Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 Ibu Tiri
"Iya, Tuan... Anda tenang saja, tidak perlu khawatir. Saya akan mengusahakan segala cara untuk membawa Sisil kembali ke rumah ini secepat mungkin dan segera menikahkannya dengan Anda," ucap wanita itu penuh kepatuhan.
Gadis paruh baya itu tidak lain adalah Ibu tiri Sisil—sosok kejam yang dulu membuang dan menikahkan Sisil secara paksa dengan Arka demi membuang beban.
Setelah panggilan diputus dari seberang, wanita itu menurunkan ponselnya, lalu melepaskan seringai licik yang penuh ketamakan.
"Heh, siapa yang menyangka kalau pria tua bangka pemilik konsesi tambang itu mendadak langsung tertarik setengah mati begitu melihat foto kecantikan Sisil yang kukirimkan kemarin."
"Pria tua itu luar biasa kaya raya dan memiliki banyak jaringan bisnis. Sebuah keuntungan dan berkah yang sangat besar jika aku bisa menikahkannya dengan Sisil... Keluarga kita bisa kecipratan kekayaan dan menjadi bagian dari konglomerat elite, hehehe!" gumam sang Ibu tiri, matanya berbinar membayangkan tumpukan ITD yang akan ia terima.
Kembali ke kediaman baru PIK 2, mobil Bugatti milik Arka melesat masuk melewati gerbang emas dengan terburu-buru. Begitu menghentikan mesinnya, Arka langsung melompat turun dan membuka pintu utama mansion.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan," sambut salah satu asisten rumah tangga berbaju pelayan dengan membungkuk takzim.
"Di mana Nyonya?!" tanya Arka cepat dengan napas sedikit memburu.
"Nyonya saat ini sedang berada di dapur utama, Tuan. Beliau sedang asyik memasak menu hidangan makan malam bersama dengan barisan pelayan dapur yang lain," jawab pelayan tersebut formal.
Arka tidak membuang waktu sepeser pun. Ia melangkah lebar menembus koridor mewah menuju ke arah dapur.
Dari ambang pintu, pandangan matanya langsung menangkap siluet anggun Sisil yang sedang berbincang riang dengan para pelayan sembari memotong beberapa bahan sayuran segar. Ketenangan dan kelembutan wajah istrinya seketika meruntuhkan seluruh ketegangan di dada Arka.
SREK—
Arka melangkah maju dari arah belakang, lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya untuk memeluk erat pinggang ramping Sisil, membenamkan wajah tampannya di ceruk leher hangat sang istri.
"Eh... Mas Arka?" Sisil sedikit terkejut, namun sedetik kemudian ia langsung menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di dada bidang suaminya. "Kamu mengejutkanku tahu..."
"Kamu... kamu beneran tidak apa-apa, kan, tadi, Sayang? Tidak ada bagian tubuhmu yang terluka atau tersentuh oleh orang-orang sialan itu, kan?" tanya Arka bertubi-tubi dengan nada suara yang sarat akan kekhawatiran mendalam.
Sisil meletakkan pisau dapurnya, lalu perlahan membalikkan tubuh mungilnya di dalam kungkungan lengan Arka. Ia menatap wajah cemas suaminya dengan seulas senyuman manis yang luar biasa tulus dan hangat.
"Iya, Mas Arka-ku sayang... Aku beneran aman. Kan Julius dan Sera selalu ada berdiri di sisiku untuk melindungiku."
"Tetap saja... aku hampir jantungan karena sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, Sayang," bisik Arka serius.
Sisil melepaskan tawa renyah yang sangat menggemaskan, menangkup kedua rahang Arka.
"Masku yang perkasa ini ternyata bisa terlalu khawatir dan takut setengah mati ya kalau istrinya dalam bahaya, kekeh."
Tanpa membalas godaan itu, Arka justru memajukan kepalanya, bersandar pasrah dan membenamkan seluruh wajahnya di atas belahan dada Sisil yang dibalut oleh kain sutra tipis pakaian rumahannya, menghirup keharuman murni tubuh istrinya demi menenangkan detak jantungnya yang bergolak.
"Syukurlah... untung saja aku langsung membelikanmu bodyguard... Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk sampai menimpamu," gumam Arka dengan suara yang teredam di dada Sisil.
Sisil hanya bisa tersenyum penuh kebahagiaan yang mendalam, sebuah binar kepuasan berkilat di matanya melihat seberapa besar rasa cinta, kepemilikan, dan rasa takut kehilangan yang ditunjukkan suaminya terhadap dirinya.
Sisil segera memeluk erat kepala Arka, menekan wajah suaminya makin dalam ke dadanya dengan penuh kasih sayang yang posesif. ‘Aku juga tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkanku darimu, Mas...’
Beberapa hari pun berlalu dengan cepat di kawasan PIK 2 yang damai.
Namun, di belahan distrik tengah, atmosfer di dalam ruang tamu sebuah mansion mewah terasa sangat tegang.
Ibu tiri Sisil tampak sedang duduk di atas sofa kulit premium, berdampingan dengan seorang pria tua bertubuh luar biasa gendut dan pendek yang mengenakan jas sutra rapi laksana taipan kaya raya.
Di belakang sofa mereka, berdiri tegap beberapa pengawal pribadi bersenjata tajam milik sang pria tua.
Ibu tiri Sisil saat ini sedang menempelkan ponselnya ke telinga, mendengarkan laporan dari perwakilan agensi pembunuh bayaran dengan wajah yang mendadak berubah menjadi luar biasa panik dan syok.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" pekik sang Ibu tiri histeris, membuat pria tua gendut di sebelahnya mengernyitkan dahi.
"Aku sudah membayar kelompok kalian dengan harga yang sangat mahal! Tapi bagaimana bisa hasilnya malah gagal total dan seluruh personel elit yang kalian kirim mendadak menghilang tanpa jejak?! Dasar kelompok tidak berguna!!"
Dengan napas memburu menahan kesal karena rencana emasnya hancur, Ibu tiri Sisil langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Wajah bermake-up tebalnya berkerut jelek.
Namun, begitu ia membalikkan tubuhnya menghadap sang pria tua gendut yang merupakan calon pembeli Sisil, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis menjadi sangat ramah dan penuh senyum manis yang menjijikkan.
"M-Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini, Tuan Besar... Anda tidak perlu cemas, saya berjanji akan segera membawa pulang Sisil ke hadapan Anda secepat mungkin. Anak perempuan saya yang satu itu memang agak sedikit nakal dan suka keluyuran belakangan ini."
Pria tua gendut itu menyandarkan tubuh tambunnya, menatap Ibu tiri Sisil dengan pandangan merendahkan dari balik kelopak matanya yang berlemak.
"Tidak masalah bagiku, Nyonya. Asalkan kau bisa berhasil membawanya pulang ke hadapanku lebih cepat untuk melayaniku... aku berjanji akan memberikan bonus hadiah dan saham bisnis tambahan yang sangat besar untuk calon ibu mertuaku ini, hehehe," kekeh sang pria tua dengan suara parau yang menjijikkan.
Mendengar kata "hadiah besar dan saham", mata sang Ibu tiri seketika berbinar tamak, rasa kesalnya hilang total. "Anda tenang saja, Tuan! Saya bersumpah akan mengusahakan segala cara secepatny—"
KREEEKK—
Belum sempat kalimat ketamakan itu selesai dirangkai, pintu gerbang kaca ruang tamu mansion tersebut mendadak bergeser terbuka secara otomatis tanpa ada suara ketukan.
"Ibu..."
Sebuah suara lembut, jernih, dan bernada polos seketika memotong pembicaraan mereka. Sontak, Ibu tiri Sisil dan pria tua gendut itu menoleh serempak ke arah ambang pintu.
Mata sang Ibu tiri membelalak sempurna laksana lingkaran cangkir, terkejut sekaligus luar biasa gembira saat melihat sosok Sisil mendadak muncul dan berdiri di sana dengan gaun kasualnya yang anggun, melangkah masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang tampak sangat polos dan lugu tanpa dosa.
"Astaga! Anakku tercinta! Kamu akhirnya pulang juga ke rumah!" seru sang Ibu tiri dengan wajah berbinar bahagia.
Ia langsung bangkit dari sofa, berlari kecil menghampiri Sisil lalu memeluk pundaknya dengan pelukan kepalsuan yang erat.
"Mari, silakan duduk di sini, Nak. Kamu pasti merasa sangat lelah setelah bepergian jauh, kan?" ajak sang Ibu tiri dengan nada suara yang dibuat-buat selembut mungkin, menuntun Sisil untuk duduk di atas sofa tunggal yang posisinya tepat berada di hadapan pria tua gendut tersebut.
Pria tua gendut itu menatap lurus ke arah Sisil yang kini duduk di depannya dengan seulas senyuman tipis.
Begitu pandangan matanya fokus merekam kecantikan, kulit putih bersih, dan aura anggun yang memancar dari tubuh Sisil, bola matanya langsung bergerak jelalatan penuh nafsu menjijikkan.
Napas tua bangka itu mendadak menjadi tidak stabil dan memburu berat, benar-benar terangsang oleh daya pikat sang gadis.
"Perkenalkan, Tuan Besar... Ini adalah anak perempuan saya yang bernama Sisil. Sosok gadis tercantik dan paling berharga yang selalu saya ceritakan dan saya sayangi sepenuh hati," ucap sang Ibu tiri dengan nada menjilat yang kental, lalu menundukkan kepalanya di dekat telinga Sisil.
"Sisil... kamu harus tahu, mulai hari ini kamu akan segera menikah dan menjadi istri dari Tuan Besar yang terhormat ini. Kamu pasti akan hidup luar biasa bahagia dan bergelimang harta bersamanya."
Sisil memiringkan kepalanya sedikit, menatap ibunya datar. "Tapi, Ibu... bukankah aku sudah—"
Ceklek!
Belum sempat kata "menikah" keluar penuh dari belahan bibir Sisil, tangan sang Ibu tiri dengan cepat bergerak mencubit kuat-kuat lengan Sisil di balik sofa, sembari memberikan bisikan ancaman yang sangat tajam dan penuh penekanan di dekat telinganya.
"Ssssttt!! Tutup mulut busukmu itu, Anak Sialan! Jangan pernah berani kamu mengatakan sepatah kata pun di depan Tuan Besar kalau kamu sudah menikah dengan kuli bangunan miskin itu! Mulai detik ini, tugas dan takdir hidupmu hanyalah tunduk, patuh, dan melayani setiap keinginan dari Tuan Besar di depanmu ini jika kamu masih ingin hidup nyaman!" ancam sang Ibu tiri dengan tatapan mata yang mendelik kejam.
Sisil terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangan matanya, menatap lurus ke arah pria tua gendut di hadapannya yang masih terus menatapi bentuk dadanya menggunakan pandangan mata penuh nafsu birahi yang luar biasa menjijikkan.
Sisil mengembuskan napas panjang laksana sedang bosan, seulas senyum tipis yang memancarkan aura kegelapan dingin terukir di sudut bibirnya.
"Ibu... ternyata kamu benar-benar tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali membuangku ya," ucap Sisil dengan nada suara yang teramat tenang dan datar.
"Apa maksudmu, Anak Bodoh?! Tentu saja ibu tidak berubah, ibu kan memang selalu memikirkan masa depan dan menyayangimu! Makanya, mana mungkin ibu berubah! Jangan berani kamu membuat masalah atau kekacauan di depan calon suamimu ini!" bisik sang Ibu tiri lagi dengan nada mendesak yang marah.
Sisil tidak membalas ucapan ibunya lagi. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu memberikan sebuah intruksi kecil sebagai tanda dari balik punggung sofa.
SHUUT—BOOM! BOOM! BOOM!
Dalam hitungan milidetik sebelum ada satu pun orang di dalam ruangan itu yang sempat menyadari apa yang sedang terjadi, dua sekelebat bayangan hitam—Julius dan Sera—mendadak memanifestasikan diri keluar dari dalam bayangan ruangan dengan kecepatan penuh melampaui cahaya.
Dengan serangkaian pukulan hantaman titik saraf yang sangat presisi, kuat, dan mematikan, seluruh barisan pengawal bersenjata pribadi milik sang pria tua, termasuk pria tua gendut itu sendiri dan sang Ibu tiri, seketika tersungkur roboh menghantam lantai marmer.
Kesadaran mereka mutlak ditarik paksa menuju kegelapan dan pingsan seketika dalam sekali serang tanpa sempat mengeluarkan suara jeritan sedikit pun.
Suasana ruang tamu mewah itu mendadak kembali sunyi senyap, dipenuhi oleh tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan pingsan tak berdaya di atas lantai.
Sisil perlahan bangkit berdiri dari posisi duduknya, merapikan lipatan gaun kasualnya yang anggun dengan sangat tenang. Ia memandangi tubuh pingsan ibunya dan pria tua bangka di bawah kakinya dengan sorot mata bulat. Seulas senyuman manis yang luar biasa mengerikan terukir sempurna di wajah cantiknya.
"Aku... sama sekali tidak akan pernah membiarkan orang-orang sampah seperti kalian memiliki kesempatan untuk mengganggu kedamaian, merusak kebahagiaan, atau menyentuh kehidupan antara aku dan Mas Arka-ku tercinta~" bisik Sisil dengan nada suara yang teramat manis, manja, dan dipenuhi gema kegilaan yang membeku di dalam ruangan sunyi tersebut.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/