Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL25
MAKIN DEKAT 2
Sejak makan siang itu, Romi beberapa kali memergoki dirinya sendiri tersenyum saat mengingat percakapannya dengan Jelita. Ia bahkan tidak sadar kapan terakhir kali makan siang terasa seringan itu. Bukan karena makanannya, melainkan karena setelah sekian lama ia merasa tidak sedang menjadi siapa-siapa. Bukan atasan, bukan suami yang selalu berusaha terlihat sempurna, dan bukan laki-laki yang terus dituntut untuk selalu kuat.
Hanya Romi.
Dua hari kemudian. Rapat divisi akhirnya selesai lebih cepat dari perkiraan. Para peserta mulai meninggalkan ruang rapat satu per satu. Romi masih membereskan laptopnya ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
"Mas."
Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
"Kamu belum pulang?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Lapar."
Romi terkekeh pelan.
"Lalu?"
"Siapa tahu ada yang ngajak makan."
"Kamu sengaja nungguin aku buat itu?"
Jelita mengangkat kedua bahunya.
"Siapa tahu kan?"
Romi hanya menggeleng sambil memasukkan laptop ke dalam tas.
"Kamu ini memang..."
"Gila?"
"Iya."
"Tapi Mas tetap mau nemenin orang gila ini, kan?"
Romi tidak menjawab. Namun langkah kakinya justru bergerak menuju lift. Jelita mengikuti dari belakang dengan senyum yang semakin sulit disembunyikan. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Pintu perlahan menutup dan suasana langsung berubah hening. Baru beberapa detik lift bergerak, lampunya berkedip sesaat.
Brak!
Lift mendadak berhenti.
Jelita refleks memegang lengan Romi.
"Eh..."
"Nggak apa-apa."
"Kok berhenti?"
"Mungkin lagi reset."
Jelita masih menggenggam lengan pria itu. Romi tidak langsung melepaskannya. Beberapa detik… tidak ada yang berbicara sampai akhirnya lift kembali bergerak dan pintu terbuka.
Jelita buru-buru melepaskan tangannya.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
Namun sejak keluar dari lift, Romi justru beberapa kali melirik bekas genggaman di lengannya. Entah kenapa ia tidak merasa terganggu, dan justru itulah yang membuatnya terganggu.
Mereka akhirnya makan di sebuah warung sederhana dekat kantor. Di tengah makan, hujan turun begitu deras. Romi melihat ke luar jendela.
"Kayaknya bakalan lama."
"Kenapa?"
"Aku bawa motor hari ini."
Jelita tersenyum.
"Kalau hujannya belum reda..."
Wanita itu berhenti sejenak.
"...nggak apa-apa, kan kalau kita ngobrol lebih lama?"
Romi menghela napas pelan. Harusnya ia pulang. Harusnya ia menjaga jarak. Harusnya ia menolak ajakan itu. Namun yang keluar dari mulutnya justru...
"Iya."
Hanya satu kata. Satu kata yang perlahan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Hampir satu jam mereka mengobrol, mulai dari pekerjaan, masa kuliah, keluarga, hingga mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka kubur. Romi bahkan tidak sadar kalau ia sudah bercerita begitu banyak. Lebih banyak daripada yang pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
"Mas."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena hari ini..."
Jelita menatapnya dengan senyum yang begitu tipis.
"...akhirnya aku melihat Romi yang sebenarnya."
Kalimat itu membuat Romi membeku. Karena tanpa ia sadari… Jelita benar.
Hari ini… ia tidak sedang memakai topeng apa pun dan itu adalah hal yang paling berbahaya.
Malam harinya. Sesampainya di rumah, Romi melemparkan tubuhnya ke sofa. Rumah terasa begitu sunyi sejak Hannah berada di Singapura. Ia memijat pelipisnya pelan. Baru beberapa menit memejamkan mata… ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari Jelita.
Sampai rumah kabarin ya. Aku cuma mau memastikan kamu selamat.
Romi membaca pesan itu cukup lama. Lalu, tanpa berpikir terlalu lama, ia membalas.
Sudah sampai.
Tidak sampai lima detik. Balasan kembali masuk.
Syukurlah. Selamat istirahat, Mas.
Romi menatap layar ponselnya cukup lama. Entah sejak kapan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang bahkan tidak ia sadari.
Di seberang jalan, dari balik jendela rumahnya, Jelita ikut tersenyum kecil. Ia tidak sedang merayakan sebuah kemenangan. Namun malam itu ia tahu, jarak yang selama ini berusaha dipertahankan Romi mulai retak sedikit demi sedikit. Romi tidak lagi membalas pesannya sekadar karena merasa tidak enak mengabaikannya. Tanpa disadari, pria itu mulai membuka ruang yang selama ini berusaha ia tutup rapat.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐