seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
frustasi.
Pagi hari yang melelahkan, seharian James berkutat dengan monitor dan beberapa tumpukan berkas di depan meja kerjanya. Biasanya di saat pekerjaan James yang terlihat menumpuk seperti ini, Neta sebagai sekertaris James selalu bisa membantu dan menghandle semuanya.
James berulang kali merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, rasa lelah mulai semakin dia rasakan.
Tok... Tok.. Tok..
terdengar suara ketukan di luar kerja James, fokus James mulai teralihkan. Tatapan matanya mulai beralih menatap di mana pintu itu berada, dia mulai meletakkan berkas yang baru saja dia baca.
"masuk...!!" seru James dengan nada sedikit dia serukan.
dengan perlahan pintu tersebut terbuka, terlihat seseorang laki laki berpawakan tinggi dan terlihat sangat tampan masuk kedalam ruang kerja James.
"selamat siang pak."
Ucap Eric dengan nada sopan melihat James yang memperhatikannya.
"hmm... Ada apa Eric...?"
Dengan posisi duduk yang terlihat santai, James menatap Eric yang berjalan mendekatinya.
"ini ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani."
tatapan mata James berpindah menatap berkas yang Eric letakkan di atas meja kerjanya, helaan nafas mulai terdengar saat itu juga.
Eric yang melihat James tampak malas tersenyum samar, dia bergerak perlahan menuju ke kursi depan meja James.
"capek atau lelah...? Atau perlu saya panggilkan Clara untuk ke sini...?"
James menatap Eric, dia berdengus kesal. Yang James butuhkan saat ini bukan Clara melainkan Neta.
"Neta kemana...? Dari tadi aku tidak melihat dia, di meja depan aku juga tidak melihat dia di sana."
Eric melihat sekeliling ruang kerja James, dia sangat penasaran dengan keberadaan Neta.
"dia di rawat di rumah sakit tadi malam."
pandangan mata Eric menatap James, dia ingin memastikan dan melihat apakah James bercanda dengan ucapannya.
"serius...!! Sakit apa dia...?"
Dapat James lihat jika Eric tampak sangat mengkawatirkan Neta,terlihat dari raut wajah Eric penuh dengan kecemasan setelah mengetahui keadaan Neta.
"sekawatir itu kamu sama Neta...?"
mendengar ucapan James Eric tampak salah tingkah, berulang kali Eric berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"enggak, cuman kemarin sepertinya dia baik baik saja saat aku antar ke apartemennya."
Kedua alis James terlihat bertaut, dia terkejut dengan ucapan Eric. James tidak menyangka jika hubungan Eric dan Neta sudah terlampau jauh.
"kapan kamu mengantarkan dia ke apartemennya...?"
kedua mata James terlihat seakan sedang mengintrogasi lawan bicaranya, Eric yang melihat sikap James sudah tidak terkejut dengan keprotectifan James dengan Neta.
"sabar bro, dia aku anterin waktu mau pulang kerja. Kebetulan aku lihat dia, sepertinya di lagi nunggu taksi lewat. Trus aku berbaik hati tawarin dia tumpangan, tapi..."
Eric mengingat kembali kejadian waktu dia mengantarkan Neta.
"aku ingat, wajah Neta tampak pucat waktu itu. ya tuhan kenapa aku bodoh banget ya, bisa bisa nya aku tidak sadar kalau dia tidak baik baik saja."
Eric meraup wajahnya kasar, rasa sesal seketika menyelimuti pikiran Eric.
James yang melihat Eric berdengus kesal, entah kenapa rasa kesal tiba tiba menyelimuti hati James.
"dimana Neta di rawat, sepulang kerja aku akan jenguk dia."
Kedua mata Eric menatap James penuh harap, berharap James bersedia menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
"kamu ikut aku sepulang kerja, kita kesana bareng."
Eric mengulas senyumannya mendengar ajakan James, rasanya dia sudah tidak sabar melihat kondisi Neta saat ini.
beberapa jam pun berlalu, kini tibalah James dan juga Eric untuk pulang.
Langkah kedua laki laki tampan itupun beriringan keluar dari dalam gedung bertingkat lima belas milik James.
Tatapan mata para karyawan menunduk seakan memberikan salam hormat untuk Eric dan juga James, Eric yang notabennya seorang laki laki yang sangat ramah berulang kali membalas sapaan para karyawan.
Berbanding terbalik dengan James, dia akan diam tanpa senyum sekecil apapun.
Eric yang melihat sikap James hanya diam tanpa memberi reaksi apapun, tanpa mereka sadari seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan berkulit putih sedang berdiri tepat di depan gedung.
"sepertinya permaisurimu sedang menunggu sang pangeran pulang kerja ."
Sindir Eric sambil menyenggol lengan James, sedangkan James yang melihat Clara tengah menunggunya dengan senyuman mengembang segera menghampiri wanita cantik yang tampak sedang membetulkan rambut panjangnya yang tampak berantakan karena di terpa angin.
"clara .."
James dengan sigap merangkul pundak Clara, tanpa Clara sadari kedua mata Eric menatap pasangan yang terlihat kasmaran tersebut.
"CK... Dasar pasangan bucin."
Lirih Eric berdiri di belakang James.
"kalian kog bareng, memang mau kemana...?"
Clara melihat James bergantian dia juga menatap Eric, senyuman Eric terlihat menunggu jawaban yang akan James berikan ke wanita pujaannya.
James terdiam sesaat, dia tahu jika James jujur jika mereka akan menjenguk Neta, pasti Clara akan kesal.
"kami... Kami..."
James menghentikan ucapannya saat Eric dengan sigap menjawab pertanyaan Clara.
"aku mau menjenguk Neta di rumah sakit, dan James aku minta buat anterin aku kesana. Kamu mau ikut...?"
Eric melihat reaksi Clara dan juga James, dia tahu jika Clara pasti akan kesal, tapi berbeda saat Eric yang berbicara saat ini.
"Neta masuk rumah sakit...? Sejak kapan...?"
Tanya Clara sok perhatian dengan kondisi yang di alami Neta, senyuman samar terulas dari kedua bibir Eric mendengar ketidaktahuan Clara.
"tadi malam setelah aku antar dia pulang, ternyata dia sakit dan aku tidak tahu jika Clara ternyata masuk ke rumah sakit setelah itu."
Clara menatap Eric tanpa berkedip sedikitpun, Eric yang di tatap terlihat salah tingkah merasakan pandangan Clara tampak tidak biasa.
"aku ikut, aku ingin lihat kondisi Neta. Sayang... Kita beli buah buat Neta ya, masak kita ke sana enggak bawa apa apa."
James mengangguk lemah, dia seakan tidak bersemangat mengetahui jika Clara akan ikut menjenguk Neta. James berharap tidak akan ada kejadian yang tidak menyenangkan nanti setelah Clara bertemu dengan Neta.
"kita berangkat sekarang.."
Ajak Eric sambil melihat James dan Clara, dengan segera Clara menautkan lengannya ke lengan James.
Layaknya seorang kekasih yang sedang kasmaran, James berjalan bersama Clara dengan bergandengan tangan erat menuju ke tempat parkir yang ada di samping gedung perusahaan.
sedangkan Eric setia melangkah di belakang James dan Clara, setelah sampai di mobil mereka masing masing. Eric memilih menaiki mobilnya sendiri, sedangkan Clara dan James masuk ke mobil milik James.
sebelum mereka menuju ke rumah sakit tempat Neta di rawat, James sengaja menghubungi Eric untuk ke rumah sakit tempat Neta di rawat terlebih dahulu, james dan Clara akan menyusul setelahnya.
Tanpa berfikir panjang , Eric segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat Neta di rawat.