"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Siang itu, udara di rumah besar milik Rama terasa teduh, namun ada ketegangan halus yang menggantung di dalamnya. Rava duduk di kursi ruang tamu, tongkat di sampingnya, sementara Cantika sibuk menata koper dan barang-barang kecil. Ia tampak cerah, meski matanya sesekali melirik ke arah tangga.
Suara langkah pelan terdengar. Citra muncul di ambang pintu, masih mengenakan kemeja putih dan celana panjang krem. Rambutnya digerai sederhana, wajahnya tampak tenang—terlalu tenang, hingga membuat suasana mendadak kaku.
Rava segera berdiri, berusaha menahan rasa gugupnya. “Citra…” sapanya pelan. “Sudah lama ya.”
Citra berhenti sejenak."Mama. panggil saya Mama."Tatapan matanya singkat, datar, tapi tidak dingin—lebih seperti seseorang yang sedang berusaha menahan banyak hal di dalam diri. “Selamat datang, ya Rava,” katanya lirih namun tegas. Ia lalu menoleh sebentar pada Cantika. “Kalian pasti capek. Kamar sudah disiapkan, sebelah ruang tamu. Kalau perlu apa-apa, panggil Mbak Narti.”
Tanpa menunggu balasan, Citra berbalik dan menaiki tangga perlahan. Suara langkahnya terdengar lembut tapi pasti, hingga akhirnya hilang di balik pintu atas.
Rava terpaku, menatap punggung wanita yang dulu sangat ia cintai. Bibirnya bergerak ingin memanggil, tapi tertahan. Ia tahu—Citra tidak ingin bicara lebih jauh.
Cantika, yang sejak tadi memperhatikan, menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi sinis. “Sombong banget, ya. Baru bilang ‘selamat datang’, terus pergi begitu aja. Bener-bener kayak nyonya rumah. Padahal dia kan cuma istri. Yang punya rumah tetap Papa Rama?”
“Apa maksud ucapanmu itu, Tik…” potong Rava pelan.
“Tapi kan bener,” Cantika menukas cepat. “Aku lihat caranya tadi—kayak mau bilang, ‘ini wilayahku’. Padahal kalau Papa Rama nanti sudah bosan dan tau gimana sifatnya… ya, kamu tahu sendiri, dia cuma istri, bukan darah keluarga. Bisa aja diusir dari sini kalau mereka bercerai.”
Rava menarik napas panjang. “Aku nggak mau bahas itu.”
Cantika memutar bola matanya, tapi akhirnya diam. Ia tahu, dalam urusan Citra, suaminya selalu bicara dengan nada lembut—terlalu lembut, seolah masih menyimpan sisa rasa.
Di lantai atas, Citra menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia berdiri lama di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Air matanya hampir jatuh, tapi segera ia hapus dengan cepat.
“Tidak, Citra,” gumamnya pada diri sendiri. “Kamu yang mengizinkan mereka tinggal. Jangan jadi lemah sekarang.”
Ia melepas kemejanya, berjalan masuk ke kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, membantu menghapus beban pikiran yang menumpuk sejak pagi. Tapi dalam hati, ada satu hal yang terus bergema—tatapan Rava saat menyapanya tadi. Tatapan yang sama seperti dulu, saat mereka terakhir bertemu dengan air mata dan penyesalan.
“Dia yang datang, bukan aku yang mencari,” bisiknya lirih sambil memejamkan mata di bawah pancuran air. “Kalau dia mau tinggal di sini… biar dia tahu rasanya melihat aku bahagia.”
Senyum kecil muncul di bibirnya. Ia sudah punya rencana—ia akan membuat Rava panas dengan memperlihatkan betapa mesranya hubungan dirinya dengan Rama.
Sore menjelang malam. Citra berdiri di depan lemari, mengenakan gaun berwarna merah marun yang lembut namun mencolok di bawah cahaya lampu. Rambutnya disisir rapi, diberi sedikit parfum. Ia melihat dirinya di cermin dan tersenyum puas. “Cukup,” katanya pelan. “Cantik tapi tetap elegan.”
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman. Citra segera menuruni tangga dengan langkah ringan.
Rama baru saja masuk, menenteng setangkai bunga mawar putih di tangannya. “Cit…” suaranya lembut, seperti biasa. Tapi ketika ia melihat istrinya muncul, matanya membesar kagum. “Wah, istriku cantik banget malam ini.”
Citra tersenyum manja. Ia menghampiri, lalu langsung memeluk Rama erat. “Kamu pulang tepat waktu. Aku kangen.”
Rama tertawa kecil, membalas pelukannya. “Aku juga, Cit. Maaf nggak sempat kabarin kalau bakal agak malam.”
“Yang penting Pak Rama pulang.” Citra menatap wajah suaminya, lalu mencium pipinya dengan lembut. “Bunganya buat aku?”
“Siapa lagi,” jawab Rama sambil menyerahkan bunga itu. “Aku lihat di jalan, langsung kepikiran kamu.”
Citra tersenyum makin lebar. “Kamu romantis banget, Pak.”
“Kalau istrinya secantik ini, siapa yang nggak romantis?” goda Rama, lalu mengangkat tubuh Citra sedikit ke dalam pelukan, membuat wanita itu menjerit kecil sambil tertawa.
“Pak! Awas jatuh!”
“Tenang aja, aku masih kuat kok,” balas Rama, lalu mengecup keningnya, hidungnya, hingga bibirnya dengan penuh kasih.
Tawa mereka mengisi ruang tengah, menggema lembut di antara lampu-lampu yang menyala hangat.
Namun dari sudut ruang, di balik dinding pilar, seseorang berdiri diam.
Rava.
Ia menyaksikan semua itu tanpa suara, dadanya sesak. Setiap tawa Citra terasa seperti pisau kecil yang menggores hati. Ia tahu Citra bahagia, tapi melihat kebahagiaan itu di pelukan ayahnya sendiri… sungguh menyakitkan.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, tapi wajahnya tetap datar saat Cantika muncul dari kamar. “Va, kamu udah minum obat?”
Rava menoleh cepat, menghapus ekspresi sedih yang sempat muncul. “Udah, Tik.”
Cantika menatap arah pandang suaminya. Begitu melihat Citra dan Rama masih tertawa mesra di ruang tengah, ia mendengus pelan. “Lihat, kan? Nyonya rumah banget gayanya.”
Rava tak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan napas panjang, berusaha menelan getir yang menyesakkan dada.
Malam turun perlahan, membawa keheningan yang ganjil. Di balkon lantai atas, meja makan kecil sudah disiapkan dengan lilin dan dua gelas anggur. Citra duduk berhadapan dengan Rama, wajahnya tampak berseri.
“Bunga tadi aku taruh di vas selasar dekat tangga, biar harum semerbak,” ujarnya lembut sambil menuang minuman.
Rama tersenyum. “Kamu selalu tahu cara bikin rumah ini terasa hidup, Cit.”
“Karena Bapak sumber hidupnya,” jawab Citra menggoda.
Rama tertawa kecil. “Aduh, bisa aja kamu.” Ia meraih tangan Citra di atas meja, menggenggamnya erat. “Aku bersyukur banget kamu ada di sisiku.”
Citra membalas genggamannya, menatap mata Rama dalam-dalam. “Aku juga, Pak. Aku cuma mau kamu bahagia. Selalu.”
Di bawah balkon, dari jendela kamar lantai bawah, Rava duduk di kursi roda, menatap ke atas. Dari posisinya, ia bisa melihat bayangan dua orang itu tertawa bersama di bawah sinar lilin.
Citra bersandar ke bahu Rama, sementara tangan pria itu membelai rambutnya penuh kasih.
Rava memejamkan mata. Dada kirinya nyeri, bukan karena luka di kaki—tapi luka lama yang tiba-tiba terasa hidup kembali.
Ia sadar, malam-malam berikutnya akan panjang.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus belajar terbiasa… melihat Citra mencintai pria lain—ayahnya sendiri.
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭