Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Bab 35: Pertarungan Berdarah di Puncak Bukit
Perjalanan menuju Bukit Seruni terasa seperti berjalan menuju ujung dunia. Kabut tebal menyelimuti pepohonan pinus yang menjulang tinggi, menyisakan jarak pandang hanya beberapa meter ke depan.
"Perhatikan langkah kaki kalian!" Perintah Arga
Tanah yang licin dan jalan setapak yang terjal membuat langkah kaki mereka harus ekstra hati-hati, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti atau mengeluh.
Arga berjalan paling depan, wajahnya keras seperti batu, matanya menembus kegelapan dengan tatapan yang tak tergoyahkan.
Di sampingnya ada Gilang, napasnya teratur namun tangannya mengepal erat, siap untuk bertindak kapan saja.
Setelah berjalan menanjak hampir satu jam, di balik rimbunnya semak belukar, bangunan tua yang mereka cari akhirnya terlihat.
"Itu rumahnya !"
Rumah kayu yang sudah rapuh itu berdiri sendirian di puncak bukit, dikelilingi oleh pepohonan yang tampak seperti tangan-tangan raksasa yang siap mencengkeram siapa pun yang mendekat.
Cahaya lampu minyak yang temaram terlihat dari celah jendela, menandakan bahwa tempat itu tidak kosong.
"Berhenti!"
Arga mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua orang berhenti dan bersembunyi di balik batang pohon besar.
Ia mengintip perlahan, dan jantungnya berdegup kencang.
Ada enam orang pria bertubuh besar yang sedang berjaga di sekeliling bangunan.
Dua orang di depan pintu utama, satu di sisi kiri, dua lagi berpatroli di halaman belakang, dan satu orang lagi berdiri di balkon atas sambil memegang sebatang kayu besar.
Mereka terus memindai sekeliling, dan beberapa di antaranya terlihat memegang senjata tajam terselip di pinggang.
“Bersiap-siap,” bisik Arga kepada Radit dan Gilang, suaranya rendah namun jelas. “Kita tidak bisa menyerang secara langsung, mereka akan sulit untuk di lumpuhkan.”
“Ayah, biarkan aku dan beberapa orang masuk duluan lewat sisi belakang ,” usul Gilang sambil menunjuk arah semak belukar yang lebat.
“Kita lumpuhkan penjaga di sana dulu, baru kita buka jalan masuk untuk yang lain.”
Arga mengangguk setuju. “Baik ! Radit, bawa tiga orang ikut Gilang. Aku akan menahan perhatian mereka dari depan. Begitu kalian sudah siap, beri kode, lalu kita serentak bertindak. Ingat: jangan membunuh jika tidak diperlukan, tapi lindungi diri kalian dengan baik. Yang terpenting adalah masuk ke dalam secepat mungkin.”
"Baik, Tuan!" Bisik mereka serempak
Mereka pun bergerak. Gilang dan timnya menyelinap perlahan ke arah sisi bangunan, sementara Arga tetap diam di tempat, menunggu kode.
Tidak lama kemudian, suara ranting patah terdengar pelan dari arah kanan — tanda bahwa mereka sudah berada di posisi yang tepat.
Arga menarik napas panjang, lalu melangkah keluar dari persembunyiannya dengan sengaja menginjak dedaunan kering agar terdengar.
“Hei! Siapa di sana?” teriak salah satu penjaga di depan pintu. Dua orang itu segera berlari mendekat sambil mencabut pisau dari pinggangnya.
Saat mereka cukup dekat, Arga tidak menunggu lagi.
Dengan gerakan kilat, ia menangkis tusukan pisau pria pertama menggunakan lengan kirinya, lalu mendaratkan pukulan telak ke ulu hati pria itu.
BRUK!
Pria itu tersentak hebat, napasnya tertahan seketika, dan terjatuh berlutut.
Sebelum yang kedua sempat berteriak, Arga sudah melompat maju, memutar tubuhnya dan menendang keras ke arah rahang pria itu hingga tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh tak berdaya.
Namun benturan itu cukup keras untuk didengar. Penjaga yang lain segera sadar.
“Penyusup! Ada penyusup!” teriak pria yang berpatroli di samping. Dua orang berlari mendekat sambil mengayunkan tongkat besi ke arah Arga.
Arga menghindar dengan gesit, tongkat itu menghantam tanah hingga memercikkan kerikil.
Ia menangkap batang tongkat itu, lalu menariknya kuat hingga pria pemegangnya terhuyung maju.
Sikut Arga menghantam pelipisnya dengan keras, membuatnya roboh seketika.
"Sialan kau!"
Sementara itu, pria kedua mengayunkan pisau berulang kali, berusaha menebas tubuh Arga.
Arga mundur selangkah demi selangkah, mencari celah, hingga akhirnya ia menangkap pergelangan tangan lawan,
memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi tulang yang berderak, lalu mendorong tubuhnya jatuh ke tanah.
"Dasar lemah!" Ujar Arga dengan suara seraknya
Namun tugas belum selesai.
Tiba-tiba dua orang penjaga lain datang dari arah samping, satu memegang linggis, satu lagi membawa parang.
Kali ini mereka menyerang bersamaan, menekan Arga hingga mundur ke dinding bangunan.
“Kau kira mudah untuk masuk ke sini,?” ejek pria berparang sambil menebas ke bawah.
Arga mengangkat potongan kayu yang tergeletak di dekatnya untuk menahan tebasan itu, kayu itu terbelah dua, namun celahnya cukup bagi Arga untuk menendang ke arah lutut lawan.
"Aku tidak takut apapun!" Arga menginjak lawannya dengan keras
Pria itu jatuh berlutut, dan Arga segera memukul tengkuknya hingga pingsan.
"Kena kau !" Ujar pria yang memegang linggis
Daan.. linggis itu menghantam punggung Arga dengan keras.
“Argh!” Arga meringis, rasa sakit menyergap sekujur tubuhnya, tapi ia tidak jatuh.
Ia berbalik, menatap tajam pria itu, lalu menerjang maju dengan amarah yang meluap.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!" Desis Arga tajam
Ia menangkap leher baju pria itu, lalu membantingnya sekuat tenaga ke tanah berbatu.
BRAAAAK!
Debu beterbangan, dan pria itu diam tak bergerak.
Sementara itu, di sisi lain bangunan, Gilang juga tidak kalah sibuk.
Ia dan dua orang anak buahnya berhadapan dengan penjaga yang lain.
Satu orang berhasil dilumpuhkan dengan cepat, namun penjaga yang kedua sangat tangguh.
Ia mengayunkan tongkat kayu besar dengan kekuatan yang luar biasa, membuat anak buah Arga terpaksa mundur.
Gilang melihat kesempatan saat pria itu melangkah terlalu jauh, ia menyambar kaki kursi kayu tua yang ada di dekatnya, lalu menghantamkan ke belakang lutut lawan.
Saat pria itu terjatuh, Gilang segera mengunci tangannya hingga tidak bisa bergerak lagi.
“Lakukan dengan cepat! Masih ada satu di atas!” teriak Gilang sambil menunjuk ke arah balkon.
Penjaga di atas akhirnya menyadari bahwa kawannya sudah kalah.
Ia berteriak histeris sambil berusaha turun, namun Radit sudah lebih dulu menaiki tangga darurat di samping bangunan dan menariknya turun ke bawah.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh penjaga di luar sudah berhasil dilumpuhkan.
Beberapa pingsan, beberapa lainnya meringis kesakitan dan tidak berdaya.
Arga berdiri terengah-engah, keringat bercampur debu menuruni wajahnya, punggungnya terasa perih terkena hantaman linggis, namun ia tidak peduli sedikit pun.
Matanya kini tertuju pada pintu kayu tua yang tertutup rapat di hadapannya.
“Masuk sekarang!” perintahnya singkat dan tegas.
BRAAKKKK....
Dengan satu tendangan keras, pintu itu terbuka lebar hingga menabrak dinding dalam dan bergema sepanjang ruangan.
Dan pemandangan di dalam sana membuat darah Arga mendidih hingga ke ubun-ubun.
Di tengah ruangan yang remang dan berbau lembap, Diana masih terikat di kursi kayu.
Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bengkak karena menangis.
"Jangan menyentuhku!" Diana mencoba menghindar
Di hadapannya berdiri dua pria, salah satunya sedang memegang dagu Diana dengan kasar, sementara tangan yang lain mencoba merobek bagian atas gaun yang dikenakannya.
"Dasar Bajing*n, Lepaskan aku!"
Diana meronta sekuat tenaga, namun ikatan di tangannya terlalu kuat.
Di sudut ruangan, Wulan bersandar santai sambil tertawa renyah melihat pemandangan itu, seolah sedang menonton pertunjukan lucu.
"Kalian bebas melakukan apa saja!" Ujar Wulan pada kedua pria itu sambil menyeringai lebar.
“Tolong! Lepaskan aku!” teriak Diana, suaranya parau dan lemah.
"Tidak akan ada yang bisa menolongmu sekarang, cantik,” ujar salah satu pria itu sambil tertawa jahat.
Cukup. Itu sudah cukup bagi Arga.
“KURANG AJAR KAU!” teriak Arga dengan suara yang menggelegar, membuat kaca jendela yang retak seolah bergetar.
"BAJING*N !"
Ia melesat maju seperti harimau yang lepas dari kandangnya.
Sebelum pria yang memegang dagu Diana sempat menoleh, Arga sudah mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat tubuhnya setinggi satu meter dari lantai, lalu membantingnya ke dinding dengan kekuatan yang luar biasa.
DUG!
Dinding kayu itu berguncang hebat, dan pria itu melorot jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri. Darah keluar dari mulutnya.
Pria kedua berusaha lari ke arah belakang, tapi Arga sudah menahannya.
"Kau tidak akan bisa lari dariku !" Bisik Arga dengan penuh penekanan.
Ia membalikkan tubuh pria itu, lalu menghantamkan tinjunya berkali-kali ke wajah dan perutnya.
Setiap pukulan terdengar bunyi yang menyakitkan, bukan sekadar amarah, melainkan luapan ketakutan akan apa yang hampir terjadi pada istrinya.
“Beraninya kalian…" Desisnya "Beraninya kalian menyentuh istriku!” geram Arga, napasnya memburu. Ia melempar tubuh pria itu ke tumpukan kayu bekas hingga terdengar bunyi tulang yang patah.
Pada saat yang sama, Gilang berlari menerobos masuk. “Diana!”
"Tidak.. Tidak.. " Wulan menjadi panik
Dengan gerakan cepat, Wulan menyeret Diana sebelum Gilang meraihnya.
"Kenapa jadi begini?"
Wanita itu yang tadinya tertawa kini wajahnya berubah menjadi pucat dan gila.
"Tante ! Lepaskan Diana !" Ujar Gilang pelan, mencoba mendekati Tante nya itu.
Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Tante nya berbuat senekat ini.
"DIAM!" Teriak Wulan nyaring
Ia menyambar sebilah pisau dapur besar yang tersembunyi di balik lemari tua, lalu dalam sekejap sudah berada di belakang Diana.
"Jangan ceroboh Tante ! Apa yang kau lakukan?" Ujar Gilang panik
Lengan Wulan melingkar erat di leher Diana, sementara ujung pisau yang tajam menekan kulit di lehernya.
“JANGAN MENDEKAT! Satu langkah saja maju, aku potong lehernya sekarang!” teriak Wulan histeris, matanya melotot liar tanpa kendali.
Gilang terhenti kakinya, matanya tak percaya menatap sosok wanita yang dulu ia kenal sebagai bibinya “Tante Wulan… apa yang Tante lakukan? Lepaskan dia! Ini sudah keterlaluan!”
“Diam! Jangan panggil aku tante! Kalian semua pembohong! Kalian semua merebut Arga dariku!” cibir Wulan, tangannya semakin menekan pisau itu.
Diana menggigil ketakutan, air matanya mengalir deras. “Mas… Mas Arga… sakit…”
Seketika itu juga, setetes darah merah segar menetes dari leher Diana yang tergores.
Melihat itu, jantung Arga seakan berhenti berdetak. Ia segera berhenti bergerak, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, matanya menatap tajam namun suaranya berusaha selembut mungkin.
“Wulan… dengarkan aku. Lepaskan dia. Apa pun yang kau inginkan, apa pun yang kau minta, akan aku penuhi. Tapi jangan sakiti dia. Tolong…”
"Tolong, Jangan sakiti dia " Ujar Wulan dengan nada mengejek
Kata-kata itu seolah tidak masuk ke telinga Wulan.
Wanita itu tertawa nyaring, tapi tawanya terdengar menyedihkan sekaligus mengerikan.
“Kau Ingin dia selamat? Tidak ada yang gratis, Arga! Aku menunggumu bertahun-tahun, tapi kau malah memilih dia! Jadi biarkan dia ikut bersamaku ke neraka!”
"Ahh... Sakit!"
"Jangan manja, sebentar lagi kita akan terbang bersama, Hahahahah.. " Wulan semakin menekan tubuh Diana
Tiba-tiba, wajah Diana meringis hebat. Tubuhnya melengkung ke depan. Ia meremas perutnya yang terasa kencang dan nyeri, napasnya terengah-engah pendek.
“Awhh… sakit sekali… perutku…” rintihnya lemah.
Tidak lama kemudian, cairan hangat berwarna merah mulai merembes membasahi kain di pangkal pahanya, menetes hingga jatuh ke lantai kayu yang berdebu.
Gilang yang melihatnya dari dekat menjerit kaget, wajahnya pucat seketika. “AYAH! DARAH! ADA DARAH YANG KELUAR!”
Arga melirik sekilas, tubuhnya menegang.
"WULAN, LEPASKAN ISTRIKU!" Arga menjerit keras
"JANGAN HARAP!" Wulan kehilangan kendali,
Di saat yang sama, suara sirine polisi terdengar sayup-sayup dari kejauhan, semakin lama semakin keras dan mendekat.
Cahaya lampu sorot mulai terlihat menembus kabut di lereng bukit. Wulan sadar ia sudah terpojok. Tidak ada jalan keluar lagi.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu, Arga… maka tidak ada yang bisa bahagia bersamamu!” jeritnya, lalu ia mengangkat pisau tinggi-tinggi, siap untuk menebas ke arah dada Diana.
Itulah celah yang ditunggu Arga.
Dalam sekejap mata, ia melompat maju, menangkap pergelangan tangan Wulan dengan sekuat tenaga.
Ujung pisau itu sempat menggores telapak tangan kanannya hingga darahnya mengalir deras, tapi Arga tidak melepaskan genggamannya sedikit pun.
“Lepaskan!” teriak Arga sambil memutar tangan Wulan hingga wanita itu menjerit kesakitan dan pisau itu terlepas jatuh ke lantai.
Segera Gilang berlari maju, menekan tubuh Wulan ke lantai dan membelenggunya dengan tali yang dibawanya. “Sudah selesai, Tante. Semuanya sudah selesai,” ucap Gilang pelan, penuh rasa kecewa yang mendalam.
"Aku belum kalah, Aku belum kalah..." Jerit Wulan histeris, lalu dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila
Lalu dia menangis dan meronta, tetapi tenaganya sudah habis.
"Diana ! Sayang !"
Arga segera berlutut di samping Diana, melepaskan ikatan di tangan dan kakinya dengan tangan yang gemetar.
Begitu terbebas, tubuh Diana langsung jatuh ke pelukan suaminya.
Wajahnya sangat pucat, matanya mulai sayu, namun ia masih berusaha tersenyum tipis saat melihat wajah Arga.
“Mas… kau datang… aku tahu kau pasti datang…” bisiknya lemah.
“Iya sayang, aku di sini. Aku sudah datang. Sekarang bertahanlah, kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Arga dengan suara bergetar.
Ia segera menggendong tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, membiarkan kepala Diana bersandar nyaman di dadanya.
Darah dari tangannya sendiri menetes ke wajah Diana, namun ia tidak peduli.
Ia berjalan keluar dari bangunan tua itu dengan langkah secepat mungkin.
Di luar, tim medis sudah menunggu bersama polisi.
Wulan diseret keluar dalam keadaan diborgol, matanya kosong menatap langit pagi yang mulai terang.
Arga terus berjalan menuju kendaraan, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang semakin lemah.
Ia mengecup kening Diana berulang kali, berdoa tanpa henti dalam hatinya: Tolong selamatkan selamatkan istriku.