Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Rabu pagi pukul delapan, Aula Kompetisi Piala Gemilang Universitas S sudah berubah menjadi ruang pamer kecil yang berkilau.
Lampu sorot dipasang di langit-langit. Meja kerja peserta berjajar rapi, masing-masing dilengkapi alat dasar, kaca pembesar, dan kotak penyimpanan. Di sisi aula, para sponsor dari industri perhiasan duduk bersama alumni, dosen, dan mahasiswa yang datang hanya untuk melihat drama.
Piala Gemilang bukan sekadar lomba kampus.
Bagi mahasiswa desain perhiasan, ini panggung kecil menuju industri besar.
Keira masuk bersama Wulan.
"Aku masih tidak suka aturan materialnya," gumam Wulan.
"Aturan buruk biasanya dibuat oleh orang yang yakin dirinya diuntungkan."
"Itu kalimat yang sangat ingin kutulis di spanduk."
Di meja juri, Prof. Hartono sudah duduk dengan ekspresi netral yang tidak bisa dibeli gosip. Di sebelahnya ada seorang dosen tamu dari asosiasi perhiasan. Kursi ketiga ditempati Cicely, desainer senior Lumina dan guru Seline. Rambutnya disanggul rapi, matanya tajam, dan kehadirannya membuat beberapa peserta langsung merapikan postur.
Seline berdiri tidak jauh dari panggung, dikelilingi Anya Sudargo dan teman-teman yang sejak pagi memujinya.
"Sel, kamu pasti pilih rubi itu, kan?"
Seline tersenyum lembut. "Kalau memang cocok dengan konsepku."
Di kepala Keira, batu rubi di meja material sudah berteriak dari tadi.
"Cocok? Aku paling mahal di sini! Rubi darah merpati, sayang. Kalau nggak pilih aku, itu kejahatan estetika!"
Keira menahan ekspresi.
Tema kompetisi diumumkan tepat pukul delapan lewat lima belas.
Alam dan Keindahan.
Peserta harus memilih material sesuai urutan ranking semester, lalu membuat karya perhiasan di tempat. Waktu pengerjaan beberapa jam, presentasi dilakukan setelah semua karya selesai.
Ketika panitia memanggil nama pertama, semua orang sudah tahu siapa yang maju.
"Seline Santoso."
Tepuk tangan terdengar.
Seline berjalan ke meja material dengan langkah anggun. Ia membiarkan pandangannya menyapu batu-batu lain seolah benar-benar mempertimbangkan, lalu mengambil batu rubi darah merpati di tengah meja.
Batu Rubi bersorak, "Yuhuu! Gue terpilih! Yang paling mahal, dong! Sudah pasti menang!"
Seline mengangkat rubi itu ke arah cahaya. Warna merahnya dalam, bersih, mahal. Di tribun, Alvin yang datang sebagai penonton terlihat mengangguk bangga. Gilbert duduk beberapa kursi di belakangnya, wajah masih kaku. Rio dan Kelvin ada di sisi lain, lebih diam daripada biasanya. Brandon juga hadir di bagian belakang, tampak seperti orang yang belum yakin mengapa ia datang, tetapi matanya tetap mencari Seline.
Keira melihat semua itu, lalu menunduk pada daftar peserta.
Di mata penonton, pilihan Seline sudah seperti pengumuman awal. Batu termahal, murid Cicely, ranking pertama. Semua tanda seolah berdiri di sisinya.
Satu per satu, material terbaik menghilang.
Emerald bersih.
Topaz kuning.
Opal dengan kilau bagus.
Mutiara bundar sempurna.
Emas putih tipis.
Setiap peserta mengambil pilihan yang masuk akal. Setiap kali nama baru dipanggil, meja material menjadi lebih sepi.
Wulan dipanggil di tengah urutan. Ia mengambil batu bulan kecil dan kawat perak.
Saat kembali, ia berbisik pada Keira, "Aku bisa bagi sebagian materialku."
"Tidak."
"Kei."
"Kamu pakai punyamu. Aku tidak mau mempengaruhi hasilmu."
Wulan menggertakkan gigi. "Keras kepala."
"Terima kasih."
Anya yang lewat mendengar sebagian percakapan itu dan langsung tersenyum manis. "Aduh, Kak Keira, jangan gengsi. Kalau material bagus sudah habis, menerima bantuan itu bukan dosa."
Seline menoleh dengan wajah seolah iba. "Iya, Kak. Semoga masih ada yang bisa dipakai, ya."
Wulan memegang batu bulannya lebih erat. "Mulut mereka bikin aku ingin melanggar tata tertib."
Keira hanya berkata, "Jangan. Sayang diskualifikasi."
Akhirnya panitia memanggil nama terakhir.
"Keira Santoso."
Aula menjadi sedikit lebih sunyi.
Keira berjalan ke meja material sisa.
Di sana, yang tersisa memang tampak seperti sesuatu yang ditinggalkan setelah pesta selesai.
Sebuah batu safir dengan retakan alami melintang di permukaannya.
Pecahan berlian kecil yang ukurannya tidak seragam.
Selembar titanium yang dingin dan sulit dibentuk.
Beberapa mutiara cacat, warnanya tidak rata, bentuknya jauh dari bulat sempurna.
Dari tribun, seseorang tertawa pelan.
"Habis sudah."
"Itu mah bukan material kompetisi, itu sisa praktik."
Keira tidak menoleh.
Ia mendengar suara kecil dari batu safir.
"Maaf ya..."
Suara itu berbeda dari rubi yang sombong. Pelan, malu, hampir tidak ingin terdengar.
"Aku cacat. Retakannya nggak bisa diilangin. Mereka semua sudah lihat, terus pergi. Mungkin... kamu juga nggak mau pilih aku?"
Keira menatap batu itu.
Retakan di permukaannya tidak halus. Ia seperti garis petir beku yang membelah biru tua. Di bawah lampu, retakan itu memantulkan cahaya tipis, bukan sebagai kerusakan, melainkan sebagai jejak tekanan bumi yang pernah ditahan batu itu.
Keira mengulurkan tangan.
Seline memperhatikan dari kejauhan, senyumnya makin jelas.
Cicely di meja juri menyipit sedikit, seolah penasaran pilihan seperti apa yang akan dibuat gadis yang mendapat sisa terakhir.
Keira mengambil batu safir retak itu dengan lembut.
Batu Safir terdiam.
"Retakan ini bukan cacat," bisik Keira, cukup pelan agar hanya batu itu yang mendengar. "Ini medali dari alam."
Ia lalu mengambil pecahan berlian kecil, titanium, dan beberapa mutiara cacat.
Wulan menahan napas.
Anya tertawa kecil.
Seline sudah terlihat seperti pemenang.
Keira mengangkat batu safir retak ke arah cahaya, melihat garis pecahnya bersinar biru pucat, lalu tersenyum.
"Aku yang paling berhak memilihmu."
semangat thor💪