NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 – Latihan Pertama Tim Elit

Kabut tipis masih menyelimuti halaman utara Akademi Aetherion ketika lonceng kristal berdentang sebanyak lima kali. Dentangannya menggema hingga ke seluruh penjuru akademi hingga memecah keheningan pagi.

Hari itu bukanlah hari belajar seperti yang biasa dilakukan oleh murid-murid, namun seluruh murid yang namanya telah terpilih sebagai kandidat Tim Elit diminta berkumpul di Arena Celestia sebelum matahari benar-benar terbit.

Udara pagi itu masih terasa begitu dingin, hembusan anginnya pun masih membawa aroma rumput basah dan bunga-bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju arena. Aurelia berjalan berdampingan bersama Lyra seperti biasanya.

Keduanya mengenakan seragam latihan akademi berwarna putih dengan jubah abu-abu yang dihiasi benang perak pada bagian lengannya, sedangkan tongkat Astralis milik Aurelia tergantung di pinggangnya.

Sejak kejadian di Hutan Ilusi, Aurelia memilih untuk tidak lagi menyembunyikan tongkat miliknya. Meski begitu, setiap kali melewati murid lain, ia selalu tetap bisa merasakan tatapan penasaran yang mereka lemparkan.

“Aku masih tidak terbiasa,” gumam Aurelia. Lyra meliriknya sekilas.

“Dengan apa?” Tanya Lyra penasaran.

“Semua orang memperhatikanku.” Lyra terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Itu memang melelahkan, tapi aku lebih suka kalau mereka memperhatikan murid yang nilainya paling jelek.”

“Bukankah itu berarti dirimu?” Celeteuk Aurelia seraya tertawa kecil.

“Hei.” Lyra mencubit pelan lengan sahabatnya hingga keduanya tertawa bersama. Untuk sesaat, beban yang memenuhi hati Aurelia terasa sedikit lebih ringan.

Kini, mereka telah tiba di Arena Celestia, puluhan peserta sudah lebih dulu berkumpul disana. Lapangan batu putih yang biasanya di gunakan untuk ujian, kini dipenuhi oleh lingkaran-lingkaran sihir berwarna biru yang terus berputar perlahan.

Di tribun atas, beberapa professor sudah duduk untuk mengamati jalannya latihan tersebut. Di sana terdapat Profesor Cedric, Profesor Elowen, Profesor Lyren dan tentu saja Kepala Akademi—Aldric. Namun perhatian Aurelia justru tertuju pada tiga sosok yang berdiri di sisi lapangan, yaitu ketiga kakak laki-lakinya.

Ketiganya telah mengenakan mantel hitam berlambang Aetherion yang khusus diberikan kepada murid tingkat akhir. Seperti biasa, Rowan akan selalu melambaikan tangannya begitu melihat saudarinya.

“Relia.” Panggilnya dengan nada yang terdengar begitu ceria dan senyum hangat yang terlukis di bibirnya. Sedangkan Kael hanya menganggukkan kepala, dan Lucien tersenyum tipis serara menutup buku catatan kecil yang sejak beberapa hari terakhir selalu ia bawa. Hingga akhirnya, Lyra menyenggol bahu sahabatnya tersebut.

“Ketiga kakakmu ternyata sangat terkenal, ya.” Mendengar ucapan itu spontan membuat Aurelia memandang sekeliling mereka, dan benar saja bahwa banyak murid yang diam-diam memperhatikan ketiga pria itu.

“Itu Kael Arvendis.” Salah satu murid disana berbisik seraya menunjuk sedikit ke arah pria yang dimaksud. “Aku dengar dia belum pernah kalah dalam duel akademi.” Sambungnya lagi.

“Tapi Lucien juga luar biasa. Katanya, dia hafal hampir seluruh teori sihir tingkat tinggi.” Timpal murid lainnya.

“Sedangkan Rowan…” ucapan murid perempuan itu terhenti dengan semburat merah di kedua pipinya. “.. dia terlalu tampan.” Lanjutnya lagi yang rasanya ingin berteriak dan mendekati Rowan saat itu juga. Mendengar hal itu, Lyra sampai menoleh pada Aurelia.

“Aku rasa yang terakhir tidak ada hubungannya dengan kemampuan sihir.” Aurelia menahan tawanya saat mendengar gumaman sahabatnya.

Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang menarik perhatian seluruh arena—Caelum Velrath. Pemuda berambut putih itu berjalan tenang menuju barisan peserta, tatapannya sekilas bertemu dengan Aurelia dan ia menganggukkan kepalanya dengan sopan.

Aurelia membalas sapaan itu hanya dengan senyuman tipis. Namun, interaksi singkat itu tidak luput dari perhatian Kael, tatapan pria itu langsung berubah tajam dan Rowan yang berdiri disampingnya pun ikut memperhatikan.

“Kalau terus seperti itu, kau akan membuat lubang ditubuhnya hanya dengan menatapnya.” Celetuk Rowan.

“Aku hanya sedang mengawasinya,” jawab Kael.

“Dan aku mengawasi orang yang sedang kau awasi.” Lucien ikut berbicara seraya ikut menatap Caelum. “Menurut analisisku, Caelum itu sedang menyembunyikan sesuatu.” Katanya lagi.

“Tidak hanya sesuatu. Dia menyembunyikan banyak hal.” Gumam Kael yang benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dari pria bermata merah itu.

Melihat para peserta sudah berkumpul di tengah arena, Aldric yang juga sudah berada disana sejak tadi pun lekas berdiri.

“Selamat pagi,” suara Aldric menggema memenuhi arena dan seluruh peserta pun langsung berdiri tegak mendengar suaranya. “Hari ini bukan ujian, tetapi awal dari perjalanan kalian. Tidak peduli seberapa kuat seorang penyihir, karena Festival Agung tidak hanya dimenangkan oleh satu orang.” Ucapnya lagi dengan suara yang tenang, namun menggema ke seluruh Arena Celestia.

Kini, Aldric mulai melangkah ke tengah arena, perlahan ia mengangkat tongkatnya, hingga puluhan lingkaran sihir di lantai menyala secara bersamaan.

“Setiap lima tahun sekali, Akademi Aetherion akan mengirim beberapa Tim Elit untuk mewakili kehormatan akademi.” Bisik-bisik para murid pun mulai terdengar.

“Beberapa tim? Aku pikir hanya ada satu tim,” suara riuh itu memenuhi arena. Namun Aldric tidak menghiraukan keramaian itu.

“Setiap tim terdiri dari empat penyihir yang dipilih bukan hanya berdasarkan kekuatan, tetapi juga kerja sama, kecerdasan, kemampuan beradaptasi dan kepercayaan satu sama lain.” Terang Aldric di tengah keramaian yang masih terjadi disana.

“Artinya…” Cedric maju ke depan perlahan. “… belum ada seorang pun yang mengetahui akan ditempatkan di tim mana, karena seluruh peserta akan melalui serangkaian ujian terlebih dahulu.” Lanjut Cedric yang membuat Aldric menganggukkan kepalanya.

“Mulai hari ini, setiap tindakan, keputusan, bahkan cara kalian memperlakukan rekan sendiri akan menjadi bahan penilaian para professor, dan di akhir seleksi, barulah Akademi Aetherion akan menentukan susunan resmi seluruh Tim Elit.” Jelas Aldric.

Aldric mengangkat tongkat sihirnya perlahan. Dalam sekejap, lingkaran-lingkaran sihir yang memenuhi Arena Celestia mulai bersinar semakin terang. Cahaya kebiruan itu kemudian menjalar membentuk dinding-dinding sihir transparan yang membelah arena menjadi lima medan ujian dengan ukuran yang sama besar.

Dinding tersebut tampak bening seperti kaca, tetapi memancarkan riak-riak mana setiap kali disentuh angin. Dari satu meda, para peserta masih dapat melihat jalannya ujian di medan lain. Namun mereka tidak dapat saling memasuki atau pun mengganggu hingga ujian dinyatakan selesai.

“Setiap kelompok akan menjalani ujian pada medan yang berbeda,” jelas Profesor Cedric. “Dengan begitu, kami dapat menilai kemampuan seluruh peserta secara bersamaan.” Ucapnya lagi yang membuat beberapa murid mendongak kagum. Baru kali itu mereka menyadari bahwa Arena Celestia ternyata jauh lebih luas dari pada yang terlihat dari luar.

Aurelia mencerna setiap aturan yang telah diberikan oleh Aldric, dan tak jauh darinya, Kael, Lucien dan Rowan juga saling berpandangan, kemudian tanpa ragu Rowan melangkah mendekat ke arah Aurelia dan Lyra berdiri seraya menyunggingkan senyum khasnya.

“Sepertinya kita semua benar-benar harus mulai serius.” Tutur Lucien dan membuat Aurelia mengangguk pelan.

“Aku tidak menyangka seleksinya seperti ini.” Lucien kemudian menutup buku kecilnya setelah mendengar ucapan Aurelia.

“Kalau begitu bukankah ini menarik? Artinya, akademi akan mencari kombinasi tim terbaik, bukan sekedar penyihir terkuat.” Terang Lucien yang membuat Kael menyilangkan tangan dan tatapannya langsung beralih ke arah Aurelia.

“Maka, buktikan kemampuanmu.” Ucap Kael

“Aku akan berusaha, kak.”

Untuk sesaat keheningan menyelimuti Arena Celestia. Setelah percakapan singkat itu, seluruh peserta kembali mengarahkan perhatian mereka kepada Kepala Akademi Aldric yang masih berdiri tegah di tengah lingkaran sihir.

Tatapan Aldric kini menyapu satu per satu wajah para murid yang tengah mengikuti seleksi, seolah ia tengah menghafalkan tekad yang terpancar dari mata mereka.

“Tidak ada lagi pertanyaan?” Tak seorang pun dari mereka menjawab dan membuat Aldric mengganggukkan kepala pelan. “Bagus. Kalau begitu seleksi tahap pertama akan segera dimulai.” Ucapnya lagi.

Belum sempat para peserta saling bertukar pandang satu sama lain, kini professor Cedric melangkah maju seraya mengangkat tongkat sihirnya.

“Coba katakan padaku,” ucapnya dengan senyum tipis. “Apa hal pertama yang harus dimiliki seorang penyihir saat menghadapi musuh?” Beberapa murid disana pun langsung mengangkat tangan.

Beberapa dari mereka ada yang berteriak kekuatan, ada yang menjawab kecepatan dan juga ada yang menyahut untuk menghadapi musuh harus memiliki mantra tingkat tinggi. Mendengar para murid saling sahut-menyahut membuat Cedric tersenyum.

“Kalian semua salah.” Ucapnya yang membuat seluruh arena mendadak sunyi. “Hal pertama yang harus dimiliki seorang penyihir adalah kemampuan untuk tetap berpikir jernih.” Ia mengayunkan tongkat sihirnya ke udara.

Dalam sekejap, puluhan lingkaran sihir yang memenuhi lantai arena mulai berputar semakin cepat. Cahaya kebiruan memancar dari setiap ukiran simbol sihir kuno yang membentuk jalinan sinar yang saling terhubung hingga menutupi seluruh lapangan.

“Seluruh peserta bersiaplah. Pertandingan pembentukan tim akan dimulai sekarang.” Suasana arena langsung berubah tegang dan Aurelia pun menarik napas panjangnya seraya menggenggam tongkat Astralisnya.

Di sampingnya, Lyra sudah membuka buku catatan kecil miliknya. Tangannya meraih sebuah lollipop rasa anggur dari saku jubahnya, lalu membukanya dengan santai, kemudian Aurelia menatapnya heran.

“Kau masih sempat memakan permen?”

“Aku selalu bisa berpikir lebih baik kalau sedang makan ini.” Ucap Lyra seraya memasukkan lolipop ke mulutnya dan membuat Aurelia terkekeh.

Di tribun atas, professor Elowen ikut tersenyum melihat pemandangan itu, karena menurutnya murid-murid tahun pertama lebih cepat akrab, namun Aldric tidak menanggapi ucapan Elowen, karena tatapannya kini justru tertuju pada langit. Entah kenapa, sejak pagi ia terus merasa ada sesuatu yang mengganggu, seolah ada seseorang yang tengah mengamati akademi dari kejauhan.

Sementara itu, di bukit yang menghadap langsung ke Akademi Aetherion, seorang pria berjubah hitam berdiri sendirian, wajahnya tertutup topeng putih tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam sebuah kristal hitam yang memancarkan cahaya redup.

Melalui kristal itu, ia dapat melihat seluruh aktivitas di Arena Celestia. Tatapan pria itu berhenti pada satu sosok—Aurelia.

“Akhirnya…” gumamnya lirih. “… aku menemukanmu.” Ia mengangkat tangan kanannya dan kristal hitam itu mulai retak.

Dari dalam retakan tersebut keluar seekor burung gagak yang seluruh tubuhnya tersusun dari asap hitam. “Pergilah. Awasi Pewaris Astralis.” Begitulah perintahnya.

Burung itu kemudian mengeluarkan suara parau sebelum akhirnya mengepakkan sayapnya. Dalam sekejap, ia terbang menuju Akademi Aetherion dan tanpa disadari oleh siapa pun, bayangan musuh kini telah berada jauh lebih dekat dari sebelumnya dan latihan pertama Tim Elit baru saja dimulai.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!