Clara seorang gadis cantik yang terpupuler dikampusnya, hidupnya bagaikan seorang pemeran sinetron yang mempunyai lika-liku dan masalah kehidupan yang tidak ada habisnya, pacarnya menghiantinya dan akhirnya dia harus rela menikahi orang yang tidak dia cintai demi bertahan hidup. Bagaimana kisah selanjutnya..? Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Suamiku Bossku
Hari penikahan telah tiba. Ini pertama kalinya Clara bertemu dengan Cakra diruang ganti setelah hampir sebulan mereka berpisah. Clara terlihat canggung karena Cakra menunjukkan sifat yang berbeda kali ini. Cakra tidak tersenyum ataupun berbicara padanya entah apa yang membuatnya begitu dingin kepada Clara. Setelah mereka sah menjadi sepasang suami istri dihadapan pemuka agama akhirnya acara dilanjutkan.
"Tabiatnya memang seperti itu.. Sifatnya itu selalu susah ditebak." Clara mengeluh dalam. hati melihat Cakra sudah berpakaian lengkap.
Waktunya telah tiba. Clara dan Cakra berjalan masuk kedalam gedung yang bernuansa putih dengan dekorasi yang sangat mewah. Semua tamu menatap kagum melihat kedua pengantin yang tampak begitu serasi. Bak seorang Raja dan Ratu yang sedang berjalan ditengah kerumunan rakyatnya. Clara melayangkan senyuman penuh kepalsuan ditengah kerumunan orang yang menatapnya.
Clara menggandeng tangan Cakra sampai di pelaminan. Kedua orang tua mereka duduk mendampingi mereka. Cakra masih saja tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
**********************************************
Setelah acara telah selesai dilaksanakan Cakra dan Clara menginap dihotel bintang lima milik papinya. Clara masuk diantar oleh pelayan hotel sedangkan Cakra tidak ikut bersamanya. Selesai acara pernikah Cakra langsung berpamitan kepada maminya karena ada urusan mendadak yang perlu diselesaikan saat itu juga.
Clara sudah berada didalam kamar yang begitu mewah dia duduk disofa dan menghidupkan TV. Clara yang merasa bosan akhirnya merebahkan tubuhnya diatas kasur sampai dia tertidur dengan lelapnya.
Pagi hari Clara sudah membuka matanya dia melihat disampingnya ternyata Cakra belum datang dari semalam. Clara yang bingung akan melakukan apa akhirnya memutuskan untuk mandi dan akan keluar dari dalam hotel.
Cukup lama Clara berendam dengan fasilitas hotel yang begitu memanjakannya. Clara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan berjalan menuju lemari pakaian.
"Apakah kamu sudah siap...?" Suara Cakra membuatnya terkejut dan hampir berteriak.
"Sejak kapan mas Cakra berada disini...? Bukannya pintu itu terkunci..? Mas tidak melihatku berganti pakaiankan.?" Clara sangat terbata-bata berbicara dengan melototi Cakra yang berada ditempat tidur.
"Aku melihat semuanya." Cakra menjawab santai dan masih memandang tubuh Clara.
"Apa..? Mengapa mas menatapku seperti itu..? Clara menutup dadanya karena tatapan tajam Cakra.
Cakra turun dari tempat tidur dan mendekati Clara yang masih berdiri didepan lemari.
"Hei.. tunggu mas mau apa..? mas jangan mendekat aku akan berteriak sekuat mungkin." Clara berusaha mundur sampai badannya tersandar dilemari pakaian karena Cakra semakin mendekatinya.
"Berteriaklah...! Orang-orang akan menertawaimu.." Cakra menyandarkan tangannya dilemari dan mendekatkan wajahnya kepada wajah Clara.
Cakra akhirnya mengangkat tubuh Clara ke atas tempat tidur. "Mas mau apa..? Please mas jangan lakukan itu, aku belum siap mas." Clara terlihat sangat ketakutan dengan perlakuan Cakra padanya.
"Baiklah aku menunggu sampai kamu siap." Akhirnya Cakra menjatuhkan tubuhnya berbaring disamping Clara.
"Mas bukannya kita sudah sepakat tidak akan melakukan itu." Clara mengigit bibirnya.
"Aku lupa pernah mengatakan itu." Cakra menatap langit-langit kamar dan terlihat wajahnya sangat kesal dengan penolakan Clara.
"Mas marah padaku..?" Clara menyadari ekspresi wajah Cakra yang begitu datar padanya.
"Tidak..!" Jawab Cakra singkat.
"Maafkan aku mas, aku hanya melindungi diriku. Aku takut melakukan itu karena mas Cakra akan meninggalkanku dan akan kembali bersama mba Felysha." Clara begitu polos berbicara kepada Cakra yang masih memalingkan wajahnya darinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Clara.." Cakra kembali menatap Clara.
Clara sedikit lega mendengar perkataan Cakra, Cakra kemudian kembali mendekap tubuh Clara dengan erat. Clara hanya bisa pasrah dengan perlakuan Cakra padanya. Clara berusaha menenangkan pikirannya sekarang dengan berpikir toh mereka sudah sah menjadi suami istri walapun sebenarnya dia sangat khawatir tentang masa depannya bersama Cakra.