NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Mereka menyembunyikan Sulastri di apartemen lama milik Raka.

Apartemen itu tidak tercatat atas nama Wiratama, melainkan perusahaan cangkang yang dulu dipakai Raka untuk investasi kecil. Hanya Raka dan sekretaris pribadinya yang tahu. Kini Rafi menambah dua orang penjaga di lantai bawah, mengganti akses lift, dan memeriksa seluruh ruangan.

Sulastri duduk di sofa dengan selimut di bahu. Tubuhnya masih gemetar setelah kejadian di panti jompo.

Alya menyeduh teh hangat. Ia bukan orang yang pandai menenangkan dengan kata-kata, jadi ia memberi sesuatu yang bisa dipegang.

"Ibu aman di sini untuk sementara."

Sulastri menerima cangkir. "Tidak ada tempat aman kalau mereka sudah mencari."

"Mereka siapa?"

Perempuan tua itu menatap teh. "Dulu kami menyebutnya kelompok riset. Setelah Melati Merah pecah, beberapa orang menghilang. Bertahun-tahun kemudian, aku dengar nama baru: Camellia Merah."

Rafi yang berdiri dekat jendela menoleh.

Alya duduk di depannya. "Camellia Merah organisasi?"

"Lebih dari yayasan. Lebih dari perusahaan. Mereka punya dokter, pengacara, orang keamanan, orang media. Mereka bisa membuat orang hilang tanpa terlihat seperti hilang."

"Apa Santoso bagian dari mereka?"

"Aku tidak tahu. Keluarga kaya sering hanya menjadi pintu. Mereka memberi uang, tempat, perlindungan, kadang tanpa tahu seluruh isi rumah yang mereka buka."

Alya mencatat dalam pikiran.

Santoso mungkin bukan puncak. Maya mungkin bukan puncak. Baskara mungkin bahkan hanya orang yang ketakutan dan memilih menutup mata.

Itu tidak membuat mereka tidak bersalah.

Hanya membuat daftar musuh lebih panjang.

Raka datang menjelang sore. Wajahnya kusut karena audit internal dan serangan Baskara di kantor. Namun begitu melihat Sulastri, ia menunduk sopan.

"Saya Raka. Anak Nadira juga."

Sulastri menatapnya. "Kamu punya mata ayahmu."

Raka tampak kaku.

"Tapi cara berdirimu seperti ibumu," lanjut Sulastri.

Raka tidak tahu harus menjawab. Alya melihat kakaknya menelan sesuatu yang berat.

Mereka membahas dokumen sampai malam. Raka membawa salinan arsip yang sudah dipindai. Rafi membawa hasil pemeriksaan ampul dari panti jompo: kombinasi obat bius dan penekan napas.

"Ini percobaan pembunuhan," kata Raka.

"Bukan percobaan," kata Alya. "Kalau kita terlambat, itu pembunuhan."

Sulastri memejamkan mata.

Raka menatap Alya. "Kita lapor polisi sekarang."

"Ke polisi yang mana?"

Raka terdiam.

Alya melanjutkan, "Kasus Livia saja bisa ditekan. Panti jompo bisa disusupi. Dokumen lama dibakar. Kalau kita lapor tanpa tahu siapa di belakangnya, Sulastri bisa mati di ruang perlindungan saksi."

"Lalu kita diam?"

"Tidak. Kita pilih polisi yang tepat."

Rafi berkata, "Aku punya satu nama. Komisaris Ardi. Pernah beberapa kali menerima data dari Bayang."

Raka menatap Rafi. "Bayang?"

Alya membalik halaman dokumen seolah tidak mendengar.

Rafi diam.

Raka menatap adiknya. "Alya?"

"Nama kontak," kata Alya.

"Kontak apa?"

"Kontak yang berguna."

Raka jelas tidak puas, tetapi memilih tidak memaksa. Itu kemajuan besar untuk seorang kakak baru.

Malam itu, Alya mengirim pesan terenkripsi kepada Komisaris Ardi melalui jalur Bayang. Ia tidak memakai nama asli. Ia hanya mengirim ringkasan: panti jompo, percobaan pembunuhan, arsip Melati Merah, kemungkinan jaringan lama.

Balasan datang setengah jam kemudian.

Kamu muncul lagi. Kirim lokasi aman. Aku datang sendiri.

Alya menatap pesan itu.

Rafi bertanya, "Percaya?"

"Cukup untuk bertemu. Tidak cukup untuk menyerahkan semua."

Komisaris Ardi datang pukul sepuluh malam tanpa seragam. Ia pria berusia empat puluhan dengan wajah lelah dan mata tajam. Begitu masuk apartemen, ia melihat Rafi, Raka, lalu Alya.

"Kamu yang mengirim pesan?"

Alya menjawab, "Ya."

Ardi menatapnya lama. "Bayang?"

Raka langsung menoleh.

Rafi memejamkan mata sebentar.

Alya tidak mengaku dan tidak menyangkal. "Fokus pada kasus."

Ardi tertawa kecil. "Baik. Aku sudah lama penasaran orang di balik nama itu. Ternyata..."

"Pak Ardi."

"Ya, ya. Fokus."

Raka masih menatap Alya seperti dunianya bertambah aneh satu lapis.

Sulastri memberi kesaksian awal. Rafi menyerahkan bukti ampul. Alya menyerahkan salinan dokumen, bukan asli. Ardi menerima semuanya dengan wajah semakin serius.

"Kalau ini benar, kalian menyentuh jaringan besar."

"Kami sudah disentuh lebih dulu," kata Alya.

Ardi mengangguk. "Aku bisa bantu perlindungan terbatas untuk Bu Sulastri, tapi tidak lewat jalur resmi dulu. Terlalu cepat."

"Itu yang kami butuhkan."

Sebelum pergi, Ardi menatap Alya lagi. "Bayang biasanya tidak muncul langsung."

"Situasinya berubah."

"Atau orang yang kamu lindungi lebih dekat?"

Alya tidak menjawab.

Ardi tidak memaksa. "Hati-hati. Orang seperti ini tidak hanya menyerang tubuh. Mereka menyerang reputasi, keluarga, dan ingatan."

Setelah Ardi pergi, Raka akhirnya bicara.

"Kamu Bayang?"

Ruangan sunyi.

Sulastri tidak mengerti nama itu. Rafi tampak ingin melempar dirinya sendiri keluar jendela. Alya menutup laptop.

"Mas ingin jawaban sekarang?"

"Aku ingin jawaban jujur."

"Kalau aku jawab iya, apa Mas akan melarang?"

Raka menarik napas, lalu duduk. "Aku mungkin ingin. Tapi setelah melihat semua ini, aku tidak punya hak."

Alya menatapnya.

Raka melanjutkan, "Aku hanya ingin tahu seberapa banyak bahaya yang sudah kamu hadapi sendirian."

Pertanyaan itu lebih sulit daripada tuduhan.

Alya berkata pelan, "Cukup banyak."

Raka menunduk. "Aku benci jawaban itu."

"Aku juga."

Ponsel Alya bergetar.

Pesan dari nomor misterius lagi.

Kamu menyelamatkan Sulastri. Bagus. Tapi kamu membuat mereka sadar kamu sudah terlalu dekat.

Pesan kedua muncul.

Besok, seseorang di rumahmu akan mengkhianatimu.

Alya menatap layar, lalu perlahan mengangkat wajah.

Rumah Wiratama punya terlalu banyak orang yang bisa cocok dengan kalimat itu.

Alya tidak tidur malam itu. Ia duduk di kursi dekat jendela kamar, mendengar rumah yang besar itu bernapas dengan suara asing. Langkah asisten rumah tangga di lantai bawah. Mesin pendingin. Pintu ruang kerja Baskara yang terbuka sebentar lalu tertutup lagi.

Setiap suara bisa berarti apa saja.

Rafi mengirim pesan singkat.

Jangan keluar kamar tanpa memberi tahu.

Alya membalas:

Kamu memberi perintah?

Balasan Rafi datang cepat.

Aku memohon dengan format buruk.

Alya menatap layar beberapa detik. Di tengah semua darah dan dokumen, kalimat itu hampir membuatnya tersenyum. Hampir.

Lalu dari koridor terdengar suara Dinda menangis pelan.

Alya membuka pintu sedikit. Dinda berdiri di depan kamar Maya, memegang gagang pintu tetapi tidak masuk. Wajahnya pucat, seperti anak kecil yang akhirnya sadar ibunya bisa menjadi monster dan tetap ia cintai.

Alya tidak memanggil.

Dinda juga tidak melihatnya.

Di rumah itu, pengkhianatan tidak datang dari satu orang saja.

Ia tumbuh dari semua hal yang dulu dibiarkan.

Dan besok, Alya tahu, seseorang akan mencoba memetik buah busuk itu sebelum ia sempat menebang pohonnya.

Ia hanya perlu memastikan tangan orang itu tertangkap bersama akarnya.

Tanpa ampun lagi.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!