Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepastian
Bruk!
Mata Lea langsung berbinar saat melihat tumpukan tas bermerek yang memenuhi meja di depannya.
Ia segera menatap kakaknya dengan penuh antusias.
"Ini untuk aku, Kak?"
Leon mengangguk pelan, lalu duduk di sofa di sebelah adiknya.
"Tapi ini tidak gratis."
Seketika wajah Lea berubah cemberut.
"Sudah aku duga. Tidak mungkin kakak memberikan ini padaku secara cuma-cuma," ucapnya dengan nada kesal.
Leon hanya menatap datar tingkah adiknya.
"Tugasmu cukup sederhana."
Lea mengernyitkan kening.
"Tugas apa, Kak?"
"Kamu hanya perlu memastikan apa Alesha punya tanda lahir di pundaknya atau tidak," jawab Leon.
"Tanda lahir?"
Leon mengangguk.
"Kakak hanya ingin memastikan."
Lea terdiam sesaat. Tatapannya perlahan berubah serius.
Lalu ia menatap Leon.
"Apa ini berhubungan dengan gadis kecil yang selama ini kakak cari?" tanyanya pelan.
Leon mengangguk.
"Iya."
Jawabannya singkat seperti biasa.
Lea ikut mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan membantu. Tapi..."
Leon menatap adiknya dengan sorot mata menyelidik.
"Tapi apa?"
Lea langsung tersenyum lebar.
"Setelah aku berhasil, kakak harus membelikan aku tas keluaran terbaru lagi."
Dahi Leon langsung berdenyut.
"Lea, apa tas-tas ini tidak cukup?"
"Cukup, Kak. Tapi aku mau yang keluaran terbaru, edisi terbatas itu."
Lea segera duduk lebih dekat, lalu memperlihatkan layar ponselnya.
"Ini, Kak. Aku mau yang ini."
Leon melirik sekilas ke arah layar ponsel tersebut.
Beberapa detik kemudian matanya langsung menyipit melihat harganya.
"Lea, itu seharga mobil gue."
"Iya, aku tahu, Kak. Tapi ini cantik, lho."
Lea merengek sambil memeluk lengan kakaknya.
Leon mengembuskan napas berat.
"Kerjakan dulu tugasmu dengan benar, Lea."
"Soal itu mah gampang, Kak. Serahin saja ke aku."
Lea mengibaskan rambutnya dengan percaya diri, lalu mulai mengumpulkan satu per satu tas bermerek yang baru saja diberikan Leon.
"Bye, aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Lea langsung melangkah keluar ruangan dengan wajah cerah.
Leon hanya bisa memijat pelipisnya.
"Kalau gue tahu bakal begini, gue nggak akan buru-buru beliin tas itu," gerutunya pelan.
Leon menatap pintu yang baru saja tertutup.
Beberapa detik kemudian, suara langkah Lea menghilang dari koridor mansion.
Pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Satu tas lagi..." gumamnya pelan. "Lama-lama gue yang bangkrut."
Meski begitu, sudut bibirnya terangkat tipis.
Setidaknya, kini ada harapan untuk mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari.
Leon kembali mengambil berkas di atas meja.
Matanya tertuju pada foto Alesha saat masih kecil.
Gadis kecil dalam foto itu tersenyum cerah sambil memegang boneka lusuh di pelukannya.
Entah sudah berapa kali ia melihat foto itu hari ini.
Namun setiap kali melihatnya, dadanya selalu terasa sesak.
Tok!
Pintu ruang kerjanya kembali terbuka.
Kevin masuk tanpa permisi sambil membawa secangkir kopi.
"Lea sudah pergi?" tanyanya.
Leon mengangguk.
Kevin meletakkan kopi di atas meja.
"Gue nggak nyangka lo benar-benar nyuruh Lea menyelidiki tanda lahir Alesha."
Leon menatap datar sahabatnya.
"Itu satu-satunya tanda yang paling gue ingat."
Kevin terdiam.
Ia tahu betapa pentingnya hal itu bagi Leon.
Kevin masih ingat cerita itu. Bertahun-tahun lalu, Leon pernah bercerita tentang tanda lahir kecil di pundak gadis yang selalu ia cari.
Meskipun waktu telah berlalu bertahun-tahun, ingatan itu masih tertanam jelas di kepalanya.
"Gue harap kali ini bukan jalan buntu lagi," ucap Kevin pelan.
••••
Gedung pernikahan yang berada di pusat Kota Solvaro tampak ramai siang itu.
Helena dan Renata berjalan ke sana kemari sambil memperhatikan setiap detail persiapan. Sesekali keduanya berhenti untuk berdiskusi dengan pihak dekorasi dan wedding organizer.
"Bagian bunga di pelaminan itu diperbanyak sedikit, ya. Jangan terlalu kosong," ucap Helena sambil menunjuk salah satu sudut ruangan.
"Benar. Dan warna kainnya dibuat lebih cerah saja. Pernikahan itu harus terlihat meriah," timpal Renata antusias.
"Kalau soal makanan bagaimana?" tanya Helena.
"Tenang saja, Bu. Kami akan menyajikan makanan terbaik untuk para tamu."
Helena tersenyum puas.
"Syukurlah. Akhirnya Aldo akan menikah juga."
"Iya, Bu," sahut Renata sambil tertawa kecil. "Sebentar lagi aku akan punya ponakan."
Keduanya tampak begitu bersemangat membicarakan berbagai hal. Mulai dari dekorasi, susunan acara, hingga daftar tamu undangan.
Namun berbeda dengan mereka.
Aldo hanya duduk di salah satu kursi yang berada tidak jauh dari pelaminan.
Tatapannya menyapu ruangan yang masih dalam tahap persiapan itu tanpa benar-benar melihat apa pun.
Suara para pekerja yang berlalu-lalang terdengar samar di telinganya.
Meski duduk di sana, pikirannya sama sekali tidak berada di gedung itu. Keramaian, dekorasi mewah, dan wajah-wajah bahagia di sekitarnya terasa begitu jauh.
"Aldo."
Suara Helena membuatnya tersadar.
Aldo menoleh pelan.
"Iya, Bu?"
"Kamu kenapa? Dari tadi ibu lihat diam saja."
Aldo memaksakan senyum tipis.
"Nggak apa-apa, Bu."
Helena mengerutkan kening.
"Nggak apa-apa bagaimana? Besok hari pernikahanmu lho."
Helena menatap putranya dengan khawatir. Wajah Aldo terlihat lebih lelah dari biasanya.
Renata yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung ikut menimpali.
"Kakak harusnya bahagia. Sebentar lagi kakak akan menikah dengan pewaris pabrik."
Aldo tak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajahnya.
"Aku hanya capek," balasnya pelan.
"Lebih baik kamu pulang, Do. Ibu nggak mau kamu kenapa-napa besok di hari pernikahanmu," ucap Helena.
"Iya, Kak. Betul itu," tambah Renata sambil mengangguk setuju.
Aldo terdiam sesaat.
Mungkin ibunya benar. Kondisinya memang tidak terlalu baik sejak tadi.
"Biar ibu saja yang memantau di sini, kamu pulang saja," lanjut Helena.
Aldo menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Alesha."
"Astaga, Lea..."
Alesha memegang dadanya, terkejut saat melihat Lea sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
Lea tercengir lebar.
"Hehehe." Lea terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Ayo ikut aku."
Alesha mengernyit bingung.
"Ke mana?"
"Jalan-jalan."
Alesha langsung menggeleng pelan.
"Nggak bisa. Aku masih banyak kerjaan."
Lea mendengus.
"Kerjaan lagi, kerjaan lagi."
"Aku serius, Lea."
"Kerjaan kamu nggak akan habis, walaupun sampai besok, Sha."
Alesha menghela napas pelan.
"Mau bagaimana lagi, Sha. Kerjaan numpuk tuh."
"Besok saja lah kamu kerjakan. Kita jalan-jalan yuk."
"Tapi, Lea..."
"Tapi apa, Sha?"
Alesha terdiam sesaat, lalu berkata pelan.
"Aku belum gajian. Aku harus berhemat."
Lea langsung mengibaskan tangannya.
"Itu saja?"
Alesha mengerutkan kening.
"Itu saja bagaimana? Aku benar-benar belum gajian, Lea."
Lea justru tersenyum lebar.
"Tenang saja. Aku yang traktir."
"Hah?"
"Aku baru dapat bonus dari Kak Leon."
"Bonus?"
Lea mengangguk antusias.
"Iya. Dan aku lagi senang, jadi aku mau berbagi."
"Nggak usah, Lea."
"Harus."
"Lea..."
"Alesha..."
Keduanya saling tatap beberapa detik.
Lea lalu memajukan wajahnya.
"Kalau kamu nolak terus, aku akan berdiri di sini sampai jam pulang kerja."
Alesha langsung memegang keningnya.
"Kamu mengancam aku?"
"Iya."
Lea menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Alesha menghela napas panjang.
Pada akhirnya ia menyerah.
"Baiklah."
Wajah Lea langsung berbinar.
"Yess!"
—
Beberapa menit kemudian, keduanya berjalan berdampingan menuju lobi kantor.
Namun baru saja mereka tiba di sana, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.
Terutama pada Alesha.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
Itu Alesha lagi."
"Aku heran, kenapa Nona Lea bisa berteman dengannya."
"Iya. Padahal status mereka jauh berbeda."
"Mungkin dia sengaja memanfaatkan kebaikan Nona Lea."
"Kalau aku jadi dia, pasti malu."
"Orang miskin memang pintar cari kesempatan."
"Dasar nggak tahu diri."
"Dasar penjilat."
Alesha menundukkan pandangannya.
Tatapan-tatapan itu membuatnya tidak nyaman.
Seolah apa pun yang ia lakukan selalu menjadi bahan pembicaraan.
Lea yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya langsung menghentikan langkah.
"Alesha."
Alesha menoleh.
Lea menatapnya serius.
"Jangan takut pada mereka."
Alesha terdiam.
Lea menggenggam tangannya.
"Kalau mau takut, takut sama Tuhan saja, Sha."
Kalimat itu membuat Alesha sedikit tertegun.
Lea lalu tersenyum santai seperti biasa.
"Selama kamu nggak melakukan hal buruk, kenapa harus peduli sama omongan mereka?"
Perlahan sudut bibir Alesha terangkat.
"Kamu memang aneh."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
Lea tertawa riang.
—
Satu jam kemudian.
Keduanya sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan mewah di Kota Solvaro.
Lea berjalan penuh semangat sambil menarik tangan Alesha.
"Ayo cepat."
"Kita mau ke mana sebenarnya?"
"Beli baju."
Alesha langsung menghentikan langkahnya.
"Baju?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Lea menatapnya heran.
"Ya untuk dipakai lah, Sha."
"Lea, aku masih punya baju."
"Ya, terus?"
Alesha belum sempat menolak ketika Lea sudah lebih dulu menariknya masuk ke sebuah butik ternama.
Begitu masuk, mata Alesha langsung membulat.
Satu per satu label harga yang terpajang membuat jantungnya berdebar.
Tiga juta.
Lima juta.
Tujuh juta.
Delapan juta.
Alesha menelan ludah.
Satu baju ini bisa buat bayar kontrakan setahun... pikir Alesha dalam hati.
Sementara itu, Lea justru sibuk memilih pakaian.
"Yang ini bagus."
Lea mengambil satu blazer.
"Yang ini juga."
Satu lagi masuk ke lengannya.
"Oh, ini cocok buat kamu."
Alesha hanya bisa menatap tak percaya.
"Lea..."
"Hm?"
"Ini mahal."
Lea melihat label harga sekilas.
"Masih normal, kok."
Alesha hampir tersedak mendengarnya.
Normal dari mana?
Lea sudah mengumpulkan beberapa pakaian dalam waktu singkat.
"Nah."
Ia menyerahkan semuanya kepada Alesha.
"Coba."
Alesha menatap tumpukan pakaian itu.
"Semuanya?"
Lea mengangguk mantap.
"Semuanya."
"Ini banyak sekali."
"Nggak banyak."
Alesha menghitung sekilas.
Ada hampir delapan set pakaian di tangannya.
Lea kemudian mendorong pelan punggung Alesha a ke arah ruang ganti.
"Ayo masuk."
Dengan pasrah, Alesha melangkah masuk sambil membawa tumpukan pakaian di tangannya.
Namun belum sempat ia menutup pintu, Lea sudah lebih dulu menyelinap masuk.
"Lea!"
Lea tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Cepat ganti."
"Kamu kenapa ikut masuk?"
"Karena aku yang memilih bajunya."
Lea merebut salah satu pakaian dari tangan Alesha lalu menunjukkannya dengan bangga.
"Kalau hasilnya jelek, aku harus tahu letak kesalahannya di mana."
Alesha menatap sahabatnya tidak percaya.
"Memangnya aku manekin?"
"Kurang lebih."
"Lea."
Lea tertawa kecil.
"Sudah, jangan banyak protes. Aku mau lihat yang warna krem dulu."
Alesha akhirnya pasrah. Ia mulai mengganti baju satu per satu.
Lea membantu Alesha, sekaligus ingin memastikan sesuatu.
"Aku bantu, Sha."
Lea membantu menarik resleting gaun Alesha dari belakang hingga pundak wanita itu terlihat jelas.
Gerakan tangan Lea mendadak berhenti.
Matanya terpaku pada pundak Alesha.
Di sana, tepat seperti yang pernah diceritakan Leon, ada sebuah tanda lahir kecil.
Mata Lea membulat.
Tangan Lea langsung menutup mulutnya.
Matanya membulat tidak percaya.
Lea menelan ludah.
Dadanya berdebar tidak karuan.
Jadi benar...
Selama ini Alesha adalah gadis yang dicari kakaknya.
Gadis yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam cerita dan pencarian tanpa akhir.
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁