Novel ini aku tulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang, tapi disini aku menambahkan sedikit ceritanya..
Namaku Melati, aku memiliki seorang sahabat , Lani namanya, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Tapi Lani dengan teganya mengkhianati aku. Ia menikah dengan suamiku secara diam diam.
Marah... benci dan kecewa... itu yang aku rasakan ketika aku mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatku.
Aku mencoba bertahan dengan menerima Lani sebagai maduku karena ia lagi mengandung anak dari suamiku.
Akankah aku sanggup bertahan selamanya atau aku pergi meninggalkan suami dan sahabatku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua puluh Lima
Sudah hampir lima bulan pernikahan Willy dan Lani. Sekarang kandungan Lani sudah menginjak tujuh bulan.
Sejak Melati mengetahui pernikahan mereka baru dua kali Willy minta izin ke luar kota.
Aku tahu Willy pasti mengunjungi Lani. Tapi aku tak terlalu memikirkan itu semua. Karena aku tak mau lagi bersedih. Karena tangisan ku tak akan membuat semua kembali.
Walau di saat saat tertentu jika ingat pengkhianatan mereka hatiku tetap sedih. Aku tak membenci Lani atau pun Willy tapi lebih ke rasa kecewa.
Karena orang yang aku harapkan tempat bersandar dan mengadu, tapi malah mengecewakan aku.
Siang hari sehabis makan, aku dan mas Willy sedang asyik menonton ketika ku dengar suara mesin mobil mama.
"Selamat siang ma.. "ucap aku ketika aku mempersilakan mama masuk ke rumah . Tapi mama tak menjawab salam ku.
"Mana Willy.. "
"Ada di dalam lagi main sama Nabila... "
Mama langsung masuk menemui mas Willy.
"Kamu enak enakan disini.. lupa sama istri kamu... "
"Ma.. apa sih maksud mama. Melati kan istri aku ada dekat aku.. "
"Bukan ia.. tapi Lani maksud mama. Kamu dilarang sama dia pergi ke rumah Lani"
"Ma.. Melati tak pernah melarang apapun yang aku lakukan.. ia tak pernah mengatur atau mengekang aku ma"
"Jangan kamu bela terus anak itu.. ngelunjak ia. Seharusnya ia sadar, jika ia siap dimadu harus siap berbagi dengan adil"
"Ma... sudah cukup. Aku tak mau mama selalu mencampuri urusan aku.. "
Aku yang mendengar pertengkaran mama dan mas Willy segera membawa Nabila. Karena aku tak mau mendengar omongan mama yang selalu menyalahkan aku.
"Maaf ma.. aku mau tidurkan Nabila.. aku tinggal dulu"
"Hei.. kamu tuh jadi wanita harus punya perasaan.. Lani lagi hamil.. ia memerlukan perhatian suami nya.. kamu tak boleh melarang Willy berkunjung ke rumah Melati, jadi wanita jangan egois"
"Cukup ma... aku atau Lani yang tak memiliki perasaan. Sahabat yang mana... yang tega merampas suami sahabatnya sendiri. Siapa yang mama bilang egois... aku.. apa aku egois jika aku sudah rela berbagi suami. Dan juga perlu mama ketahui... aku tak pernah melarang Willy ke tempat Lani. Mama jangan nampak salah aku saja. Apakah mama pikir Lani wanita sempurna tanpa cela... sehingga hanya ia yang mama anggap menantu. Apa karena aku orang yang tak punya sehingga mama selalu menindas aku. Coba mama berada dalam posisi aku.. atau kak Shinta yang di madu. Apa mama juga masih mau berbagi suami dan apa mama rela kak Shinta di madu dan berbagi suami... Tuhan itu tak tidur.. suatu saat mama pasti merasakan kesedihan dan sakit hati yang aku rasakan saat ini... "
Plak.. Mama menampar pipi Melati. Membuat Nabila kaget dan menangis.
"Mama.. apa yang mama lakukan"teriak mas Willy.
Aku berlari masuk ke kamar. Aku juga manusia biasa... yang punya batas kesabaran. Aku menutup pintu kamar dengan kerasnya .
"Kamu lihat.. sudah berani kurang ajar. Sampai ia mendoakan mama atau Kak Shinta kamu merasakan di madu"
"Mama yang sudah keterlaluan. Melati memang tak pernah melarang aku. Jika aku lebih lama disini.. itu atas kemauan aku, karena aku lebih nyaman berada dekat Melati dan anakku"
"Mama tak akan pernah memaafkan Melati. Kamu ingat.. jika sampai lusa kamu belum juga ke tempat Lani... mama yang akan bawa Lani ke sini. Mama tak mau malu dengan mertuamu. Karena kamu jarang pulang ke sana"ucap mama dan pergi meninggalkan Willy.
Setelah mama pergi Willy mengetuk pintu kamar. Tapi tak ada sahutan. Yang terdengar hanya isak tangis Melati.
Willy akhirnya kembali ke sofa dan duduk di sana.
"Apa yang harus aku lakukan.. aku tahu mama sudah keterlaluan dengan Melati.. tapi bagaimana pun ia orang tuaku yang telah melahirkan aku. ..."
Willy meremas rambutnya dengan frustrasi. Dulu Ia tak pernah membantah perkataan mamanya. Pertama ia membantah, ketika ia minta izin menikahi Melati. Sampai ia harus mengancam akan pergi dari rumah jika mama tak mengizinkan ia menikah. Karena itulah mamanya tak pernah menyukai Melati.
Sampai sore Melati tak juga keluar dari kamar. Ketika malam barulah ia keluar, menyiapkan makan malam.
"Sayang... maaf kan mama... "ucap Willy
"Sudahlah mas.. aku sudah terbiasa mendapatkan perlakukan tak enak dari mama"
"Melati.. kamu jangan pernah marah dan dendam dengan mama ya. .. "
"Mas.. makanlah.. "ucapku mengalihkan pembicaraan
"Mela ....aku besok mau ke tempat Lani.. bolehkan"
"Mass... apa selama ini aku pernah melarangmu. Apa selama ini aku pernah tak mengizinkan kamu... siap tak siap aku sudah harus siap berbagi.. rela tak rela aku harus rela membiarkan kepergianmu.. Jadi jangan pernah bertanya lagi jika kamu akan pergi. Biar aku bisa pura pura nggak tahu kemana kamu pergi.. biar aku pura pura tak pernah berbagi suami... "ucap Melati dan menangis terisak.
"Melati maafkan aku... "
"Jangan minta maaf lagi mas.. sudah banyak maaf yang kamu ucapkan.. Makanlah..setelah itu kamu dan aku bisa istirahat. Bukankah kamu besok mau pergi"
Setelah makan Melati langsung masuk ke kamar. Willy menyusulnya masuk ke kamar.
"Bunda... uang nya masih ada atau sudah habis... "ucap Willy sambil memeluk bahuku
"Masih ada... "
"Mau ayah tambah nggak saldo tabungannya..."rayu Willy.
"Nggak perlu mas.. sudah cukup banyak "ucap ku berpura pura. Aku memang tak pernah lagi menolak pemberian uang dari Willy. Jika dulu aku selalu menolak jika saldo tabunganku masih banyak. Aku dulu tak akan menerima uangnya jika masih ada uang direkeningku. Tapi tidak untuk saat ini. Kapanpun mas Willy transfer aku akan menerimanya.
"Tapi kata pak Ustad rezeki tak boleh di tolak loh. Ayah kan yang ingin menambah bukan bunda yang meminta "
"Terserah mas saja.. tapi aku tak pernah meminta. Jangan nanti aku dibilang istri yang porotin suami "
"Kan ayah cari uang buat bunda dan Nabila.. ayah tak pernah merasa bunda porotin."
Willy mengambil ponselnya dan mentranfer sejumlah uang yang cukup banyak kerekening ku.
"Maaf mas aku tak akan pernah menolak lagi pemberian uang darimu.. dan maafkan jika aku sekarang tak jujur padamu sudah berapa saldo rekening aku. Karena semua itu aku lakukan untuk berjaga jaga jika suatu saat kamu mencampakkan aku.. Aku tak peduli dibilang istri matre"
Semenjak aku tahu Willy menikah lagi, ia memang selalu memberi uang buatku jauh dari jumlah sebelumnya. Mungkin maksudnya agar aku tak marah lagi. Dan ia akan menambah jumlahnya jika akan keluar kota..atau ketempat Lani.
Aku menyimpannya di rekening lain yang tak diketahui Willy dan menyisakan sedikit di rekening yang biasa aku pakai dan Willy ketahui. Aku tahu ini dosa.. karena telah membohongi suami.Tapi ini kulakukan untuk anakku kelak jika kami berpisah.
Aku membuka rekening baru lagi di bank lain ketika Willy keluar kota. Aku melakukan karena aku ingin membuka satu usaha jika uang telah cukup. Itu bisa buat aku berjaga jaga jika suatu saat aku harus pergi dan pisah dari mas Willy. Aku tak tahu apa perbuatan aku ini salah.
************************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.
ternyata ada ya, kisah nyata yg mirip kisah halu di dunia pernovelan..
ternyata main ku kurang jauh, hehehe..
semua memang telah ditakdirkan dan kita hanya tinggal menjalankan..
tetapi dalam menjalani kehidupan, kita jg diberi kesempatan untuk memilih mana jalan yg akan kita tempuh..
jadi walau semua telah ditakdirkan, tetapi kita jg tetap punya andil dalam memilih jalan yg akan dilalui..
rasanya bener2 gak habis pikir, sekeluarga dipenuhi dg laki2 yg suka mendua bahkan lebih..
semua perbuatan pasti ada balasannya..
dan semua tokoh telah mendapatkan balasannya sesuai dg perbuatan masing2..
semoga kita bisa menjadi pribadi yg selalu bersyukur dg apa yg kita punya dan terhindar dari penyakit hati, salah satunya iri dengki..
manusia memang tempatnya salah dan lupa..
tapi dengan belajar ilmu agama, kita bisa memilih jalan benar untuk ditempuh..
keren banget ceritanya mam..
kadang ikut kesel jg sama mama Elly terutama..
kok ada orang sesombong dan se-egois itu..
maunya menang sendiri dan gak mau disalahkan..
selalu berprasangka buruk dan keinginannya harus selalu dituruti..
oke deh mama, semoga sehat terus yaa..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
cuss lanjut novel berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️