Takdir tak selalu buruk untuk kita. Jadikan masa lalu menjadi pelajaran untuk lebih baik di masa depan.
Seperti yang di alami seorang guru cantik bernama Aretha Zayba Almira. Ia sempat terpuruk dengan masa lalu kelam dan trauma mendalam yang di ciptakan mantan kekasihnya. Harus kehilangan kehormatan yang ia jaga hingga hampir mati bunuh diri. Tapi ia bisa bangkit dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sempat menutup hati pada beberapa pria yang datang padanya, hingga takdir menemukannya dengan seorang pria yang mau menerima semua masa lalu dan memperlakukan Amira seperti seorang ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bukan PELAKOR
" Hai musuh bebuyutan. Kita bertemu lagi. Dan permasalahan nya tetap sama. Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu suka jadi PELAKOR !!" Siska menekankan kata Pelakor kepada Amira.
Amira terhenyak. Meremas ujung baju nya yang telah kusut karna remasan tangan nya. Air matanya sudah mengambang di netra coklat miliknya.
Lidia tak tahan lagi untuk membendung amarah nya yang sudah meluap sejak tadi. Dia melangkah cepat mendekat Siska dan menarik rambut wanita itu dengan kedua tangan nya yang sudah terkepal sedari tadi. Ia sudah sangat geram ingin mencabik mulut kasar musuh bebuyutan nya itu.
" Dasar wanita kurang ajar. Berani nya kamu menyebut teman ku pelakor. Padahal kamu sendiri yang pelakor." Geramnya sembari terus menarik rambut Siska dengan keras.
Siska berteriak-teriak kesakitan. Mencoba membalas apa yang dilakukan oleh Lidia saat ini kepadanya.
Amira dan Arif beserta pengunjung cafe yang lain pun terkejut melihat pemandangan yang sedikit bar-bar di hadapan mereka saat ini. Dengan cepat Amira dan Arif segera melerai keduanya.
Tidak sedikit pengunjung cafe yang menonton pertunjukan yang tidak pantas untuk di pertontonkan itu. Bahkan ada pula yang mengabadikan nya hingga mengunggah video mereka ke jejaring sosial hingga dalam sekejap menjadi viral.
" Cukup Lid. Apa yang kamu lakukan. " Ujar Amira sedikit berteriak.
" Wanita ini nggak pernah berubah Ra. Dia selalu saja cari gara-gara. Dari dulu dia yang pelakor. Tapi selalu menuduh kalo kamu yang jadi pelakor." Teriak Lidia dengan emosi yang berapi-api.
Lidia pun melepaskan tangan nya dari rambut Siska yang sudah tak berbentuk. Berantakan persis seperti orang gila yang tidak pernah keramas. Hilang sudah keanggunan dan kecantikan yang selalu Siska agungkan.
Siska pun tidak tinggal diam. Ia kembali akan menyerang Lidia, tapi dengan sigap Arif memegangi lengannya.
" Sudah Sis. Apa kamu tidak malu di tonton orang satu cafe?" Arif menarik Siska dan menjauhkan nya dari Amira dan Lidia.
" Aku nggak mau kalau kamu di rebut sama pelakor itu !! Dari dulu, dia selalu mengambil apa yang jadi milik aku. Percuma penampilan nya sekarang berubah. Tapi kelakuan nya masih sama. Tetap aja jadi pelakor. " Siska memeluk Arif dan melirik tajam kearah Lidia dan Amira.
Lidia pun memutar bola matanya malas. Sedangkan Amira, hanya menghela nafas panjang.
" Sepertinya masih ada kesalahpahaman yang belum selesai diantara kita. Apa kamu mau bicara baik-baik dengan ku?" tawar Amira.
" Apa maksud mu kesalahpahaman? Sudah jelas sejak dulu kamu itu pelakor." Tolak Siska dengan bertolak pinggang. Ia melepaskan pelukannya, dan kembali menantang Amira dan Lidia. Sepertinya dendam lama belum kelar.
" udah la Ra. Orang kayak dia itu nggak bisa diajak bicara baik-baik. Mending hajar aja langsung." Kompor Lidia. Pasalnya ia sangat geram dengan tingkah Siska yang dari dulu tidak berubah. Sama-sama menjengkelkan.
Amira memberi gestur tubuh untuk diam kepada Lidia. Lidia pun bungkam dan segera terdiam. Agak takut juga jika Amira mulai serius.
Amira pun segera maju perlahan mendekati Siska.
" Aku minta maaf jika di masa lalu aku pernah menyinggung mu. Aku hanya ingin meluruskan, jika dulu aku dan Andre menjalin hubungan karna kami sama-sama sendiri. Dan untuk sekarang, aku tidak tau jika Arif adalah kekasih mu. Jika kau tau dia punya kekasih, aku tidak akan mungkin menerima lamaran nya. Dan aku bukan PELAKOR " Amira menegaskan kalimat nya dan melirik Arif dengan tatapan tajam dan dingin. Tak bisa dipungkiri jika Amira sangat kecewa kepada Arif.
Arif yang melihat tatapan Amira yang biasanya lembut, Sangat terkejut mendapati tatapan Amira yang dilayangkan untuk nya barusan. Seketika Arif menunduk tak berani melihat ke arah Amira.
" Alah. Jangan sok baik kamu Ra. Aku tau, kamu itu dendam sama aku. Kamu iri kan aku selalu jadi primadona dari dulu. Cih.. Sok alim "
" Aku pun tau kalo kamu itu udah pernah tidur kan sama si Andre. Jadi jangan sok suci kamu. Munafik kamu Ra. Percuma kamu pakai baju tertutup kayak gini kalo aslinya nggak lebih dari seorang pe**cur !!"
degg...
Jantung Amira seakan diremas dan begitu sakit. Mengapa Siska tahu apa yang pernah terjadi padanya. Selama ini ia menutup rapat apa yang telah terjadi di masa lalu yang membuat Amira trauma cukup dalam.
" Kenapa bengong? terkejut kalo aku buka kartu As kamu? Atau bingung, aku tau darimana??
Semua orang tau kalau Andre masuk penjara karena dijebloskan oleh papa kamu !!"
Lidia dan Arif pun terkesiap. Benarkah apa yang aku dengar?? batin mereka.
Tubuh Amira menegang. Kepingan masa lalu yang coba ia kubur, kembali bangkit dan menyesakkan.
Matanya Amira berkaca-kaca, hati nya semakin sakit dan kepala nya terasa berputar.
Amira akan jatuh tapi sesaat ada tangan kekar yang menyambut nya. Hingga tubuh Amira tertahan tak sampai jatuh ke lantai.
" Gilang " ucap Siska dan Lidia bersamaan.
" Ra. kamu nggak apa-apa Ra?" tanya Gilang dengan raut wajah cemas.
Saat Gilang memasuki cafe, dia penasaran dengan keramaian di dalam cafe. Ia mencoba menerobos keramaian hingga tampak lah Siska yang sedang memaki Amira hingga Amira sekarang jatuh seperti ini.
prrook.. Prrokk..👏👏
Siska bertepuk tangan.
Ia menyunggingkan bibir nya.
" Oh rupanya pahlawan kesiangan datang juga. Halo Gilang. Kamu selalu menjadi pahlawan untuk wanita ****** ini ya. Tapi sayang, cinta mu sedari dulu hanya bertepuk sebelah tangan. Dasar pria bodoh" maki Siska.
Lidia memandang Siska dengan geram dan ingin sekali rasanya ia merobek mulut kotor milik Siska.
Tapi dengan cepat Gilang menahan nya.
" Sudah lah Lid. Jangan di ladeni. Lebih baik kita bawa Amira pulang. Kasihan dia."
Lidia pun mengurungkan niatnya untuk menyerang Siska kembali. Ia pun menggandeng tangan Amira.
" Dan kau wanita bodoh. Mau-maunya tetap jadi sahabat wanita ****** ini. Padahal jelas-jelas dia pun sudah merebut cinta Gilang yang seharusnya jadi milik mu. Harusnya kamu dan Gilang sudah berbahagia. " Lanjut Siska.
" Diam kamu. Kamu itu tidak pernah merasakan punya sahabat. Jadi kamu tidak akan tahu bagaimana rasa nya punya sahabat. Ohya, aku lupa. Mana ada yang mau bersahabat dengan wanita licik dan menyeramkan seperti mu. " Balas Lidia dengan senyum miring.
Siska mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap Lidia dengan tatapan membunuh. Ingin rasanya ia meremukkan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Tapi dengan cepat Arif menarik Siska untuk segera menjauh. Ia ingin menolong Amira, tapi entah kenapa ia jadi agak malas karna mengetahui kenyataan jika dulu Amira sudah pernah tidur dengan pria lain.
Mereka berdua pun segera berlalu. Siska dengan masih kesal pun hanya menurut.
Tapi Gilang dengan cepat mengejar nya.
" Tunggu. "
" Ada apa lagi? " tanya Siska, mereka pun menghentikan langkahnya dan segera menoleh kebelakang.
Bugh.
Gilang melayang kan bogem mentah nya ke wajah Arif. Hingga Arif terdorong ke belakang.
Ia memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
" Apa yang kau lakukan? " geram Arif.
Aaaa ..
Semua yang ada disitu terkejut dengan apa yang dilakukan Gilang tiba-tiba.
" Aku kan sudah bilang jauhi Amira . Brengs*k !" teriak Gilang. Ia pun segera berlalu meninggalkan mereka.
Arif pun hanya berdiri dengan memegangi sudut bibirnya yang sudah berdarah.
**********
Happy reading 💖💖💖
selalu dukung author ya..
dengan like, komentar and vote..😁
makasih 🥰🥰
Emosi tetaplah emosi
Kesal dan sakit hati, jelaslah
Betapa tidak 🙄🙄
manakala sesuatu yang menyakitkan terpampang didepan mata