Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Bab 1 : Anak yang Menanggung Langit Retak

Di Kota Langit Biru, di bawah bayang-bayang Pegunungan Cang Lei yang sepanjang tahun diselimuti kabut tebal, berdirilah sebuah klan kultivasi yang pernah berjaya selama beberapa generasi—Klan Lin.

Nama itu dahulu disegani oleh banyak orang.

Leluhur mereka, Lin Tianhao, pernah mencapai tingkat Jiwa Baru Lahir Puncak dan memimpin kemenangan besar melawan Ras Iblis di Lembah Batu Hitam. Pada masa itu, panji-panji Klan Lin berkibar dengan gagah, sementara setiap anggota klan hidup dalam kebanggaan yang tak pernah mereka ragukan.

Namun kejayaan itu telah lama memudar.

Kemuliaan yang dahulu begitu terang kini hanya tersisa sebagai kenangan yang perlahan dilupakan.

Dan Lin Chen, cicit sang leluhur, menjadi bukti paling nyata dari kemunduran tersebut.

Pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Sebelum fajar menyingsing, Lin Chen sudah duduk bersila di kamarnya yang sederhana di sayap timur kediaman klan. Seperti biasa, ia kembali mencoba melakukan hal yang sama.

Bermeditasi.

Menyerap energi langit dan bumi.

Membuka jalur energi dalam tubuhnya, namun hasilnya tetap tidak berubah.

Rasa sakit yang tajam menusuk dari dalam dadanya setiap kali ia mencoba mengalirkan energi alam ke meridian-meridiannya. Rasanya seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas dan menghancurkan jalur energi itu dari dalam.

Lin Chen menggertakkan giginya dan terus memaksa.

Keringat mulai membasahi dahinya.

Napasnya menjadi berat, tetapi pada akhirnya, ia tetap gagal.

Tidak ada sedikit pun energi yang berhasil mengalir dengan lancar.

Tujuh dari sembilan Meridian Spiritual miliknya telah rusak sejak lahir.

Tidak seorang pun mengetahui penyebabnya.

Para tabib klan telah berkali-kali memeriksanya, namun tidak menemukan jawaban yang pasti. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah kutukan. Ada pula yang berbisik bahwa keluarganya sedang menanggung karma buruk dari masa lalu.

Apa pun alasannya, kenyataan tetap tidak berubah.

Di usia tujuh belas tahun, Lin Chen masih berada di Tingkat Pertama Kebangkitan Roh, sebuah tingkat yang biasanya dapat dilampaui para murid baru hanya dalam beberapa minggu latihan.

"Lin Chen."

Suara dingin terdengar dari luar kamar.

"Sarapan sudah disiapkan di Aula Selatan. Jangan terlambat lagi."

Itu suara seorang pelayan klan.

Bahkan seorang pelayan pun tidak lagi berusaha menyembunyikan nada meremehkannya.

Lin Chen mengembuskan napas pelan sebelum menghentikan meditasinya dan berdiri.

Di sudut ruangan terdapat sebuah cermin kayu tua. Saat menatap pantulannya, ia melihat seorang pemuda berambut hitam yang diikat seadanya, mengenakan jubah abu-abu sederhana yang mulai usang di bagian lengan.

Namun ada satu hal yang masih bertahan.

Sorot matanya.

Meskipun sering dihina dan direndahkan, matanya belum kehilangan semangat.

Itu adalah satu-satunya hal yang tidak akan ia biarkan dirampas oleh siapa pun.

Aula Selatan selalu ramai saat waktu sarapan tiba.

Namun ketika Lin Chen melangkah masuk, suasana mendadak hening selama beberapa saat.

Bukan karena rasa hormat.

Melainkan karena keheningan canggung yang selalu muncul setiap kali dirinya hadir.

Beberapa detik kemudian, percakapan kembali berlanjut seolah-olah ia tidak pernah ada.

Lin Chen sudah terbiasa menghadapi hal semacam itu.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil tempat di ujung meja, mengisi mangkuknya sendiri, lalu mulai makan dengan tenang.

"Tahukah kalian? Hari ini akan diadakan seleksi untuk menentukan wakil klan dalam Turnamen Sekte Bulan Perak."

Suara itu berasal dari meja utama.

Pemiliknya adalah Wei Hao, sepupu Lin Chen yang usianya dua tahun lebih muda, tetapi telah mencapai Tahap Pembentukan Inti tingkat awal.

Nada bicaranya sengaja dibuat cukup keras agar terdengar sampai ke meja Lin Chen.

"Sayangnya, tidak semua orang bisa ikut. Hanya mereka yang memiliki bakat dan kemampuan yang layak."

Beberapa orang di meja utama tertawa kecil.

Lin Chen tetap diam.

Ia menyendok sup ke dalam mulutnya dan melanjutkan makan seperti tidak mendengar apa pun.

Wei Hao tersenyum sinis.

"Aku juga mendengar kau masih bangun sebelum fajar setiap hari untuk bermeditasi."

Ia menggelengkan kepala sambil terkekeh.

"Lucu sekali. Itu seperti orang buta yang terus mencoba melukis pemandangan indah."

Tawa yang lebih keras pun terdengar.

"Sudahlah, biarkan saja."

Suara seorang gadis terdengar lembut, tetapi kata-katanya sama tajamnya.

"Kasihan juga melihatnya."

Lin Chen mengangkat pandangannya.

Duduk di samping Wei Hao adalah seorang gadis cantik bergaun biru muda. Rambutnya dihiasi jepit berbentuk bunga teratai yang mempertegas kecantikannya.

Yue Suyin.

Tunangan yang pernah ia anggap sebagai seseorang yang akan selalu berada di sisinya.

Namun kini, Lin Chen menyadari bahwa rasa kasihan adalah satu-satunya perasaan yang masih dimiliki gadis itu terhadap dirinya.

Yue Suyin bahkan tidak menatap ke arahnya.

Ia terus berbincang dengan gadis lain di sampingnya, seakan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya tidak lebih dari komentar biasa yang langsung terlupakan.

Lin Chen terdiam sejenak. Lalu ia meletakkan sumpitnya dengan tenang.

Tidak ada amarah.

Ia hanya berdiri, membawa mangkuk yang bahkan belum sempat dihabiskan, kemudian berjalan keluar dari Aula Selatan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di belakangnya, suara tawa dan percakapan kembali memenuhi ruangan.

Seolah kehadirannya memang tidak pernah berarti apa-apa.

Namun tidak seorang pun menyadari bahwa jauh di dalam hati pemuda yang mereka hina itu, masih tersimpan tekad yang belum padam.

Tekad yang suatu hari nanti akan mengguncang langit dan bumi.

Terpopuler

Comments

Jojo Shua

Jojo Shua

☕️☕️

2026-06-23

0

Jojo Shua

Jojo Shua

🔥

2026-06-23

0

Devourer_2021

Devourer_2021

Mantap👍

2026-06-02

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Anak yang Menanggung Langit Retak
2 Bab 2 : Tunangan yang Berpaling
3 Bab 3 : Malam Penilaian
4 Bab 4 : Rapat Para Tetua
5 Bab 5 : Malam Terkahir di Klan Lin
6 Bab 6 : Dibuang Ke Pegunungan
7 Bab 7 : Bertahan Hidup di Alam Liar
8 Bab 8 : Angin yang Berbeda
9 Bab 9 : Batas yang Semakin Dalam
10 Bab 10 : Di Ujung Kegelapan, Sesuatu Menanti
11 Bab 11 : Sentuhan yang Mengubah Segalanya
12 Bab 12 : Sembilan Ikatan Phoenix Abadi
13 Bab 13 : Suara dari Dalam Warisan
14 Bab 14 : Langit yang Mulai Bergetar
15 Bab 15 : Jejak Api Di Jalan Yang Salah
16 Bab 16 : Huo Ling'er
17 Bab 17 : Sesuatu yang Tidak Bisa Diabaikan
18 Bab 18 : Malam di Dalam Gua Batu
19 Bab 19 : Kepercayaan yang Tidak Mudah
20 Bab 20 : Sekte Tengkorak Perak Kembali
21 Bab 21 : Malam Sebelum Keputusan
22 Bab 22 : Ikatan yang Terbentuk
23 Bab 23 : Kota yang Belum Berubah
24 Bab 24 : Kembali Ke Klan Lin
25 Bab 25 : Yue Suyin dan Kata Kata yang Terlambat
26 Bab 26 : Malam Penilaian yang Berbeda
27 Bab 27 : Sekte Fajar Besi Datang
28 Bab 28 : Api yang Tak Bisa Disangkal
29 Bab 29 : Jalan Menuju Utara
30 Bab 30 : Penyergapan di Lembah Angin Merah
31 Bab 31 : Hutan Songhua dan Jejak Kuno
32 Bab 32 : Rantai Ikatan Phoenix
33 Bab 33 : Malam di Antara Batu Batu Kuno
34 Bab 34 : Sekte Tengkorak Perak Tidak Menyerah
35 Bab 35 : Kota Perbatasan Wushan
36 Bab 36 : Malam Pelarian dan Perburuan
37 Bab 37 : Liontin Giok Qilin
38 Bab 38 : Awal yang Sesungguhnya
39 Bab 39 : Jalur Pra Utara
40 Bab 40 : Di Dalam Domain Es
41 Bab 41 : Panduan yang Tak Terduga
42 Bab 42 : Pertemuan yang Dingin
43 Bab 43 : Es yang Menyimpan Segalanya
44 Bab 44 : Tiga Hari di Dalam Es
45 Bab 45 : Tiga Orang, Satu Tujuan
46 Bab 46 : Kembali Ke Dunia
47 Bab 47 : Tiga Elemen, Satu Tibuh
48 Bab 48 : Surat Dari Selatan
49 Bab 49 : Latihan dan Pertumbuhan
50 Bab 50 : Penjaga Langit
51 Bab 51 : Apa yang Diketahui Istana Surgawi
52 Bab 52 : Kota Angin Timur
53 Bab 53 : Jalan Menuju Wilayah Timur
54 Bab 54 : Menyelam Kedalaman
55 Bab 55 : Cangkang Suci Kura Kura Hitam
56 Bab 56 : Saat Pertahanan Menunjukan Kekuatannya.
57 Bab 57 : Integrasi Sempurna
58 Bab 58 : Arah yang Jelas
59 Bab 59 : Apa yang Hidup di Dalam Badai
60 Bab 60 : Lei Feng
61 Bab 61 : Petir yang Akhirnya Terbebas
62 Bab 62 : Empat, Bukan Tiga
63 Bab 63 : Ancaman yang Berubah Wujud
64 Bab 64 : Pertemuan yang Terasa Seperti Kebetulan
65 Bab 65 : Pusat Lembah
66 Bab 66 : Kepercayaan yang Dibangun Dengan Sadar
67 Bab 67 : Jubah Phoenix Kekosongan
68 Bab 68 : Jejak Senjata Kuno
69 Bab 69 : Reruntuhan Liang Xiao
70 Bab 70 : Pedang Pembantai Naga dan Phoenix
71 Bab 71 : Pertarungan yang Tak Terelakkan
72 Bab 72 : Resonansi yang Dirasakan Dunia
73 Bab 73 : Jaringan yang Mulai Terbentuk
74 Bab 74 : Reaksi Dari Berbagai Penjuru Dunia
75 Bab 75 : Ikatan
76 Bab 76 : Istana Langit Mulai Bergerak
77 Bab 77 : Jalan Ke Utara yang Semakin Sunyi
78 Bab 78 : Perubahan Di Domain Domain Kuno
79 Bab 79 : Percakapan
80 Bab 80 : Kabar dari Shen Yue
81 Bab 81 : Kota Wushan yang Dihindari
82 Bab 82 : Bayangan Emas di Alam Maut
83 Bab 83 : Ao Jin dari Klan Naga Emas
84 Bab 84 : Klan Langit Hitam Mulai Bergerak
85 Bab 85 : Ao Jin dan Tetua Klan
86 Bab 86 : Tiga Minggu di Luar
87 Bab 87 : Memasuki Alam Maut Untuk Kedua Kalinya
88 Bab 88 : Yang Datang Dari Perbatasan
89 Bab 89 : Berbicara Dengan Penjaga Perbatasan
90 Bab 90 : Inti Alam Maut
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1 : Anak yang Menanggung Langit Retak
2
Bab 2 : Tunangan yang Berpaling
3
Bab 3 : Malam Penilaian
4
Bab 4 : Rapat Para Tetua
5
Bab 5 : Malam Terkahir di Klan Lin
6
Bab 6 : Dibuang Ke Pegunungan
7
Bab 7 : Bertahan Hidup di Alam Liar
8
Bab 8 : Angin yang Berbeda
9
Bab 9 : Batas yang Semakin Dalam
10
Bab 10 : Di Ujung Kegelapan, Sesuatu Menanti
11
Bab 11 : Sentuhan yang Mengubah Segalanya
12
Bab 12 : Sembilan Ikatan Phoenix Abadi
13
Bab 13 : Suara dari Dalam Warisan
14
Bab 14 : Langit yang Mulai Bergetar
15
Bab 15 : Jejak Api Di Jalan Yang Salah
16
Bab 16 : Huo Ling'er
17
Bab 17 : Sesuatu yang Tidak Bisa Diabaikan
18
Bab 18 : Malam di Dalam Gua Batu
19
Bab 19 : Kepercayaan yang Tidak Mudah
20
Bab 20 : Sekte Tengkorak Perak Kembali
21
Bab 21 : Malam Sebelum Keputusan
22
Bab 22 : Ikatan yang Terbentuk
23
Bab 23 : Kota yang Belum Berubah
24
Bab 24 : Kembali Ke Klan Lin
25
Bab 25 : Yue Suyin dan Kata Kata yang Terlambat
26
Bab 26 : Malam Penilaian yang Berbeda
27
Bab 27 : Sekte Fajar Besi Datang
28
Bab 28 : Api yang Tak Bisa Disangkal
29
Bab 29 : Jalan Menuju Utara
30
Bab 30 : Penyergapan di Lembah Angin Merah
31
Bab 31 : Hutan Songhua dan Jejak Kuno
32
Bab 32 : Rantai Ikatan Phoenix
33
Bab 33 : Malam di Antara Batu Batu Kuno
34
Bab 34 : Sekte Tengkorak Perak Tidak Menyerah
35
Bab 35 : Kota Perbatasan Wushan
36
Bab 36 : Malam Pelarian dan Perburuan
37
Bab 37 : Liontin Giok Qilin
38
Bab 38 : Awal yang Sesungguhnya
39
Bab 39 : Jalur Pra Utara
40
Bab 40 : Di Dalam Domain Es
41
Bab 41 : Panduan yang Tak Terduga
42
Bab 42 : Pertemuan yang Dingin
43
Bab 43 : Es yang Menyimpan Segalanya
44
Bab 44 : Tiga Hari di Dalam Es
45
Bab 45 : Tiga Orang, Satu Tujuan
46
Bab 46 : Kembali Ke Dunia
47
Bab 47 : Tiga Elemen, Satu Tibuh
48
Bab 48 : Surat Dari Selatan
49
Bab 49 : Latihan dan Pertumbuhan
50
Bab 50 : Penjaga Langit
51
Bab 51 : Apa yang Diketahui Istana Surgawi
52
Bab 52 : Kota Angin Timur
53
Bab 53 : Jalan Menuju Wilayah Timur
54
Bab 54 : Menyelam Kedalaman
55
Bab 55 : Cangkang Suci Kura Kura Hitam
56
Bab 56 : Saat Pertahanan Menunjukan Kekuatannya.
57
Bab 57 : Integrasi Sempurna
58
Bab 58 : Arah yang Jelas
59
Bab 59 : Apa yang Hidup di Dalam Badai
60
Bab 60 : Lei Feng
61
Bab 61 : Petir yang Akhirnya Terbebas
62
Bab 62 : Empat, Bukan Tiga
63
Bab 63 : Ancaman yang Berubah Wujud
64
Bab 64 : Pertemuan yang Terasa Seperti Kebetulan
65
Bab 65 : Pusat Lembah
66
Bab 66 : Kepercayaan yang Dibangun Dengan Sadar
67
Bab 67 : Jubah Phoenix Kekosongan
68
Bab 68 : Jejak Senjata Kuno
69
Bab 69 : Reruntuhan Liang Xiao
70
Bab 70 : Pedang Pembantai Naga dan Phoenix
71
Bab 71 : Pertarungan yang Tak Terelakkan
72
Bab 72 : Resonansi yang Dirasakan Dunia
73
Bab 73 : Jaringan yang Mulai Terbentuk
74
Bab 74 : Reaksi Dari Berbagai Penjuru Dunia
75
Bab 75 : Ikatan
76
Bab 76 : Istana Langit Mulai Bergerak
77
Bab 77 : Jalan Ke Utara yang Semakin Sunyi
78
Bab 78 : Perubahan Di Domain Domain Kuno
79
Bab 79 : Percakapan
80
Bab 80 : Kabar dari Shen Yue
81
Bab 81 : Kota Wushan yang Dihindari
82
Bab 82 : Bayangan Emas di Alam Maut
83
Bab 83 : Ao Jin dari Klan Naga Emas
84
Bab 84 : Klan Langit Hitam Mulai Bergerak
85
Bab 85 : Ao Jin dan Tetua Klan
86
Bab 86 : Tiga Minggu di Luar
87
Bab 87 : Memasuki Alam Maut Untuk Kedua Kalinya
88
Bab 88 : Yang Datang Dari Perbatasan
89
Bab 89 : Berbicara Dengan Penjaga Perbatasan
90
Bab 90 : Inti Alam Maut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!