Fatimah ke sebuah bukit di pinggiran kota yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang indah.
Di atas sana, jauh dari hiruk-pikuk kedai kopi anak muda yang bising, Rayhan memilih sebuah tempat yang cukup sepi dan privat.
Mereka duduk berdua di sebuah bangku kayu panjang, memandangi langit senja yang berubah warna menjadi jingga keunguan.
Di tempat yang sunyi itu, Fatimah perlahan membuka tali cadarnya, membiarkan angin perbukitan menerpa wajah polosnya.
Rayhan menatap profil samping istrinya dengan rasa syukur yang mendalam. Ia merengkuh pundak Fatimah pelan, membawa tubuh ramping itu mendekat ke dalam dekapannya yang hangat dan memenangkan.
Fatimah sempat menegang sejenak, sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayhan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama konstan.
"Ima, terima kasih yah, sudah mau membuka hati untuk Mas."
Bisik Rayhan di sela keheningan senja, mengecup pucat puncak kepala istrinya dengan penuh takzim.
Fatimah memejamkan matanya, menikmati kehangatan dekapan sang imam.
"Fatimah yang berterima kasih, Mas. Bersama Mas Rayhan, Fatimah merasa... dunia ini tidak lagi menakutkan."
Di bawah kesaksian langit senja yang perlahan menggelap, dua hati yang dipertemukan lewat jalur takdir yang tak terduga itu kini telah benar-benar bertaut.
Pacaran setelah menikah ternyata jauh lebih indah dari apa pun yang pernah Fatimah bayangkan.
Tanpa rasa bersalah, tanpa ketakutan akan dosa, mereka memulai lembaran asmara yang suci, lillahi ta'ala.