elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Jadwal di Kulkas
Kertas di kulkas itu lebih rinci daripada jadwal shift rumah sakit.
Pukul 04.30: siapkan sarapan dan bekal.
Pukul 06.00: pastikan Yi Ming dan Yi Chen siap.
Pukul 07.00: mencuci pakaian.
Pukul 08.00: membersihkan kamar dan kamar mandi.
Pukul 10.00: belanja bahan makanan.
Pukul 12.00: menyiapkan makan siang.
Pukul 13.00: menjemput Yi Chen.
Pukul 15.00: mendampingi anak belajar.
Pukul 17.00: menyiapkan makan malam.
Di bagian bawah masih ada catatan kecil: setrika pakaian kerja Cheng An, cek kebutuhan rumah, dan siapkan obat Ibu Kho setiap minggu.
Nan Shin membaca sampai selesai.
“Mama menulis semua ini kapan?”
“Tadi pagi, waktu kamu ke rumah sakit.”
“Kenapa nama Mama atau Cheng An tidak ada?”
Ibu Kho menatap kertas seolah pertanyaan itu aneh. “Cheng An kerja. Mama bantu anak kalau kamu keluar.”
“Mama tinggal di rumah juga.”
“Mama sudah tua.”
“Tapi cukup sehat untuk mendaftarkan dua anak ke tempat les tanpa saya.”
Ibu Kho menunjuk daftar itu. “Mama membantu dengan mengatur.”
“Mengatur berarti membagi tugas, bukan memindahkan semua tugas kepada satu orang.”
“Cheng An pulang malam.”
“Dia tetap bisa menyiapkan tas anak atau mencuci piring setelah makan. Tinggal serumah berarti ikut mengurus rumah.”
“Bukan hanya pulang, makan, lalu meninggalkan piring untuk saya.”
Wajah Ibu Kho mengeras. “Jangan kurang ajar.”
Nan Shin mengambil pulpen dari meja dan menulis pada kotak pukul sembilan sampai sebelas: mencari lowongan dan mengirim lamaran.
“Waktu itu kamu harus belanja.”
“Belanja bisa setelahnya.”
“Nanti makan siang terlambat.”
“Makan siang bisa dimasak bersama sarapan.”
“Makanan yang dipanaskan terus tidak sehat.”
“Berarti jadwal ini tidak mungkin dikerjakan satu orang.”
“Selama ini Mama juga mengerjakan banyak.”
“Kalau begitu kita bagi.”
Ibu Kho meletakkan selotip di meja dengan bunyi keras. “Kamu baru sehari di rumah sudah hitung-hitungan tugas.”
“Karena waktu saya tetap waktu.”
Ibu Kho berjalan pergi sambil bergumam bahwa menantu zaman sekarang tidak tahan diberi tanggung jawab.
Keesokan hari, jadwal itu mulai bekerja seperti perintah.
Pukul empat tiga puluh, Nan Shin bangun. Ia menyiapkan nasi goreng, memotong buah, mengisi botol, dan menemukan seragam Yi Chen belum kering karena hujan semalam. Ia mengeringkannya dengan setrika sambil membangunkan anak-anak.
Yi Chen menolak kaus kaki.
“Gatal.”
“Yang ini saja?” Nan Shin menunjukkan pasangan lain.
“Mau yang biru.”
Yi Ming berdiri di pintu sambil mencari buku IPA. Ibu Kho memanggil dari ruang makan karena tehnya belum dibuat.
Cheng An turun paling akhir.
“Jas operasiku yang abu-abu sudah disetrika?”
Nan Shin berhenti memasang kaus kaki Yi Chen. “Belum.”
“Hari ini aku pakai itu untuk foto tim.”
“Kenapa baru bilang?”
“Kupikir sudah ada di jadwal.”
Ibu Kho menyahut dari meja, “Nanti biasakan cek pakaian Cheng An malam sebelumnya.”
Nan Shin menatap kertas di kulkas. Catatan baru sudah ditambahkan dengan tinta merah.
Pukul tujuh lewat, semua keluar. Rumah langsung meninggalkan piring kotor, remah roti, dua handuk basah, dan keranjang pakaian penuh.
Nan Shin membersihkan sampai pukul sembilan.
Ia membuka laptop untuk memperbarui riwayat kerja. Baru menulis tiga baris, Ibu Kho memanggil dari dapur.
“Gas hampir habis. Sekalian beli obat Mama.”
“Saya sedang membuat CV.”
“Obat nggak bisa menunggu.”
Nan Shin mengecek kotak obat. Persediaannya masih cukup empat hari.
“Saya beli sore.”
“Kalau lupa?”
“Saya catat.”
Ia kembali ke laptop. Sepuluh menit kemudian, mesin cuci berbunyi. Setelah pakaian dijemur, telepon sekolah masuk karena Yi Ming meninggalkan buku tugas.
Nan Shin mengantar buku dengan ojek online. Ketika pulang, waktu menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh.
Laptop masih terbuka pada baris ketiga.
Siang hari, Yi Chen pulang mengantuk dan menolak makan. Nan Shin membujuknya, membersihkan susu yang tumpah, lalu membantu anak itu tidur. Baru saja ia membuka situs lowongan, Ibu Kho membawa daftar belanja.
“Kalau berangkat sekarang, sebelum sore sudah pulang.”
“Saya belum selesai mengirim satu lamaran pun.”
“Kamu di rumah setiap hari.”
Kalimat itu menjadi alasan untuk mengambil setiap jamnya.
Nan Shin akhirnya berbelanja, memasak, mendampingi Yi Ming belajar, dan menyiapkan makan malam. Pukul delapan, Cheng An pulang dan melihat jadwal di kulkas.
“Bagus juga dibuat begini,” katanya.
“Bagus untuk siapa?”
Ia membaca sekilas. “Supaya jelas. Rumah akhir-akhir ini sering kacau.”
“Karena saya bekerja?”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Namamu tidak ada satu kali pun.”
Cheng An mengambil pulpen. Nan Shin mengira ia akan menambahkan tugasnya sendiri.
Ia justru menulis pada hari Minggu: siapkan pakaian kerja untuk satu minggu.
“Ini membantu supaya pagi nggak ribut,” katanya.
Nan Shin memandang tulisan itu. “Kamu baru menambah pekerjaan saya.”
“Aku pikir kita sedang membuat sistem.”
“Sistem yang hanya digerakkan satu orang.”
Cheng An meletakkan pulpen. “Kamu sedang sensitif. Kalau jadwalnya tidak cocok, ubah saja.”
“Setiap saya ubah, Mama mengembalikan.”
“Bicarakan baik-baik.”
“Saya sudah bicara. Sekarang saya bicara denganmu.”
Cheng An menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu maunya aku melakukan apa?”
“Pilih tugas yang memang bisa kamu pegang setiap hari.”
“Jadwalku berubah-ubah.”
“Mencuci piring setelah makan tidak perlu jadwal operasi.”
“Kalau aku pulang tengah malam?”
“Kalau pulang tengah malam, setidaknya masukkan pakaianmu sendiri ke keranjang dan siapkan kebutuhan besok.”
“Hal kecil begini harus ditulis juga?”
“Kalau tidak ditulis, semua orang menganggap saya akan melihat dan mengerjakannya.”
Cheng An mengambil pulpen lagi. “Baik. Piring makan malam dan pakaian kerja.”
Nan Shin menunjuk kotak Sabtu. “Jemput Yi Ming dua kali sebulan.”
“Kalau tidak ada operasi.”
“Kalau ada operasi, beri tahu sehari sebelumnya dan cari pengganti bersama. Jangan otomatis kembali kepada saya.”
Ia masuk ke ruang kerja.
Nan Shin mengambil foto jadwal sebelum satu catatan lagi ditambahkan. Di kamar, ia membuka buku biru dan menulis penggunaan waktunya hari itu.
Pekerjaan rumah dan anak: lebih dari empat belas jam sejak bangun.
Waktu untuk CV: dua puluh tujuh menit, terputus empat kali.
Waktu istirahat tanpa melakukan tugas lain: nol.
Ia menulis bahwa jadwal dibuat Ibu Kho, disetujui Cheng An, dan setiap usaha menambahkan waktu mencari kerja dianggap mengganggu kebutuhan rumah. Catatan tersebut bukan hanya bukti bagi orang lain. Nan Shin membutuhkannya agar dirinya sendiri tidak mulai percaya bahwa ia malas.
Pintu kamar terbuka. Yi Ming berdiri sambil membawa seragam yang baru diambil dari jemuran.
“Mama, aku bisa setrika sendiri.”
Nan Shin segera menutup buku. “Jangan. Setrika panas.”
“Biar Mama nggak banyak kerja.”
“Kamu bisa bantu dengan menaruh baju kotor di keranjang dan menyiapkan tas sekolah. Setrika tetap orang dewasa.”
Yi Ming mengangguk, lalu melihat laptop.
“Itu pekerjaan baru?”
“Mama sedang membuat riwayat kerja supaya bisa melamar.”
“Kalau Mama kerja lagi, Popo marah?”
Nan Shin menahan napas. “Itu urusan Mama dan Popo. Kamu tidak perlu memilih siapa yang benar.”
“Papa marah juga?”
“Papa dan Mama sedang belajar membagi waktu.”
“Kenapa harus belajar? Di sekolah, tugas piket dibagi sama Bu Guru.”
Nan Shin hampir tersenyum. “Di rumah juga seharusnya begitu. Bedanya, orang dewasa kadang lupa menulis nama sendiri.”
Yi Ming menatap jadwal di kulkas. “Namaku boleh ditulis untuk siapkan tas.”
“Boleh, karena itu barangmu dan sesuai umurmu.”
“Yi Chen apa?”
“Menyimpan mainan. Bukan memasak atau menjaga rumah.”
“Papa piring, aku tas, Yi Chen mainan.”
“Dan Mama bukan orang yang mengerjakan semua kotak sisanya.”
“Aku cuma mau Mama nggak nangis.”
Anak itu pergi sebelum Nan Shin sempat bertanya kapan ia mendengar tangis tersebut. Pintu kamar tertutup pelan.
Ia menyimpan foto jadwal dan catatan waktu dalam folder pribadi bertanggal, lalu menutup laptop dengan CV yang belum selesai.
Malam itu, Nan Shin berdiri di depan cermin kamar mandi. Rambutnya berantakan. Kaosnya terkena minyak, lengan kirinya masih lembap oleh air cucian, dan laptop tertutup di kamar masih menyimpan CV yang belum selesai.
Kemarin ia masih seorang perawat yang kehilangan pekerjaan.
Hari itu semua orang memperlakukannya seolah satu-satunya identitas yang tersisa adalah orang yang tersedia.
Pintu terkunci.
Nan Shin menatap bayangannya sendiri.
“Aku ini siapa?”