Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Pertama (4)
Malam itu, langit dihiasi gerimis tipis yang sesekali terdengar memukul kaca jendela kamar Naya.
Jam digital di atas meja belajar menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Di hadapannya, laptop masih menyala dengan dokumen berjudul Notulensi Rapat Festival Seni yang hampir selesai.
Naya mengembuskan napas pelan.
Untuk ketiga kalinya, ia membaca ulang setiap kalimat yang sudah ditulisnya. Tidak boleh ada kesalahan. Setidaknya, itulah yang terus ia tanamkan sejak menerima tanggung jawab sebagai sekretaris.
Ia menambahkan tanggal rapat berikutnya, memperbaiki beberapa ejaan, lalu menekan tombol save.
"Harusnya udah cukup..." gumamnya pelan. Namun jemarinya tidak juga menutup laptop. Matanya justru beralih ke ponsel yang tergeletak di samping buku catatan.
Di sana, nama Arga tersimpan setelah rapat kemarin. Nomor itu diberikan karena seluruh panitia memang diminta saling bertukar kontak agar koordinasi lebih mudah.
Tidak ada yang istimewa Setidaknya begitu kata Naya berulang kali kepada dirinya sendiri. Ia membuka ruang obrolan dengan Arga. Masih kosong. Belum pernah ada satu pun pesan yang mereka kirimkan.
Naya mulai mengetik.
> Kak, notulensinya udah selesai.
Ia berhenti.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
> Kak Arga, ini notulensinya.
Dihapus lagi.
"Kenapa jadi gugup begini..." Naya menjatuhkan kepalanya pelan ke atas meja. Padahal ia hanya ingin mengirim hasil rapat. Tidak lebih.
Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia memberanikan diri.
> Naya
> Kak, ini notulen rapatnya ya. Kalau ada yang kurang atau salah, tolong dikoreksi.
Ia melampirkan dokumen itu. Lalu menekan tombol kirim. Pesan terkirim. Naya langsung mengunci layar ponselnya.
Dua detik kemudian...
Ia membukanya lagi. Belum ada balasan.
"Tentu aja belum..." ucapnya sambil terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Mana mungkin seseorang langsung membalas dalam hitungan detik.
---
Sepuluh menit berlalu. Ponselnya masih diam. Naya mulai membantu ibunya merapikan meja makan. Saat sedang mencuci gelas, terdengar suara notifikasi. Ia buru-buru mengeringkan tangan sebelum mengambil ponselnya.
Satu pesan masuk.
Dari Arga.
> Arga
> Oke. Aku cek dulu ya.
Hanya itu. Sangat singkat.
Namun entah mengapa, sudut bibir Naya terangkat begitu saja.
"Ada apa sih senyum-senyum?" Suara ibunya membuat Naya buru-buru mematikan layar.
"Nggak ada, Bu." Ibunya hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
---
Lima belas menit kemudian.
Ponsel Naya kembali bergetar.
> Arga
> Udah aku baca.
Jantung Naya kembali berdebar. Ia membuka pesan itu dengan cepat.
> Arga
> Bagus kok.
> Tinggal tambahin jadwal rapat minggu depan.
> Selebihnya udah lengkap.
Naya membaca pesan itu berkali-kali. Bukan karena sulit dipahami. Melainkan karena itu adalah pertama kalinya Arga memuji hasil pekerjaannya. Ia segera membuka kembali laptop.
Kurang dari dua menit, revisi selesai.
> Naya
> Udah aku tambahin, Kak.
Tak lama kemudian balasan kembali masuk.
> Arga
> Sip.
> Makasih ya.
> Kamu cepat belajarnya.
Naya terdiam. Empat kata terakhir membuatnya menatap layar lebih lama.
"Kamu cepat belajarnya."
Kalimat sederhana. Mungkin hanya bentuk apresiasi. Namun malam itu, kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya.
---
Keesokan paginya, sekolah kembali dipenuhi aktivitas seperti biasa.
Naya datang lebih awal. Ia sengaja mampir ke perpustakaan sebelum bel masuk dibunyikan. Saat keluar dari perpustakaan, langkahnya terhenti. Di ujung koridor, Arga sedang berbicara dengan salah seorang guru.
Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Arga mengangkat tangan kecil.
"Nay." Naya membalas dengan senyum canggung.
"Pagi, Kak." sapa Naya dengan senyuman canggung nya itu
"Pagi." balas Arga dengan senyuman khas nya
Guru yang bersama Arga pamit lebih dulu. Menyisakan mereka berdua di koridor yang mulai ramai.
"Notulennya udah aku kirim ke semua panitia." ucap Arga memberi tahu naya
"Oh..." ucap Naya sedikit gugup karena pertama kalinya berjalan dengan Arga
"Mereka bilang jelas." Naya tersenyum kecil mendengar nya.
"Syukurlah." Arga mengangguk tersenyum.
"Kamu teliti." Ucapan itu begitu singkat. Lalu Arga melirik jam tangannya.
"Aku ke ruang guru dulu ya."
"Iya, Kak."
"Sampai nanti sore."
Sampai nanti sore.
Kalimat itu terdengar biasa. Karena memang nanti sore mereka akan kembali rapat.
Namun bagi Naya...
Entah kenapa, ia merasa hari itu akan berjalan lebih cepat.
---
Bel pulang berbunyi tepat pukul tiga sore. Seperti biasa, seluruh panitia mulai berkumpul di ruang OSIS. Arga berdiri di depan pintu sambil mengecek daftar hadir.
"Steven?"
"Hadir."
"Tasya?"
"Hadir."
"Naya?"
"Masih di kelas, Kak," jawab salah satu anggota panitia. Arga melihat jam tangannya.
"Oke."
"Kita tunggu lima menit."
"Baru mulai." Tidak ada yang merasa aneh. Semua menganggap itu wajar.
Sekretaris memang harus hadir sebelum rapat dimulai. Beberapa menit kemudian, Naya datang sambil sedikit terengah.
"Maaf, Kak. Tadi Bu Dina nahan sebentar."
"Nggak apa-apa." Arga menutup buku absennya.
"Kalau semuanya udah lengkap..." Ia tersenyum kepada seluruh panitia.
"...rapat kita mulai." Naya mengambil tempat duduknya.
Tanpa ia sadari, kursi di samping Arga memang sengaja dibiarkan kosong sejak tadi. Bukan karena Arga memiliki maksud tertentu.
Melainkan karena dalam pikirannya, sekretaris memang seharusnya duduk di dekat ketua panitia agar koordinasi lebih mudah.
Hal yang terdengar masuk akal.
Hal yang sama sekali tidak istimewa.
Namun justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itulah, perlahan hati Naya mulai menemukan alasan untuk berharap.
......................
soon to bee