NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 34 : Musuh Baru

Pembersihan besar-besaran yang dilakukan Arka Mahendra di dalam internal Mahendra Group berjalan dengan sangat agresif. Sejak Selena mendekam di balik jeruji besi sel tahanan sementara kepolisian, seluruh pengaruh dan jaringan yang pernah dibangun wanita itu runtuh layaknya istana pasir yang diterjang ombak. Rekening-rekening yang terafiliasi dengan dana gelap Selena dibekukan, para pejabat internal yang sempat menerima suap atau bekerja sama memfitnah Nadira langsung dipecat secara tidak hormat dan diseret ke ranah hukum. Di mata publik, Mahendra Group sedang melakukan pembersihan total demi integritas.

Namun, di dunia bisnis yang kejam, runtuhnya satu faksi dominan sering kali menjadi magnet bagi para predator lain yang mengintai dari kegelapan. Ketika sebuah kekaisaran sedang sibuk menyembuhkan luka dalam dan fokus pada urusan domestik, para musuh lama akan melihatnya sebagai celah pertahanan yang paling rapuh.

Di sebuah ruang kerja mewah yang terletak di lantai paling atas Wijaya Tower—sebuah gedung pencakar langit yang hanya berjarak beberapa blok dari markas besar Mahendra Group—seorang pria paruh baya berdiri menghadap jendela kaca besar. Pria itu mengenakan setelan jas buatan Italia berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disisir klimis ke belakang, membingkai wajah dengan rahang tegas dan sepasang mata elang yang dingin serta penuh kalkulasi.

Dia adalah Leonard Wijaya. Pemilik tunggal Wijaya Corp, sebuah konglomerasi raksasa yang bergerak di bidang properti dan infrastruktur. Di kalangan elit Jakarta, Leonard dikenal sebagai pengusaha yang bertangan besi, ambisius, dan tidak pernah ragu menggunakan cara apa pun—legal maupun ilegal—untuk menghancurkan kompetitornya. Bagi keluarga Mahendra, nama Leonard Wijaya adalah sinonim dari rivalitas berdarah yang sudah berlangsung selama hampir dua dekade.

Leonard menyesap cerutu di jarinya, membiarkan asap abu-abu pekat memenuhi ruangan sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan ke arah kaca. Tatapannya tertuju pada logo Mahendra Group yang terlihat samar di kejauhan.

"Arka Mahendra..." gumam Leonard, suara bass-nya terdengar berat dan penuh dengan nada meremehkan. "Kau mengira dengan membuang pelacur kecil seperti Selena, kau sudah mengamankan takhtamu? Kau terlalu naif, persis seperti kakekmu yang mulai berbau tanah itu."

Leonard berjalan kembali ke meja kerjanya yang terbuat dari batu marmer hitam. Di atas meja tersebut, tersebar berbagai dokumen rahasia. Mulai dari laporan keuangan Mahendra Group yang belum dipublikasikan, catatan medis Kakek Baskoro dari rumah sakit pusat, hingga berkas pribadi mengenai latar belakang seorang wanita bernama Nadira.

Ketika jemari Leonard yang dihiasi cincin emas bermata zamrud menyentuh lembar foto Nadira, sebuah senyuman sinis yang mengerikan terukir di wajahnya. Ada kilatan kepuasan masa lalu yang mendadak bangkit di dalam ingatan pria itu.

Nadira. Wanita yang kini menjadi fokus penebusan dosa Arka Mahendra ternyata bukanlah orang asing bagi Leonard Wijaya. Jauh sebelum Nadira terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Arka, keluarga Nadira adalah pemilik dari sebuah perusahaan manufaktur tekstil kelas menengah yang cukup disegani. Ayah Nadira adalah seorang pria idealis yang memegang teguh prinsip kejujuran dalam berbisnis—sebuah prinsip yang sangat dibenci oleh Leonard.

Belasan tahun lalu, ketika Wijaya Corp ingin menguasai lahan zona industri tempat pabrik ayah Nadira berdiri, Leonard menawarkan akuisisi dengan harga yang sangat merendahkan. Ayah Nadira menolak dengan tegas demi kesejahteraan para buruhnya. Penolakan itu berujung pada bencana. Leonard, dengan kelicikannya, menyabotase jalur distribusi perusahaan tersebut, memalsukan dokumen utang piutang, dan menyuap pihak bank untuk menyatakan perusahaan ayah Nadira pailit secara mendadak.

Kehancuran usaha secara instan, kehilangan seluruh harta benda, dan beban fitnah utang yang menumpuk membuat kesehatan ayah Nadira drop hingga akhirnya beliau meninggal dunia dalam kemiskinan dan penyesalan. Itulah alasan mengapa Nadira dan ibunya harus hidup menderita di pinggiran kota, dan mengapa Nadira memegang erat martabatnya sebagai satu-satunya warisan yang tersisa dari mendiang ayahnya.

"Takdir terkadang sangat lucu," bisik Leonard, mengetukkan jarinya di atas foto Nadira. "Anak gadis dari pria bodoh yang kuhancurkan dulu, sekarang justru menjadi kelemahan terbesar dari pewaris tunggal Mahendra Group. Arka mengira dia sedang menyelamatkan istrinya, padahal dia sedang membawa bom waktu ke dalam rumahnya sendiri."

Leonard melihat konflik internal keluarga Mahendra saat ini—mulai dari skandal Selena, ketidakstabilan kesehatan Kakek Baskoro, hingga kecanggungan hubungan Arka dan Nadira—sebagai kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu selama dua puluh tahun. Ini adalah momen paling tepat untuk melakukan *hostile takeover* atau pengambilalihan secara paksa atas saham-saham Mahendra Group di pasar modal, sekaligus menghancurkan nama besar Mahendra dari peta bisnis nasional.

Namun, untuk memuluskan rencananya, ia membutuhkan bidak catur yang tahu persis seluk-beluk dan rahasia terdalam dari Arka Mahendra. Dan bidak itu saat ini sedang mendekam di dalam sel tahanan.

 

Malam harinya, di dalam ruang kunjungan khusus di rumah tahanan kepolisian yang remang-remang dan berbau pengap, Selena duduk dengan tangan gemetar. Pakaian desainer mewahnya kini telah berganti dengan rompi tahanan berwarna oranye yang longgar. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini tampak pucat, kuyu, dan menyedihkan. Air matanya sudah mengering, menyisakan guratan hitam maskara yang luntur di pipinya. Ia telah kehilangan segalanya dalam semalam. Arka memblokirnya, hukum mengincarnya, dan dunia luar menghujatnya.

Pintu besi ruang kunjungan terbuka. Selena mendongak, mengira itu adalah pengacara carikan polisi yang akan mendampinginya. Namun, yang melangkah masuk adalah seorang pria paruh baya berjas rapi, dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap yang langsung berjaga di depan pintu.

Selena mengernyitkan dahinya, mencoba mengenali sosok tersebut. "Siapa... siapa Anda?"

Leonard Wijaya tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi besi di hadapan Selena, lalu duduk dengan santai seolah-olah ia sedang berada di ruang tunggu hotel bintang lima. Ia menatap Selena dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin.

"Sungguh pemandangan yang tragis," ucap Leonard, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Nona Selena yang cantik, yang biasanya menghiasi sampul majalah bisnis dan sosialita, sekarang harus duduk di tempat kotor seperti ini hanya karena kecerobohan kecil."

"Jika Anda ke sini hanya untuk mengejekku, silakan pergi!" sentak Selena, suaranya serak akibat terlalu banyak menangis. Ego dan harga dirinya yang terluka membuatnya langsung bersikap defensif.

"Tenanglah, Nona Selena. Aku datang ke sini bukan sebagai musuhmu," Leonard tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepalsuan yang manipulatif. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangannya di atas meja pembatas. "Namaku Leonard Wijaya. Aku yakin kau pernah mendengar namaku di dewan direksi atau berita ekonomi."

Mendengar nama 'Wijaya', mata Selena langsung membelalak. Sebagai orang yang lama berada di lingkaran elit Mahendra Group, ia tahu betul siapa Leonard Wijaya. Pria ini adalah musuh bebuyutan Kakek Baskoro, seorang pemangsa bisnis yang sangat ditakuti.

"Leonard... Wijaya?" bisik Selena, suaranya mendadak mengecil. "Mengapa... mengapa pemilik Wijaya Corp mendatangi tahanan seperti aku?"

"Karena kita memiliki satu kesamaan yang sangat indah, Selena," ucap Leonard dengan nada suara yang rendah dan persuasif, seperti iblis yang sedang membisikkan janji di telinga korbannya. "Kita sama-sama ingin melihat Arka Mahendra berlutut dan hancur. Dan kita sama-sama tahu bahwa pria itu tidak pantas mendapatkan semua kemewahan yang ia miliki sekarang setelah apa yang dia lakukan padamu."

Selena terdiam, mencerna kata-kata Leonard. Rasa benci, sakit hati, dan dendam yang mendalam kepada Arka yang telah membuangnya, serta kepada Nadira yang telah merebut kembali posisinya, mendadak bergejolak hebat di dalam dada Selena.

"Arka telah mencampakkanmu seperti sampah setelah semua hal yang kau berikan untuknya," lanjut Leonard, memanaskan api kemarahan di hati Selena. "Dia membiarkanmu membusuk di penjara ini sementara dia sekarang sedang bersenang-senang, memainkan peran sebagai suami yang bertobat di depan Nadira. Apakah kau rela melihat mereka bahagia di atas penderitaanmu?"

"Tidak! Aku tidak rela!" jerit Selena tertahan, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Aku membenci mereka! Aku membenci Arka, aku membenci Nadira! Mereka menghancurkan hidupku!"

"Bagus. Simpan kemarahan itu, karena kemarahan adalah bahan bakar terbaik untuk pembalasan dendam," Leonard tersenyum puas melihat reaksinya. Ia mengeluarkan sebuah dokumen kecil dari dalam saku jasnya dan menggesernya ke hadapan Selena.

"Aku menawarkan sebuah kerja sama, Selena. Diam-diam, tim pengacaraku akan mengurus penangguhan penahananmu besok pagi menggunakan celah hukum dan jaminan finansial dari Wijaya Corp. Kau akan bebas dari tempat ini tanpa harus mendekam di penjara selama bertahun-tahun," ujar Leonard, menjabarkan tawarannya. "Sebagai imbalannya, aku ingin kau memberikan seluruh dokumen rahasia, kode akses data keuangan Mahendra Group yang sempat kau salin, serta daftar nama orang dalam yang masih setia padamu di perusahaan itu."

Selena menatap dokumen di depannya dengan mata yang berbinar penuh harapan. Kebebasan. Uang. Kekuasaan. Semua hal yang ia kira telah hilang kini mendadak ditawarkan kembali di atas piring emas oleh pria di hadapannya.

"Dan apa... apa yang akan kudapatkan setelah Mahendra Group hancur?" tanya Selena, memastikan posisinya.

"Kau akan mendapatkan posisi sebagai direktur di salah satu anak perusahaan Wijaya Corp yang baru, lengkap dengan seluruh kemewahan yang pernah Arka rampas darimu. Dan yang paling penting... kau akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dengan matamu sendiri bagaimana Nadira dikembalikan ke tempat asalnya: mengemis di jalanan," jawab Leonard dengan nada dingin yang mematikan.

Selena menatap Leonard, lalu beralih pada dokumen tersebut. Sisa-sisa hati nuraninya telah terbakar habis oleh rasa dendam. Tanpa ragu-ragu lagi, Selena mengambil pulpen yang disediakan oleh pengawal Leonard dan menandatangani surat perjanjian kerja sama rahasia itu.

"Kesepakatan tercapai, Tuan Leonard," ucap Selena, sebuah senyuman licik dan penuh kemenangan kini kembali muncul di wajahnya yang kuyu. "Aku akan memberikan apa pun yang Anda butuhkan untuk menghancurkan Arka Mahendra."

Leonard bangkit dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan senyuman yang sangat puas. "Pilihan yang sangat cerdas, Selena. Besok pagi, pengacaraku akan menjemputmu. Bersiaplah, karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Leonard melangkah keluar dari ruang kunjungan dengan langkah yang mantap. Di bawah kegelapan malam Jakarta, aliansi hitam telah terbentuk. Musuh baru yang jauh lebih berbahaya, jauh lebih kuat, dan didorong oleh dendam masa lalu kini telah mengarahkan senjatanya tepat ke jantung keluarga Mahendra.

Sementara itu, di kediaman utama Mahendra, Arka masih duduk di ruang kerjanya, menatap dokumen pencarian sekolah komunitas Nadira tanpa menyadari bahwa badai besar yang baru sedang bergerak mendekat, siap menguji sejauh mana ia mampu melindungi wanita yang kini menjadi seluruh alasan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!