Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk kedalam apotek
Sabrina berdiri terpaku di trotoar persis di luar bangunan apotek. Cahaya neon putih dari dalam ruangan melingkupi sosoknya yang tampak kecil dan rapuh di bawah temaram langit sore.
Udara dingin perlahan merayap menusuk kulit, namun sensasi dingin yang sebenarnya justru menjalar dari telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin.
Sebuah perasaan takut yang teramat besar tiba-tiba muncul, melilit dadanya hingga rasa sesak menyiksanya.
Langkah kakinya mendadak terasa begitu berat, seolah tertancap pada lantai semen di luaran sana.
Pandangannya tertuju pada rak-rak obat yang terlihat jelas dari balik pintu kaca bening. Di salah satu sudut rak itulah jawaban atas segala keraguan dan kegelisahannya berada.
Namun, membayangkan dirinya harus melangkah ke kasir dan mengujarkan niatnya secara terbuka membuat nyali Sabrina ciut seketika.
Bagaimana jika ada orang yang mengenalnya? Bagaimana jika pegawai apotek menatapnya dengan tatapan penuh keheranan atau penghakiman?
Dan yang paling mengerikan dari segalanya, bagaimana jika ketakutan terbesarnya benar-benar terbukti nyata?
Pikirannya mendadak riuh oleh prasangka dan bayangan buruk. Rasa pusing yang sempat mereda kini kembali berdenyut keras di pelipisnya, beradu cepat dengan detak jantungnya yang membentur dada tanpa ampun.
Sabrina meremas dompet di genggamannya erat-erat. Dia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan angin sore berembus menerpa wajahnya yang pucat pasi.
Kamu cuma mau memastikan. Bisik suara kecil di dalam dadanya, mencoba memberikan kekuatan di tengah kepanikan.
Kalau hasilnya negatif, kamu bisa bernapas lega. Kamu bisa menganggap semua rasa mual dan terlambat haid ini cuma sekadar efek lelah atau reaksi obat dari Kak Julian.
Sabrina membuka matanya perlahan. Ditatapnya sekali lagi pintu kaca apotek yang tersemat stiker pelindung transparan itu.
Ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi dalam ketidakpastian yang menggerogoti pikirannya setiap detik. Berdiri mematung di luar sini hanya akan memperpanjang siksaan mental yang sedang ia alami.
Dengan sisa keberanian yang coba ia kumpulkan dari puing-puing ketakutannya, Sabrina menarik napas dalam-dalam.
Udara sore yang terasa sejuk memenuhi paru-parunya, memberi sedikit suplai oksigen bagi kepalanya yang terasa begitu berat.
Ia membuang napas itu perlahan lewat mulut, berusaha menyalurkan getaran di bibirnya. Setelah menetralkan riak di dadanya meski tak sepenuhnya berhasil, ia pun mengayunkan kaki, melangkah masuk ke dalam apotek.
Denting bel di atas pintu berkertas kaca menyambut kedatangannya, memecah keheningan ruangan berpendingin udara yang tercium aroma khas antiseptik dan obat-obatan.
Hawa dingin melingkupi tubuhnya seketika, namun Sabrina menguatkan tekadnya. Ia menundukkan kepala sedikit, menghindari kontak mata langsung dengan siapa pun, lalu berjalan lambat membelah ubin putih bersih menuju meja kasir di sudut ruangan.
Setiap langkah yang diayunkannya terasa bagai hitungan mundur menuju takdir baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa apoteker wanita berseragam putih itu dengan senyum ramah dari balik meja kasir.
Sabrina meremas dompet di genggamannya erat-erat. Ia berdiri mematung sejenak, tenggorokannya mendadak terasa begitu kering.
Matanya melirik gelisah ke sudut-sudut apotek, memastikan tidak ada pengunjung lain yang memperhatikan dirinya. Rona merah tipis menjalar di pipinya yang pucat akibat rasa malu dan ragu yang begitu membakar.
Apoteker itu tetap menunggunya dengan sabar dan tersenyum tenang. Sabrina menundukkan kepala, kembali meremas dompet di tangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, meski dengan nada pelan dan terputus-putus.
"Sore, Mbak... Mmm, saya... mau cari..." Sabrina menggantung kalimatnya, ragu-ragu untuk menyebutkan kata itu.
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa canggung yang luar biasa.
"Cari testpack, Mbak," bisiknya akhirnya, nyaris tak terdengar.
Apoteker itu mengangguk paham tanpa menunjukkan gestur terkejut atau menghakimi, sikap profesional yang membuat ketegangan di dada Sabrina sedikit mereda.
"Baik, Mbak. Mau yang jenis stik strip biasa atau yang bentuknya kompak digital?" tanya sang apoteker lembut sambil menjangkau kotak penyimpanan di balik meja.
"Yang... yang biasa aja deh, Mbak. Strip," sahut Sabrina tipis, masih menyembunyikan tatapannya.
"Baik, mau ambil berapa buah, Mbak? Biasanya disarankan beli dua untuk hasil yang lebih pasti atau sebagai pembanding," saran apoteker itu ramah.
"D..dua aja, Mbak..."
Apoteker itu mengambil dua bungkus kemasan tes kehamilan strip, lalu memindai kode batangnya di mesin kasir.
"Totalnya jadi tiga puluh ribu rupiah ya, Mbak," ucapnya.
Sabrina dengan cepat merogoh dompetnya dan menyerahkan lembaran uang kertas. Sang apoteker menerima uang tersebut, lalu memasukkan kedua tes kehamilan itu ke dalam kantong plastik kecil berwarna hitam pekat agar menjaga privasi pembelinya.
"Uangnya pas ya, Mbak. Ini barangnya," kata apoteker itu menyerahkan kantong plastik kecil tersebut.
"Nanti untuk penggunaannya, disarankan pakai air seni pertama di pagi hari setelah bangun tidur ya, Mbak, supaya hasilnya lebih maksimal. Semoga sehat selalu."
"T...terima kasih banyak, Mbak," Ucap Sabrina ragu-ragu seraya menerima kantong tersebut, lalu secepat mungkin berbalik menuju pintu keluar dengan jantung yang berdegup kencang.
Begitu keluar dari apotek, Sabrina menggenggam erat kantong plastik hitam di tangannya, seolah sedang membawa rahasia paling berbahaya di dunia.
Ia berjalan setengah berlari menyusuri trotoar, sama sekali tak memedulikan langkah kakinya yang lemas atau tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Setibanya di depan bangunan kos, ia bergegas menaiki tangga, membuka pintu kamarnya terburu-buru, lalu langsung menguncinya rapat-rapat dari dalam.
Bunyi kunci merapat menyisakan keheningan mencekam di dalam kamar kosnya yang remang.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun menahan kepanikan yang membuncah. Ia menatap kantong plastik hitam kecil di pangkuannya dengan jemari yang tak berhenti gemetar.
Di dalam bungkus kecil itulah jawaban atas ketakutannya berada, jawaban yang akan menentukan kemana arah jalan hidupnya setelah ini.
Sabrina menghela napas panjang, berjuang menguasai rasa kepanikan yang terus bergemuruh di dadanya.
Dia lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Jemari tangannya mencengkeram dan menggenggam kantong plastik hitam itu dengan teramat erat, meremasnya seolah plastik kecil berisi tes kehamilan itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa di tengah dunia yang mendadak runtuh.
Sabrina memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan keheningan kamar menyelimutinya. Ia mencoba menetralkan pikirannya yang acak-acakan, menata satu per satu pecahan rasa takut yang terus memburu kepalanya.
Tenang, Sab... Tenang. bisiknya pada diri sendiri, mengulang-ulang kalimat itu bagai mantra di dalam hati.
Dia meyakinkan dirinya bahwa melangkah ke kamar mandi dalam keadaan panik hanya akan membuat segalanya makin menyiksa.
Dia tak lagi bisa bersabar untuk menunggu sampai besok pagi, dia harus tahu hasilnya hati ini juga.
Di tengah gemuruh dada yang tak kunjung mereda, Sabrina menarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut.
Ia berjuang mengumpulkan sisa-sisa keberanian terakhirnya, berusaha menyiapkan mental sebelum benar-benar berani melihat jawaban yang tersembunyi di balik genggaman erat tangannya.