Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sepi dikeramaian
Gerbang taman hiburan berdiri megah dihadapan Maara, dihiasi lampu warna-warni yang menyala meski matahari belum sepenuhnya tenggelam.
Suara tawa anak-anak, sorak-sorai pengunjung yang naik wahana tinggi serta alunan musik ceria terdengar menggema dimana-mana.
Maara melangkah pelan sendirian, membawa hati yang hancur lebur.
Hari yang sama dengan dua aktivitas berbeda dari sepasang manusia yang masih terikat tali pernikahan.
Revan si suami asik berbahagia dengan keluarga baru dan pasangan barunya di pelaminan dan pesta mewah sementara Maara, si istri siri memilih menyembunyikan luka di sebuah tempat taman bermain.
Sejak semalam, Maara tak bisa tidur.
Pikirannya terus memaksa untuk mengintip postingan sosial media milik Laura.
Dan tadi pagi, dengan seluruh keberanian yang Maara miliki, dia meminta supir taksi untuk menuju hotel dimana pesta Revan diadakan yang ia dapat alamatnya dari postingan Laura.
Maara hanya bisa melihat dari balik kaca mobil suasana pesta yang ia tebak pasti ramai karena terbukti dengan papan ucapan yang berbaris disepanjang hotel lokasi pesta.
Hati Maara mencelos saat membaca salah satu papan ucapan selamat yang tertera nama Revan Adiyasa dan Laura Nugraha.
Mata Maara bahkan tanpa sengaja menangkap sosok Mira yang tempo hari menangis bersimpuh dihadapannya dan kini justru tertawa bahagia seolah-oleh tangisannya yang kemarin hanyalah sebuah pelengkap aktingnya.
Maara tertawa pelan atau lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang begitu diinjak harga dirinya oleh orang-orang itu.
"Pak, kita ke taman hiburan saja" pinta Maara pada supir taksi setelahnya.
Dan disinilah kini Maara berada.
Tempat yang selalu dia datangi ketika hatinya tak lagi bisa ditenangkan.
Maara melirik satu permainan yang cukup menguras adrenalin.
Menarik nafas panjang sejenak seakan sedang mempersiapkan diri.
Dia merogoh tas dan mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
"Ayo Maara... Kita bersenang-senang... " gumamnya.
Maara melangkah menuju loket tiket dan memesan satu untuknya.
Lagi, dia menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Mengumpulkan semua keberanian dirinya.
Roller coaster jadi tempat dirinya melepas semua sakit yang menghimpit dada.
Dengan berteriak saat benda itu turun melaju dijalurnya, Maara ingin melepas semua yang tak bisa dia ungkapkan.
"Aaaaaaaaaaaa...."
Semua berteriak termasuk Maara.
Maara benar-benar melepas semua dengan teriakannya hingga kerongkongannya kering dan sedikit perih hingga permainan selesai.
Langkahnya gontai mengarah ke sebuah outlet menjual makanan dan minuman.
"Air mineralnya 1" pintanya pada salah satu penjual.
Meneguk hingga setengah isi botol sudah bisa melepas dahaganya.
"Uupssss...." keluh seseorang yang baru saja menabrak kakinya.
"Eh... Kamu nggak pa-pa? Maaf ya, aku nggak lihat kamu" ringis Maara membantu seorang anak kecil yang menabraknya.
Seorang gadis kecil sedang meringis dengan memegangi b*kongnya yang sakit.
Maara berjongkok dan membantunya berdiri.
Sebuah senyum manis dia dapatkan dari gadis berkepang dua itu.
"Aku yang salah tante karena nggak lihat-lihat jalan..." Dia melirik hijab Maara yang sedikit basah karena ketumpahan air "Itu... Kerudung tante jadi basah.. Maafkan aku tante.. Aku nggak sengaja..." ucapnya hampir menangis.
"Eh... ini nggak pa-pa... Bentar lagi pasti kering kok...Jangan nangis ya...Ayo, kita kesana" Maara membawa gadis manis itu duduk disebuah bangku panjang.
Kepalanya tertoleh kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang.
"Orangtua kamu dimana? Kamu terpisah dari mereka?"
Gadis kecil itu masih tertunduk dan menggeleng lemah.
"Oma sedang ke toilet dan mbak Tini lagi beli ice cream.... Aku tadi cuma mau kejar badut" ujarnya.
"Oh... Kalau gitu, kamu tunggu disini, siapa tahu nenek kamu atau yang kenal sama kamu bisa lihat... " usul Maara yang juga ikut duduk disamping gadis kecil itu.
Mata bulat nan polos gadis kecil melirik Maara dari ujung kepala hingga kaki.
"Tante... Tante nggak panas pakai ini?" tanyanya tiba-tiba soal penampilan Maara.
Maara tersenyum manis karena dia sudah sering mendapat pertanyaan itu dari orang-orang disekelilingnya.
"Nggak...Justru tante aman dengan memakai ini..." jawabnya.
"Ooohhh...Oma juga pakai tapi nggak kayak gini. Cuma diletak atas kepala dan dilingkar dileher kayak Fifi pakai kalung" ujarnya polos.
Maara paham maksud gadis kecil itu.
"Fifi?" beo Maara.
"Hmmm... Fifi...." angguk gadis kecil itu.
"Fifi itu nama bonek barbie aku, hadiah dari papa... Lucu deh dia pakai selendang warna pink terus pakai gaun panjang... Nanti aku kenalin deh sama tante cantik..." celoteh gadis kecil itu hingga membuat Maara tak tahan ingin mencubit pipinya yang tembem.
"Tante sendirian? Nggak sama papa mama?" tanya si gadis kecil lagi.
"Hmmm.. Tante sendirian...." Maara mengangguk kecil..
Wajah si gadis kecil terlihat murung dengan kepala menunduk.
"Kita sama tante... Mama aku udah disurga dan papa aku sibuk dengan kerjaannya dan jarang main sama aku..." ucapnya menundukkan wajah sedih.
Maara melirik jari-jari kecil yang sedang memainkan rok jeans yang ia kenakan.
Senyum kecil terkembang dibibir Maara ketika dirinya memperhatikan penampilan si gadis kecil yang cukup modis.
Rambut panjang ikalnya diikat 2 bak tanduk kuda. Kaosnya bergambar kartun dari salah satu tokoh kesukaan Maara waktu kecil yakni kuda poni ditambah rok jeans sepanjang lutut, lalu sepatu sport warna putih begitu pas dikakinya yang bersih.
Pemilihan fashion yang stylish menurut Maara untuk ukuran anak kecil.
"Lolii....Loli.. Kamu dimana??" sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya.
"Mbak Tini... Sini..." lambai si gadis kecil pada seseorang yang setengah berlari kearah mereka.
"Kan udah mbak bilang jangan kemana-mana, kok non Loli bandel banget sih... Kalau oma tahu, beliau bisa marah.... Ayo kita pulang...!" ujar perempuan yang Maara taksir berusia sekitar 20 tahunan karena wajah yang masih belia. Perempuan itu menyentak kasar lengan kecil gadis yang dipanggilnya non Loli.
"Sakit mbak... Loli minta maaf... Tadi Loli cuma mau kejar om badut..." ringis si gadis kecil memberi pembelaan pada dirinya.
"Ya makanya nurut! Kan udah mbak Tini bilang jangan jauh-jauh! Kalau non Loli hilang, nanti mbak Tini lagi yang disalahin oma dan papa!" ujar si mbak jengkel tapi tak melepas cekalan tangannya di pergelangan kecil yang terlihat memerah karena kulitnya yang putih bersih.
Maara makin meringis melihat perlakuan pengasuh gadis kecil itu.
"Maaf mbak... Jangan kasar gitu dong sama anak kecil. Kan dia udah minta maaf...." ujar Maara yang kemudian menyusul.
"Anda siapa? Jika anda tidak tahu tingkahnya jangan sok membelanya! Aku yang sehari-hari dengannya jadi tahu mana yang terbaik untuknya... Ayo kita pulang! Oma udah tunggu di mobil!"
Bukannya minta maaf, perempuan muda itu justru menarik lengan Loli semakin kasar.
"Loli pamit ya.. Terimakasih tante..." teriaknya diiringi lambai tangan sopan kearah Maara.
Gadis kecil itu bahkan hampir jatuh karena ditarik cukup kasar oleh perempuan berpakaian biru muda itu.
"Kasar banget sih. Kan dia kesakitan" gumam Maara meringis jengkel yang hanya bisa melihat dikejauhan.
Maara masih memperhatikan gadis kecil itu yang kemudian dihampiri oleh wanita paruh baya yang langsung memeluknya.
"Oma...." teriak Loli setengah berlari kearah neneknya.
"Cucu oma... Kamu kemana nak? Oma khawatir...." ujarnya membalas pelukan Loli.
"Maafkan Loli karena udah buat oma khawatir. Tadi Loli ketemu tante cantik yang kerudungnya panjang dan Loli diajak ngobrol...." kisahnya kepada sang nenek.
Wanita paruh baya itu mendongak kepada pengasuh Loli.
"Siapa Tin? Orang jahat kah?" tanyanya.
"Nggak tahu Bu... Tadi memang saya temukan non Loli lagi duduk ngobrol sama perempuan pakai kerudung panjang gitu tapi saya nggak tanya namanya..." jelas Tini.
"Tante baik oma..." bela Loli.
"Ya sudah...Syukurnya kamu nggak kenapa-napa... kita pulang yuk, papa udah jemput..." ujar wanita itu tidak lagi memperpanjang persoalan.
Ketiganya sepakat meninggalkan area bermain karena memang hari yang sudah mulai sore.
Begitupun dengan Maara yang melangkah meninggalkan taman bermain untuk mencari mesjid atau mushala terdekat untuk dirinya menunaikan kewajiban.
Bersambung....