NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Wush.

​Angin laut berhembus semakin pelan saat kapal pesiar megah itu mulai mengurangi kecepatannya.

​Dermaga kayu panjang milik Pulau Nenek Moyang kini terlihat jelas di depan mata.

​Pulau ini tidak terlihat seperti tempat liburan mewah pada umumnya.

​Hanya ada tebing karang tinggi dan rimbunnya hutan pepohonan yang menutupi daratan.

​Jangkar kapal diturunkan dengan suara rantai besi yang bergesekan sangat keras.

​Klang klang klang.

​Pintu kapal terbuka dan para tamu undangan mulai turun satu per satu.

​Tap tap tap.

​Langkah kaki Anton dan Elena beriringan menuruni tangga kapal menuju daratan pulau.

​Di ujung dermaga, belasan pria berjas hitam lengkap dengan senjata api di pinggang sudah berdiri berjaga.

​Mereka memeriksa setiap undangan dengan sangat teliti tanpa pengecualian.

​"Selamat datang Nona Elena, silakan masuk ke jalur VIP," ucap seorang penjaga setelah melihat amplop hitam milik Elena.

​Penjaga itu menatap Anton sejenak lalu mempersilakannya lewat karena statusnya sebagai tamu Elena.

​Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah tebing batu karang.

​Di ujung jalan itu, terdapat sebuah pintu baja besar yang dijaga ketat oleh dua orang pria berbadan besar.

​Cklek.

​Pintu baja itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong panjang yang diterangi lampu kristal mewah.

​Anton dan Elena melangkah masuk ke dalam dan langsung disambut oleh pemandangan yang luar biasa.

​Di balik tebing karang itu ternyata tersembunyi sebuah aula lelang yang sangat megah dan luas.

​Lantai aula dilapisi karpet merah tebal dan dindingnya dihiasi berbagai ukiran emas.

​Ratusan kursi kulit disusun rapi menghadap ke sebuah panggung besar di depan sana.

​"Tempat ini benar-benar gila, mereka membangun istana di dalam tebing," gumam Anton pelan sambil mengamati sekeliling.

​"Ini adalah pusat perputaran uang gelap terbesar di negara ini, Anton," balas Elena berbisik.

​"Orang-orang di sini bisa menghabiskan ratusan miliar rupiah hanya dalam satu malam saja," tambah Elena menjelaskan.

​Anton tersenyum tipis mendengar penjelasan itu karena dia sudah siap untuk ikut bermain.

​Mereka berdua berjalan menuju kursi VIP bernomor 08 yang terletak di barisan paling depan.

​Dari posisi ini, mereka bisa melihat panggung lelang dengan sangat jelas tanpa terhalang apa pun.

​Tidak lama kemudian, Rendy Kusuma berjalan masuk dan duduk di kursi bernomor 12.

​Jarak kursi Rendy tidak terlalu jauh dari tempat Anton dan Elena duduk sekarang.

​Rendy langsung menatap sinis ke arah Anton dan memberikan isyarat tangan memotong leher.

​Anton sama sekali tidak mempedulikan provokasi murahan dari pria sombong tersebut.

​Teng teng teng.

​Suara lonceng kecil berbunyi nyaring ke seluruh penjuru aula tanda acara akan segera dimulai.

​Seorang pria tua berpakaian tuksedo putih berjalan naik ke atas panggung dengan langkah tegap.

​"Selamat malam para tamu kehormatan, selamat datang di Pelelangan Nenek Moyang," sapa pria tua itu melalui mikrofon.

​"Saya tidak akan membuang waktu Anda dengan pidato panjang lebar," ucap pria itu lagi.

​"Mari kita mulai sesi lelang pertama kita malam ini dengan barang-barang antik peninggalan masa lalu."

​Tepuk tangan riuh langsung terdengar dari seluruh penjuru aula menyambut dimulainya acara.

​Prok prok prok.

​Dua orang wanita cantik bergaun merah membawa sebuah meja dorong kecil ke atas panggung.

​Di atas meja itu terdapat sebuah piringan keramik berwarna biru putih yang terlihat sangat tua.

​"Barang pertama kita malam ini adalah piring keramik asli peninggalan Dinasti Qing," jelas juru lelang.

​"Harga awal dibuka di angka lima miliar rupiah, dengan kelipatan penawaran satu miliar."

​Anton langsung memfokuskan pandangannya ke arah piring keramik di atas panggung.

​"Sistem, periksa piring keramik itu sekarang," perintah Anton di dalam hatinya.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Mata Anton menembus struktur keramik piring tersebut hingga ke bagian pori-pori terkecilnya.

​[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai piring keramik Dinasti Qing asli.]

[Kondisi terdapat retakan halus di bagian bawah yang ditutupi cat khusus. Nilai jual maksimal hanya sekitar empat miliar rupiah.]

​Anton langsung menonaktifkan kemampuannya dan kembali bersandar di kursi dengan santai.

​"Enam miliar!" teriak seorang pria gemuk dari barisan tengah sambil mengangkat papan nomornya.

​"Tujuh miliar!" balas seorang wanita tua dari sisi kiri aula.

​Elena menoleh ke arah Anton dengan tatapan bertanya apakah mereka harus ikut menawar.

​"Jangan ditawar, barang itu sudah cacat di bagian bawahnya," bisik Anton mencegah Elena mengangkat papannya.

​"Kalau kamu membelinya lebih dari empat miliar, kamu akan rugi besar," jelas Anton dengan suara sangat pelan.

​Elena mengangguk patuh dan membiarkan barang pertama itu jatuh ke tangan pria gemuk dengan harga delapan miliar.

​Juru lelang mengetukkan palu kayunya ke meja tanda barang telah terjual.

​Tok tok.

​"Barang kedua kita malam ini adalah sebuah lukisan kuno dari abad ke delapan belas," seru juru lelang.

​Sebuah lukisan pemandangan gunung dan sungai yang cukup besar dibawa ke atas panggung.

​"Ini adalah karya asli dari pelukis legendaris yang sempat hilang selama puluhan tahun," klaim pria tua itu.

​"Harga awal dibuka di angka sepuluh miliar rupiah, kelipatan penawaran dua miliar."

​Aula langsung riuh karena banyak kolektor seni yang mengincar karya legendaris tersebut.

​Rendy Kusuma yang duduk di sebelah kanan Anton tampak sangat tertarik dengan lukisan itu.

​Dia terus berbisik dengan pengawalnya sambil menatap lukisan di atas panggung dengan penuh nafsu.

​Anton kembali memfokuskan pandangannya ke arah lukisan kuno tersebut.

​"Sistem, periksa lukisan itu secara menyeluruh," perintah Anton lagi.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Pandangan Anton menembus lapisan cat, kanvas tua, hingga ke serat kayu bingkainya.

​[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai lukisan replika tingkat tinggi.]

[Bahan kanvas dibuat tampak tua menggunakan bahan kimia. Usia sebenarnya kurang dari lima tahun. Nilai jual nol rupiah.]

​Anton hampir saja tertawa lepas membaca hasil analisis dari sistem di kepalanya.

​Lukisan yang sangat dipuja-puja itu ternyata hanyalah barang palsu yang dibuat dengan sangat rapi.

​Anton melirik ke arah Rendy yang tampaknya sudah bersiap mengangkat papan penawarannya.

​Sebuah ide licik langsung muncul di kepala Anton untuk membalas kesombongan Rendy di dermaga tadi.

​"Elena, aku ingin kamu menawar lukisan itu sekarang juga," bisik Anton ke telinga Elena.

​"Apa lukisan itu barang bagus Anton?" tanya Elena sedikit ragu.

​"Tawar saja terus sampai harganya mencapai tiga puluh miliar, setelah itu berhenti menawar," perintah Anton tanpa menjawab pertanyaan Elena.

​Elena mengerutkan dahinya bingung tapi dia memilih percaya pada insting dan kemampuan Anton.

​"Dua belas miliar!" teriak seorang kolektor dari belakang.

​Rendy langsung mengangkat papannya dengan cepat dan percaya diri.

​"Lima belas miliar!" seru Rendy dengan suara lantang.

​Beberapa penawar langsung mundur mendengar lompatan harga yang cukup besar dari Rendy.

​Elena mengangkat papan nomor 08 miliknya perlahan.

​"Dua puluh miliar," ucap Elena dengan suara tenang namun menggema di seluruh aula.

​Rendy langsung menoleh kaget ke arah Elena dan Anton yang sedang menatapnya sambil tersenyum mengejek.

​"Sialan, peliharaan Elena itu pasti menyuruhnya ikut campur," batin Rendy merasa gengsinya ditantang.

​Rendy tidak mau kalah dari wanita dan pria miskin di depan umum seperti ini.

​"Dua puluh lima miliar!" teriak Rendy menaikkan tawarannya dengan emosi.

​"Tiga puluh miliar," balas Elena langsung tanpa jeda sedikit pun sesuai perintah Anton.

​Suasana aula semakin tegang melihat adu harga yang gila-gilaan antara dua perwakilan keluarga kaya tersebut.

​Juru lelang di atas panggung tersenyum sangat lebar melihat keuntungan besar di depan matanya.

​"Tiga puluh miliar dari Nona Elena, apakah ada yang berani menawar lebih tinggi?" pancing juru lelang.

​Rendy menatap Anton yang saat ini sedang menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum meremehkan.

​Bagi Rendy, senyuman Anton itu adalah bentuk penghinaan terbesar yang tidak bisa dimaafkan.

​"Empat puluh miliar!" teriak Rendy setengah berdiri dari kursinya dengan napas memburu.

​Angka itu langsung membuat seluruh aula terdiam membisu karena terlalu tinggi untuk sebuah lukisan.

​Elena menoleh ke arah Anton menunggu instruksi selanjutnya.

​Anton hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Elena.

​Itu adalah isyarat untuk berhenti menawar seperti rencana awal mereka.

​"Empat puluh miliar rupiah, satu kali," ucap juru lelang sambil mengangkat palunya.

​"Empat puluh miliar rupiah, dua kali."

​"Dan terjual kepada Tuan Rendy Kusuma seharga empat puluh miliar rupiah!" seru juru lelang gembira.

​Tok tok tok.

​Rendy langsung tersenyum puas dan menatap Anton dengan tatapan kemenangan yang sombong.

​"Begitulah cara orang kaya bermain anak muda, kau tidak punya uang untuk melawanku," ejek Rendy dengan suara cukup keras.

​Anton balas tersenyum sangat lebar dan bertepuk tangan pelan menatap Rendy.

​"Selamat Tuan Rendy, Anda baru saja membeli selembar kertas sampah seharga empat puluh miliar," balas Anton santai.

​Suara Anton terdengar cukup jelas hingga membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh bingung.

​Rendy langsung mengerutkan dahinya dan wajahnya berubah memerah karena marah.

​"Apa maksud ucapanmu itu bajingan kecil?" bentak Rendy tidak terima barangnya dihina.

​"Lukisan itu palsu, usianya bahkan belum mencapai lima tahun," jawab Anton dengan nada meyakinkan.

​Aula lelang mendadak hening dan semua mata kini tertuju pada perdebatan antara Anton dan Rendy.

​Pihak penyelenggara lelang langsung merasa tersinggung dengan tuduhan Anton tersebut.

​"Jaga ucapan Anda Tuan, barang kami sudah diverifikasi oleh ahli seni terbaik," tegur pria tua di atas panggung dengan nada tegas.

​"Kalau kalian tidak percaya, coba periksa bingkai kayu bagian belakangnya dengan sinar ultraviolet," tantang Anton berdiri dari kursinya.

​"Di sana kalian akan melihat cap pabrik pembuat kanvas modern yang disamarkan dengan cat kotor," jelas Anton panjang lebar.

​Rendy mulai merasa panik dan keringat dingin menetes dari pelipisnya.

​Dia memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk segera memeriksa lukisan tersebut ke atas panggung.

​Pihak penyelenggara yang tidak ingin reputasinya hancur akhirnya membawa sebuah lampu ultraviolet.

​Mereka menyorotkan lampu itu ke bagian belakang bingkai lukisan tepat seperti yang dikatakan Anton.

​Ctek.

​Sebuah cap stempel kecil bertuliskan angka produksi tahun 2021 langsung menyala terpapar sinar ungu tersebut.

​Gasp.

​Seluruh pengunjung aula serentak menarik napas kaget melihat bukti nyata pemalsuan tersebut.

​"T-tidak mungkin, bagaimana lukisan ini bisa palsu?" gumam juru lelang dengan wajah pucat pasi.

​Rendy Kusuma langsung jatuh terduduk di kursinya dengan pandangan mata yang kosong.

​Uang empat puluh miliar miliknya baru saja hangus terbakar untuk sebuah barang rongsokan.

​"Kamu sengaja menjebakku ya?" teriak Rendy menunjuk wajah Anton dengan tangan bergetar hebat.

​"Aku hanya menyuruh Elena menawar, kamu sendiri yang bodoh dan serakah menaikkan harganya," jawab Anton tertawa mengejek.

​Elena yang duduk di sebelah Anton sampai harus menutupi mulutnya untuk menahan tawa bahagia.

​Dia tidak menyangka Anton bisa membuat hancur mental Rendy semudah membalikkan telapak tangan.

​"Ini baru permulaan Rendy Kusuma, aku akan membuatmu pulang dari pulau ini tanpa sisa uang sepeser pun," batin Anton penuh dendam.

​Acara lelang sempat terhenti sejenak karena keributan kecil akibat barang palsu tersebut.

​Pihak penyelenggara meminta maaf dan berjanji akan membatalkan transaksi Rendy jika terbukti ada kelalaian dari pihak mereka.

​Namun rasa malu Rendy yang ditertawakan oleh seluruh elit ibu kota sudah tidak bisa dihapus lagi.

​Anton kembali duduk di kursinya dengan santai, menunggu target utamanya keluar ke atas panggung.

​Resep obat kuno dan tanah sengketa adalah dua hal yang akan Anton ambil malam ini.

​Pertarungan memperebutkan kekayaan di aula bawah tanah ini baru saja memasuki babak pemanasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!