NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Arif mengirim foto pertama dari Bandung pukul dua dini hari.

Tiga gulung kain berdiri di lantai pabrik kecil, diterangi lampu kuning. Dari layar ponsel, semuanya terlihat cukup baik. Hendra tidak percaya layar ponsel.

"Bawa sampel potongan. Jangan beli gulungan penuh sebelum diuji."

"Kalau menunggu, orang lain ambil," kata Arif.

"Kalau salah beli, kita yang tenggelam."

Raka menyetujui Hendra. Arif menghela napas, tetapi ia memotong sampel, memotret label, meminta faktur proforma, lalu mengirim kurir motor menuju Cikarang sebelum matahari naik.

Sampel tiba pukul delapan. Hendra langsung membuat tiga tes cepat: gesek kering, gesek lembap, dan jahit tarik. Bima berdiri di samping dengan jam tangan terbuka. Maya mengirim pihak ketiga, seorang inspektur bernama Pak Leman, yang tidak tersenyum sejak masuk.

Gulung pertama lolos warna tetapi jahitannya mudah bergeser.

Gulung kedua kuat, tetapi warnanya sedikit berbeda.

Gulung ketiga gagal gesek lembap.

"Yang ketiga keluar," kata Hendra.

"Kita butuh volume," jawab Raka.

"Kita butuh barang yang tidak mempermalukan kita di Port Klang."

Pak Leman memberi tanda silang di lembar inspeksi tanpa ekspresi. "Kalau gulung gagal tetap dipakai, saya tulis gagal muat."

Keputusan itu menutup jalan pintas. Tidak ada ruang untuk menyelipkan satu gulung buruk di tengah tumpukan baik. Semua orang melihat tanda silang itu, dan semua orang tahu tanda itu bisa membatalkan kontrak enam ratus unit.

Raka menelan bantahan. "Keluar."

Arif di Bandung mendapat keputusan itu dan langsung menawar ulang. Ia tidak menekan pemasok dengan janji masa depan kosong. Ia membayar harga wajar, biaya potong malam, dan truk kecil yang bisa berangkat sebelum sore. Yusuf mencatat semua biaya tambahan. Angka naik tujuh persen.

"Margin makin tipis," kata Yusuf lewat telepon.

"Tapi masih hidup?"

"Hidup. Tidak gemuk."

"Cukup."

Di pabrik, Bima mengatur ulang produksi. Dua sif berjalan, tetapi setiap lembur ditulis dan ditandatangani. Tidak ada perintah lisan untuk "sedikit lagi". Pekerja yang sudah melewati batas jam dipulangkan meski ia sendiri meminta tinggal.

"Kalau pingsan, kasur tidak selesai lebih cepat," kata Bima.

Naya menghentikan semua pengambilan gambar nonpenting. Dimas protes hanya sekali, lalu ikut memindahkan tripod keluar dari jalur kerja.

"Hari ini konten kita adalah barang sampai," kata Naya.

Pukul sembilan malam, kain pengganti tiba. Hendra memeriksa ulang setiap gulung sebelum masuk meja potong. Pihak ketiga Maya mengambil sampel acak dan menandai lembar pemeriksaan. Satu masalah baru muncul menjelang tengah malam: label kemasan tidak mencantumkan peringatan kelembapan untuk penyimpanan setelah bongkar.

Maya menelepon langsung. "Tidak bisa muat tanpa label itu."

"Barangnya sudah selesai," kata Raka.

"Bagus. Sekarang buat barang selesai itu bisa dibaca orang gudang."

Tidak ada ruang untuk debat. Naya menyusun label baru dalam dua bahasa sederhana. Yusuf memeriksa agar tidak ada klaim berlebihan. Dimas mencetak, pekerja menempel, Hendra memeriksa posisi, dan Bima mencoret ulang jadwal muat.

Pukul tiga pagi, semua orang tampak seperti berjalan di dalam air.

Raka ikut menempel label sampai Bima menariknya mundur.

"Kalau Bapak salah tempel karena mengantuk, kami harus membuang waktu membetulkan pekerjaan bos."

Raka ingin membantah, lalu melihat satu label yang barusan ia tempel miring.

"Baik. Saya jadi pembawa kopi."

"Kopi tercatat sebagai biaya konsumsi lembur," kata Yusuf dari meja.

Tidak ada yang tertawa keras. Mereka terlalu lelah. Tetapi beberapa senyum muncul.

Pukul enam pagi, truk berangkat ke Tanjung Priok. Enam ratus kasur tidak terlihat seperti angka di kontrak lagi. Mereka menjadi tumpukan barang berlabel, tersegel, dan tercatat. Setiap batch punya daftar. Setiap palet punya foto.

Di grup kerja, Naya mengirim satu foto tanpa filter: deretan palet dengan label kelembapan baru. Dimas menulis caption pendek yang akhirnya disetujui semua orang.

Trial shipment pertama. Belum pesta. Semua masih dihitung.

Komentar internal dari pekerja masuk satu per satu. Ada yang menulis nomor batch yang ia tangani, ada yang mengingatkan palet mana yang labelnya diganti dua kali. Untuk pertama kalinya, kebanggaan mereka adalah karena setiap kesalahan kecil punya catatan.

Di area stuffing, inspektur Maya memeriksa acak terakhir. Satu karton penyok diganti. Dua label diperbaiki. Bima menyerahkan daftar muat, Yusuf menyerahkan asuransi, dan Maya sendiri memeriksa nomor kontainer.

"Kalian hampir terlambat," katanya.

"Hampir bukan terlambat," jawab Arif, yang baru tiba dari Bandung dengan mata merah.

Maya menatapnya. "Jangan jadikan itu slogan."

Saat pintu kontainer ditutup, suara besinya terdengar berat dan final. Petugas memasang seal. Nomor segel dibacakan, difoto, lalu dicocokkan dengan dokumen.

Arif mengangkat ponsel untuk merekam, tetapi tangannya turun sendiri setelah beberapa detik. "Rasanya aneh."

"Kenapa?" tanya Raka.

"Biasanya saya cuma antar orang lewat jalan tol. Sekarang rasanya kita mengantar nama perusahaan keluar negeri."

Hendra yang berdiri tidak jauh menjawab, "Nama itu ikut keluar karena barangnya tidak kita bohongi."

Raka menatap angka itu seperti melihat koordinat pertama di peta yang lebih luas.

Bima membacakan nomor seal sekali lagi, lebih pelan. Yusuf mencocokkan dengan asuransi. Maya menunggu sampai dua dokumen itu sama sebelum akhirnya memasukkan pulpen ke tas.

"Sekarang baru boleh kirim kabar ke tim," katanya.

Dimas, yang mengikuti lewat panggilan video, langsung berteriak dari layar. Naya mematikan audionya selama tiga detik, lalu menyalakannya kembali ketika ia sudah bisa bicara normal.

Kontainer itu bukan akhir perjalanan. Pembayaran belum masuk. Pelanggan Port Klang belum mencoba. Biaya naik tujuh persen. Namun barang mereka sudah melewati pintu yang kemarin hanya ada di kartu nama Maya.

Sore hari, draft bill of lading dan bukti asuransi masuk. Maya mengirim pesan singkat.

Container accepted. Sample room Port Klang receives first unit after arrival. Jangan rayakan terlalu cepat.

Tiga hari kemudian, saat tim masih memeriksa cashflow, pesan kedua masuk dari Maya.

First sample installed. Five-star comment from property manager. They ask whether additional batch possible after trial.

Dimas berteriak sebelum membaca sampai selesai. Kali ini Naya tidak langsung memarahinya. Ia menutup mata sebentar, lalu berkata, "Tunggu. Kita minta izin kutip dulu."

Panel SAT menyala di sudut pandangan Raka.

[Reputasi lintas pasar terdeteksi.]

[Kandidat bintang lima telah membuat janji wawancara.]

[Waktu kedatangan: tiga hari.]

Raka menatap pesan itu. Di luar kantor, truk kosong baru kembali. Di dalam ponselnya, Malaysia meminta tambahan. Di sistem, seseorang dengan nilai tertinggi sedang menuju pintu.

Ia baru ingin menarik napas lega.

Bima masuk membawa daftar kas.

"Pembayaran ekspor belum cair. Bonus jangan dibicarakan dulu."

Raka tertawa pendek. "Selalu ada rem."

"Kalau tidak, kita sudah masuk laut bersama kontainer."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!