NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

​Surat Tantangan Darah berwarna merah tua yang dibawa oleh Wu Chen seketika mengubah atmosfer di seluruh kediaman Klan Wu menjadi tegang luar biasa. Di dalam Aula Utama klan, guncangan politik meledak tanpa bisa diredam lagi.

​Para tetua senior berkumpul dengan wajah pucat pasi; mereka sadar betul bahwa keputusan mendadak aliansi Sekte Pedang Langit dan Klan Li untuk memajukan jadwal Turnamen Tiga Klan bukanlah sekadar kompetisi antar-generasi muda biasa. Ini adalah jebakan politik yang dirancang dengan sangat dingin untuk memojokkan Klan Wu, menghabisi pilar-pilar masa depan klan, dan merebut hak pengelolaan tambang batu spiritual secara paksa di bawah aturan pertumpahan darah.

​Namun, tidak seperti turnamen-turnamen sebelumnya di mana faksi dalam memegang kendali mutlak, peta kekuatan kali ini telah bergeser secara radikal. Tetua Agung Wu Cang, yang biasanya duduk dengan keangkuhan puncak di atas singgasananya, kini terpaksa melangkah turun dengan raut wajah yang sangat serius. Keangkuhannya terhadap murid cabang luar telah hancur sepenuhnya oleh realitas.

​Saat rombongan klan bersiap memobilisasi pasukan menuju wilayah perbatasan, Wu Cang sendiri yang memimpin barisan depan. Dan di sampingnya, berdiri seorang pemuda bermata gelap dengan jubah biru tua yang berkibar tertiup angin: Wu Tian.

​Pemuda yang dulu dicampakkan sebagai sampah kasta rendah itu kini secara tidak resmi diakui oleh seluruh klan sebagai Kartu As Utama mereka. Di belakang Wu Tian, Wu Xue berjalan dengan anggun bersama Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao, membentuk barisan perwakilan terbaik yang pernah dimiliki Klan Wu.

​Rombongan besar Klan Wu melintasi jalur pegunungan terjal menuju Lembah Tengkorak Merah—sebuah wilayah perbatasan netral yang dikelilingi oleh kabut beracun dan tebing-tebing batu obsidian yang hitam membara. Tempat ini memiliki sejarah panjang yang mematikan, menjadi saksi bisu berbagai pertumpahan darah dan perebutan wilayah kekuasaan antar-faksi besar di Yunzhou selama ratusan tahun.

​Udara di sekitar lembah terasa sangat berat, berbau besi dan belerang yang menyengat hidung.

​Di sepanjang perjalanan menelusuri tebing terjal, Wu Lin berjalan sedikit lebih dekat di samping Wu Tian. Wajah cantiknya dipenuhi rasa cemas yang tak mampu disembunyikan.

​"Wu Tian... kamu harus sangat berhati-hati," bisik Wu Lin dengan suara pelan, sepasang matanya menatap cemas ke arah lembah di bawah sana.

​"Aku mendengar kabar bahwa murid nomor satu Sekte Pedang Langit, Luo Feng, telah berhasil menguasai Niat Pedang Darah tingkat tinggi. Dia dijuluki sebagai Iblis Pedang Darah karena tidak pernah membiarkan satu pun lawannya hidup dalam keadaan utuh."

​Mendengar peringatan tersebut, Wu Tian tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Wajahnya tetap datar, mengunyah potongan dendeng kering di mulutnya dengan santai.

​Di dalam pikirannya, ia justru sedang secara halus mensimulasikan aliran energi dari teknik "Tinjuan Penghancur Altar" yang baru saja ia ingat dari memori Shenzhou. Keharmonisan antara raga manusianya dan ingatan iblis purba di dalam jiwanya kini terasa semakin solid dan menyatu sempurna.

​"Iblis Pedang?" gumam Wu Tian pelan dengan nada lempang. "Nama yang terlalu bagus untuk seseorang yang mungkin hanya tahu cara mengayunkan sepotong besi tajam."

​Ketika rombongan Klan Wu akhirnya menapakkan kaki di dasar Lembah Tengkorak Merah, pemandangan masif dan mengerikan langsung menyambut mereka. Tiga panggung batu raksasa berdiri kokoh di tengah lembah, dikelilingi oleh ribuan prajurit, murid, dan tetua dari ketiga klan besar Yunzhou yang telah memadati tribun tebing alam.

​BZZZZT...!

​Begitu kehadiran Klan Wu terdeteksi, aura intimidasi yang teramat pekat seketika membanjiri udara! Dari kubu Klan Li, Tetua Agung mereka menatap kedatangan Klan Wu dengan senyuman yang teramat dingin dan licik.

​Di sampingnya, berdiri Li Zhen—sang jenius Klan Li yang lengan kanannya kini telah buntung akibat sabetan cakar Wu Tian di turnamen sebelumnya. Sebelah mata Li Zhen memerah penuh dengan dendam kesumat yang membara saat ia mengunci pandangannya pada Wu Tian.

​Namun, ancaman yang paling nyata dan mengerikan terpancar dari panggung utama Sekte Pedang Langit.

​Di atas sebuah batu tebing yang menjulang tinggi, sesosok pemuda berjubah merah darah berdiri dengan tangan bersedekap. Di punggungnya, terikat sebilah pedang panjang tanpa sarung yang terus memancarkan uap merah menyengat. Dia adalah Luo Feng.

​WUUUSH...!!!

​Tanpa ada peringatan, Luo Feng mendadak melepaskan gelombang Niat Pedang Darah yang teramat tajam ke arah rombongan Klan Wu. Tekanan angin yang mengandung hawa membunuh pekat itu menyapu udara, membuat beberapa murid lemah di barisan belakang Klan Wu seketika pucat pasi dan merintih memegangi dada mereka yang terasa sesak.

​Luo Feng perlahan menarik pedang panjangnya dari punggung, mengarahkan bilah pedang yang bersimbah uap merah itu tepat ke arah dada Wu Tian.

​"Bocah sampah!" seru Luo Feng, suaranya menggema tajam membelah keheningan lembah layaknya gesekan logam. "Hari ini, di atas tanah perbatasan ini, tebasan pedangku akan meminum habis seluruh darah dari raga monstermu demi membayar kemalangan adik seperjuanganku!"

​Seorang penengah faksi netral berjanggut kelabu melangkah maju ke tengah arena, membawa sebuah gulungan kitab kulit binatang kuno yang berisi ratifikasi aturan baru yang telah disepakati oleh aliansi Sekte Pedang Langit dan Klan Li.

​"Dengarkan baik-baik!" seru sang penengah dengan suara nyaring yang bergema di seluruh tebing Lembah Tengkorak Merah. "Aturan Turnamen Tiga Klan kali ini telah diubah secara sah berdasarkan perjanjian darah! Pertandingan kali ini adalah Duel Hidup-Mati Tanpa Batas! Tidak ada batasan teknik, tidak ada larangan obat, dan tidak ada kata menyerah! Pertarungan baru dianggap selesai jika salah satu pihak tewas atau lumpuh total di atas panggung!"

​Pengumuman aturan membunuh secara legal itu seketika membuat atmosfer Lembah Tengkorak Merah memuncak ke titik jenuh yang sangat mencekam. Murid-murid Klan Wu saling melempar pandangan horor; mereka sadar aliansi dua klan ini benar-benar berniat melakukan pembantaian massal.

​Namun, di tengah tekanan niat pedang Luo Feng yang tajam dan aturan pembantaian yang mengerikan itu, sudut bibir Wu Tian perlahan tertarik tinggi ke atas.

​Seringai iblis yang teramat lebar, liar, dan penuh dengan haus darah meledak di wajahnya. Rasa ragu atau kebingungan tentang identitasnya telah lenyap sepenuhnya dari benaknya. Bagi sesosok monster yang pernah memimpin jutaan pasukan di daratan Shenzhou, aturan tanpa batas ini bukanlah ancaman, melainkan sebuah pesta pembantaian yang paling ia rindukan.

​BOOOM...!!!

​Tanpa menunggu namanya dipanggil oleh penengah, tanpa mempedulikan giliran pertarungan, Wu Tian menghentakkan kakinya ke tanah, melompat lurus melewati barisan tetua klan dan mendarat keras tepat di tengah-tengah panggung batu utama!

​Hantaman fisiknya membuat lantai batu obsidian retak berantakan dan memercikkan gelombang debu hitam ke udara.

​Wu Tian merentangkan kedua tangan kasarnya, menatap Luo Feng dari Sekte Pedang Langit dan para murid inti Klan Li di atas tebing dengan sepasang mata hitam legam yang berkilat jahat.

​"Terlalu banyak omong kosong dari mulut kalian," bisik Wu Tian, suaranya yang rendah namun sarat daya hancur bergaung jelas di seantero lembah. "Kalian berdua... Klan Li dan Sekte Pedang Langit... tidak perlu buang-buang waktu bertarung satu per satu. Majulah kalian semua secara bersama-sama!"

​HEBOH!

​Pernyataan gila yang berada di luar batas nalar manusia itu seketika membuat seluruh isi Lembah Tengkorak Merah meledak dalam ketegangan puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya!

1
Mamat Stone
/Bomb//Bomb//Bomb/
Mamat Stone
/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
Mamat Stone
/Casual/🤩/Casual/
Mamat Stone
🤩/CoolGuy/🤩
LanzT0k3
lanjut thor
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
y@y@
⭐👍🏿👍🏼👍🏿⭐
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Iskandar Muda
bagus cerita ny simple padat
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Hammer//Hammer//Skull/
Mamat Stone
😈👊👊
Mamat Stone
💪👊
Mamat Stone
/Ok//Good/
Agus Rose
kasih judul setiap bab nya biar lebih menarik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!