NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya

Pukul enam pagi.

Halaman depan kantor Orion Creative sudah dipenuhi suara tawa para karyawan. Sebuah bus pariwisata berwarna putih terparkir di depan gedung, siap membawa seluruh tim menuju resort di Puncak untuk gathering tahunan.

Rina datang paling heboh.

"Guys! Jangan ada yang tidur di bus! Kita karaoke!"

Beberapa orang langsung mengeluh.

"Baru berangkat udah berisik."

"Rina, hemat suara."

Rina hanya tertawa.

"Liburan setahun sekali, masa diem?"

---

Nadira datang beberapa menit kemudian mengenakan sweater krem, celana jeans biru tua, dan sneakers putih. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana.

Begitu turun dari ojek online, beberapa rekan kerja langsung menyapanya.

"Pagi, Dir!"

"Pagi."

Belum sempat ia melangkah jauh, Arga sudah menghampiri sambil membawa dua gelas kopi.

"Ini."

Nadira menatap gelas itu.

"Kopi lagi?"

"Bukan."

"Apa?"

"Chocolate latte."

Nadira menerima gelas itu sambil tersenyum.

"Kok tahu aku lagi pengin ini?"

Arga mengangkat bahu.

"Aku nggak tahu."

"Lalu?"

"Aku cuma ingat."

"Ingat apa?"

"Waktu kita lembur bulan lalu, kamu bilang lebih suka minuman manis daripada kopi pahit."

Nadira terdiam.

Ucapan itu sederhana.

Tetapi ternyata Arga mengingat hal sekecil itu.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Dari kejauhan, Rina memperhatikan sambil berbisik kepada Pak Dimas.

"Pak."

"Hm?"

"Kalau mereka belum jadian bulan ini..."

"...saya resign."

Pak Dimas hampir tersedak air minumnya.

"Rina!"

---

Satu per satu karyawan mulai naik ke dalam bus.

Begitu Nadira masuk, hampir semua kursi sudah terisi.

Yang tersisa hanya dua.

Satu di samping Arga.

Satu lagi di samping Farhan.

Rina yang melihat situasi itu langsung menahan senyum.

*"Waduh..."*

Farhan lebih dulu berbicara.

"Silakan."

Arga ikut menoleh.

"Nggak apa-apa, pilih aja."

Semua orang yang mengetahui situasi mereka diam-diam mulai memperhatikan.

Nadira menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak ingin membuat salah satu dari mereka merasa tidak enak.

Namun setelah beberapa detik berpikir, ia melangkah...

...menuju kursi di samping Arga.

"Kalau nggak keberatan."

Arga tersenyum.

"Justru aku senang."

Farhan ikut tersenyum, lalu memilih duduk di kursi belakang bersama rekan kerja lain.

Tidak ada raut kecewa yang berlebihan.

Hanya sebuah senyum yang menerima kenyataan.

Rina yang duduk di depan langsung mengirim pesan ke grup kecil berisi dirinya, Pak Dimas, dan Celine.

> **Rina:** "Update. Nadira milih duduk sebelah Arga."

Beberapa detik kemudian muncul balasan dari Celine.

> **Celine:** "Bagus. Akhirnya."

---

Bus mulai melaju meninggalkan Jakarta.

Awalnya semua masih bersemangat.

Menyanyi.

Bercanda.

Mengobrol.

Namun dua jam kemudian, suasana berubah lebih tenang.

Beberapa orang tertidur.

Rina yang tadi paling heboh bahkan sudah mendengkur pelan.

Arga melirik ke samping.

Nadira sedang melihat pemandangan melalui jendela.

"Capek?"

"Sedikit."

"Kamu bisa tidur."

"Nggak bisa tidur di kendaraan."

"Hm."

Beberapa menit kemudian, bus melewati jalan yang berkelok.

Nadira mulai memijat pelipisnya.

"Kamu kenapa?"

"Pusing sedikit."

"Mabuk perjalanan?"

Nadira mengangguk pelan.

"Iya."

Tanpa banyak bicara, Arga membuka tasnya.

Ia mengeluarkan minyak angin, permen jahe, dan air mineral.

Nadira membelalak.

"Kamu bawa sebanyak itu?"

Arga terkekeh.

"Antisipasi."

"Kamu tahu aku bakal mabuk?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku tahu... kamu sering pusing kalau perjalanan jauh."

Nadira kembali terdiam.

Ia sama sekali tidak ingat pernah menceritakan hal itu.

"Kapan aku bilang?"

"Waktu kita pulang dari survei proyek."

"Kamu sempat bilang perjalanan jauh bikin kepala kamu berat."

"Ternyata kamu ingat."

Arga tersenyum kecil.

"Kalau soal kamu..."

"...aku lumayan susah lupa."

Jantung Nadira kembali berdebar.

Ia buru-buru membuka permen jahe agar Arga tidak melihat pipinya yang mulai memerah.

---

Sekitar satu jam kemudian, bus melewati jalan menanjak dengan tikungan tajam.

Beberapa penumpang mulai mengeluh.

"Ya ampun..."

"Pusing."

Bus berguncang pelan saat melewati jalan berlubang.

Refleks, tubuh Nadira sedikit terdorong ke samping.

Kepalanya hampir membentur jendela.

Namun Arga dengan cepat menahan bahunya.

"Hati-hati."

"Maaf."

"Nggak usah minta maaf."

Karena masih merasa pusing, Nadira akhirnya memejamkan mata.

Tanpa sadar...

Kepalanya perlahan bersandar di bahu Arga.

Arga membeku.

Ia menoleh pelan.

Nadira sudah tertidur.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Arga tidak bergerak sedikit pun.

Ia takut membangunkan perempuan itu.

Beberapa kursi di belakang, Rina yang baru terbangun mengintip ke depan.

Matanya langsung membulat.

Ia buru-buru mengambil ponsel.

Namun sebelum sempat memotret, Pak Dimas yang duduk di sebelahnya menepuk pelan lengannya.

"Jangan."

"Biarkan saja."

Rina menurunkan ponselnya.

"Iya, Pak."

Pak Dimas tersenyum tipis.

"Ada momen yang lebih indah kalau disimpan sebagai kenangan, bukan sebagai bahan bercanda."

Rina mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya, ia memilih menikmati pemandangan itu tanpa mengusili siapa pun.

---

Hampir tiga puluh menit kemudian, bus memasuki area resort.

Udara pegunungan yang sejuk langsung terasa ketika pintu bus dibuka.

Nadira perlahan membuka mata.

Ia langsung menyadari posisi kepalanya.

Wajahnya seketika memerah.

"Astaga..."

Ia buru-buru menjauh.

"Maaf."

Arga hanya tersenyum.

"Nggak apa-apa."

"Aku ketiduran."

"Iya."

"Kenapa nggak dibangunin?"

Arga menatapnya beberapa detik.

"Lagi nyenyak."

"...sayang kalau dibangunin."

Kalimat itu membuat Nadira kehilangan kata-kata.

Sementara dari kejauhan, Farhan yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum kecil.

Kini ia benar-benar yakin.

Bukan karena Arga lebih hebat darinya.

Tetapi karena setiap perhatian kecil Arga selalu berhasil membuat Nadira merasa menjadi orang yang paling diprioritaskan.

Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.

Saat seluruh tim mulai berjalan menuju lobi resort, seorang panitia menghampiri Pak Dimas.

"Pak, ada sedikit perubahan."

"Apa?"

"Karena ada kendala kamar..."

"...beberapa peserta harus berbagi cottage."

Pak Dimas mengangguk.

"Oke."

"Daftar pembagian kamarnya sudah kami siapkan."

Tanpa ada yang menyadari...

Daftar itu akan menjadi awal dari kejutan yang sama sekali tidak diperkirakan oleh Nadira maupun Arga.

**Bersambung ke Episode 24...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!