Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Awan
Hujan deras menyambar wajah mereka dengan kekerasan yang membuat mata sulit terbuka, setiap tetesan seperti batu kecil yang memukul kulit yang sudah lelah akibat panas vulkanik beberapa saat yang lalu. Lumpur hitam pekat menempel seperti lem pada sepatu dan bagian bawah celana mereka, membuat setiap langkah terasa seperti membawa beban tambahan berkilogram-kilogram. Suara baling-baling helikopter masih menggema di langit yang mendung, semakin menjauh namun tidak hilang sepenuhnya—seolah menjadi bayangan yang tidak bisa dilepaskan dari belakang kepala mereka. Dinda merasa kaki kirinya mulai keseleo karena terpeleset di atas akar pohon yang tersembunyi di bawah genangan air, tapi ia tidak berani berhenti, memegang erat bagian lutut yang mulai membengkak sambil terus mendorong tubuhnya maju.
"Kita butuh tempat berteduh! Sekarang juga!" teriak Bara dengan suara yang hampir tertutup oleh desisan hujan dan gemuruh angin. Ia menyelaraskan langkahnya dengan hati-hati agar tidak meninggalkan Dinda sendirian, sambil terus menatap clipboard transparan yang terpampang di depan dadanya. Cahaya biru dari layarnya menerangi wajahnya yang penuh ketegangan, menampilkan data yang mengalir deras seperti air yang tidak bisa dihentikan. "Sistem pemetaan kuantumku mendeteksi sebuah gua kecil sekitar 800 meter ke arah barat daya—tidak tercatat di peta resmi pemerintah atau bahkan di database militer lokal. Struktur batu di sekitarnya menunjukkan bahwa gua itu sudah ada ribuan tahun, mungkin pernah digunakan sebagai tempat persembahan oleh suku asli sebelum kedatangan agama-agama besar. Ini bisa jadi tempat persembunyian sementara yang aman."
Dinda mengangguk dengan susah payah, tangannya masih erat menyentuh liontin ungu yang menggantung di lehernya—seolah sentuhan itu bisa memberikan kekuatan tambahan. Suhu logamnya semakin hangat setiap detiknya, bahkan sedikit membakar kulitnya, namun rasa sakit itu tidak lagi menjadi hal yang ia hindari. Sebaliknya, ia belajar menerima sensasi itu sebagai bagian dari dirinya sekarang. "Aku merasakan mereka... Barong dan Rangda. Mereka tidak marah, bukan seperti yang aku kira dulu. Mereka lebih seperti... bingung. Seolah mereka baru saja terbangun dari tidur panjang dan tidak tahu harus bagaimana dengan tubuh baru mereka yang terbatas dalam bentuk fisik ini. Kadang aku bisa merasakan suara-suara kecil di dalam kepalaku—seolah mereka sedang berbicara satu sama lain, membicarakan sesuatu yang aku belum bisa mengerti sepenuhnya."
"Mbak Siti bilang kita adalah Wadah Hidup," ucap Bara sambil mengayunkan tubuhnya untuk menyeberangi aliran air deras yang memotong jalur mereka, airnya dingin dan deras karena berasal dari salju yang mencair di puncak gunung. Ia menjulurkan tangannya untuk membantu Dinda menyebrang, matanya tetap waspada ke segala arah. "Artinya kita tidak hanya sekadar menyimpan kekuatan itu di dalam tubuh kita—kita harus benar-benar belajar mengendalikan, memahami, dan bahkan bekerja sama dengan mereka. Kalau tidak, energi primordial itu bisa saja keluar dari kendali dan menghancurkan kita dari dalam, atau bahkan menyebar ke sekitar dan menyebabkan kerusakan yang tidak terbayangkan. Kita sudah melihat apa yang terjadi ketika kekuatan itu tidak seimbang di tangan Tuan Arus."
Setelah beberapa menit berlari lagi melalui semak-semak belukar yang menusuk kulit dan rerumputan tinggi yang menyelimuti jalan, mereka akhirnya menemukan mulut gua yang tersembunyi dengan sangat baik. Ia terletak tepat di bawah tebing batu yang menjorok ke depan, ditutupi oleh rerumputan tinggi yang tumbuh lebat dan akar pohon beringin yang menjalar ke segala arah seperti tangan besar yang ingin menyembunyikan rahasia. Gua itu tidak sesbesar Gua Larung yang penuh dengan energi dan bahaya, tapi cukup luas untuk menampung mereka berdua dan memberikan perlindungan yang cukup dari hujan deras serta pandangan luar yang mungkin mengancam.
Di dalamnya, udaranya sejuk dan lembap dengan aroma tanah basah dan lumut tua. Bara menyalakan senter LED yang terpasang di pergelangan tangannya, cahaya putihnya menerangi dinding batu yang licin dan bertutup lumut hijau pekat yang bersinar seperti permata dalam kegelapan. Ada jejak-jejak tangan kecil yang dicoret-coret di dinding bagian dalam dengan menggunakan batu tajam—beberapa di antaranya berbentuk simbol-simbol yang mirip dengan yang mereka lihat di Gua Larung, sementara yang lain adalah gambar sederhana seperti manusia, binatang, dan bintang-bintang di langit. Ini adalah tanda yang jelas bahwa gua ini pernah digunakan oleh seseorang, bahkan mungkin oleh generasi-generasi yang berbeda sebagai tempat perlindungan atau persembahan.
"Kita bisa istirahat sebentar di sini," ucap Dinda dengan suara yang lemah, terduduk pelan di atas batu yang lebih rata dan sedikit kering di sudut dalam gua. Ia menurunkan kepalanya, melihat tangan kirinya yang mulai muncul pola-pola cahaya seperti mahkota kecil dengan ujung yang runcing setiap kali ia menekan liontin di lehernya. Pola itu menyebar perlahan ke lengan atasnya, seolah menjadi tato hidup yang terus bergerak. "Pak Haris... dia mengorbankan diri untuk kita. Dia bisa saja kabur atau menyelamatkan diri sendirian, tapi dia memilih untuk membantu kita sampai akhir. Aku tidak bisa berpikir kalau kita gagal menyelesaikan apa yang dia mulai. Aku tidak bisa membiarkan pengorbanannya sia-sia."
Bara duduk di sebelahnya, clipboard-nya terbuka di pangkuannya dan menyala dengan cahaya yang tenang. Layarnya sekarang menampilkan peta hologram tiga dimensi yang menunjukkan posisi helikopter TNI yang kini mulai menjajaki area sekitar Gua Larung dengan sangat cermat. Titik-titik merah kecil menunjukkan lokasi setiap unit, bergerak dengan pola yang menunjukkan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan menyeluruh. "Kita tidak akan gagal, Dinda. Saya berjanji padamu. Tapi sekarang, situasinya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Kita tidak hanya berhadapan dengan pencari Fragmen lain yang mungkin ingin mengambil kekuatan dari kita. Pasukan pemerintah juga akan mencari sumber lonjakan energi itu yang setara dengan ledakan nuklir kecil. Mereka pasti mengira ini adalah serangan teroris atau upaya uji coba senjata rahasia oleh kelompok tertentu. Jika mereka menangkap kita, kita tidak akan mendapatkan keadilan atau kesempatan untuk menjelaskan. Kita akan dijadikan objek penelitian seumur hidup di laboratorium rahasia yang bahkan tidak akan tercatat di mana pun."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang ringan dan terkontrol terdengar dari arah mulut gua—suara yang tidak mungkin berasal dari orang yang sedang berlari atau tergesa-gesa. Kedua mereka bereaksi dengan kecepatan yang luar biasa: Bara dengan gesit mengambil stun stick yang tersembunyi di sabuk pinggangnya, alat itu langsung menyala dengan cahaya ungu muda yang berbahaya. Sementara itu, Dinda mengangkat tangan kanannya dengan cepat, membuat pola cahaya ungu yang lebih kuat muncul di telapak tangannya, mengeluarkan getaran panas yang membuat udara di sekitarnya sedikit berkilau. Keduanya siap menghadapi bahaya apa pun yang mungkin datang menghampiri mereka.
"Mari jangan tergesa-gesa menggunakan kekuatan itu, anak-anak. Kekuatan seperti itu seharusnya digunakan untuk melindungi, bukan untuk menyerang tanpa tahu lawan kita sebenarnya siapa."
Suara itu lembut namun memiliki kekuatan yang membuat kedua mereka langsung mengendurkan posisi pertahanan mereka. Dari kegelapan dekat mulut gua muncul sosok wanita berusia sekitar lima puluhan dengan rambut putih yang diikat rapi dalam sanggul tradisional, mengenakan baju adat Jawa dengan warna biru tua pekat dan aksen emas yang indah. Di lehernya tergantung liontin berbentuk bunga melati yang terbuat dari logam perak tua, namun juga bersinar dengan cahaya samar yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa. Wajahnya penuh kedalaman dan kebijaksanaan, dengan kerutan di sekitar mata yang menunjukkan bahwa ia telah melihat banyak hal dalam hidupnya.
"Siapa Anda?" tanya Bara dengan nada yang tetap waspada, namun ia sudah menurunkan stun sticknya sedikit. Ada sesuatu dari sosok wanita ini yang membuatnya merasa tidak bahaya—seolah ada ikatan tak terlihat yang menghubungkannya dengan mereka.
"Warga sekitar sini menyebutku Nenek Sri," jawabnya dengan senyum lembut yang membuat wajahnya tampak lebih muda. Ia masuk ke dalam gua dengan langkah yang anggun dan tenang, lalu duduk di atas batu kecil yang sudah jelas sering digunakan sebagai tempat duduk. "Aku telah tinggal di lereng gunung ini selama lebih dari tiga puluh tahun. Aku telah mengawasi kalian semenjak lonjakan energi itu muncul dari dalam Gua Larung—energi itu seperti kilat yang menerangi malam bagi orang seperti aku yang telah terbiasa dengan kekuatan alamiah. Dan aku juga pernah seperti kalian—Wadah untuk kekuatan purba yang sudah terlupakan oleh dunia modern ini."
Dinda terkejut, mata besarnya terbuka lebar. Ia tidak pernah berpikir bahwa mereka akan bertemu orang lain yang mengerti apa yang mereka alami. "Anda juga... seorang Wadah?"
Nenek Sri mengangguk perlahan, tangannya dengan lembut menyentuh liontin melati di lehernya. "Puluhan tahun yang lalu, ketika aku masih muda seperti kalian, aku adalah Wadah untuk Dewi Sri—penguasa tanaman, kesuburan, dan kesejahteraan rakyat. Kekuatan itu memberiku kemampuan untuk membantu orang-orang di sekitar sini—menyembuhkan tanaman yang layu, menghentikan wabah penyakit yang menyerang ternak, dan memberikan keberuntungan pada para petani yang sedang kesusahan. Tapi kekuatan itu juga membuatku menjadi target bagi mereka yang menginginkan kekuasaan tanpa memikirkan konsekuensinya. Aku terpaksa bersembunyi jauh dari peradaban untuk belajar mengendalikan energi itu sendiri, untuk memahami bahwa kekuatan seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki atau dikuasai semena-mena."
Ia melihat dengan cermat liontin ungu di leher Dinda, lalu melihat clipboard transparan di tangan Bara yang masih menyala lembut. "Barong dan Rangda... mereka adalah pasangan yang sangat sulit dikendalikan. Mereka bukan hanya sekadar kekuatan fisik atau energi semata—mereka adalah kesadaran yang memiliki tujuan, emosi, dan bahkan sejarah sendiri. Kalian tidak bisa hanya menyimpan mereka di dalam diri kalian seperti barang yang bisa diletakkan di lemari. Kalian harus berbicara dengan mereka, benar-benar mendengarkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Tidak bisa hanya memaksakan kehendak kalian sendiri atau berpikir bahwa kalian bisa mengendalikan mereka dengan tekad semata."
"Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan mereka?" tanya Dinda dengan nada penuh harap. Ia sudah merasa kebingungan dengan suara-suara kecil yang terdengar di dalam kepalanya dan ingin tahu bagaimana cara untuk memahaminya dengan benar.
"Caranya ada di dalam diri kalian sendiri, anakku," ucap Nenek Sri dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Tutup mata kalian, lepaskan semua ketakutan, keraguan, dan keinginan untuk mengontrol segalanya. Biarkan kesadaran kalian melayang dan bertemu dengan kesadaran mereka. Ingatlah selalu—mereka bukan musuhmu. Mereka adalah bagian dari dirimu sekarang, dan kalian harus belajar hidup berdampingan dengan harmoni. Hanya dengan begitu kalian bisa benar-benar menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan."
Sebelum mereka bisa bertanya lebih jauh atau meminta penjelasan lebih lanjut, suara baling-baling helikopter kembali terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Lampu sorot putih menyilaukan bahkan menyinari bagian luar mulut gua, membuat bayangan panjang bergoyang di dinding dalam gua. Getaran dari mesin helikopter membuat batu-batu kecil di lantai gua bergetar pelan.
"Mereka menemukan jejak kita!" bisik Bara dengan cepat, matanya menatap layar clipboard yang menunjukkan bahwa tiga unit helikopter sedang bergerak langsung ke arah mereka. "Sistem pendeteksi panas mereka pasti menangkap suhu tubuh kita yang berbeda dengan lingkungan sekitar. Mereka akan segera mendarat dan melakukan penyelidikan menyeluruh di area ini."
Nenek Sri berdiri dengan cepat dan lancar, gerakannya jauh lebih lincah dan kuat dari yang diharapkan dari usianya. Ia berjalan ke arah mulut gua dengan langkah yang mantap, kemudian berbalik menghadap mereka. "Aku akan membantu kalian menyembunyikan jejak dan mengalihkan perhatian mereka. Tapi setelah ini, kalian harus pergi jauh dari sini—tidak bisa lagi tinggal di daerah sekitar Gunung Merapi. Ada sebuah komunitas kecil yang tinggal di lereng Gunung Lawu, jauh di sebelah timur sini—di sana kalian akan menemukan orang-orang yang bisa membantu kalian memahami kekuatan yang kalian bawa. Cari orang yang bernama Ki Ageng—dia adalah pemimpin komunitas itu dan juga pernah menjadi Wadah untuk kekuatan purba. Katakan saja Nenek Sri dari lereng Merapi mengirim kalian. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan."
Tanpa berlama-lama lagi, Nenek Sri mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Cahaya keemasan tipis namun kuat muncul dari liontin melati di lehernya, menyebar ke seluruh gua dan keluar hingga menyemburkan kabut putih tebal yang padat seperti kapas di sekitar area luar gua. Kabut itu menyebar dengan cepat, menutupi segala jejak yang mungkin ditinggalkan Dinda dan Bara serta membuat pandangan menjadi sangat terbatas. Suara helikopter mulai menjauh lagi, seolah pilotnya kehilangan arah dan memutuskan untuk menjelajahi area lain yang lebih jelas.
"Segera pergi! Sekarang juga!" teriak Nenek Sri dengan suara yang sudah mulai memudar karena kabut perlahan menyembunyikan dirinya. Ia menggerakkan tangan ke arah belakang gua dengan cepat. "Ada jalur lain yang keluar ke arah utara, melalui terowongan bawah tanah yang terbentuk akibat aliran lava kuno. Jalur itu akan membawa kalian keluar ke sebuah lembah yang aman. Jangan berbalik lagi ke sini dan jangan pernah memberitahu siapapun tentang lokasi gua ini!"
Dinda dan Bara tidak punya waktu untuk berterima kasih atau bertanya lebih jauh. Mereka hanya bisa mengangguk dengan penuh rasa terima kasih dan berlari ke arah bagian dalam gua, menemukan lorong kecil yang memang sudah disiapkan dan cukup besar untuk dilewati oleh orang dewasa. Dinding lorong yang licin menunjukkan bahwa jalur ini sering digunakan, mungkin oleh Nenek Sri sendiri selama bertahun-tahun. Di akhir lorong yang panjang sekitar dua ratus meter, mereka keluar ke sebuah lembah yang subur dengan tanaman hijau lebat dan sungai jernih yang mengalir dengan tenang.
Di kejauhan, langit mulai menunjukkan warna jingga muda yang indah—tanda bahwa matahari akan segera terbit menyapa dunia yang baru saja diselamatkan dari kehancuran. Mereka berdiri sejenak melihat ke arah Yogyakarta yang jauh di bawah, kota yang tampak damai dan tenang tanpa tahu betapa dekatnya mereka dengan kehancuran total beberapa saat yang lalu. Kemudian mereka melihat ke arah Gunung Lawu yang berdiri gagah dan tenang di kejauhan, tertutup kabut tipis yang memberikan kesan misterius. Beban di pundak mereka terasa lebih berat dari sebelumnya, membawa bukan hanya kekuatan primordial tapi juga harapan dari banyak orang yang telah membantu mereka. Tapi kali ini, mereka tidak merasa sendirian lagi.