❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - No No No
Pagi itu cuaca cerah.
Terlalu cerah untukku yang masih kesal dengan Javier.
Dan yang paling menyebalkan, laki-laki itu mengemudi dengan tenang seolah tadi tidak terjadi apa-apa.
Aku pun membuka ponsel lalu memutar lagu Korea. Aku tidak peduli jika Javier merasa terganggu.
Menyandarkan kepala ke jendela, aku menikmati lagu yang mengalun dari ponselku. Saat memasuki bagian reff, aku ikut bernyanyi pelan.
"하얀 눈꽃처럼... 여린 나의 사람.
그 사람이 나를 아프게 하네요. (Dia adalah orang yang lembut bagaikan butiran salju. Orang itu menyakitiku.)”
Pandanganku tetap tertuju ke luar jendela.
"언제나 그옆을 지켜줄께요. (Kapan pun aku akan melindunginya.)”
Aku mengakhiri lagu itu tepat saat bagian musik kembali mengalun.
"Suara kamu bagus juga ternyata."
Aku langsung menoleh ke arah Javier.
"Dan kamu bisa nyanyi lagu Korea tanpa lihat lirik."
Aku hanya diam.
Aku masih kesal dengannya. Malas berbicara.
Karena itu aku kembali menatap keluar jendela. Namun pertanyaan Javier membuatku menoleh lagi.
"Ngomong-ngomong, lagu itu tentang apa?" tanyanya.
"Tentang seseorang yang disakiti."
"Eh?" Javier tampak terkejut. "Kamu pernah disakiti seseorang?"
"Pernah."
"Sama siapa?"
Aku memilih diam.
Javier sempat melirikku sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.
"Kenapa diam? Terlalu menyakitkan buat diceritain, ya?" ujarnya. "Ya udah. Kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa."
Aku langsung mengepalkan kedua tangan.
"야! 그 사람 너야! 날 아프게 하는 건 너야! (Hei! Orang itu kamu! Orang yang menyakitiku itu kamu!)”
"Aduh..." Javier menghela napas. "Ngomong pakai bahasa yang aku ngerti dong."
"You're the one who hurt me."
"Apa?" Javier langsung menoleh kaget. "Hei, kapan aku nyakitin kamu? Apa yang udah aku lakuin?"
"Semua kekacauan dalam hidupku selama dua bulan terakhir ini kan gara-gara kamu. Coba aku nggak dijodohin sama kamu, nggak nikah sama kamu. Mungkin sekarang aku masih bisa menikmati hidupku dengan santai."
"Kenapa jadi aku yang disalahin?" protes Javier. "Aku juga korban perjodohan mendadak itu, tahu."
Aku mendengus pelan.
"Dan kamu..." lanjut Javier. "Bukannya dari awal kamu yang nyaranin kita nerima perjodohan ini? Katanya biar kamu nggak dipaksa nikah terus sama tante kamu. Jadi jangan nyalahin aku sepihak dong."
Aku terdiam.
"Kamu tuh terkesan kayak cuci tangan."
Aku tidak langsung menjawab.
Seketika aku teringat percakapan kami dua bulan lalu.
Memang benar.
Dari awal akulah yang mengusulkan agar kami menerima perjodohan itu.
"Aku paham kalau kamu marah dan belum bisa menerima semua yang terjadi. Tapi tolong jangan salahin aku sepihak." ucap Javier.
Aku menoleh ke arahnya.
"Aku juga ada di posisi yang sama kayak kamu. Aku lagi fokus membangun mimpiku. Aku pengen buktiin ke Papa kalau jalan yang aku pilih itu nggak salah. Tapi tiba-tiba aku dijodohin sama kamu."
Aku menunduk.
"Maaf..." gumamku pelan. "Aku cuma masih nggak percaya kalau sekarang aku udah nikah. Udah jadi istri orang. Rasanya aku nggak akan bisa bebas kayak dulu lagi."
"Nay, meskipun sekarang kamu istriku, aku nggak akan nuntut kamu apa-apa." ucap Javier. "Kamu tetap bisa hidup kayak dulu. Kayak yang kamu bilang, kita cuma dua orang yang tinggal di tempat yang sama."
"Tapi pasti kan orang tua kita dan orang lain punya ekspektasi sama kita."
Tiba-tiba Javier menggenggam tanganku.
Aku langsung terkejut.
"Nggak usah mikirin ekspektasi orang lain." ucap Javier. "Yang jalanin hidup ini kan kita. Jadi hidup aja kayak yang kita mau."
Aku diam menatapnya.
Entah kenapa hatiku terasa hangat.
Dan untuk sesaat, muncul perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan.
"Nay... Naya!"
"Hah?" Aku langsung tersadar.
"Kenapa malah bengong?" tanya Javier.
"Ehm..." Aku buru-buru memalingkan pandangan. "Kenapa kamu tiba-tiba pegang tanganku?"
"Oh..." Javier terlihat sedikit canggung. "Cuma mau kasih kekuatan aja."
"Kekuatan?" ulangku.
"Iya. Biar kamu nggak terlalu mikirin ekspektasi orang lain."
Aku kembali menatap tangannya yang masih menggenggam tanganku.
"Mas, jangan kayak gitu lagi. Nanti aku bisa..."
Ucapanku langsung terhenti.
Jangan sampai keluar.
Jangan sampai aku mengatakannya.
"Nanti kamu bisa apa?" tanya Javier penasaran.
"Nggak apa-apa." Aku buru-buru menarik tanganku lalu memalingkan wajah ke arah jendela.
Apa aku gila?
Bisa-bisanya aku hampir mengatakan kalau aku bisa suka padanya.
Oh tidak.
Jangan sampai.
Beberapa menit kemudian mobil memasuki kawasan Puri Blanco.
Setelah melewati gerbang perumahan, mobil terus melaju hingga berhenti di depan rumah kami.
Begitu mobil berhenti, pandanganku langsung tertuju ke rumah di sebelah.
Ada seorang wanita yang sepertinya seumuranku sedang duduk di teras bersama seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun. Anak itu asyik mengayuh sepeda roda tiganya sementara wanita itu mengawasinya.
Sejak kapan rumah sebelah terisi?
Aku dan Javier turun dari mobil.
Begitu melihat kami, wanita itu langsung berdiri lalu berjalan mendekat dengan wajah cerah.
"Eh, Mas Javier..." ucapnya senang.
Aku langsung menoleh ke arah Javier.
Dia kenal Javier?
"Halo, Mbak Tara." ucap Javier.
Hah?
Javier juga kenal wanita itu?
"Halo." ucap wanita itu sambil tersenyum. "Ke sini mau nambah perabotan lagi?"
"Oh, nggak. Mulai hari ini saya akan tinggal di sini."
"Oh begitu..." Wanita itu tampak senang mendengarnya. "Baguslah."
Aku memperhatikannya dengan heran.
"Eh, itu siapa, Mas? Adiknya ya?"
"Oh bukan." Javier tersenyum tipis. "Dia Naya, istri saya."
"Apa?" Wanita itu tampak terkejut. "Mas Javier sudah menikah?"
"Iya. Baru kemarin." ucap Javier. "Nay, sini."
Aku pun berjalan mendekat.
"Nay, kenalin. Ini Mbak Tara."
"Naya." Aku mengulurkan tangan sambil tersenyum tipis.
"Tara." Ia menjabat tanganku.
"Katanya kalian suami-istri, kok Mas Javier manggil kamu pakai nama sih? Bukan sayang?"
Aku dan Javier langsung saling pandang.
"Ehm..." Javier terlihat bingung.
"Itu permintaan saya." Aku buru-buru menjawab. "Saya minta dipanggil begitu. Kalau dipanggil sayang masih malu. Lagian yang penting kan bukan panggilannya, tapi hatinya."
Aku menoleh ke Javier.
"Iya kan, Mas?"
"Hah?" Javier tampak kaget. "Ah... iya."
"Ya sudah ya, Mbak. Kami mau masuk dulu."
Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menarik Javier menuju bagasi mobil.
Setelah mengambil barang-barang, kami masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum pintu tertutup, aku sempat melihat Tara.
Wanita itu masih berdiri di depan rumahnya.
Dan entah kenapa tatapannya membuatku tidak nyaman.
Begitu pintu tertutup, aku langsung menatap ke Javier.
"Dia itu siapa sih?"
"Kan tadi udah aku kenalin."
"Bukan namanya."
"Terus?"
"Maksudku dia siapa sampai kayak gitu ke kamu?"
"Kayak gimana?"
Aku mendengus.
"Ya kayak gitu. Senang banget waktu lihat kamu datang. Suaminya ke mana sih?"
"Kerja di luar kota."
"Oh..." Aku mengangguk pelan. "Pantes. Dia butuh laki-laki."
"Hei!" Javier langsung menatapku serius."Jangan kurang ajar."
"Aku cuma bilang kemungkinan yang terjadi kalau istri lagi ditinggal suami."
"Itu namanya fitnah."
Aku memutar bola mata.
"Dia kayak gitu mungkin dia memang ramah dan murah senyum." lanjut Javier.
"Kenapa kamu jadi belain dia?"
"Siapa yang belain dia? Aku cuma mencoba berpikir positif."
"Berpikir positif?" Aku tertawa kecil. "Oke. Kita memang harus berpikir positif. Tapi lihat juga kondisinya. Suaminya lagi di luar kota lho."
"Terus kenapa kalau suaminya di luar kota dan dia baik sama aku? Salahnya di mana?"
Aku menatap Javier tidak percaya.
"Astaga... kenapa kamu kayak gini sih?"
"Kayak gimana?"
"Kamu suka ya sama dia?"
"Ya ampun, Naya..." Javier menghela napas panjang. "Ya nggak lah. Itu kan nggak boleh."
"Kan kita nggak bisa milih sama siapa kita jatuh cinta."
"Kamu kenapa sih?" Javier menatapku lekat-lekat. "Kayak orang cemburu aja."
"뭐? (Apa?)”
Aku langsung membelalak.
"질투? 내가? 누구한테? 그 여자? 와 미치겠네 진짜. 난 아니야! 난 질투 아니야! (Cemburu? Aku? Sama siapa? Wanita itu? Wah ini gila. Aku nggak gitu! Aku nggak cemburu!)
"Kamu ngomong apa sih?"
Aku menarik napas panjang.
"I'm not jealous. Jealousy is a sign of love, and I don't love you. Never."
"Is that so?" Javier tersenyum tipis. "We'll see."
"I said never."
"Oke."
Aku menghela napas kesal.
Lalu mengambil koperku yang berada di samping Javier dan berjalan menuju kamar.
Begitu pintu kamar tertutup, aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
"We'll see?" gumamku.
Aku mendengus kesal.
"Nggak akan pernah terjadi."
Aku menatap langit-langit kamar.
"Aku nggak akan suka sama dia."
Aku menggeleng kuat-kuat.
"절대. 난 절대 그 남자 사랑하지 않아. (Tidak akan. Aku tidak akan pernah mencintai laki-laki itu.)"
Namun entah kenapa, saat mengucapkan kalimat itu, yang terlintas di kepalaku justru wajah Javier saat menggenggam tanganku di mobil tadi.
Aku langsung menutup wajah dengan bantal.
Oh tidak.
Jangan sampai.