Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Desa Tersembunyi
Malam menjelma dengan cepat di kaki lereng Gunung Lawu, membawa dengan diri sejuknya udara pegunungan yang bercampur aroma tanah lembap dan bunga kamboja yang mekar di sudut-sudut desa. Cahaya bulan purnama yang terpancar dari balik tirai awan tipis menyinari setiap sudut pemukiman tradisional ini, membuat genteng jerami pada atap rumah-rumah terpancar kilauan putih keemasan, sementara dedaunan pepohonan jati dan waru berkilau seperti ditaburi permata kecil. Di dalam rumah Ki Ageng – yang merupakan bangunan terbesar di desa dengan ukiran kayu khas Jawa yang rumit di tiang dan pintunya – suasana terasa hangat dan penuh kedamaian, jauh berbeda dari ketegangan yang mereka rasakan selama perjalanan dari Gunung Merapi.
Dinda dan Bara duduk di ruang makan yang terletak di bagian belakang rumah, di mana lantai terbuat dari tanah liat yang diolesi minyak kelapa hingga mengkilap. Meja kayu besar yang sudah dipoles halus menjadi tempat untuk hidangan sederhana namun penuh rasa – gado-gado dengan sayuran segar dari kebun desa yang ditambah dengan tempe bacem yang lembek di dalam dan renyah di luar, ikan mas bakar yang dibumbui dengan cabai rawit, kemangi, dan jeruk limau yang memberikan aroma khas yang menggugah selera, serta bubur ketan hitam yang diberi santan hangat dan gula merah cair. Di sudut ruangan, sebuah kompor tanah dengan bara api yang kecil namun stabil memberikan pemanasan ekstra, membuat ruangan terasa nyaman meskipun udara luar sudah mulai dingin.
"Wanita yang membukakan pintu tadi adalah Mira," ucap seorang wanita bernama Sriyati yang melayani makan mereka, senyum lembut muncul di wajahnya yang keriput namun penuh kehangatan. Ia adalah istri dari salah satu pemuka desa yang telah tinggal di sini selama lebih dari empat puluh tahun. "Dia berusia dua puluh satu tahun, sudah menjadi murid Ki Ageng sejak lima tahun yang lalu ketika keluarganya terlindungi oleh komunitas kita dari bahaya yang tidak bisa mereka jelaskan dengan kata-kata. Kini dia sudah pandai mengendalikan kekuatan bumi dan air – kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia merawat kebun obat di belakang rumah ini dengan hanya menyentuh tanah dan menyiramnya dengan air yang diberi doa."
Dinda mengangguk sambil mengambil satu suap gado-gado yang lezat, merasa lega karena akhirnya bisa makan makanan hangat setelah berhari-hari hanya mengandalkan bekal yang dibawa dari rumah Nenek Sri. "Kenapa desa ini tadi sepi sekali ketika kami tiba? Padahal sekarang aku bisa melihat banyak orang berkeliaran di luar, bahkan ada anak-anak yang bermain dengan teriak kegembiraannya."
Sriyati menggeleng perlahan, kemudian mengambil kendi air hangat untuk menuangkan minuman ke dalam gelas kayu di depan Dinda dan Bara. "Kita memiliki perlindungan khusus yang disebut 'pagar energi' – sebuah lapisan kekuatan alamiah yang diciptakan oleh Ki Ageng dan para leluhur desa yang terdahulu. Lapisan ini membuat desa tampak sunyi dan tidak menarik bagi orang yang tidak diundang, bahkan bisa membuat mereka merasa tidak nyaman dan memilih untuk berbalik arah sebelum sampai di sini. Selain itu, sejak tiga minggu terakhir, ada banyak orang asing yang berkeliaran di sekitar kawasan pegunungan Lawu dan Merapi. Mereka membawa alat-alat yang aneh dan bertanya-tanya tentang tempat-tempat bersejarah serta kekuatan alamiah yang ada di sini. Ki Ageng mengatakan mereka bukan hanya pelancong atau peneliti – mereka mencari sesuatu yang tidak seharusnya mereka sentuh, sesuatu yang bisa mengganggu keseimbangan alam jika jatuh ke tangan yang salah."
Setelah menyelesaikan makan dengan puas, Bara mengikuti Mira yang menunjukkannya ke tempat istirahat – sebuah kamar kecil namun nyaman dengan ranjang yang dilapisi tikar rotan dan bantal yang diisi dengan serat kapas lokal. Sementara itu, Dinda memilih untuk duduk di teras rumah yang menghadap ke arah pegunungan, mengamati langit yang penuh dengan bintang-bintang yang tampak sangat jelas tanpa adanya polusi cahaya seperti di kota. Liontin di lehernya – yang diberikan oleh Nenek Sri sebelum mereka berangkat – mulai memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyinari wajahnya dengan kilauan hangat. Pola cahaya yang muncul di telapak tangannya juga mulai berkedip dengan ritme yang teratur, seperti kodra yang tak terbaca namun jelas memiliki pola tersendiri.
"Tidak mudah bukan, membawa dua kekuatan yang selalu dianggap sebagai lawan abadi dalam satu tubuh?"
Suara yang dalam dan penuh kedalaman membuat Dinda menoleh ke belakang. Ki Ageng berdiri di pintu masuk teras, memegang sebuah kendi kayu berisi teh jahe yang hangat serta dua buah cangkir yang terbuat dari kulit kelapa yang sudah diolah. Ia menggeser satu kursi bambu yang diberi bantal anyaman untuk Dinda, kemudian duduk dengan tenang di kursi sebelahnya, menjadikan dirinya bagian dari pemandangan malam yang damai.
"Dia benar sekali, Bu Sriyati," sambung Ki Ageng sebelum Dinda bisa menjawab, kemudian menuangkan teh jahe ke dalam cangkir dan memberikannya kepada Dinda. "Aku merasakan bagaimana kamu berjuang untuk menyatukan kedua kekuatan itu sejak pertama kali energi mereka menyatu dalam dirimu di sekitar Gunung Merapi. Kadang kamu merasa seperti akan hancur karena mereka berdua saling bersaing, masing-masing ingin menguasai tubuh dan pikiranmu, bukan?"
Dinda mengangguk perlahan, matanya tetap terpaku pada langit yang indah. "Rasanya seperti ada dua suara yang terus berbicara di dalam kepalaku, masing-masing ingin aku memilih sisi mereka. Tapi sejak beberapa jam terakhir... rasanya seperti mereka mulai mengerti bahwa kita butuh satu sama lain. Barong tidak bisa ada tanpa Rangda, dan sebaliknya. Aku tidak bisa mengerti kata-kata yang mereka ucapkan, tapi perasaan itu sangat jelas – mereka mulai menerima bahwa perubahan sudah datang dan kita harus belajar hidup berdampingan."
Ki Ageng mengangguk dengan senyum yang penuh pengertian, kemudian menutup matanya sejenak sambil merasakan angin malam yang membawa aroma bunga bakung liar dari arah kebun desa. "Barong dan Rangda tidak pernah benar-benar menjadi musuh, anakku. Mereka adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama – kekuatan pelindung yang menjaga alam semesta dari kehancuran, dan kekuatan pembersih yang menghilangkan segala sesuatu yang menyimpang dari jalur yang sudah ditentukan. Ketika dunia mulai menyimpang dari tujuan awalnya ribuan tahun yang lalu, mereka terpisah dan terpaksa menjadi sesuatu yang berbeda dari esensi sebenarnya mereka. Kini kamu diberikan kesempatan untuk menyatukan mereka kembali, untuk menunjukkan bahwa keseimbangan bisa tercapai bukan melalui perang atau dominasi, melainkan melalui pemahaman dan kerja sama."
Ia mengambil satu tegukan teh sebelum melanjutkan penjelasannya, matanya kini terbuka dan terpaku pada titik tertentu di kejauhan di mana puncak Gunung Lawu muncul dengan jelas di bawah bulan purnama. "Besok pagi, ketika sinar matahari pertama kali menyentuh puncak pegunungan, kita akan melakukan upacara pemersatu yang disebut 'Ritual Pertemuan Dua Kekuatan'. Kamu akan belajar berkomunikasi langsung dengan mereka, bukan hanya merasakan keberadaan mereka atau menerima energi yang mereka berikan. Bara juga akan berperan yang sangat penting dalam upacara tersebut – energi teknologi yang ada dalam dirinya, yang berasal dari kombinasi antara kecerdasan buatan dan jiwanya yang unik, bisa membantu menstabilkan aliran kekuatan agar tidak meluap dan membahayakan kamu maupun orang-orang di sekitar desa."
Sementara itu, di dalam kamar istirahatnya, Bara sedang melakukan pemeriksaan terhadap sistem dirinya serta mengeksplorasi jaringan keamanan yang membungkus desa. Clipboard-nya yang selalu menyertainya menyala dengan cahaya biru muda yang lembut, memancarkan gelombang energi yang tidak terlihat mata telanjang untuk menyambungkan diri ke struktur energi alamiah yang diciptakan oleh Ki Ageng. Ia terkejut menemukan bahwa sistem tersebut bukan hanya berfungsi sebagai perlindungan untuk menyembunyikan desa dari pandangan yang tidak diinginkan, tapi juga berperan sebagai jaring komunikasi antar anggota komunitas, memungkinkan mereka untuk saling bertukar informasi dan bantuan tanpa perlu menggunakan kata-kata atau alat elektronik modern.
"Analisis sistem selesai," bunyi suara mekanis namun hangat di dalam kepalanya – suara dari kecerdasan buatan yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak awal perjalanannya. "Sistem mendeteksi struktur energi unik yang belum pernah ditemukan sebelumnya – gabungan sempurna antara kekuatan alamiah yang berasal dari tanah, air, udara, dan api dengan teknik yang mirip dengan pemrograman kode sumber terbuka. Setiap anggota komunitas berperan sebagai 'node' dalam jaringan ini, saling terhubung satu sama lain melalui getaran energi yang mereka hasilkan sendiri. Selain itu, terdeteksi juga sinyal tersembunyi yang mengirimkan data ke lokasi lain di kawasan pegunungan Lawu – kemungkinan besar ada komunitas lain dengan karakteristik yang sama yang bekerja sama untuk menjaga keseimbangan alam."
Bara mengangguk dengan puas, kemudian mulai melakukan penyesuaian pada sistem dirinya untuk menghemat energi serta meningkatkan kemampuan pendeteksian bahaya. Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan prosesnya, sebuah peringatan mendadak muncul di layar clipboard-nya dengan warna merah menyala yang mencolok.
"Peringatan tingkat tinggi! Terdeteksi tiga objek bergerak cepat mendekati desa dari arah barat. Kecepatan gerakan mencapai delapan puluh kilometer per jam, dengan pola pergerakan yang menunjukkan bahwa mereka sudah mengetahui lokasi tepat desa. Tidak terdeteksi oleh sistem perlindungan desa – analisis menunjukkan mereka menggunakan teknologi canggih yang bisa menyamarkan jejak energi dan memalsukan sinyal agar terlihat seperti bagian dari alam sekitar."
Tanpa berpikir panjang, Bara langsung berdiri dan mengeluarkan stun stick yang selalu disimpan di sabuk pinggangnya. Ia berlari menuju teras rumah dengan langkah ringan namun cepat, menyadari bahwa setiap detik yang terlewat bisa menjadi sangat berharga. "Ki Ageng! Dinda! Ada orang yang mendekati desa dengan cara yang tidak biasa – mereka sudah menemukan celah dalam sistem perlindungan!"
Ki Ageng tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut atau khawatir. Ia hanya berdiri perlahan dari kursinya, kemudian mengangkat tangannya yang kurus namun kuat ke arah langit. Sebagai tanggapan atas gerakannya, cahaya bulan seolah menjadi lebih terang, menyinari desa dengan kilauan yang lebih jelas. Suara musik tradisional mulai terdengar dari berbagai arah di desa – suara gendang, suling, dan gamelan yang dimainkan dengan irama yang tenang namun penuh kekuatan, menyatu dengan ritme alam yang ada di sekitar mereka seperti getaran tanah dan desahan angin melalui dedaunan pepohonan.
"Mereka datang lebih cepat dari yang kubayangkan," ucap Ki Ageng dengan nada yang tetap tenang dan penuh keyakinan. Ia kemudian memanggil seorang pemuda yang berlari mendekat ketika mendengar suara peringatan dari Bara. "Jangan khawatir, anak-anak. Kita sudah siap menghadapi mereka. Mira! Siapkan pasukan pelindung desa dan bawa senjata tradisional yang telah diberi doa! Jaga agar tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh anak-anak desa atau memasuki area kebun obat yang menjadi sumber kekuatan kita!"
Dinda merasakan energi di dalam dirinya mulai meningkat dengan cepat, seolah merespons bahaya yang akan datang. Pola cahaya di tangannya menjadi lebih jelas dan terdefinisi, membentuk gambar yang sangat jelas – kepala singa dengan bulu yang mengembang sebagai simbol Barong, dan wajah wanita dengan rambut berbentuk ular yang mengerikan namun penuh keadilan sebagai simbol Rangda. Kedua gambar tersebut kini saling bersanding dengan damai, bukan lagi dalam posisi yang saling menentang. "Mereka merasa marah," ucap Dinda dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, kemudian menekan tangannya pada liontin di lehernya untuk membantu mengendalikan aliran energi yang semakin kuat. "Mereka tahu bahwa orang yang datang ini tidak memiliki niat baik. Mereka ingin mengambil kekuatan ini untuk kepentingan diri sendiri, tanpa memikirkan konsekuensinya bagi dunia."
Dari kejauhan, tepat di luar pagar bambu yang membatasi wilayah desa, tiga sosok berpakaian seragam hitam penuh perlengkapan teknologi modern muncul dari balik semak belukar yang lebat. Mereka mengenakan helm dengan kacamata malam yang bisa melihat dalam kegelapan total, serta baju pelindung yang tampak sangat kokoh. Setiap orang membawa senjata api yang tampak sangat canggih, dengan lensa merah yang memancarkan sinar laser ke segala arah untuk mengukur jarak dan mendeteksi target.