Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARA PEMBURU BERDARAH DINGIN
Suara langkah kaki yang ringan namun teratur berderap di atas hamparan daun kering, mengunci setiap sudut pelarian dari perkemahan darurat. Dari balik kabut malam yang tebal, belasan sosok manusia perlahan muncul bagaikan hantu. Mereka tidak mengenakan jubah sutra sekte seperti orang-orang di kota, melainkan pakaian ketat dari kulit binatang buas yang dihiasi zirah ringan terbuat dari potongan tulang-tulang tajam.
Mereka adalah Faksi Pemburu Tulang, kelompok bandit kultivator yang terkenal kejam dan menguasai jalur tengah Hutan Kematian.
Di barisan paling depan, seorang pria berbadan tegap dengan satu mata yang tertutup kain hitam melangkah maju. Tangannya mencengkeram sebuah tombak panjang berujung tulang raksasa yang masih menyisakan aura merah tipis. Pria itu, Guo Feng, menatap bangkai Ular Sanca Sisik Beludru yang kepalanya hancur di dalam cekungan tanah. Otot di rahangnya mengeras, memancarkan kemurkaan yang tertahan.
"Kalian tikus-tikus dari luar hutan... berani sekali membunuh hewan pemburu kesayanganku," suara Guo Feng berat, bergetar oleh amarah seiring dengan bangkitnya Qi elemen angin yang tajam di sekeliling tombaknya.
Guo Feng menyapu pandangannya, menilai penampilan Zei dan Tetua Gu. Pakaian rami cokelat mereka yang compang-camping dan penuh noda darah kering menandakan bahwa mereka adalah pelarian yang sedang terdesak.
"Aku tahu kalian adalah buronan dari kota," seringai Guo Feng, memamerkan deretan giginya yang kuning. "Hutan Kematian memiliki hukumnya sendiri. Jika ingin melewati wilayah kami hidup-hidup, serahkan Nei Dan ular itu, berikan semua barang bawaan kalian, termasuk selendang putih yang kau pegang itu, Bocah! Jika tidak, tulang-tulang kalian akan menjadi hiasan zirahku besok pagi."
Zei secara refleks menyembunyikan selendang putih Qian Yue'er ke balik jubahnya, sementara tangan kirinya meraba tekstur hangat dari inti monster hijau di dalam kantongnya. Inti monster itu adalah satu-satunya harapan untuk memulihkan meridiannya secara total dan menyelamatkan nyawa A-Lang. Mengembalikannya sama saja dengan memilih mati perlahan.
"Jangan harap, Bajingan," desis Zei, matanya menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun, meski tubuh fisiknya kembali merasakan linu yang luar biasa.
Tetua Gu melangkah perlahan ke samping Zei, botol araknya sudah terselip di pinggang. "Bocah, pria bermata satu itu memiliki kultivasi tingkat menengah yang stabil. Aku akan menahannya di sini. Kau urus tikus-tikus kecilnya di sekelilingmu. Ingat, hemat energimu!"
"Serang!" raung Guo Feng memberi perintah.
Tiga anak buah Guo Feng melompat dari semak-semak secara bersamaan. Di tangan mereka terdapat tali jerat berkait besi yang berputar-putar di udara, siap mengunci gerakan tangan dan leher Zei.
Zei menarik napas dalam-dalam, mengunci sisa Qi bumi di dalam dantiannya agar tidak meledak secara liar. Mengingat bimbingan Tetua Gu di pertarungan sebelumnya, ia tidak berniat menggunakan serangan frontal yang membuang energi. Tepat saat ketiga pemburu itu berlari mendekat dengan kecepatan tinggi, Zei menghantamkan telapak kakinya ke lantai hutan yang gembur.
KOMPRESI BUMI!
DUMMM!
Tanah di bawah pijakan ketiga pemburu itu mendadak memadat secara instan, berubah menjadi sekeras dinding besi kuarsa dalam sekejap mata. Momentum lari mereka yang sangat cepat mendadak terhenti secara paksa karena permukaan tanah yang tiba-tiba kehilangan fleksibilitasnya. Langkah mereka tersandung, membuat tubuh mereka terhuyung kehilangan keseimbangan di udara.
Memanfaatkan momentum emas tersebut, Zei melesat maju dengan memanfaatkan batang pohon raksasa di sampingnya sebagai tumpuan pantulan. Gerakannya sangat efisien. Tanpa membuang waktu, ia melepaskan pukulan Membajak Bumi jarak dekat yang pendek namun sarat akan tekanan berat bumi murni.
PRAKK! PRAKK!
Dua pukulan Zei bersarang telat di rahang dan rusuk dua pembunuh terdepan, mengirim mereka terkapar pingsan dengan tulang yang retak. Pemburu ketiga mencoba mengayunkan belatinya, namun Zei dengan cerdik memutar tubuhnya berlindung di balik bayangan pohon, lalu melepaskan tendangan sapuan bawah yang menghantam kaki lawan hingga terjungkal keras di atas tanah yang keras.
Melihat ketiga anak buahnya tumbang dalam hitungan detik oleh seorang pemuda yang tampak lelah, Guo Feng kehilangan seluruh kesabarannya. "Tikus tidak berguna!" Raungnya murka.
Guo Feng mengabaikan Tetua Gu yang sedang bersiap menerkamnya. Dengan satu hentakan kaki yang masif, ia melompat tinggi ke udara. Tombak tulang raksasanya berputar pesat, menghimpun Qi elemen angin yang membentuk pusaran bilah-bilah tajam yang kasat mata. Namun, arah serangannya bukan tertuju pada Zei, melainkan meluncur lurus ke arah ceruk batu tempat A-Lang yang masih lemah terbaring.
"Licik!" Jerit Zei dalam hati.
Guo Feng sengaja mengincar A-Lang untuk memaksa Zei menjadi tameng hidup. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Zei memicu teknik Bumi Bergeser dengan sisa tenaga terakhirnya, melompat secepat kilat untuk memblokir jalur tombak tersebut tepat di depan ceruk batu. Ia menyilangkan kedua lengannya, memaksa teknik Sisik Naga emas redupnya bekerja melampaui batas maksimal.
BOOMMMMMM!
Benturan antara ujung tombak tulang Guo Feng dan lengan zirah bumi Zei memicu ledakan gelombang kejut yang luar biasa keras. Bilah angin tajam mengoyak jubah rami Zei hingga robek di berbagai tempat, meninggalkan luka sayatan berdarah di dadanya. Kekuatan dorongan dari kultivator tingkat menengah itu terlalu masif untuk ditahan oleh Zei yang kondisinya sedang melemah.
Tubuh Zei terlempar ke belakang dengan sangat keras, menabrak ceruk batu sebelum akhirnya berguling jatuh ke arah lereng bukit yang sangat curam di tepi perkemahan mereka. Sialnya, dampak ledakan energi tadi membuat tanah di tepi lereng yang gembur runtuh total secara instan.
"Zei!" Teriak A-Lang yang mendadak terbangun karena guncangan raksasa tersebut. Namun, terlambat. Tanah di bawah tubuh A-Lang ikut amblas ke bawah.
Zei yang sedang meluncur jatuh dengan sisa kesadarannya yang menipis, memaksakan tangan kanannya menjangkau ke atas, menyambar kerah jubah A-Lang yang ikut terjatuh bersamanya. Kedua tubuh mereka seketika lenyap, tenggelam ke dalam jurang kegelapan yang pekat di bawah lereng hutan yang curam.
Di atas lereng, Tetua Gu menatap hilangnya dua muridnya dengan sepasang mata yang mendadak menyala dengan amarah yang luar biasa mengerikan. Aura bumi berwarna cokelat tua yang sangat pekat meledak dari tubuh pria tua itu, mengguncang seluruh area Hutan Kematian seolah-olah terjadi gempa bumi dahsyat.
"Kau... telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu, Mata Satu," suara Tetua Gu bergema seperti gemuruh petir yang membelah malam, sesaat sebelum ia menerjang maju untuk meratakan Faksi Pemburu Tulang dari muka bumi.
Sementara itu, di dasar jurang kegelapan yang asing dan jauh dari pertempuran di atas, tubuh Zei menghantam tumpukan semak belukar yang lebat sebelum akhirnya terkapar tak bergerak di atas tanah gua bawah tanah yang lembap. Pandangan matanya perlahan mengabur, menggelap sepenuhnya dalam kepingsanan, dengan tangan kiri yang masih menggenggam erat selendang putih Qian Yue'er dan tubuh A-Lang di sampingnya. Mereka kini terpisah sepenuhnya dari perlindungan Tetua Gu, terdampar di bagian terdalam hutan yang tak terjamah oleh siapa pun.