Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Pertama di Atas Salju
Roda kereta kuda besi hitam magis itu menggilas lapisan es tipis dengan bunyi gemertak yang konstan, memecah kesunyian hutan perbatasan yang beku.
Di luar jendela, lanskap Ibu Kota Eldoria yang dipenuhi kemegahan arsitektur marmer putih, pilar-pilar tinggi berlapis emas, dan lambaian tangan ribuan warga yang bersorak-sorai telah sepenuhnya lenyap.
Tempat itu kini digantikan oleh jajaran pohon pinus raksasa yang meranggas, dahan-dahannya meliuk kaku di bawah tekanan musim dingin yang datang terlalu cepat.
Hutan pinus yang biasanya hijau gelap kini tampak seperti barisan tentara mati yang diselimuti kain kafan putih.
Dingin yang menusuk ekstrem di luar sana seharusnya tidak menjadi masalah besar bagi rombongan Aliansi Utara, terutama bagi Aura Zephyra.
Di kehidupan pertamanya, ia bahkan telah mengarungi badai salju paling mematikan di puncak Gunung Kebencian tanpa sepotong jubah bulu pun, bertahan hidup di tengah keputusasaan sebelum dikhianati. Dingin adalah rumahnya, pelindungnya, dan senjatanya.
Namun, pagi ini, ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Aura menegakkan punggungnya yang sedari tadi bersandar pada kursi beludru kereta. Kulitnya yang seputih porselen tampak sedikit tegang saat ia menempelkan jemari lenturnya pada kaca tebal jendela kabin.
Lapisan kaca berinsulasi magis itu terasa luar biasa beku, jauh lebih dingin daripada batas normal sihir pelindung yang terpasang pada kereta kekaisaran.
Hawa dingin yang merembes masuk lewat sela-sela kecil kuningan jendela terasa berbeda—bukan dingin alami pegunungan yang menyegarkan aliran mana es di dalam inti tubuhnya, melainkan sensasi menggigit yang membawa rasa anyir yang samar, seolah angin itu bertiup dari dasar tanah kuburan yang baru digali.
Matanya yang sewarna perak jernih menyipit tajam tatkala pandangannya menangkap riak aneh di udara. Kabut kelabu tipis, yang awalnya mengira hanya embun pagi biasa, mulai merayap keluar dari celah-celah batang pohon pinus kuno. Kabut itu bergerak melawan arah angin, berputar-putar seperti ular tak kasat mata yang sedang mengintai mangsa di sepanjang rute konvoi militer Aliansi Utara.
"Kaelen," bisik Aura, suaranya yang lembut sedikit bergetar, memecah keheningan di dalam kabin kereta yang hangat dan dilapisi karpet bulu tebal itu. "Badai ini ... ini terlalu cepat. Datangnya tidak masuk akal."
Kaelen yang sejak tadi bersandar di sudut kursi sembari secara konstan menyalurkan kehangatan mana darahnya untuk menjaga suhu kabin, perlahan menegakkan tubuh.
Sepasang manik mata merah delimanya berkedip, memancarkan kewaspadaan yang tajam dan dingin dalam sekejap.
Ia menggeser posisinya, duduk tepat di samping Aura, lalu merangkul pundak istrinya dengan gerakan protektif yang posesif. Tangannya yang besar dan kokoh meraba kaca jendela, ikut menatap keluar menembus hamparan putih yang mulai mengabur.
Kabut kelabu itu kian menebal dalam hitungan menit, menelan barisan Ksatria Hitam yang berkuda tegap di sisi kanan dan kiri kereta. Zirah besi hitam para prajurit yang biasanya berkilau gagah kini tampak samar, melebur menjadi bayangan-bayangan hantu yang bergerak di tengah badai.
"Rileks, ratu kecilku. Apa kau masih memikirkan ucapan Umbra?"
"Entahlah." Aura menggeleng.
Aura berbalik menatap suaminya, kilatan perak di matanya mencerminkan kecemasan yang mendalam.
"Di dalam ingatan kehidupanku sebelumnya, musim dingin ekstrem di jalur perbatasan Utara baru akan turun tiga minggu setelah upacara pelepasan kekaisaran. Dan kabut kelabu ini ... kabut ini sama sekali tidak pernah ada di jalur ini pada tahun ini. Ini tidak seharusnya terjadi sekarang."
Kaelen mendengarkan dengan saksama, rahangnya yang tegas mengeras.
"Kau yakin, Aura? Apakah ingatan dari garis waktu pertamamu tidak salah memetakan tanggal?"
"Aku tidak mungkin salah mengingat awal mula kehancuranku, Kaelen," jawab Aura dengan nada suara yang memberat.
"Di kehidupan lalu, tiga minggu dari sekarang adalah saat di mana Duke Gerald meluncurkan petisi palsu untuk menahan pasokan gandum kita. Namun sekarang, Duke Gerald sudah diisolasi di kediamannya, dan tiga klan utama Faksi Barat telah runtuh di tanganku. Aku mengubah masa lalu dengan menghancurkan pion-pion mereka di ibu kota lebih cepat dan lebih kejam."
Aura menarik napas pendek, merapatkan jubah bulunya saat menyadari implikasi dari ucapannya sendiri.
"Efek kupu-kupu dari tindakanku telah mengubah segalanya. Mungkinkah karena aku mengosongkan ruang gerak politik Gavin di ibu kota, dia menjadi terdesak. Dia tidak lagi mengikuti rencana lamanya yang terstruktur. Taktik politik yang ia gunakan dulu telah ia buang, digantikan oleh kenekatan yang ekstrem. Jalur waktu yang kuketahui ... telah retak sepenuhnya."
Mendengar hal itu, genggaman tangan Kaelen pada jemari Aura semakin erat, menyalurkan kehangatan mana api darahnya yang menenangkan, mencoba mengusir kecemasan yang mulai menggerogoti hati istrinya.
"Jika garis waktu telah berubah, maka pengetahuanmu tentang masa depan bukan lagi buku panduan mutlak. Kita harus berasumsi bahwa musuh kita yang sekarang jauh lebih berbahaya dan tidak terprediksi daripada bajingan yang membunuhmu di kehidupan lalu."
Aura terdiam. Keuntungan terbesar yang membuatnya merasa di atas angin selam ini adalah kemampuannya memprediksi setiap langkah musuh.
Tapi sekarang, di sini, di ambang pintu masuk Wilayah Utara, rasa aman itu menguap?
Gavin Elrod yang ia hadapi sekarang bukan lagi mantan tunangan licik yang bergerak di balik bayang-bayang dewan agung, melainkan sosok putus asa yang menggenggam Belati Kutukan Darah Abyss.
Brakk!
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam kereta kuda mereka. Sentakan itu begitu masif hingga membuat roda besi magis berdecit keras di atas permukaan jalan yang membeku.
Suara ringkik panik dari belasan kuda perang berbulu tebal bergema nyaring di luar jendela, memutus obrolan mereka. Dari luar, terdengar sayup-sayup teriakan komando yang tegas dari Boris, mencoba menstabilkan barisan logistik yang mendadak kacau.
Kereta kuda kebesaran itu berhenti mendadak di tengah jalan menanjak. Tungku magis bertenaga batu bara tingkat tinggi di sudut ruangan bergoyang ringan, mengeluarkan percikan api oranye sebelum kembali stabil.
Dengan refleks yang luar biasa cepat, Kaelen menarik tubuh Aura ke dalam pelukannya, melindunginya dari potensi benturan mendadak pada dinding kabin.
"Tetap di posisimu!" perintah Kaelen, suaranya beralih menjadi otoriter dan dingin.
Belum sempat Kaelen meraih pedangnya, pintu kabin kereta diketuk dari luar dengan ketukan ritmis tiga kali yang terburu-buru—kode darurat militer. Boris, dengan zirah perang lengkap yang kini telah dilapisi oleh lapisan es tipis, membuka pintu kabin setengah.
Embusan angin badai yang sedingin silet langsung menyeruak masuk, menurunkan suhu hangat di dalam kabin secara drastis dalam sekejap.
"Pangeran Kaelen, Nona Aura, mohon maaf atas perhentian mendadak yang kasar ini," lapor Boris, wajah veteran perang itu tampak tegang di balik pelindung kepalanya.
"Badai salju di depan meningkat secara tidak wajar dalam hitungan detik. Jarak pandang pasukan garis depan lumpuh total, tidak sampai tiga meter. Tapi yang lebih mengkhawatirkan ... hewan-hewan penarik pasokan logistik dan kuda-kuda perang kita tiba-tiba menolak untuk melangkah maju. Mereka gemetar ketakutan di atas lutut mereka, seolah-olah ada predator raksasa tak kasat mata yang berdiri tepat di hadapan mereka."
Kaelen mendengus dingin, mata merah delimanya berkilat berbahaya. "Hewan sihir wilayah Utara tidak akan gemetar hanya karena badai salju biasa. Ada tekanan mana di depan kita."
"Benar, Tuan." Boris membenarkan. "Beberapa ksatria mencoba memaksa kuda mereka maju, namun hewan-hewan itu justru melukai diri sendiri karena panik."
Kaelen meraih jubah bulu hitam pekatnya yang berat, menyampirkannya di bahu dengan satu gerakan efisien. "Aku akan keluar memeriksa barisan depan secara langsung. Boris, siapkan regu pengawal inti!"
"Tidak, Kaelen. Aku ikut keluar," sergah Aura, berdiri dari kursinya sebelum Kaelen sempat melangkah.
Kaelen berbalik, menatap Aura dengan pandangan tidak setuju. "Di luar sangat dingin, Aura. Badai ini tidak normal. Tetaplah di dalam kabin yang memiliki segel penghangat."
"Kaelen, lihat aku." Aura menatap lurus ke dalam sepasang mata merah suaminya, menolak untuk tunduk pada insting protektif pria itu. "Sekarang, aku adalah penyihir es murni Aliansi Utara. Jika badai dan kabut kelabu ini adalah hasil dari manipulasi sihir hitam atau energi luar batas seperti yang dikatakan Umbra, maka mana esku dapat mendeteksinya jauh lebih akurat daripada indra penciuman ksatria mana pun. Menahanku di dalam sini sama saja dengan membiarkan matamu tertutup di medan perang."
Melihat ketetapan hati yang membara di balik sepasang mata perak istrinya, Kaelen menyadari bahwa membujuk Aura dalam mode ini adalah hal yang sia-sia.
Alih-alih mendebat, seulas senyuman tipis penuh rasa bangga muncul di sudut bibir Kaelen. Ia melangkah mendekat, meraih tudung jubah bulu perak milik Aura, lalu memasangkannya ke kepala gadis itu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura membunuhnya yang mulai keluar.
"Baiklah. Tapi kau tidak boleh melepaskan gandengan tanganku, secuil pun," bisik Kaelen di dekat telinga Aura, sebuah perintah posesif yang tak terbantahkan.
Aura mengangguk. "Baiklah."
Ketika mereka berdua melangkah keluar dari kabin kereta, hantaman amukan angin malam langsung menerpa wajah mereka, meraung memekakkan telinga seperti lolongan ribuan serigala kelaparan.
Salju turun begitu padat, menutupi pandangan hingga dunia di sekeliling mereka hanya menyisakan warna putih yang membutakan dan kabut kelabu yang kian tebal, siap menelan barisan logistik Aliansi Utara ke dalam ketidakpastian yang mencekam.