Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gerimis tipis yang turun sejak petang menyelimuti distrik barat Ibu Kota Wilayah dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Di teras belakang paviliun kayu, rintik air yang menghantam dedaunan bambu menimbulkan suara kepat-kepit yang konstan, mempertegas kesunyian malam yang kian larut.
Zei baru saja melangkah keluar dari ruang meditasinya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan namun padat; latihan pengerasan instan pada teknik Transformasi Kulit Kuarsa miliknya telah mencapai titik kestabilan yang memuaskan.
Namun, alih-alih beristirahat, langkah kakinya terhenti ketika melihat sesosok bayangan yang duduk meringkuk di sudut teras yang tidak terjangkau cahaya lampu minyak.
Itu A-Lang. Sahabatnya itu duduk di atas lantai kayu yang dingin, kedua lututnya ditekuk erat ke dada. Di dalam pelukannya, terdapat selembar kain rami usang berwarna pudar yang dipenuhi noda lumpur kering yang telah lama mati—itu adalah kain pembungkus milik mendiang ibunya yang berhasil diselamatkan dari kotak desa.
Zei berjalan tanpa suara, lalu duduk di samping A-Lang. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menemani sahabatnya menatap rintik hujan yang jatuh membasahi tanah.
Kehadiran Zei yang tenang di sisinya justru menjadi celah runtuhnya bendungan emosional yang selama ini ditahan oleh A-Lang. Tubuh pemuda itu mulai bergetar samar, dan detik berikutnya, suara isak tangis yang tertahan pecah di tengah kesunyian malam.
"Zei... aku merindukan mereka," bisik A-Lang, suaranya serak, tenggelam bersama tetesan air mata yang mengalir deras membasahi kain rami di pelukannya. "Aku merindukan omelan Ibu di pagi hari... aku merindukan bau asap dapur gubuk kita, bahkan aku merindukan bau lumpur sawah yang dulu selalu kita keluhkan saat matahari sedang terik-teriknya."
A-Lang mencengkeram kain itu semakin erat, kepalanya tertunduk dalam.
"Nona Lin bilang aku berbakat. Kekuatan elemen kayu ular ini membuat orang-orang di asosiasi dagang menghormatiku. Tapi... untuk apa semua ini, Zei? Untuk apa aku menjadi kuat jika orang-orang yang ingin aku lindungi, orang-orang yang ingin aku buat tersenyum dengan tanaman obat ini... semuanya sudah terkubur di bawah tanah?"
Kesedihan A-Lang adalah cerminan dari kemanusiaan mereka yang tercabik-cabik. Mereka adalah dua anak petani yang dipaksa dewasa oleh kekejaman dunia kultivator.
Zei mendengarkan setiap bait duka sahabatnya dengan tatapan mata yang teramat dalam. Tidak ada lagi percikan amarah liar atau aura membunuh yang meledak-ledak di tubuh Zei. Mental pemuda itu telah bertransformasi sepenuhnya; ia telah menempa jiwanya melampaui batas kedukaan.
Jika A-Lang adalah pohon yang terguncang hebat oleh badai, maka Zei adalah gunung batu yang menjadi sandarannya.
Zei mengulurkan tangannya yang kekar, meletakkannya di atas pundak A-Lang yang bergetar. Kehangatan energi buminya mengalir lembut, memberikan rasa aman yang menenangkan meridian batin A-Lang.
"A-Lang, tatap aku," ucap Zei, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan kekuatan tekad yang absolut.
A-Lang perlahan mengangkat wajahnya yang sembap.
"Bumi tempat kita berpijak di Ibu Kota ini, adalah bumi yang sama yang membentang hingga ke perbatasan desa kita," tutur Zei, matanya menatap lekat seolah menyalurkan kekokohan jiwanya ke dalam diri A-Lang.
"Jasad orang tua kita, jasad para tetangga kita, mereka tidak hilang lenyap. Mereka telah kembali ke pelukan tanah murni. Setiap kali kau mengalirkan energi kayumu untuk menumbuhkan tanaman obat, tanah murni inilah yang memberinya nutrisi. Itu artinya, semangat hidup mereka kini mengalir di dalam darahmu, membantu setiap orang yang kau sembuhkan melalui tanganmu."
Zei mengepalkan tinjunya yang bebas, membiarkan segel emas di pergelangan tangannya berkedip redup.
"Mental kita tidak boleh runtuh oleh duka. Sekte Taring Emas mengira mereka bisa menghancurkan kita dengan melenyapkan tempat kita kembali. Mereka salah. Mereka justru telah memberikan kita alasan terbesar untuk berdiri di sini. Turnamen dua minggu lagi bukan hanya tempat untuk membalas dendam, tetapi tempat di mana kita akan mengubur keserakahan mereka di bawah tanah yang sama yang mereka noda."
Mendirikan bait demi bait dari filosofi hidup Zei yang sekokoh gunung purba, batin A-Lang yang sempat goyah perlahan kembali tegak. Kekuatan mental Zei yang luar biasa bertindak bagai tiang pancang yang menahan jiwanya dari kehancuran.
Isak tangis A-Lang perlahan mereda. Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu melipat kain rami ibunya dengan penuh penghormatan sebelum menyimpannya kembali ke balik baju.
"Aku mengerti, Zei," ucap A-Lang, tatapan matanya kini kembali fokus dan tajam, searah dengan tatapan Zei. "Aku tidak akan menangis lagi untuk hal yang sia-sia. Di turnamen nanti, obat-obatanku akan memastikan kau tetap berdiri, seberapa keras pun mereka mencoba menjatuhkanmu."
Zei mengangguk pelan. Keduanya bangkit berdiri bersisian di bawah rintik gerimis fajar, melakukan penghormatan spiritual sederhana ke arah luar kota—sebuah tanda pelepasan masa lalu mereka sebagai anak petani yang tak berdaya. Kini yang tersisa hanyalah dua kultivator yang siap mengguncang tatanan kekuasaan Ibu Kota.
Saat kembali ke dalam kamarnya yang sunyi, Zei duduk di atas ranjang untuk melanjutkan konsolidasi energinya. Di atas meja kayu di dekat jendela, selendang sutra putih milik Qian Yue’er tergeletak tenang.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, malam ini kain pusaka itu sama sekali tidak memancarkan hawa dingin ataupun getaran gaib. Kain itu benar-benar diam, mengunci seluruh rahasia pemilik aslinya dalam keheningan malam.
Zei menatap kain putih itu sesaat, mengagumi kelembutan kainnya yang kontras dengan kekerasan sarung tangan besinya, sebelum akhirnya ia menutup mata dan kembali tenggelam dalam kultivasi sunyi demi menyambut badai turnamen aliansi yang kian mendekat.