NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Rahasia Di Balik Cincin Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: VeLynme

Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.

Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.

Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.

Melainkan kesepakatan.

Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.

Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.

Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?

Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah yang Dicuri

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Jonathan menghilang.

Bukan perlahan.

Bukan sedikit demi sedikit.

Melainkan lenyap begitu saja.

Dan perubahan kecil itu justru membuat seluruh ruangan semakin tegang.

Karena selama ini Jonathan selalu terlihat tenang.

Selalu terlihat memegang kendali.

Selalu tampak seperti pria yang mengetahui semua jawaban.

Namun sekarang...

Ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Dan semua orang melihatnya.

---

"Jadi akhirnya kau mengatakannya."

Suara Jonathan terdengar jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Mahendra tidak menjawab.

Tatapannya tidak pernah lepas dari pria itu.

Dua pria tua.

Dua orang yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia yang sama.

Dua orang yang tampaknya mengetahui kebenaran yang tidak diketahui siapa pun di ruangan itu.

"Katakan semuanya."

Suara Aruna memecah keheningan.

Matanya masih sembab.

Pikirannya masih kacau setelah mengetahui siapa ayah biologisnya.

Namun ia sudah lelah.

Lelah dengan kebohongan.

Lelah dengan rahasia.

Lelah dengan orang-orang yang terus memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh ia ketahui.

"Katakan semuanya sekarang."

Mahendra menghela napas panjang.

Kemudian mengangguk.

---

"Dua puluh delapan tahun lalu..."

Suara pria itu menggema pelan di dalam pabrik tua.

"...aku bertemu seorang pria yang menyebut dirinya Jonathan."

Tatapan semua orang langsung tertuju kepadanya.

"Dia cerdas."

"Sangat cerdas."

"Karismatik."

"Dan tahu cara membuat orang percaya kepadanya."

Reza tertawa pahit.

"Ya."

"Itulah masalahnya."

Mahendra mengangguk.

"Dia bisa membuat siapa pun mempercayainya."

Tatapannya beralih kepada Jonathan.

"Tapi bahkan saat itu aku tahu ada sesuatu yang aneh."

"Aneh bagaimana?"

tanya Adrian.

Mahendra terdiam sesaat.

Kemudian menjawab,

"Karena tidak ada masa lalu."

Ruangan menjadi sunyi.

"Maksudmu?"

Aruna mengernyit.

"Tidak ada catatan."

"Tidak ada keluarga."

"Tidak ada teman lama."

"Tidak ada sekolah."

"Tidak ada universitas."

"Tidak ada apa-apa."

Jantung Adrian mulai berdegup lebih cepat.

Karena ia bekerja di dunia bisnis.

Dan ia tahu betapa mustahilnya hal seperti itu.

Setiap orang selalu meninggalkan jejak.

Selalu.

Kecuali...

Orang itu sengaja menghapusnya.

---

"Kau menyelidikinya."

kata Jonathan datar.

Mahendra mengangguk.

"Aku memang menyelidikimu."

"Lalu?"

"Tidak menemukan apa pun."

Senyum tipis muncul kembali di wajah Jonathan.

Namun kali ini terasa jauh lebih berbahaya.

"Itu berarti aku hebat."

"Itu berarti kau berbohong."

balas Mahendra.

Ruangan kembali sunyi.

Karena semua orang bisa merasakan sesuatu.

Mereka sedang mendekati inti rahasia.

Rahasia yang selama ini memicu kematian.

---

"Lima tahun setelah kelompok itu berdiri..."

Mahendra melanjutkan.

"...aku mulai menemukan ketidaksesuaian."

"Data palsu."

"Dokumen palsu."

"Identitas palsu."

"Dan semuanya mengarah kepada Jonathan."

Aruna menahan napas.

Sementara Ratih perlahan memejamkan mata.

Seolah sudah mengetahui cerita ini.

"Maka aku mulai menggali lebih dalam."

Mahendra tersenyum pahit.

"Sebuah keputusan yang hampir membuatku mati."

---

"Apa yang kau temukan?"

tanya Adrian.

Mahendra tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia menatap Jonathan.

Lama.

Sangat lama.

Lalu berkata,

"Aku menemukan bahwa Jonathan tidak pernah ada."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Apa?

"Tidak mungkin."

bisik Reza.

"Itu yang kupikirkan."

jawab Mahendra.

"Tapi memang begitu."

Jonathan tidak membantah.

Tidak mengangguk.

Tidak tersenyum.

Dan itu membuat suasana semakin mencekam.

"Pria bernama Jonathan yang muncul tiga puluh tahun lalu..."

Mahendra menelan ludah.

"...menggunakan identitas orang lain."

Jantung Aruna langsung berdebar keras.

Identitas orang lain?

Berarti...

Selama ini bahkan nama Jonathan pun palsu.

---

"Lalu siapa dia sebenarnya?"

tanya Aruna.

Untuk pertama kalinya sejak cerita dimulai, suara gadis itu terdengar sangat tenang.

Karena mungkin rasa sakitnya sudah terlalu banyak.

Sudah terlalu besar.

Sudah terlalu dalam.

Hingga tidak ada ruang lagi untuk terkejut.

Mahendra membuka mulut.

Namun sebelum sempat berbicara—

"Tidak."

Suara Jonathan terdengar tajam.

Semua orang langsung menoleh.

Pria itu kini tidak lagi terlihat santai.

Tidak lagi terlihat tenang.

Tatapannya berubah dingin.

Sangat dingin.

"Kita berhenti sampai di sini."

Kalimat itu membuat Adrian langsung waspada.

Karena pria seperti Jonathan tidak akan mengatakan sesuatu seperti itu tanpa alasan.

Dan benar saja.

Beberapa detik kemudian—

Terdengar suara langkah kaki.

Banyak langkah kaki.

Dari luar pabrik.

Dari lantai atas.

Dari segala arah.

Semua orang langsung menegang.

---

"Apa itu?"

bisik Aruna.

Adrian langsung menariknya mendekat.

Naluri bertahannya berteriak keras.

Bahaya.

Bahaya besar.

Bahaya yang sudah direncanakan.

Lalu satu per satu...

Orang-orang mulai muncul.

Pria-pria berpakaian hitam.

Bersenjata.

Jumlah mereka puluhan.

Mungkin lebih.

Mereka muncul dari balkon.

Tangga.

Pintu belakang.

Pintu samping.

Seolah seluruh pabrik telah dikepung sejak awal.

Wajah Mahendra langsung berubah suram.

"Jadi kau memang menyiapkan ini."

Jonathan tersenyum tipis.

"Selalu."

---

Dalam hitungan detik, situasi berubah.

Orang-orang Jonathan mengarahkan senjata ke seluruh ruangan.

Tidak ada jalan keluar.

Tidak ada celah.

Tidak ada kesempatan melarikan diri.

Dan yang paling mengerikan...

Mereka tampak sangat terlatih.

Bukan preman.

Bukan pengawal biasa.

Melainkan orang-orang yang terbiasa melakukan pekerjaan kotor.

"Aku sebenarnya berharap malam ini lebih sederhana."

kata Jonathan santai.

"Tapi kalian terus menggali."

Tatapannya berhenti pada Aruna.

"Persis seperti ibumu."

Darah Aruna langsung mendidih.

"Jangan sebut ibuku."

Jonathan hanya tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena kau tidak pantas."

Untuk pertama kalinya, senyum Jonathan retak sedikit.

Dan itu memberi kepuasan kecil bagi Aruna.

---

"Apa yang kau inginkan?"

tanya Adrian.

Jonathan menghela napas.

"Lihat?"

Katanya sambil menunjuk Adrian.

"Itulah kenapa aku menyukaimu."

Tatapan pria itu berubah tajam.

"Karena kau selalu bertanya hal yang benar."

Ruangan kembali sunyi.

Lalu Jonathan menjawab.

"Aku ingin semuanya berakhir."

"Bunuh kami?"

tanya Reza sinis.

Jonathan tertawa kecil.

"Tidak semuanya."

"Lalu?"

Tatapannya beralih kepada Aruna.

Kemudian Mahendra.

Kemudian Dimas.

Dan kembali lagi kepada Aruna.

"Aku hanya butuh satu hal."

Jantung Aruna langsung berdebar.

Apa?

"Aku ingin salinan daftar itu."

Semua orang membeku.

Daftar itu lagi.

Setelah enam belas tahun.

Setelah kematian Alya.

Setelah semua darah yang tumpah.

Daftar itu masih menjadi pusat segalanya.

---

"Aku tidak memilikinya."

kata Dimas.

Jonathan mengangguk.

"Aku tahu."

Tatapannya beralih kepada Mahendra.

"Kau?"

"Tidak."

"Lalu Ratih?"

Ratih hanya tertawa pahit.

"Aku bahkan tidak pernah melihatnya."

Jonathan menghela napas.

Seolah kecewa.

Kemudian perlahan ia menoleh kepada Aruna.

Dan saat itulah jantung semua orang berhenti sesaat.

Karena cara Jonathan memandang Aruna berubah.

Seolah...

Seolah ia sedang melihat sesuatu yang sangat berharga.

Sesuatu yang selama ini ia cari.

"Apa?"

bisik Aruna.

Jonathan tersenyum.

Senyum yang membuat darahnya membeku.

"Akhirnya aku mengerti."

Ruangan langsung sunyi.

"Mengerti apa?"

tanya Adrian.

Jonathan tertawa pelan.

Kemudian berkata,

"Alya jauh lebih pintar daripada yang kupikirkan."

Mahendra langsung menegang.

Begitu juga Ratih.

Dan itu membuat Aruna semakin takut.

Karena mereka tampak memahami sesuatu yang belum ia mengerti.

"Lima belas tahun aku mencari salinan itu."

kata Jonathan.

"Ke bank."

"Ke brankas."

"Ke pengacara."

"Ke rumah-rumah lama."

"Ke seluruh kota."

Senyumnya semakin lebar.

"Padahal jawabannya ada di depan mataku."

Jantung Aruna mulai berdegup semakin cepat.

Apa maksudnya?

Apa yang sedang dibicarakan pria itu?

Dan ketika Jonathan akhirnya mengangkat jarinya...

Menunjuk tepat ke arah Aruna...

Seluruh ruangan membeku.

Karena kalimat berikutnya mengubah segalanya.

"Salinan daftar itu tidak disembunyikan oleh Alya."

Ia berhenti sejenak.

Lalu tersenyum.

"Salinan itu adalah Aruna."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!