Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Jebakan di Bawah Meja Makan
Drap! Drap! Drap!
Suara derap langkah kaki Olivia yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa itu memecah keheningan hari Senin pagi di rumah mereka. Marcella yang sedang menata piring di meja makan sampai tersentak kaget lalu menoleh ke arah tangga. Di sana, Olivia tampak setengah berlari turun dengan tas sekolah yang dia selempangkan di bahu kanannya, dan topi sekolah yang dia pegang di tangan kirinya.
“Sarapan dulu, Liv. Belum telat juga, kan?” ajak Marcella yang sedang mengambil dua piring keramik dari rak.
“Belum, Kak. Masih sempet, kok”, jawab Olivia tersenyum setelah mendarat di anak tangga terakhir.
Aroma nasi goreng mentega yang hangat memenuhi ruang makan, namun atmosfer di sana tidak sehangat aromanya. Marcella menuangkan air putih ke gelas Olivia, menatap adiknya yang pagi ini tampak sudah jauh lebih segar. Seragam putih abu-abu melekat rapi di tubuh gadis itu, lengkap dengan rambutnya yang dikuncir kuda.
“Kamu udah enakan, Liv? Kalau masih lemes, ntar abis sekolah langsung pulang aja. Nggak usah latihan basket dulu”, ujar Marcella penuh perhatian sambil menyodorkan piring.
“Iya, udah enakan kok, Kak. Tadi malam kan agak cepet tidurnya”, jawab Olivia santai sambil menyendok nasi gorengnya.
Marcella mengangguk-angguk, namun sendoknya hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya sendiri. Pikirannya ternyata masih tertahan pada kejadian semalam. Siluet pengendara motor yang melesat keluar dari gang rumahnya benar-benar menolak pergi dari ingatannya.
Melihat ekspresi kakaknya itu, Olivia yang hendak mengambil sepotong telur dadar mengernyit kebingungan.
“Kenapa, Kak? Nggak laper? Sini buat aku aja”, celetuk Olivia dengan mulutnya yang masih mengunyah.
“Eh, nggak Liv”, Marcella tersadar dari lamunannya. “Ini… aku kok masih kepikiran soal semalam, ya?”
Olivia yang hendak memasukkan sendok ke mulutnya tiba-tiba terhenti sejenak, namun langsung melanjutkan gerakannya sepersekian detik kemudian.
“Semalam… yang mana, Kak?” Olivia pura-pura tidak mengerti.
“Itu… yang aku bilang aku kayak ada lihat motor yang mirip punya Doni. Plat nomornya emang nggak kelihatan, sih. Tapi warna lampu belakangnya itu kayak di-modif gitu, persis kayak punya Doni banget”, ucap Marcella yakin.
“Semalam kan aku udah bilang, Kak. Palingan cuma mirip doang. Emangnya yang punya lampu gitu Kak Doni doang?” jawab Olivia menatap kakaknya lempeng, lalu menelan makanannya dengan tenang.
“Iya juga, sih. Apa aku tanya langsung aja, ya? Daripada penasaran sampai kepikiran terus”, kata Marcella sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Melihat Marcella yang mulai mengetik di layar ponsel, kilatan waspada langsung melintasi mata Olivia. Dia tahu ini bahaya. Doni adalah titik lemah dari rencana sempurnanya. Pacar kakaknya itu sangat mudah sekali diintimidasi dan payah dalam berbohong. Jika Marcella bertanya tiba-tiba seperti itu, Doni pasti akan gelagapan dan memberikan jawaban yang salah, yang bisa menghancurkan alibi yang sudah Olivia bangun susah payah semalam.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang santai, tangan kiri Olivia bergerak turun ke bawah meja makan. Dia merogoh ponselnya yang ada di saku kiri rok abu-abunya. Dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, jarinya mengetik pesan singkat di ponselnya sendiri yang dia letakkan di atas pangkuannya, tersembunyi dari pandangan Marcella.
Setelah pesan terkirim, Olivia kembali meletakkan tangan kirinya di atas meja, meraih gelas susunya, dan meminumnya dengan santai seolah tidak terjadi apa pun.
Cit! Cit! Cit!
Bunyi decitan sol sepatu karet milik Doni yang bergesekan dengan lantai koridor gedung kampusnya itu terdengar menggema di keheningan pagi. Dia tampak tergesa-gesa menuju ke arah laboratorium komputer setelah menerima pesan dari Rian yang mengatakan kalau ada perubahan jadwal hari ini. Presentasi yang tadinya dijadwalkan minggu depan, dimajukan oleh sang Dosen menjadi siang ini.
Doni setengah berlari, sesekali membenarkan posisi ranselnya yang terasa super berat pagi ini. Matanya menghitam karena kurang tidur akibat begadang mencuci pakaian-pakaian Olivia semalam, ditambah harus bangun subuh-subuh demi memastikan jemuran itu kering. Setelah berbelok di ujung koridor, tampak sosok Rian yang sudah menunggu di depan pintu laboratorium melambaikan tangannya.
“Don! Cepetan!” teriak Rian memanggil Doni.
Doni buru-buru mendatangi Rian lalu bersama-sama masuk. Di sana, dua teman kelompoknya sudah menatap Doni dengan tatapan menghakimi. Di atas meja, laptop-laptop masih menyala menampilkan barisan kode pemrograman yang rumit.
“Lo telat sepuluh menit”, sindir Rian sambil menunjuk jam dinding. “Untung bagian coding lo tinggal dikit. Makanya buruan beresin! Bentar lagi kita udah harus masuk ke kelas buat siap-siap presentasi”, sambungnya mendesak Doni untuk buru-buru.
“Iya, iya. Sori banget ya, guys. Gue langsung beresin sekarang!” kata Doni panik, langsung duduk di kursi kosong dan membuka laptopnya. Jarinya mulai menari di atas keyboard, mencoba fokus di tengah rasa kantuk yang luar biasa berat.
Drrt… Drrt…
Tiba-tiba ponsel Doni yang diletakkan di samping laptop bergetar pendek.
Drrt… Drrt…
Baru saja Doni hendak meraih ponselnya, benda itu bergetar lagi. Dua notifikasi pesan masuk yang muncul hampir bersamaan itu membuat jantungnya berdegup kencang. Pikirannya kini terbelah dua, antara tugas coding di depannya, dan dua pesan misterius itu. Doni mencoba mencuri-curi kesempatan untuk melihat layar ponselnya, sambil tetap waspada agar teman-teman kelompoknya tidak memergokinya.
Pesan pertama dari nomor tanpa nama yang hampir pasti itu adalah Olivia:
Kak Doni, ini Kak Cella di depan aku lagi mau ngechat Kak Doni. Katanya dia ngeliat Kak Doni tadi malam. Jangan bilang kalau Kak Doni jemput aku ya? Aku udah nyangkal juga kok. Jangan sampai salah jawab ya 😉
Pesan kedua dari Marcella:
Sayang, kamu kemarin ngerjain tugasnya sampai jam berapa? Sampai malam kah? Tadi malam kamu ada lewat rumah aku nggak? Soalnya aku kayak liat kamu di depan rumah.
Doni menghentikan ketikannya di keyboard laptopnya. Tangannya mendadak gemetar. Kedua pesan itu bersanding di layar ponselnya seperti sebuah bom waktu dengan dua kabel yang sama-sama mematikan. Dia menatap Rian yang sedang mengawasinya di sebelah, lalu menatap layar ponselnya bergantian.
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Doni. Pikirannya yang saat ini terbagi dua itu kini dituntut untuk fokus maksimal mengetik pesan balasan kepada Marcella. Sifatnya yang paranoid membuatnya berfikir kalau dia salah ketik satu kata saja dapat menimbulkan efek domino yang akan mempengaruhi masa depannya. Fokusnya akan buyar. Kebohongannya bisa terbongkar. Otaknya akan langsung blank. Barisan kode pemrograman di depannya bisa jadi error. Tugas kelompoknya bisa jadi berantakan. Teman-teman kelompoknya akan kecewa padanya. Rian akan mencoret namanya dari kelompok. Nilai mata kuliahnya bisa hancur. Belum cukup dengan itu, gadis SMA yang kini memperbudaknya bisa dengan mudah menambahkan beban-beban lain padanya demi menjaga rahasianya.
Detik terus berjalan. Kolom pesan bertuliskan Message di layar ponsel Doni menampilkan kursor berkedip yang seolah menunggu balasan apa yang akan dia ketik.