NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Belas

Permainan akan di lanjutkan sebelum bel tanda istirahat terdengar hingga harus di hentikan. Skor antara kedua kelas sama jadi tidak ada yang menang atau kalah, lagipula ini hanya permainan saja jadi seharusnya tidak masalah.

"Nah, kita akhiri permainan sampai disini. Rapikan kembali bola-bola yang tadi kita pakai ke tempatnya lagi. Paham?"

"Iya, pak!" jawab mereka serempak.

Setelah guru pergi, mereka bersama-sama merapikan bola-bola kecil dan besar yang tadi di gunakan. Begitu pun Aruna yang nampak serius sekali melakukan tugasnya hingga—

"Una! Awas!" Ganesha memekik kuat saat menyadari ada bola yang terlempar ke arah Aruna dengan cepat. Posisinya yang jauh membuat Ganesha tak bisa menolong anak itu. Sementara Aruna yang kaget namanya di panggil langsung melihat ke arah datangnya bola. Anak itu langsung menutup matanya, bersiap untuk menerima pukulan bola tersebut di wajahnya.

Namun, hingga detik berikutnya ia tak merasakan apa pun. Maka Aruna membuka kedua matanya dan mendapati ada anak lelaki lainnya berdiri di hadapannya.

Itu Mahesa.

Semua mata langsung tertuju ke arah mereka. Tanpa Aruna mencari tahu pun, ia sudah tahu siapa yang melemparnya.

Marina.

Anak perempuan itu menatapnya tajam sekali seolah tidak merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.

"Marina! Apa yang kau lakukan?!" Ganesha memekik marah.

"Apa? Aku tak sengaja melemparnya ke arah sana," jawabnya santai.

"Tak sengaja katamu?! Kau pikir aku buta, hah?!"

"Kau punya bukti kalau begitu?"

"A-apa? Kau!" Ganesha meradang dan akan menghampiri Marina sebelum sebuah bola lainnya terlempar dan langsung menghantam punggung Marina hingga terdengar bunyi nyaring yang khas. Anak itu langsung jatuh terduduk sembari menangis kesakitan.

Semua orang berfikir pelakunya adalah Mahesa, tapi saat mereka melihat ke arahnya, Mahesa masih memegang bola yang tadi dengan ancang-ancang akan melemparnya. Kalau bukan Mahesa lalu siapa?

"Maaf, ya! Aku tak sengaja!"

Itu Abaskara.

Aruna sampai melotot karena mendapati Abas berdiri di pinggir lapangan indoor dengan senyuman lebar. Sejak kapan ia disana? Tidak, lebih penting lagi kenapa Abas bisa sampai melempar Marina?

Perhatian Aruna teralih ketika mendengar dengusan Mahesa di hadapannya, anak itu menoleh ke arahnya dan menyerahkan bola yang ia pegang pada Aruna. Kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun.

Hal itu sampai membuat Aruna mengerjap bingung sendiri.

Mahesa kenapa, sih?

"Woah! Nice shoot, Baskara!" Ganesha memekik senang sambil tertawa puas. Menatap Marina yang masih terduduk sembari menangis karena nyeri dipunggungnya. Teman-temannya sampai membantunya berdiri pelan-pelan.

"Baskara, tidakkah kau keterlaluan pada perempuan?" ucap salah satu teman Marina.

Abas berjalan mendekati Aruna lalu menoleh ke arah Marina juga teman-temannya, "Aku tak sengaja. Kenapa menuduhku?"

"Kau sengaja, Baskara!"

"Oh, ya? Mana buktinya?"

Skakmat.

Abas memutar balikkan ucapan Marina tadi dengan tatapan puas juga senyuman meledek khas miliknya. Tak ada yang bisa menjawab ucapan Abas karena mereka tak punya bukti apa pun. Jadi mereka hanya diam dan membantu Marina untuk berjalan pergi.

"Jangan lupa singgah di UKS, ya? Mungkin punggungnya akan tercetak lebam besar," kata Abas lagi.

Setelah mereka pergi, Abas menatap Aruna yang hanya diam sedari tadi.

"Kau baik?"

"Ya," jawab Aruna.

Abas melirik telapak tangan Aruna yang memerah terang. Ia menyaksikan permainan sedari awal tadi, beberapa anak yang menargetkan Aruna sengaja melempar terlalu kuat padahal tidak perlu seperti itu. Jika saja tadi Mahesa tidak menghalangi, mungkin saja Aruna yang terbaring pingsan karena terbentur.

"Mungkin harusnya aku melempar anak-anak lainnya juga, " gumam Abas tapi dapat di dengar oleh Aruna.

"Kau gila?"

Ucapan Aruna sontak membuat Abas tertawa keras sebelum tawanya terhenti, "Tanganmu baik-baik saja?"

Aruna menatap telapak tangannya yang memerah dan sepertinya agak membengkak. Tak bisa ia bayangkan jika tubuhnya yang terkena, apakah akan semerah telapak tangannya juga?

"Ya, tidak ada luka serius," jawab Aruna.

"Mungkin harus di kompres. Sepertinya agak bengkak," Ganesha menginterupsi sembari menggenggam kedua tangannya.

"Kurasa begitu," Aruna menjawab setuju.

***

Aruna sedang membersihkan sampah di kelasnya karena memang hari ini merupakan gilirannya piket. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang sampah terasa banyak sekali hari ini. Bahkan Ganesha sampai membantunya karena teman piketnya yang lain kabur dengan alasan mereka tak enak badan. Dulu juga begini, Aruna akan selalu piket sendirian karena mereka menyerahkan seluruh tugas padanya.

Ia tak bisa menolak mereka dulu tapi sekarang berbeda. Sayangnya, Aruna sedang tidak berselera untuk adu argumen dengan mereka. Ia hanya perlu menyelesaikan bagiannya dan melapor kepada guru piket bahwa teman-temannya yang piket kabur. Meski guru-guru tidak menyukainya, bukan berarti mereka memperlakukannya buruk juga.

"Biar ku bantu," ucap Ganesha saat melihat Aruna mengangkat kantong sampah berukura sedang yang penuh.

Aruna menggeleng, "Aku bisa sendiri. Terima kasih sudah membantuku piket, padahal tugasmu kemarin."

"Tak masalah. Tapi, apa kau yakin?" tanya Ganesha karena Aruna nampak sedikit kesulitan.

"Ya, jangan cemas. Ini karena tubuhku kecil saja, sih. Aku bisa membawanya tanpa kesulitan, kok."

"Baiklah," ucap Ganesha yang membiarkan Aruna membawa kantong sampah itu menuju pembuangan sampah di belakang sekolah. Tidak berat sekali, hanya saja agak sulit karena ukuran tubuhnya.

Ketika tiba di belakang sekolah, tiba-tiba saja seseorang mendorongnya dari belakang hingga Aruna terjatuh ke depan cukup kuat. Kantong sampah yang ia pegang tadi langsung jatuh berserakan hingga isinya keluar. Ia meringis pelan merasakan nyeri di lutut juga kedua tangannya yang langsung menghantam rumput beserta bebatuan kecil.

Tak lama suara tawa meledek terdengar, ia menoleh ke belakang dan mendapati Marina dan Paula beserta teman-teman mereka lainnya berdiri di sana.

"Maaf ya~ tadi aku pikir sampah yang lewat jadi aku refleks mendorongmu," kekeh Paula.

Aruna mendesis sebal, apa perlu anak itu ia hajar hingga kapok? Kenapa mereka selalu mengganggunya? Jika tak suka kenapa tidak mengabaikannya saja?

Ia hendak berdiri sebelum lagi-lagi seseorang menyiramkan sesuatu ke seluruh tubuhnya. Sesuatu yang beraroma bau menyengat langsung menghantam indera penciumannya.

"Ugh! Bau sekali astaga! Cocok sekali dengan anak panti sepertimu!" ucap Marina.

Anak panti?

Darimana ia tahu bahwa dirinya berasal dari panti asuhan? Seingatnya asal-usul Aruna di rahasiakan oleh keluarganya. Orang-orang hanya tahu, bahwa Aruna adalah anak dari kerabat jauh keluarga Adijaya yang di adopsi karena alasan ekonomi keluarganya juga sebagai pengganti Aaira.

"Lihat wajahnya! Hahahahahahah! Dia pasti kaget sekali! Hahahahahaha!" tawa anak-anak lain pecah melihat keadaan Aruna. Tapi anak itu tak perduli, ia hanya ingin tahu darimana Marina tahu soal panti.

"Darimana kau tahu soal itu?" tanya Aruna pada Marina.

Sebelah alis Marina naik, "Apa? Ah, panti maksudmu? Tentu saja aku tahu. Panti Asuhan Heaven, kan? Anak-anak di sana sangat kotor dan menjijikan. Ugh! Aku tak percaya harus menginjakkan kakiku di tempat kumuh itu. Tapi mereka tampak senang saat melihatku, kau tahu? Ahahahahahah jadi aku sedikit bermain dengan mereka—"

Greb!

Aruna mencengkram kerah seragam Marina hingga ucapan anak itu berhenti tiba-tiba. Menatapnya tajam sekali bahkan cengkramannya seperti mencekik Marina.

"Apa yang kau lakukan pada mereka?"

"Le-lepaskan aku! Beraninya menyentuhku dengan tangan kotormu!"

Tapi Aruna tak bergerak.

"Ba-bantu aku! Jangan diam saja!" pekik Marina kuat.

Teman-teman lainnya yang tadi nampak kaget langsung menghampiri Aruna dan menahan tubuh kecil anak itu kuat sekali. Cengkraman di kerah Marina pun terlepas.

"Sialan! Sekarang aroma busuk itu menempel padaku!" geramnya marah. Ia mendekati Aruna yang tubuhnya sudah ditahan kuat kemudian—

Plak!

Menampar kuat wajah anak itu tanpa segan.

"Berani sekali makhluk kotor sepertimu menyentuhku!"

Jika anak-anak lain akan menangis ketika di tampar, Aruna berbeda. Ia semakin menatap Marina tajam hingga membuat anak itu sempat ketakutan. Padahal Aruna sendirian tapi kenapa ia tetap merasa takut padanya.

Plak!

"Berhenti menatapku begitu!"

Marina terkejut melihat tatapan mata Aruna yang semakin menatap tajam padanya tanpa ada rasa takut sama sekali. Padahal bukan dirinya yang di posisi menguntungkan saat ini tapi kenapa ia ketakutan? Tubuhnya gemetar tapi ia menolak untuk mundur. Tangannya akan naik untuk menampar lagi sebelum suara Ganesha terdengar.

"Una!"

Ganesha terkejut melihat keadaan Aruna, ia mendekati Marina dan langsung mendorong anak itu kuat hingga terjatuh ke belakang. Begitu pun anak-anak lainnya yang tengah memegang Aruna. Ketika cengkraman mereka terlepas, Aruna langsung menghampairi Marina dan menindih tubuhnya dengan cara di duduki. Kemudian ia mencengkram kuat kerah seragam Marina dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Jika terjadi sesuatu pada anak-anak panti. Aku akan mengejarmu, Marina. Aku takkan melepaskanmu," ucap Aruna hampir seperti bisikan.

"Ada apa ini?!" seorang guru tiba-tiba saja datang. Menatap Aruna yang seperti sedang menyerang Marina.

"To-tolong aku! Hiks! Aruna akan memukulku! Hiks!" Marina memekik tiba-tiba.

"Aruna! Lepaskan Marina!"

Tapi Aruna tidak bergeming.

"Itu tidak benar, Bu! Mereka yang menyerang Aruna!" Ganesha mencoba membela.

"Aruna!" tekan sang guru lagi.

Aruna melepas cengkramannya dan berdiri sembari terus menatap Marina yang bahkan tak berani menatapnya.

"Bu! Bukan Aruna! Ibu tidak lihat pakaian Aruna yang kotor? Mereka yang menyerangnya!" kata Ganesha lagi.

"Tapi bukan begitu yang ibu lihat. Aruna ikut saya ke kantor, begitu pun dengan Marina!"

Aruna tahu ini takkan berakhir baik. Meski mereka yang menyerangnya bahkan dengan bukti kuat begini, Aruna yang tetap akan di salahkan. Pada dasarnya para guru memang tidak menyukainya jadi mereka akan menutup mata tentang fakta atas kejadian sebenarnya dan lebih memilih mempercayai ucapan Marina. Padahal semua sudah terlihat jelas siapa yang salah di sini, siapa yang terlihat memiliki luka paling banyak tapi mereka tetap mempercayai Marina.

Tak apa, lagipula Aruna tak ada niat membela dirinya sendiri karena percuma.

"Aruna, ini surat pemanggilan untuk orang tuamu. Jika mereka tak datang maka kau akan di keluarkan," ucap sang guru dengan raut wajah senang. Mereka tahu bagaimana Aruna di perlakukan, tentu saja mereka berfikir takkan ada satu pun anggota keluarga yang akan datang. Sementara Marina terkikik pelan dengan tampang songong di sebelahnya.

Bahkan ia langsung di beri surat panggilan tanpa membiarkannya mengatakan apa pun dulu. Tidakkah mereka terlalu kentara menunjukkan perasaan tak suka padanya? Kenapa tidak katakan saja bahwa ia di keluarkan?

Sayangnya, ia bukan Aruna yang dulu.

Maka tanpa rasa takut, Aruna merobek surat panggilan itu tepat di hadapan sang guru menjadi 3 bagian dan menjatuhkannya di lantai begitu saja.

"Aruna! Apa yang kau lakukan?! Beraninya kau!" pekik sang guru tak percaya.

"Bu, jika seingin itu bertemu dengan orang tuaku, kenapa tidak langsung menelpon langsung? Mereka terlalu sibuk untuk membaca surat seperti ini."

Sang guru mengepalkan tangannya marah, "Arogan! Apa kau pikir kau bisa seenaknya?! Kau terlalu sombong dan gegabah, Aruna!"

Benar. Aruna paham maksud sang guru. Dengan keadaannya yang diabaikan begini, maka ia pasti akan di usir karena membuat masalah dan mempermalukan nama Adijaya. Tapi, itu memang tujuan Aruna. Jika mereka mengusirnya maka Aruna punya alasan untuk pergi dengan bebas tanpa takut di temukan oleh mereka. Jika membuat masalah begini bisa membuatnya lepas dari keluarga itu, kenapa tidak?

Aruna terkekeh, "Setidaknya ada nama Adijaya di belakang namaku," katanya lalu ia berbalik dan pergi keluar ruangan begitu saja. Ia harus mengganti pakaiannya dengan segera karena aroma yang menyengat begini.

Sementara sang guru menatap kepergian Aruna dengan rasa kesal di dadanya.

"Lihat saja! Kau akan menyesalinya!"

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!