"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Aturan Baru di Apartemen
"Kamu sengaja membuang bubuk kopiku sebagai bentuk balas dendam rendahan karena aku mematahkan egomu di meja lobi hotel tadi?" Keysa membanting pintu kabinet dapur dengan cukup keras, suaranya memecah keheningan apartemen mewah mereka di Jakarta.
Penerbangan panjang dari Surabaya menuju ibu kota dipenuhi dengan perang urat saraf. Begitu kaki mereka menyentuh lantai apartemen, Keysa langsung menuju area dapur untuk menyeduh kafein. Namun, tiga toples kaca berisi bubuk kopi hitam murni yang selalu menjadi andalannya lenyap tak berbekas.
Arga meletakkan tas kerjanya di atas nakas dekat pintu masuk. Laki-laki itu berjalan santai menyusul istrinya dengan senyum miring yang terlukis jelas.
"Aku sudah memerintahkan asisten rumah tangga untuk membuang semua bubuk racun itu ke tempat sampah bawah sebelum kita terbang ke Surabaya tempo hari," jawab Arga tanpa beban. "Dan asal kamu tahu, aku sama sekali tidak tersinggung soal kartu logam Zenith milikmu itu. Aku justru sangat terkesan menyadari istriku ternyata seekor naga licik yang sangat pandai menyembunyikan tumpukan emasnya dari pantauan radarku."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Arga. Di mana kopiku?" Keysa memutar tubuhnya, menatap suaminya dengan sorot mata membunuh. Perempuan itu sama sekali tidak bisa ditekan lewat jalur pekerjaan maupun uang, dan kini suaminya menyerang langsung ke zona nyaman pribadinya.
"Mulai detik ini, tidak ada lagi kopi pahit yang merusak lambung di rumah ini." Arga melangkah maju, membuka pintu kulkas dua pintu di samping Keysa. "Kalau kamu butuh minuman, aku sudah memesan puluhan kotak susu almond, jus buah murni, dan teh herbal premium. Pilih saja."
Keysa melongo menatap deretan kotak susu yang tersusun rapi di dalam kulkasnya. "Aku baru tahu seorang CEO yang kehilangan memori tiga tahunnya tiba-tiba beralih profesi menjadi ahli gizi amatiran. Aku ini orang dewasa yang butuh kafein untuk menjaga kewarasan, bukan balita yang butuh susu!"
"Dan aku bukan suami yang mau melihat istrinya mati muda karena overdosis kafein." Arga menutup pintu kulkas itu kembali. Laki-laki itu menundukkan wajahnya sedikit, memangkas jarak pandang mereka berdua. "Kau menolak menggunakan fasilitas uangku, Keysa. Jadi aku akan memaksamu bergantung padaku lewat caraku sendiri di dalam rumah ini."
Keysa membuang napas kasar melalui hidung. Meladeni keras kepalanya Arga saat laki-laki itu sedang dalam mode mendominasi adalah hal yang paling menguras tenaga. Ia menolak berdebat lebih panjang. Keysa segera melangkah keluar dari area dapur menuju ruang tengah, berniat menyalakan pendingin ruangan untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Begitu Keysa menekan panel digital di dinding, udara hangat justru berhembus perlahan dari celah ventilasi.
"Apa-apaan ini?!" Keysa menekan tombol panel itu berulang kali dengan frustasi. "Kenapa suhu sentral apartemen ini dikunci pada mode hangat? Kita sedang berada di Jakarta yang terik, Arga, bukan di kutub utara!"
Arga berjalan menyusul, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja kaca. "Kamu nyaris mati membeku di ruang arsip kantor bulan lalu. Aku memastikan suhu rumah kita tidak akan pernah membuat bibirmu berubah menjadi biru lagi. Kalau kamu merasa kepanasan, lepaskan saja blazermu dan pakailah baju santai."
Keysa mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Rentetan sabotase kekanak-kanakan suaminya ini benar-benar tidak masuk akal namun tersusun sangat logis. Perempuan itu menyerah. Ia melepaskan blazernya, menyisakan kemeja sutra tipis yang melekat di tubuhnya, lalu berjalan menuju ruang televisi berniat merebahkan diri sejenak di sofa.
Langkah Keysa kembali terhenti mendadak. Matanya menyapu penjuru ruang televisi. Tata letak ruangan itu telah berubah drastis dari terakhir kali ia meninggalkannya.
Sofa panjang berbentuk huruf L yang biasanya membentang sangat luas kini sudah tidak ada. Sebagai gantinya, hanya ada satu sofa kulit ganda berukuran sedang yang diposisikan tepat di tengah-tengah menghadap layar televisi raksasa.
"Tunggu dulu. Di mana sofa panjangku? Siapa yang berani menyingkirkannya?" Keysa menunjuk ke arah perabotan baru itu dengan tatapan tidak percaya.
"Aku menyuruh staf memindahkannya ke gudang bawah tanah. Ukurannya terlalu memakan tempat dan tidak efisien," jawab Arga sangat tenang, menyandarkan pinggulnya ke dinding.
"Apartemen kita ini seluas lapangan golf, Arga! Alasanmu sama sekali tidak berdasar!"
"Logikaku mengatakan kita berdua butuh tempat yang lebih terpusat untuk duduk menonton berita bersama," balas Arga telak, memukul balik Keysa dengan bahasa rasional.
Keysa menggelengkan kepalanya pasrah. Ia tidak punya sisa tenaga untuk berteriak lagi. Ia berjalan gontai, menjatuhkan diri ke sudut kiri sofa ganda tersebut. Ia mengambil remote televisi, menyalakan layar, dan memutar saluran berita bisnis ekonomi dunia untuk mengecek sentimen pasar pasca kesepakatan Grup Mutiara Abadi di Surabaya yang pada akhirnya selesai dilakukan.
Baru satu menit Keysa duduk tenang, tubuh besar Arga ikut menjatuhkan diri ke atas sofa yang sama. Karena ukurannya yang hanya muat untuk dua orang dewasa duduk, paha kokoh Arga sengaja bersinggungan langsung dengan kaki Keysa. Suhu tubuh laki-laki itu terasa sangat nyata menembus bahan celana kain yang Keysa kenakan.
"Geser tubuhmu sedikit. Kakimu memakan ruang wilayahku," usir Keysa datar, mencoba menarik lututnya menjauh agar tidak bersentuhan.
"Ini sofaku, di dalam rumahku. Aku berhak duduk di mana pun yang aku mau." Arga justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Tangan laki-laki itu melesat secepat kilat, merebut remote dari genggaman tangan Keysa.
Arga menekan tombol dengan cepat, mengubah siaran berita ekonomi global itu menjadi tayangan dokumenter balap mobil.
"Kembalikan alat itu padaku, Arga. Aku harus memantau pergerakan grafik bursa saham perusahaan kita!" Keysa langsung mencondongkan tubuhnya, berusaha merebut kembali benda hitam tersebut dari tangan suaminya.
Arga merespons cepat. Ia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi ke udara, menjauhkan alat itu dari jangkauan tangan Keysa. Laki-laki itu tertawa pelan, sangat menikmati raut wajah istrinya yang mulai panik dan kehilangan ketenangan esnya.
"Jam kerja sudah selesai tepat saat kita mendarat di Jakarta, Keysa. Otakmu butuh istirahat total, dan mataku butuh hiburan visual yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan deretan angka sialan itu."
"Berhenti bersikap menyebalkan seperti bocah!" Keysa bangkit bertumpu pada kedua lututnya di atas bantal sofa. Ia memajukan tubuhnya secara agresif, meraih lengan kemeja suaminya untuk menarik turun tangan Arga.
Tarik-menarik fisik terjadi seketika. Pertarungan ini sama sekali tidak terlihat seperti konflik antara atasan dan bawahan, melainkan murni layaknya dua orang teman sekamar yang sedang bermusuhan namun memiliki ikatan yang sangat kuat. Gesekan fisik yang terus terjadi secara intens membuat posisi tubuh Keysa semakin condong ke arah Arga, menjebak dirinya sendiri ke dalam sudut sempit tanpa ia sadari.
Bahu mereka saling bertabrakan pelan. Wangi vanila dari tubuh Keysa menguar pekat dan langsung memenuhi indra penciuman Arga, membakar sisa akal sehat laki-laki itu.
Permukaan sofa kulit yang baru itu sedikit licin. Kaki Keysa mendadak kehilangan keseimbangan pijakannya. Tubuh perempuan itu oleng jatuh ke arah depan, menabrak langsung dada bidang suaminya dengan cukup keras.
Arga membaca momentum itu dengan sangat sempurna. Laki-laki itu tidak menghindar sedikit pun. Tangan kanannya yang terbebas melesat cepat melewati punggung Keysa.
Arga merebut remote TV, menahan sebelah tangan Keysa, dan mengurungnya di sudut sofa. "Kalau kau masih bersikeras menolak berbagi kasur denganku malam ini, kita akan tidur berdesakan di sofa sempit ini berdua."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..