NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sisi hangat di balik celemek

Keheningan yang mendebarkan di area dapur bersih itu baru mencair setelah Mas Arkan perlahan menarik kembali tangannya dari pipiku. Ia berdeham pendek sekali, lalu memalingkan wajahnya sedikit ke arah rak piring—mencoba menyembunyikan rona merah samar yang mendadak muncul di sekitar tulang pipinya yang tegas.

"Kamu... belum makan malam, kan?" tanyanya, beralih topik dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin untuk menetralisir kecanggungan di antara kami.

"E-eh, belum, Mas. Rencananya tadi Karin cuma mau bikin mi instan pakai telur saja," jawabku jujur, merapikan letak rambut panjangku ke belakang pundak dengan gerakan tangan yang tidak kalah kaku.

Mendengar kata "mi instan", Mas Arkan langsung menoleh kembali ke arahku dengan dahi yang berkerut dalam. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi, persis seperti saat ia menemukan kesalahan fatal dalam baris kode program mahasiswanya di kampus.

"Mi instan tidak mengandung nutrisi yang cukup untuk tubuh kamu, Karin. Apalagi kamu sedang dalam masa bimbingan skripsi yang menguras banyak energi pikiran," omelnya tegas sembari berjalan mendekati kulkas dua pintu di sudut dapur. "Mulai malam ini, kurangi konsumsi makanan instan seperti itu selama saya ada di rumah."

"Tapi kan praktis, Mas..." gumamku lirih, membela diri dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.

Mas Arkan tidak menanggapi gerutuanku. Ia membuka pintu kulkas, lalu mengeluarkan wadah berisi fillet dada ayam yang sudah kami potong-potong kemarin malam, seikat brokoli hijau segar, wortel, dan beberapa siung bawang putih serta bawang bombay.

Dengan gerakan yang sangat efisien, ia menyampirkan sebuah celemek kain berwarna abu-abu gelap di lehernya, lalu mengikat tali celemek tersebut di pinggang tegapnya dengan sangat rapi.

Melihat sosok dosen killer bergelar magister teknik yang biasanya berdiri tegak di depan mimbar kelas, kini sedang sibuk memakai celemek abu-abu di dapur apartemen kami, membuatku harus berjuang setengah mati menahan tawa geli yang menggelitik di dalam dada.

"Kenapa tersenyum lagi?" Mas Arkan melirikku dengan satu alis yang terangkat naik sembari mulai mengupas bawang putih di atas talenan kayu.

"Nggak apa-apa, Mas. Karin cuma baru tahu kalau dosen pembimbing Karin ternyata jago banget pakai celemek dapur," gurauku berani, mengambil posisi duduk di kursi meja makan tinggi tepat di seberangnya.

"Memasak adalah keterampilan dasar hidup yang harus dikuasai oleh siapa saja, tidak peduli apa profesi atau jenis kelaminnya," sahut Mas Arkan tenang, mulai mencincang bawang putih dengan ketukan pisau yang sangat berirama dan rapi di atas talenan. "Saat kuliah di luar negeri dulu, saya terbiasa menyiapkan makanan sendiri agar bisa menghemat pengeluaran bulanan."

Aku menopang daguku dengan kedua tangan di atas meja marmer, memperhatikan dengan seksama bagaimana Mas Arkan memotong wortel membentuk irisan tipis yang seragam. "Mas Arkan hebat ya. Bisa mandiri banget semenjak muda."

"Kamu juga mandiri, Karin," ujar Mas Arkan tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut mendengarnya. Ia menghentikan gerakan pisaunya sejenak, menatapku dengan sorot mata yang sangat teduh di balik kacamata bacanya yang kini sudah terpasang kembali di hidung kokohnya. "Kamu merawat Ibu kamu sendiri, mengurus administrasi rumah sakit yang rumit, dan di saat yang sama tetap berusaha keras menyelesaikan kuliah tepat waktu. Itu... bukan hal yang mudah dilakukan oleh anak seusia kamu."

Mendengar pujian tulus yang keluar langsung dari bibirnya, hatiku mendadak terasa begitu penuh. Rasa dihargai dan dipahami oleh seseorang yang kini menyandang status sebagai suamiku memberikan kekuatan baru yang sangat luar biasa di dalam dadaku.

"Terima kasih, Mas... pujian dari Mas Arkan rasanya lebih berharga daripada nilai A di kelas Basis Data," sahutku sembari menyengir lebar, mencoba mencairkan suasana haru yang mulai terasa pekat lagi.

Mas Arkan mengeluarkan kekehan rendah mendengar celetukanku. "Jangan senang dulu. Nilai bimbingan skripsi kamu tetap akan saya evaluasi secara objektif. Tidak ada hak istimewa di kampus hanya karena kita tinggal di bawah atap yang sama."

"Ih! Mas Arkan mah beneran tega banget ya!" gerutuku pura-pura kesal sembari mengerucutkan bibirku, membuat Mas Arkan kembali tersenyum tipis sebuah senyuman hangat yang kini mulai sering ia tunjukkan hanya saat kami sedang berada di dalam apartemen unit 1507 ini.

Beberapa menit kemudian, aroma wangi tumis ayam mentega dan sup sayuran hangat yang gurih mulai menguar memenuhi seluruh sudut dapur bersih kami. Mas Arkan menyajikan hasil masakannya di atas dua piring keramik putih dengan tatanan yang sangat rapi dan estetis seolah-olah kami sedang makan di restoran berbintang, bukan di dapur apartemen biasa.

"Silakan dimakan, Karin," ujar Mas Arkan sembari meletakkan sendok dan garpu di sebelah piringku.

"Wah, kelihatan enak banget, Mas! Selamat makan!" seruku bersemangat, langsung menyuapkan sesendok tumis ayam mentega ke dalam mulutku.

Rasa gurih, manis, dan aroma bawang putih yang pas seketika memanjakan lidahku. Daging ayamnya terasa sangat empuk dan bumbunya meresap sempurna hingga ke bagian terdalam.

"Gimana? Rasanya pas?" tanya Mas Arkan, menatapku penuh harap dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit canggung menunjukkan sisi manusianya yang khawatir jika masakannya tidak sesuai dengan seleraku.

"Enak banget, Mas! Serius, ini jauh lebih enak daripada tumis ayam di warteg depan kosan Karin!" ujarku antusias dengan mata yang membelalak lebar, mengacungkan ibu jari tangan kananku tinggi-tinggi ke arahnya.

Mendengar penilaian jujurku, ketegangan di wajah Mas Arkan seketika mencair sepenuhnya. Ia mengembuskan napas lega yang sangat halus, lalu mulai menyantap bagian makanannya sendiri dengan gerakan yang sangat sopan dan tenang.

Malam itu, kami menghabiskan makan malam bersama dengan sangat lahap diiringi oleh obrolan-obrolan santai tentang hobi kami masing-masing yang selama ini tidak pernah saling kami ketahui. Di dalam kesunyian dapur apartemen ini, aku mulai menyadari bahwa setiap detiknya, jubah dosen killer yang kaku dan dingin itu perlahan-lahan mulai runtuh di mataku, digantikan oleh sosok pria luar biasa hangat bernama Arkananta yang kini sedang mengisi seluruh relung hatiku dengan getaran-getaran manis yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Setelah suapan terakhir, aku berinisiatif untuk mengumpulkan piring kotor kami. "Biar Karin yang cuci piringnya malam ini, Mas. Kan Mas Arkan sudah capek memasak."

Mas Arkan sempat ingin menolak, namun aku dengan cepat menyambar piring-piring tersebut dan membawanya ke wastafel. Sambil bersenandung kecil, aku mulai membasuh piring dengan spons berbusa melimpah.

Tanpa kusadari, Mas Arkan tidak langsung beranjak ke ruang tengah. Ia berdiri tidak jauh di sebelahku, menyandarkan tubuhnya pada konter dapur sembari melipat tangan di dada. Matanya yang teduh memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan tatapan yang sangat lekat dan dalam.

"Karin," panggilnya lembut.

"Iya, Mas?" sahutku tanpa menoleh, masih fokus membilas piring di bawah kucuran air bersih.

"Terima kasih untuk hari ini. Keberadaan kamu di sini... ternyata membuat apartemen yang biasanya terasa sangat sunyi dan dingin ini menjadi jauh lebih hidup."

Kalimat sederhananya itu seketika membuat gerakanku terhenti. Aku menoleh perlahan dengan sisa busa sabun yang masih menempel di tanganku. Di bawah temaram lampu dapur, senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajah tampannya. Jantungku kembali berulah, berdegup sangat kencang hingga rasanya gaungnya bisa terdengar di seluruh penjuru ruangan sunyi ini.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!