Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Nero melirik Asia sekilas dengan sudut matanya yang penuh rasa bangga. "Tante Asia jangan ganggu! Nero lagi bantai musuh ini! Sebentar lagi Nero menang!"
Asia menahan tawa melihat karakter Nero yang justru baru saja mati dihajar tower musuh akibat terlalu bernafsu maju sendirian.
"Hebat banget. Sudah rank apa memangnya?" tanya Asia berpura-pura kagum.
Nero langsung membusungkan dada kecilnya, gaya anak kecil yang merasa sudah paling jago se-dunia. "Sudah Elite, dong! Dikit lagi naik ke Master! Teman-teman Nero saja belum ada yang sampai Elite!"
Asia mangut-mangut. Bagi orang yang paham, rank Elite itu sebenarnya masih level pemula sekali. Alih-alih mengejeknya, raut wajah Asia perlahan berubah menjadi sangat serius dan prihatin. Ia menghela napas panjang. Membuat Nero yang tadinya menyeringai bangga mendadak merasa ada yang tidak beres.
"Wah... sayang banget ya," ujar Asia pelan sambil menggelengkan kepala.
"Sayang kenapa, Tante?" Nero menatap Asia dengan dahi berkerut. Jarinya yang hendak menekan tombol pertarungan berikutnya mendadak terhenti.
"Ya sayang saja. Kalau kamu main terus sampai jam segini, ponselmu pasti makin panas, kan?" kata Asia tenang namun terukur. "Tahu tidak? Kalau ponsel panas dipaksa main terus, mesin di dalamnya bisa jebol dan rusak. Nah, sistem pusat game-nya itu pintar. Kalau lihat mesin HP-mu rusak saat lagi main, akunmu dianggap curang."
Mata kecil Nero mulai melebar. "M-maksudnya?"
"Sistem game-nya bakal langsung memblokir akunmu secara permanen," Asia mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik dengan raut yang sangat dramatis. "Nanti kalau akunmu ke blokir terus kamu ganti ponsel baru... semua hero yang sudah kamu beli hilang. Rank Elite kebanggaanmu itu bakal di-reset total. Kamu harus main lagi dari rank paling bawah, rank Warrior. Ketemu musuh yang baru belajar jalan."
Nero mendadak membeku. Bayangan rank Elite kesayangannya hancur dan harus mengulang dari rank Warrior. level yang dianggapnya paling 'bocah', benar-benar terasa seperti bencana besar. Padahal dia sendiri hanya bocah.
"M-masa sih?!" suara Nero mulai mencicit panik.
"Tidak percaya? Coba saja mainkan satu kali lagi sampai ponselnya makin panas. Nanti kalau akunmu diblokir terus turun ke Warrior, jangan menangis minta tolong aku naikkan levelnya lagi, ya." Asia berdiri dari ranjang, bersiap melangkah pergi seolah tidak peduli lagi.
Tanpa menunggu hitungan ketiga, Nero langsung menekan tombol Power ponselnya sampai layarnya gelap. Dengan wajah agak pucat, bocah itu buru-buru menyusupkan ponselnya jauh-jauh ke bawah bantal. Lalu menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi dada dan memejamkan mata rapat-rapat.
"Aku mau tidur!" seru Nero dari balik selimut, suaranya terdengar cemas tapi sangat menurut.
Asia menahan senyum kemenangannya. Trik menakut-nakuti gengsi gamer cilik ternyata jauh lebih ampuh daripada membentaknya sampai kehabisan suara. Ia mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur yang temaram.
"Selamat tidur, Pro Player," bisik Asia.
Puas dengan tugasnya, Asia berbalik dan melangkah pelan menuju pintu kamar yang sejak tadi dibiarkan sedikit terbuka. Namun begitu tangannya terulur hendak meraih gagang pintu, langkahnya mendadak terhenti seketika.
Di lorong luar kamar yang remang-remang, duduk sosok pria berbadan tegap di atas kursi rodanya.
Hugo.
Pria itu rupanya sudah berada di sana sejak tadi. Hugo diam menatap Asia. Salah satu tangannya masih memegangi bingkai pintu yang sedikit terbuka itu. Sorot matanya yang biasanya dingin dan tegas kini memancarkan binar geli yang tersembunyi sangat dalam.
Hugo telah mendengarkan seluruh percakapan Asia dan Nero dari balik pintu.
Asia tersentak kaget, refleks memegang dadanya sendiri. "Pak Hugo? Kaget saya... sedang apa di sini?"
Hugo menaikkan sebelah alisnya, menatap Asia dari atas kursi rodanya dengan sudut bibir yang terangkat sangat tipis. Sebuah gestur yang sangat langka dari seorang perwira kaku seperti dirinya.
"Aku mau melihat Nero. Ternyata dia belum tidur," ucap Hugo, memecah kecanggungan.
"Ah iya. Tapi sekarang dia sudah tidur kok Pak Hugo," sahut Asia tenang.
"Ya. Berkatmu dia tidur lebih cepat daripada biasanya," lanjut Hugo dengan nada suara yang sedikit melunak.
Asia tersenyum sambil mengangguk pelan. "Anda mau makan sesuatu sebelum tidur?"
"Tidak. Lebih baik aku langsung tidur."
"Baiklah."
Asia melangkah mendekat saat hendak mendorong kursi roda Hugo.
"Tidak perlu," tolak Hugo cepat namun tidak kasar.
Asia melepas tangannya dari pegangan kursi roda tanpa tersinggung. Pria itu menekan tombol kursi roda hidroliknya, membuatnya bergerak perlahan menyusuri koridor. Asia mengikutinya dari belakang dengan langkah tenang, menjaga jarak dengan sopan hingga pria itu tiba di ambang pintu kamarnya.
Jenny baru saja keluar dari kamarnya. Untung saja setelah perbincangan kaku mereka berakhir.
Gadis remaja itu menghentikan langkah di anak tangga, mendapati Papanya dan Asia baru saja bergerak dari arah kamar Nero.
Mata Jenny memicing dingin. Melihat Asia berdiri begitu dekat dengan Papanya di depan kamar adiknya, Jenny mendengus kecil. Sebuah sikap tidak suka yang sengaja ditinggalkannya di udara.
***
Di dalam kamar setelah Asia menutup pintu. Meski masih canggung tidur sekamar tetap wajib dilakukan demi meyakinkan sandiwara ini.
Hugo memutar kursi rodanya mendekat ke sisi ranjang. Asia yang melihat Hugo bersiap pindah ke tempat tidur refleks melangkah mendekat.
"Perlu saya bantu, Pak Hugo?" tawar Asia halus.
Hugo menghentikan gerakannya. Ia mengangkat sebelah tangannya di udara, sebuah gestur tegas untuk menolak bantuan Asia.
"Tidak perlu," tolak Hugo singkat. Matanya menatap Asia dengan sorot yang yakin dan mandiri. "Aku bisa."
"Baik, Pak Hugo," sahut Asia tenang. Ia mundur satu langkah secara santai, memberikan ruang bagi harga diri pria ini.
Hugo mengunci roda kursi rodanya. Kedua tangan kekarnya memegang erat pinggiran dudukan. Dengan satu helaan napas berat, ia mendorong tubuh bagian atasnya, bangkit sedikit dari duduknya.
Karena ketinggian ranjang yang rendah, Hugo tak perlu memaksakan kakinya terlalu keras. Dengan satu dorongan terukur, ia menggeser pinggulnya dan mendarat pas di tepi tempat tidur.
"Hff..."
Napas berat lolos dari hidung Hugo. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas kasur satu per satu menggunakan tangan, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Asia memperhatikan keteguhan pria itu. Meski interaksi mereka kaku dan formal, Asia menghadapinya dengan pembawaan yang santai dan penuh hormat. Ia lalu berjalan menuju sakelar lampu utama.
"Saya matikan lampu utamanya ya, Pak Hugo?" tanya Asia sopan.
"Ya. Tolong," pinta Hugo. Mata lampu utama meredup, menyisakan pendar jingga dari lampu tidur di sudut ruangan.
"Kamu juga suka main game?" tanya Hugo mendadak, memecah sepi.