Mengisahkan seorang pemuda tampan yg sering dihina sama keluarga sendiri. Hingga suatu hari memutuskan untuk kabur dari rumah karena sudah capek dengan hinaan dari keluarganya, dan mendapatkan sistem yg akan merubah nasibnya.
Bagaiman kisah nya setelah mendapatkan sistem?
Ikuti Kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KenzieAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pemegang Saham Misterius dan Undangan ke Keluarga Wijaya
Malam itu.
Di dalam mobil mewah yang melaju melewati jalanan Jakarta, Alviano masih menatap layar sistem di hadapannya.
━━━━━━━━━━━━━━━
Hadiah Mystery Box Diamond:
10% Kepemilikan Grup Wijaya
Nilai Estimasi:
Rp30 Triliun
━━━━━━━━━━━━━━━
Bahkan setelah beberapa menit berlalu, ia masih merasa angka itu terlalu fantastis.
Tiga puluh triliun rupiah.
Jumlah yang bahkan mampu membuat sebagian besar konglomerat kehilangan ketenangan.
Kini dirinya bukan hanya seorang miliarder.
Tetapi telah resmi memasuki jajaran orang-orang terkaya di Indonesia.
Namun yang membuatnya penasaran bukanlah nilai saham tersebut.
Melainkan reaksi keluarga Wijaya.
Karena Grup Wijaya adalah perusahaan keluarga.
Saham mereka terkenal sangat sulit berpindah tangan.
Lalu bagaimana sistem bisa memberikannya 10% kepemilikan?
Alviano menggelengkan kepala.
Pada akhirnya, mencoba memahami logika sistem hanya akan membuatnya pusing.
Sementara itu.
Di mansion utama keluarga Wijaya.
Suasana sedang tidak tenang.
Ruang rapat keluarga yang biasanya tenang kini dipenuhi ekspresi serius.
Di ujung meja duduk Rendra Wijaya.
Di sampingnya terdapat Aurelia.
Serta beberapa petinggi keluarga lainnya.
"Laporan ini sudah diverifikasi?"
tanya Rendra.
"Sudah, Tuan."
jawab kepala divisi hukum.
"Pemegang saham baru memang memperoleh 10% kepemilikan secara sah."
Ruangan langsung sunyi.
Sepuluh persen bukan angka kecil.
Itu cukup untuk mempengaruhi banyak keputusan strategis perusahaan.
"Siapa orangnya?"
tanya salah satu direktur.
Kepala divisi hukum menggeleng.
"Itulah masalahnya."
"Seluruh jalur transaksi tertutup sempurna."
"Bahkan tim investigasi kami tidak menemukan apa pun."
Mata Rendra sedikit menyipit.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada seseorang yang mampu menyembunyikan identitasnya dari jaringan informasi keluarga Wijaya.
Menarik.
Sangat menarik.
Saat itulah Aurelia berbicara.
"Apakah mungkin dia orang yang sama?"
Semua orang menoleh.
"Siapa?"
"Alviano Revende Xafier."
Ruangan kembali hening.
Rendra tidak langsung menjawab.
Namun jauh di dalam pikirannya, kemungkinan itu memang sempat muncul.
Kemunculan Alviano terlalu misterius.
Terlalu cepat.
Dan terlalu besar.
Dalam waktu singkat, pria itu telah mengendalikan aset bernilai triliunan rupiah.
Kini muncul pemegang saham misterius yang memperoleh 10% Grup Wijaya.
Kebetulan seperti itu terasa terlalu sempurna.
"Aku ingin bertemu dengannya."
ucap Aurelia.
Rendra tersenyum tipis.
"Kebetulan."
"Aku juga."
Keesokan harinya.
Di kantor pusat Nebula Capital.
Alviano sedang meninjau laporan keuangan ketika Larissa masuk dengan ekspresi aneh.
"Ada apa?"
tanya Alviano.
Larissa menyerahkan sebuah amplop hitam berlapis emas.
"Undangan."
"Dari siapa?"
Larissa menarik napas pelan.
"Keluarga Wijaya."
Alviano mengangkat alis.
Ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat kartu undangan eksklusif.
━━━━━━━━━━━━━━━
Undangan Resmi
Keluarga Wijaya mengundang
Tuan Alviano Revende Xafier
Untuk menghadiri jamuan makan malam pribadi
Di Mansion Wijaya
━━━━━━━━━━━━━━━
Alviano tersenyum tipis.
Lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Tampaknya keluarga Wijaya sudah mulai bergerak.
Malam hari.
Mansion keluarga Wijaya.
Sebuah iring-iringan mobil mewah memasuki gerbang utama.
Puluhan pengawal berjaga.
Air mancur raksasa menghiasi halaman.
Bangunan utama terlihat seperti istana modern.
Kemegahan tempat itu bahkan melampaui rumah keluarga Xafier berkali-kali lipat.
Saat mobil berhenti.
Alviano turun dengan tenang.
Seorang kepala pelayan segera menyambutnya.
"Selamat datang, Tuan Alviano."
"Silakan ikuti saya."
Sepanjang perjalanan menuju aula utama.
Bahkan Alviano harus mengakui satu hal.
Keluarga Wijaya benar-benar berada di level berbeda.
Inilah salah satu keluarga terkaya di negeri ini.
Ketika pintu aula terbuka.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Rendra Wijaya.
Aurelia Wijaya.
Dan beberapa petinggi keluarga lainnya.
Untuk sesaat.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Karena Alviano terlihat jauh berbeda dari yang mereka bayangkan.
Terlalu muda.
Terlalu tenang.
Dan memiliki aura yang sulit dijelaskan.
Bahkan beberapa anggota keluarga senior terlihat terkejut.
Mereka mengira pemilik berbagai perusahaan besar itu setidaknya berusia empat puluh tahun.
Namun ternyata hanyalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun.
"Selamat malam."
ucap Alviano.
Rendra tersenyum.
"Selamat datang."
"Kami sudah lama ingin bertemu denganmu."
Mereka pun mulai makan malam.
Awalnya percakapan berlangsung ringan.
Tentang bisnis.
Teknologi.
Dan kondisi ekonomi.
Namun semakin lama.
Semakin banyak anggota keluarga yang terkejut.
Karena wawasan Alviano sangat luas.
Bahkan beberapa direktur senior tidak mampu membantah pendapatnya.
Di tengah makan malam.
Mata Dewa Analisis tiba-tiba aktif.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rendra Wijaya
Usia: 57 Tahun
Kemampuan Bisnis: SSS
Tingkat Pengaruh: Sangat Tinggi
Penilaian:
Musuh Berbahaya Jika Menjadi Lawan
Sekutu Sangat Berharga Jika Menjadi Teman
━━━━━━━━━━━━━━━
Alviano mengangguk dalam hati.
Penilaian sistem sangat masuk akal.
Pria ini memang luar biasa.
Tak heran mampu membangun kerajaan bisnis sebesar Grup Wijaya.
Setelah makan malam selesai.
Rendra akhirnya masuk ke inti pembicaraan.
"Alviano."
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
"Tentu."
Rendra menatap langsung ke matanya.
"Apakah kau mengetahui sesuatu tentang pemegang saham baru Grup Wijaya?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan terdiam.
Bahkan Aurelia ikut memperhatikan reaksinya.
Alviano tersenyum santai.
Namun dalam hati ia sedikit kagum.
Rendra memang langsung menuju sasaran.
Sayangnya.
Sistem sudah mengatur seluruh dokumen secara sempurna.
Tidak ada siapa pun yang bisa membuktikan hubungan dirinya dengan saham tersebut.
"Maaf."
"Aku tidak tahu."
Jawabannya terdengar sangat alami.
Rendra memperhatikannya selama beberapa detik.
Namun akhirnya hanya tersenyum.
"Aku mengerti."
Meskipun begitu.
Entah kenapa.
Insting bisnisnya mengatakan bahwa pemuda ini menyimpan banyak rahasia.
Beberapa saat kemudian.
Aurelia tiba-tiba berdiri.
"Ayah."
"Boleh aku mengajak Tuan Alviano berkeliling taman?"
Rendra tersenyum.
"Tentu."
Beberapa anggota keluarga saling berpandangan.
Karena ini pertama kalinya Aurelia secara aktif mengajak seorang pria berbicara berdua.
Taman belakang mansion.
Angin malam bertiup lembut.
Lampu taman menciptakan suasana yang indah.
Aurelia berjalan berdampingan dengan Alviano.
Untuk beberapa saat.
Tak ada yang berbicara.
Kemudian Aurelia membuka percakapan.
"Kau sangat misterius."
Alviano tertawa kecil.
"Itu pujian atau kritik?"
"Mungkin keduanya."
Aurelia menatapnya.
"Aku sudah memeriksa latar belakangmu."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Aurelia terdiam.
"Kau tahu?"
"Semua orang melakukannya akhir-akhir ini."
Aurelia tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu.
Ekspresi dinginnya sedikit mencair.
Dan harus diakui.
Senyuman wanita itu sangat indah.
Mata Dewa Analisis kembali aktif.
━━━━━━━━━━━━━━━
Aurelia Wijaya
Loyalitas: 10%
Ketertarikan: 25%
Status:
Tertarik Untuk Mengenal Lebih Jauh
━━━━━━━━━━━━━━━
Alviano hampir tersedak.
Ini pertama kalinya sistem menampilkan kategori "Ketertarikan".
Dan angka tersebut langsung membuatnya sedikit bingung.
Di sisi lain taman.
Seorang pria muda sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Wajahnya tampan.
Namun sorot matanya dingin.
Namanya Leonard Pratama.
Putra keluarga Pratama.
Salah satu keluarga konglomerat besar.
Dan selama ini...
Ia telah lama menyukai Aurelia.
Saat melihat Aurelia tersenyum kepada Alviano.
Tatapan Leonard langsung berubah dingin.
Sangat dingin.
"Jadi itu Alviano Revende Xafier..."
Ia mengepalkan tangannya.
Dalam dunia bisnis.
Kemunculan Alviano sudah membuat banyak orang gelisah.
Namun sekarang.
Pria itu bahkan mulai memasuki lingkaran keluarga Wijaya.
Sesuatu yang tidak bisa diterima Leonard.
Tanpa disadari siapa pun.
Musuh baru telah muncul.
Dan musuh kali ini jauh lebih berbahaya daripada Richard Santoso.
[Tamat Bab 8]