NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaminan Bermata Hazel

Langkah kaki yang lelah itu terdengar semakin dekat, memutus kepasrahan yang baru saja merantai Albert dan Sarah di atas lantai keramik yang dingin.

Melalui celah kusen pintu utama yang telah hancur berantakan menjadi puing-puing kayu, sesosok tubuh ramping melangkah masuk ke dalam rumah.

Alice Gracellyn melangkah melewati ambang pintu dengan kepala yang tertunduk, memegangi tas kain usangnya yang terasa seberat batu.

Seluruh persendiannya mati rasa, dan sepasang kakinya yang melepuh di dalam flat shoes tipis menjeritkan rasa sakit yang luar biasa setelah berjalan kaki dari halte bus.

Pikirannya masih dipenuhi oleh gema makian Bibi Sarah di telepon beberapa jam yang lalu, menyusun kata-kata yang tepat di dalam kepala tentang bagaimana ia harus meminta kasbon kepada Bos Johan besok malam demi melunasi tuntutan keluarganya.

Namun, bau pekat tembakau Kuba yang asing, aroma wiski mahal, dan keheningan yang terlampau pekat seketika memicu insting waspadanya.

Alice mengangkat wajahnya.

Detik itu juga, napasnya tercekat di tenggorokan.

Seluruh tubuhnya membeku seketika bagai dipaku ke atas lantai.

"Paman... Bibi..." bisik Alice, suaranya bergetar hebat penuh rasa panik yang mendadak melumpuhkan akal sehatnya.

Pemandangan di ruang tamunya menyerupai sebuah zona pembantaian.

Pintu jati rumahnya hancur berkeping-keping.

Di tengah ruangan, pamannya, Albert, bersujud dengan tubuh gemuknya yang hanya dibalut kaos kutang putih, penuh dengan luka lebam baru dan noda darah segar yang mengalir dari hidung serta sudut bibirnya yang pecah.

Di sampingnya, Bibi Sarah menangis histeris dengan pakaian daster batiknya yang acak-acakan.

Dan yang paling mengerikan adalah keberadaan beberapa pria asing bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam formal yang berdiri mengelilingi ruangan dengan tangan bersendekap, memancarkan aura dingin yang mematikan.

"Alice! Alice, tolong Paman, Nak! Tolong!" ratap Albert histeris begitu melihat keponakannya datang, mencoba menggapai kaki Alice namun langsung tertahan oleh tatapan tajam dari para pengawal.

Rasa takut yang luar biasa sempat mencengkeram dada Alice, namun melihat pamannya yang sudah merawatnya sejak kecil diperlakukan sekejam itu, kepolosan dan kebaikan hatinya mengalahkan rasa takut tersebut.

Alice menjatuhkan tas kainnya ke lantai, lalu berlari menerobos barisan pria berjas hitam tanpa memedulikan keselamatan nyawanya sendiri.

"Hentikan! Tolong jangan pukul paman saya lagi!" teriak Alice histeris.

Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai keramik yang dingin, memasang tubuh rampingnya sendiri di depan Albert seolah-olah tubuh kecilnya bisa menjadi perisai dari bahaya yang mengancam.

"Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan di rumah kami?!"

Alice mendongak dengan napas memburu, air mata kepanikan mulai menggenang di pelupisnya.

Dan saat itulah, matanya berbenturan langsung dengan sosok pria yang duduk dengan pesona luar biasa di atas sofa usang milik keluarganya.

Elvano Lucane Salvatore.

Pria itu perlahan menurunkan pandangannya dari langit-langit ruangan.

Niat awal Elvano subuh ini adalah menyaksikan eksekusi berdarah dari seorang penipu kasino kelas teri.

Namun, kehadiran gadis yang tiba-tiba menerobos masuk itu seketika menghancurkan seluruh fokusnya.

Suasana tegang dan bising oleh tangisan di dalam ruang tamu itu mendadak hening seketika.

Waktu seolah berhenti berputar, menyisakan keheningan magis yang mencekam saat sepasang mata cokelat gelap milik sang bos mafia mengunci tatapan pada wajah Alice.

Elvano terpaku di tempat duduknya.

Rahangnya yang tegas mengencang, bukan karena amarah, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa yang merayapi seluruh sistem sarafnya.

Di bawah temaram sisa lampu gantung ruang tamu dan semburat cahaya subuh yang mulai memecah kegelapan dari luar, gadis di depannya tampak terlampau kontras dengan lingkungan sekotor ini.

Kulit Alice yang seputih porselen, mulus tanpa cela sedikit pun, memantulkan cahaya redup ruangan dengan begitu indah.

Rambut ikal bergelombang berwarna cokelat muda miliknya tampak berantakan karena kelelahan kerja malam dan angin subuh, namun justru hal itu memberikan kesan sensual yang sexy di mata Elvano.

Namun, yang benar-benar menusuk langsung ke relung jiwa Elvano adalah sepasang mata gadis itu.

Mata berwarna cokelat hazel jernih, besar, dan memancarkan kepolosan yang begitu rapuh, sesuatu yang belum pernah Elvano temukan pada wanita-wanita mahal bertubuh seksi yang kerap mengelilinginya di klub malam.

Detik itu juga, naluri buas dan gairah maskulin Elvano yang selama ini membeku dan mati, tiba-tiba bergejolak hebat, meledak bagai lava yang tak tertahankan.

Ada sesuatu di dalam diri gadis ini, aroma kepolosannya, kecantikan matanya yang berteriak keras pada ego kegelapan Elvano untuk segera mengklaim, mengurung, dan memilikinya.

Kaiven Axel Moretti, yang sejak tadi sibuk mengunyah kerupuk putihnya dengan santai, mendadak menghentikan kunyahannya.

Mata birunya yang jernih melebar saat melirik ke arah Elvano, lalu beralih ke arah Alice.

Sebagai orang yang paling mengenal Elvano sejak kecil, Kaiven langsung menyadari perubahan suasana yang tiba-tiba dari tubuh bosnya.

Aura haus darah yang tadinya pekat menguar dari tubuh Elvano, kini mendadak berubah menjadi aura kepemilikan yang posesif.

Kaiven perlahan menurunkan kerupuk di tangannya, tersenyum sinis yang penuh akan makna terselubung.

'Wah, wah... singa tua kita sepertinya baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik,' batin Kaiven konyol dalam hati.

Alice merasa sekujur tubuhnya meremang di bawah tatapan intens pria di atas sofa itu.

Pria itu terlampau tampan, dengan hidung mancung tajam dan sepasang alis tebal, namun sepasang mata cokelat gelapnya menatap Alice dengan pandangan yang begitu lapar, buas, dan seolah-olah sanggup menelanjangi seluruh tubuhnya.

Alice menelan ludahnya yang terasa kesat, perlahan mempererat pelukannya pada bahu pamannya yang bergetar.

"T-Tuan... siapa Anda?" suara Alice mencicit kecil, kepolosan alamiahnya membuat suaranya terdengar seperti bisikan seekor kelinci kecil di depan seekor serigala raksasa.

"Paman saya... kalau paman saya punya salah, saya memohon maaf. Tolong jangan sakiti mereka lagi."

Elvano tidak langsung menjawab. Ia menegakkan posisi duduknya, mantel hitam panjangnya bergerak mengikuti lekuk tubuh tegapnya.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh kedua lengannya di atas lutut, menatap Alice dari jarak yang lebih dekat.

Aroma maskulin bercampur tembakau mahal dari tubuh Elvano merangsek masuk ke dalam indra penciuman Alice, mengintimidasi kesadarannya.

"Siapa aku?" Elvano akhirnya bersuara, suaranya sangat rendah, bariton, dan bergetar seksi namun menyimpan bahaya.

"Tanyakan pada pamanmu yang berharga itu, Gadis Manis. Tanyakan apa yang sudah dia lakukan pada kasinoku semalam."

Alice menoleh lambat ke arah pamannya yang masih menangis di lantai.

"Paman... apa yang terjadi?"

Albert tidak berani menatap mata hazel keponakannya.

Ia hanya bisa meratap ke arah Elvano.

"Tuan Salvatore... demi Tuhan, anak ini... keponakan saya ini masih bersih, dia bekerja keras. Lakukan apa saja, tapi tolong hapus utang saya!"

Mendengar ucapan Albert, seulas senyuman tipis yang dingin dan misterius terukir di bibir tegas Elvano.

Rencana awalnya untuk meratakan rumah ini dengan tanah mendadak menguap begitu saja.

Matanya kembali terkunci pada kulit putih mulus, leher Alice yang terekspos karena rambutnya yang terikat asal-asalan.

Sebuah ide gila yang gelap dan penuh obsesi mulai terbentuk di dalam kepala sang duda mandul ini.

Jika takdir menuntutnya mencari jalan untuk mempertahankan takhta, mungkin takdir baru saja mengirimkan jaminan terbaiknya subuh ini langsung ke hadapannya.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!