"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
Lulu langsung memalingkan wajah. "Siapa yang lihat?"
"Kamu."
"Pede banget."
Ailin mengulum senyum. "Hem, sebenarnya aku maklum aja sih. Soalnya aku kan memang cantik, wajar kalau kamu terpesona."
"Dih. Mau muntah deh aku."
Ailin tertawa kecil. "Bagus, deh."
"Bagus apanya? Bagus kalau aku muntah-muntah?"
"Ih, fitnah saja. Maksud aku itu bagus kalau kamu udah enggak nangis."
Lulu memalingkan wajah lagi.
Menyebalkan. Wanita itu selalu mengatakan sesuatu yang membuatnya kehabisan kata-kata.
Padahal beberapa hari lalu bahkan kemarin, ia masih berharap Juan segera menceraikannya.
Namun sekarang?
Lulu mendengus pelan. Ia perlahan tidak bisa menemukan alasan untuk membencinya lagi.
"Siapa juga yang nangis?" gumamnya setelah tidak menemukan balasan yang tepat.
"Kamu." Ailin membalas cepat.
"Aku enggak nangis."
"Terus itu air apa? Masih ada loh di sudut mata kamu."
"Ini kena debu."
"Oh, ternyata debu bisa buat mata sembab juga, ya?"
"Aku enggak nangis!"
"Iya, iya. Aku yang salah lihat."
Lulu mendengus. Gadis itu kesal, namun anehnya merasa nyaman. Ternyata bertengkar hal remeh seperti ini pun bisa membuat suasana hatinya lebih baik.
"Mama, Lili ngantuk," ujar Lian dengan suara nyaris tak terdengar. Tangannya beralih memeluk tubuh sang ibu dengan nyaman.
"Mau mama gendong ke kamar?"
Lian menggeleng, lalu menggosokkan kepala di dada sang ibu. Mencari tempat ternyaman untuk terbuai ke dalam alam mimpi.
Sebuah interaksi sederhana yang lagi-lagi membuat atensi Lulu teralihkan. Sejak kapan Ailin mulai menyebut dirinya "mama"?
Lulu mengerutkan kening. Kemarin wanita itu masih canggung. Bahkan ketika berbicara dengan Lian, ia lebih sering menggunakan kata aku.
Tapi sekarang?
Seolah tanpa sadar, Ailin sudah benar-benar menempatkan dirinya sebagai seorang ibu.
Lulu tidak tahu sejak kapan perubahan itu terjadi. Tapi saat melihat Lian tertidur nyaman di pelukan wanita itu, ia merasa Ailin memang pantas dipanggil mama.
Gadis itu lalu menggeleng pelan setelah sadar. "Apa sih yang aku pikirkan?"
Sementara merasa kembali dipandangi, Ailin menoleh dengan heran. Ia lalu menghela napas dalam.
"Aku tahu kamu terpesona. Tapi jangan dipandangi mulu, kali! Lama-lama aku juga bisa malu. Di depan sana ada kok bunga-bunga bermekaran. Dipandang sejam tanpa berkedip juga enggak akan malu."
Lulu mendengus yang entah ke berapa kalinya, namun ia tidak ingin pura-pura lagi kali ini. "Aku heran," gumamnya pelan. Namun Ailin masih bisa mendengarnya.
"Heran apa?"
Gadis itu menatap serius. "Aku heran kenapa kakakku bisa suka sama wanita senarsis kamu."
"Cie udah aku, kamu. Bentar lagi kakak ipar nih."
Lagi-lagi Ailin berhasil membuat ia kehilangan kata-kata. Gadis itu akhirnya buru-buru bangkit lalu berjalan pergi.
"Mimpi!" gerutunya tanpa menoleh lagi. Lebih baik ia menjauh dulu, atau lama kelamaan ia bisa terpengaruh oleh wanita itu.
Sementara Ailin yang ditinggal, tertawa kecil. Namun tubuhnya diam tidak bergerak. Takut juga membangunkan Lian yang tertidur nyenyak.
Wanita itu lalu duduk dengan tenang di sana. Cukup lama hingga suara langkah seseorang mendekatinya. "Nyonya."
"Sstt!" Ailin menunduk, memberi kode pada bibi Yu yang langsung terdiam.
"Nyonya. Tuan meminta saya memanggil Anda untuk sarapan." Bibi Yu berbicara dengan suara nyaris berbisik.
Ailin mengangguk. "Nanti saja, Bibi."
"Mama, Lili juga lapal...."
Suara kecil itu membuat Ailin menunduk. Entah sejak kapan, Lian telah membuka mata sembari mengusap pipi dengan tangan kecilnya.
Wanita itu lalu tersenyum. "Sudah bangun?"
Lian mengangguk.
"Baiklah, ayo kita makan bersama papa!"
Lian mengangguk lagi, kali ini lebih semangat. Dalam sekejap ia telah turun dari pangkuan sang ibu. Sementara Ailin juga ikut berdiri, namun tubuhnya oleng, kedua kakinya kesemutan hebat, mungkin karena duduk dengan posisi sama dalam waktu lama.
"Nyonya? Nyonya baik-baik saja?"
Ailin mengangguk. "Kakiku cuma lagi kesemutan. Kalian duluan saja!"
"Tapi, Nyonya... perlu saya panggil tuan?"
"Enggak perlu Bibi. Aku hanya butuh waktu sebentar biar darah di kakiku mengalir lagi."
"Baiklah Nyonya." Tangan bibi Yu yang sempat terangkat itu akhirnya ia turunkan. Wanita paruh baya itu lalu menuntun tangan Lian. "Ayo nona kecil."
"Lili mau sama mama."
"Lili duluan saja. Nanti mama nyusul, oke?"
Akhirnya anak itu mengangguk. Membiarkan bibi Yu membawanya berjalan pergi.
Setelah beberapa saat, Ailin yang ditinggal sendiri akhirnya mencoba melangkah lagi. Ia berjalan memasuki rumah, namun bayangan seseorang membuat atensinya beralih.
"Kak Juan? Ngapain dia sembunyi di sana buat telponan?"
.
.
.
Jejaknya dong. Biar semangat dikit. Soalnya semangat author tipis-tipis nih🥲