NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: tamat
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:42.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 30.

Markas utama organisasi Sullivan berdiri megah di atas tebing yang menghadap lautan. Benteng berlapis baja itu dikenal sebagai salah satu markas paling sulit ditembus di dunia bawah tanah. Selama bertahun-tahun, tak seorang pun pernah berhasil mengetahui tata letak bagian dalamnya.

Namun malam itu, markas utama tampak lebih lengang dari biasanya.

Sejak terluka dalam pertempuran di pelabuhan, Lorenzo Sullivan dipindahkan ke rumah sakit swasta yang berada di bawah kendali organisasi. Demi keamanan, sebagian besar anggota inti ikut berjaga di sana, sementara markas hanya dijaga oleh pasukan cadangan.

Di saat yang sama, seorang wanita berjalan tenang menyusuri koridor rumah sakit itu seolah tempat tersebut adalah wilayah kekuasaannya sendiri—Bianca De Luca.

Wanita berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan hitam sederhana. Rambut panjangnya diikat rapi, sementara tatapannya tetap tenang saat para anggota organisasi yang berjaga memberi hormat.

"Selamat malam, Wakil."

Bianca hanya mengangguk singkat.

Sejak Lorenzo Sullivan mendirikan organisasinya dari nol, Bianca selalu berada di sisinya. Ketika organisasi itu hanya memiliki belasan anggota, Bianca sudah ikut bertempur. Saat Lorenzo ditembak di pelabuhan beberapa tahun lalu, Bianca yang menyeret tubuh pria itu keluar dari hujan peluru. Ketika mereka kekurangan dana membeli senjata, Bianca menjual seluruh aset pribadinya demi mempertahankan organisasi.

Di mata semua orang, Bianca bukan sekadar tangan kanan Lorenzo. Ia adalah wanita yang membangun kerajaan Sullivan bersama sang pemimpin.

Bahkan sebagian besar anggota sudah menganggap Bianca sebagai calon pendamping Lorenzo, meski pria itu tidak pernah mengucapkan janji apa pun. Bianca juga tidak pernah memaksa. Selama bertahun-tahun, ia yakin suatu hari Lorenzo akan membuka hatinya.

Sampai... Velicia Romanov muncul.

Sejak wanita itu kembali ke dunia bawah, Bianca mulai melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lorenzo... berubah.

Pria yang biasanya menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruang strategi kini beberapa kali meninggalkan pekerjaannya hanya untuk memastikan kondisi Velicia. Pria yang selalu mengabaikan luka sendiri justru rela menjadi tameng hidup demi wanita itu.

Dan yang paling menyakitkan, saat Lorenzo tersenyum kepada Velicia. Bianca belum pernah melihat senyum seperti itu, senyuman pria itu bukan lambang kemenangan atau ejekan bagi musuh. Namun senyum itu lahir dari seorang pria yang perlahan menemukan kembali alasan untuk hidup, itulah yang menghancurkan hati Bianca.

Bianca berhenti di depan ruang perawatan khusus. Melalui kaca, ia melihat Lorenzo sedang duduk di ranjang dengan perban melingkari dada kirinya. Di samping pria itu, Velicia sedang menuangkan teh hangat. Percakapan mereka tidak terdengar, tetapi ekspresi keduanya sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Velicia memang tetap menjaga jarak. Namun tatapan dingin wanita itu kini sesekali melembut saat melihat Lorenzo, hal sekecil itu tidak luput dari pengamatan Bianca.

Perlahan ia mengepalkan tangan. "Demi dia, kau bahkan rela mempertaruhkan nyawamu."

Suara Bianca nyaris tak terdengar, Ia masih mengingat jelas bertahun-tahun lalu ketika Lorenzo terkena tiga luka tembak sekaligus. Saat itu Bianca memohon agar pria itu beristirahat, namun Lorenzo hanya menjawab singkat.

"Aku belum boleh mati sebelum organisasiku berdiri."

Hari ini, Lorenzo justru rela menerima peluru demi seorang wanita.

Bianca tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit. "Aku kalah, bahkan sebelum sempat bertanding."

Malam semakin larut, Bianca sudah kembali ke markas dan memasuki ruang kerjanya. Ia membuka laci paling bawah. Di sana tersimpan sebuah ponsel lama yang tidak pernah digunakan selama bertahun-tahun.

Bianca memandang benda itu beberapa saat, lalu menyalakannya. Nomor pertama yang ia hubungi hanya terdiri dari enam digit. Tak sampai lima detik, panggilan tersambung.

"Aku mulai berpikir kau tidak akan pernah menelepon." Suara berat seorang pria terdengar dari seberang.

Bianca masih diam.

"Apa akhirnya kau berubah pikiran?" Pria itu terkekeh pelan.

Bianca menatap langit malam dari balik jendela. "Aku ingin bertemu."

Satu jam kemudian di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, hanya ada satu lampu redup yang menggantung di langit-langit. Joseph Bonanno sudah duduk di sana sambil memainkan gelas berisi wiski.

Begitu Bianca masuk, pria itu tersenyum lebar. "Sudah lama sekali."

"Aku datang bukan untuk bernostalgia."

"Aku tahu."

Joseph menyandarkan tubuhnya. "Kalau begitu, langsung saja. Apa yang kau inginkan?"

Bianca menatap tajam ke arah Joseph, eskpresi wajahnya dipenuhi kebencian. "Aku ingin menghancurkan Romanov."

"Itu mudah ditebak." Joseph mengangguk pelan.

"Dan Sullivan." Bianca melanjutkan, ekspresi di wajahnya tidak berubah.

"Apa?" Kali ini senyum Joseph perlahan memudar.

"Aku ingin menghancurkan organisasi Sullivan."

"Kenapa?" Joseph benar-benar tertarik sekarang.

Bianca mengembuskan napas panjang. "Karena selama organisasi itu masih berdiri, Lorenzo tidak akan pernah melihatku."

"Ternyata benar, cinta memang penyakit paling mematikan." Joseph tertawa pelan.

Tatapan Bianca berubah dingin. "Jangan salah paham, aku tidak datang karena patah hati."

"Lalu?" Joseph menaikkan sebelah alisnya.

"Aku membangun organisasi itu bersama Lorenzo, separuh kerajaan itu berdiri karena darahku. Namun sekarang, dia mulai mengambil keputusan dengan hati."

Joseph memutar gelas di tangannya. "Kau menganggap Velicia sebagai kelemahannya."

"Itu kenyataan." Bianca menjawab tanpa ragu.

Keheningan memenuhi gudang beberapa detik.

Joseph akhirnya berdiri. "Apa yang bisa kau berikan?"

Bianca mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jasnya. "Seluruh jalur distribusi senjata Sullivan, lokasi gudang cadangan. Nama seluruh komandan, dan..."

Wanita itu meletakkan benda kecil itu di atas meja. "...jadwal perpindahan Lorenzo minggu depan."

Joseph tidak langsung menyentuh flashdisk itu, Ia hanya menatap Bianca beberapa saat.

"Sebagai gantinya?" Bianca mengangkat dagunya. "Saat perang selesai, aku ingin Lorenzo tetap hidup."

"Masih mencintainya?" Joseph tersenyum tipis.

"Aku ingin dia hidup, tapi..." Tatapan Bianca berubah sangat dingin. "...aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan semua yang sudah dibangunnya."

"Kesepakatan yang menarik." Joseph akhirnya mengambil flashdisk itu.

Mereka berjabat tangan.

Tak satu pun menyadari, di atap gudang ada sesosok pria berpakaian hitam sedang mengarahkan kamera berlensa panjang ke arah mereka.

Klik.

Satu foto berhasil diambil, wajah Bianca dan Joseph terlihat jelas dalam bingkai.

Pria itu segera mengirim foto tersebut melalui saluran terenkripsi. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan singkat muncul.

Target teridentifikasi, jangan bertindak. Terus awasi! — Antonio Romanov.

Sementara Bianca merasa telah menjadi pemburu, tanpa dia sadari sejak melangkahkan kaki ke gudang itu, dirinya justru telah menjadi mangsa.

1
Heni Setiyaningsih
kayaknya cewek nya badasss soal nya cerita mafia, aku suka
Lydia
terima kasih atas ceritanya 🙏🏻
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
trimakasih banyak untuk cerita yang menegangkan kan ini ka... warbiasa
ρυтяσ kang'typo✨
warbiasa kereeeeen
ρυтяσ kang'typo✨
Bianca tetap di pihak Lorenzo 👀... Alhamdulillah
ρυтяσ kang'typo✨
weh perang mulai 👏👏👏👏
Rere🌠: banyak alur gak nyambung, aku tamatin dengan lier 🤧 idenya mandet yang ini, ampun dah.
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
u ngebut thor??? ini Ramon beneran masuk sana sendiri ato hanya pion juga ya🤔🤔lanjut baca ach
Diana Dwiari
ada yg janggal disini....bukanya tadi latar perang di markas Sullivan ya,kenapa tiba2 ada di depan pintu masuk markas black throne,terus mereka keluar dr bawah tanah menuju ke tempat yg luas,anggota BT bahkan ratusan keluar dr bawah tanah tiba2 kalah dg anggota gabungan Romanov,la trs kemanakah the king dan lucian,apa.mereka membiarkan markasnya dimasuki musuh....trs tiba2 anggota romanov mau menang gitu,padahal lawannya kan pasukan bayangan yg mengerikan.....
Diana Dwiari
bukannya velicia di menara pengawas.....gimana menatapnya
Rere🌠: Gk ditulis Velica turunnya, aku jg bnyk skip nulisnya kak tkt kepanjangan. Maaf ya 🤭
total 1 replies
Diana Dwiari
apakah nantinya hianca akan mati atau hidup dan bersama antonio
tuti raniati
ini keren
Lydia
Lanjut Author
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!